Senin, 19 Desember 2011

Sejarah Agama-Agama

            A. Ruang Lingkup dan Kedudukan
Agama adalah satu doktrin dan realitassonal yang ada pada manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat, karena agama ada sejak manusia ada. Artinya, agama itu seumur dengan usia manusia. Di balik itu, dapat dipahami bahwa sejarah umat manusia adalah sejarah agama-agama, begitu juga sebaliknya, sejarah agama-agama adalah sejarah manusia.
Sejarah Agama-Agama
Sejarah agama-agama adalah sejarah umat manusia dengan aneka ragam tindakan manusia yang terjadi pada masa lalu dengan sandaran doktrin agama, karena doktrin agama yang mampu membentuk kepribadian umat manusia. Maka dalam kenyataanya beragam pengalaman ajaran agama bagi pemeluknya sangat ditentukan oleh pemahaman keagamaannya. Disamping bernilai normatif, sejarah agama-agama juga bernilai historik. Hal yang bersifat normatif dapat dipahami dengan kitab suci (manuskrip), sedangkan hal-hal yang bersifat historik merupakan pemahaman dan pegamalan ajaran agama sebagai pengalaman keagamaan umat manusia yang sifatnya beragam dan seragam.
Dalam pemahaman ilmu agama disepakati bahwa ajaran agama ada yang seragam (paralel) dan ada yang beragam (berbeda). Artinya, pada setiap ajaran agama ada persamaan dan perbedaannya, baik yang seragam maupun yang beragam. Itulah sebabnya, sejarah agama-agama disebut juga sebagai ilmu agama yang membicarakan tentang persamaan dan perbedaan doktrin agama-agama. Sebagian tokoh mengidentikkan sejarah agama-agama dengan perbandingan agama-agama.

Secara umum dapat dikatakan bahwa sejarah agama-agama merupakan studi ilmiah dalam menghampiri agama, karena pada dasarnya masalah keagamaan ada sebagai suatu pengalaman sejarah yang harus diakui keberadaannya. Sejarah agama-agama merupakan disiplin ilmu yang memberika gambaran masa lalu agama-agama. Hal ini memberikan implikasi bahwa sejarah agama memiliki batasan yang spesifik dalam kajiannya, yakni tentang asal-usul, tokoh, dan perkembangan agama tersebut. Kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa ruang lingkup pembahasan sejarah agama-agama meliputi segala aspek yang berkaitan dengan asal-usul (the origin), tokoh (the greatman), dan perkembangannya (the growth).

Perkembangan agama-agama erat juga kaitannya dengan masalah asal usul dan tokoh agama, yang dikaitkan dengan lingkungan yang mengitarinya, termasuk juga lingkungan dari tokoh agama, dimana ia dilahirkan. Sejarah agama juga secara tidak langsung mengkaji persamaan dan perbedaan eksistensi, baik doktrin dan pemahamannya maupun doktrin dan pengalamannya. Kesemuanya merupakan pengalaman pemeluk agama sebagai corak dari pengalaman sejarah agama-agama.

Pengalaman agama adalah objek dari sejarah agama yang bisa dibagi, diteliti, dan diungkap secara faktual menuju lahirnya sejarah agama sebagai ilmu. Artinya, pengalaman agama adalah sumber kebenaran ilmiah kajian tentang agama. Berdasarkan pemahaman ini, maka dapat digambarkan bahwa agama mempunyai dua posisi, yakni sebagai cabang ilmu pengetahuan agama dan sebagai pendekatan dalam kajian agama. Sebagai cabang ilmu agama, karena objeknya memperbincangkan masa lalu agama sebagai karakteristiknya, dan sebagai pendekatan dalam kajian agama karena berbeda dengan disiplin ilmu lainnya yang menekankan aspek asal-usul , tokoh agama, dan perkembangannya.
           
B. Komponen dan Klasifikasi Agama
Pengertian agama belum ada satu kesepakatan yang jelas dari para tokoh agama. Artinya, masing-masing tokoh agama memiliki batasan tertentu dalam mendefinisikan agama. Pendefinisian masalah agama sangat beragam, dan lebih dari 48 definisi. Para psikolog cenderung mengatakan bahwa agama pada dasarnya adalah berlakunya aturan yang sakral atas profan (suci).
        1. Komponen-Komponen Agama
Komponen agama maksudnya adalah unsur-unsur yang menjadi indikator untuk memahami agama. Dengan adanya komponen tersebut, maka dapat dimengerti mana yang agama dan mana yang bukan. Menurut Joachim Wach, paling tidak ada 3 macam unsur-unsur agama.
a) Komponen Thought
Arti dasar dari kata thought adalah pemikiran yang mengandung makna semua yang dapat dipikirkan untuk diyakini. Sesuatu yang termasuk komponen tought meliputi aspek teologi, mitologi, dan doktrin atau dogma. Teologi adalah ajaran yang membicarakan tentang keyakinan terhadap Tuhan, seperti :siapa Tuhan, hubungan antara manusia dengan Tuhan, begitu pula mitologi, merupakan serangkaian cerita yang mengandung nilai spiritual sehingga menumbuhkan keyakinan pada kekuatan spiritual tersebut.
Doktrin dan dogma secara langsung berasal dari Tuhan. Oleh karena itu juga tidak mesti dapat dicerna oleh akal, melainkan cukup diimani atau minimal diinterpretasikan dan dimaknai doktrin atau dogma merupakan suatu ketentuan dan aturan, hukum dan kaedah yang diciptakan untuk manusia. Secara substantif dapat dikatakan bahwa dogma dan doktrin merupakan undang-undang yang terkandung dalam agama yang seharusnya sebagai pedoman pengamalan agama. Ketiganya harus ada dan merupakan isi dan inti agama. Oleh karena itu, memahami agama harus mengetahui apa doktrin dan dogma tersebut.
b) Komponen Ritual
Masalah ritual pada dasarnya merupakan ajaran agama tentang tata cara pengabdian kepada Tuhan dalam bentuk peribadatan. Pada komponen ini, tentunya lebih ditekankan pada aspek nilai spiritual yang bersifat normatif. Masalah ritual juga sebagai karakteristik suatu agama, sebab inti ajaran agama adalah berbicara masalah ritual yang bersifat spiritual. Artinya, pada hal-hal yang bersifat spiritual jiwa agama itu yang sebenarnya. Agama tanpa spiritual akan kehilangan substansinya.
c) Komponen Fellowship
Fellowship dalam masalah keagamaan dikenal sebagai embracer (pemeluk, peganut, pengikut) suatu agama baik dalam arti pribadi atau kelompok. Suatu agama erat kaitannya dengan pemeluk. Artinya, tanpa pengikut berarti agama tidak berkembang atau tidak punya nilai sejarah. Disamping tokoh agama, maka pemeluk agama merupakan penentu keberadaan agama tersebut.
Fellowship dapat berarti juga pribadi, tetapi tentunya lebih kepada komunitas . Dalam semua agama dikenal istilah pemeluk ini sesuai dengan bahasa kitab suci masing-masing. Dalam islam dikenal jamaah, ummah, Kristen ada jemaat, sangha dalam Budha, dan kasta dalam Hindu. 
       2. Klasifikasi Agama-Agama

Konsep klasifikasi agama sanga beraneka ragam, tergantung dari sudut pandang yang digunakan. Ada yang berangkat dari pandangan normative yang memunculkan aspek substansinya yang efeknya akan lahir pembicaraan kebenaran agama. Umumnya, klasifikasi semacam itu di satu sisi memantapkan keyakinan keagamaan, namun di sisi lain berefek adanya agama yang tersudutkan.

Klasifikasi agama yang cenderung deskriptif bernuansa obyektif dan bersifat terbuka menerima keberadaan agama manapun. Klasifikasi semacam ini tergantung pada saudut pandangnya, namun sangat terbuka dan universal.
           C. Teori Asal-Usul Agama-Agama
Kajian tentang sejarah agama-agama dari aspek asal-usul agama telah banyak dikaji dan telah melahirkan teori-teori tentang asal-usul agama-agama. Prof.H.A. Mukti Ali mengemukakan beberapa teori tentang asal-usul agama. Menurut beliau teori tentang asal usul agama itu paling tidak ada 3 macam teori :
        1. Teori Evolusi
Ilmuan agama juga menggunakan teori evolusi dalam mencari asal-usul agama. Kekuatan di luar diri manusia yang diyakini dan dipercaya sebagai elemen yang dominan pada diri manusia telah mengkristal menjadi suatu kekuatan yang menjadikan manusia itu sebagai sesuatu yang bergantung secara spiritual, sehingga harus selalu berhubungan secara rutin dan intensif.

Frederich Max Muller mengintrodusir asal-usul dan kepercayaan umat manusia itu berkembang dari polytheistic dan henotheistic menuju monotheistik. Teori selanjutnya adalah aliran antropology evolusionisme dan psikologi evolusionisme. Antropology evolusionisme pada dasarnya merupakan faham evolusi yang meliha asal-usul agama dari aspek budayanya. Teori ini mendasarkan bahwa keyakinan seseorang terhadap agamanya selaras dengan kemajuan budayanya. Aliran ini beranggapan bahwa keyakinan atas suatu agama berkembang secara perlahan-lahan menuju kesempurnaan.

Edward Burnett Tylor berkeyakinan bahwa agama animisme merupakan keyakinan dasar bangsa primitif yang merupakan bentuk sederhana dari kepercayaan umat manusia, sesuai dengan isi karyanya, The Primitif Culture. Begitu juga menurut antropolog Emile Durkheim. Menururt penganut aliran anthropology evolusionisme ini, pada dasarnya sudah ada agama yang sederhana pada masyarakat primitif yang beraneka ragamnya dari bentuk polytheisme, henotheisme, menuju dualism monoisme dan pantheisme, hingga monotheisme. 
        2. Teori Oer –Monotheisme
Teori ini berangkat dari fakta bahwa suku primitif pada awalnya adalah penyembah Tuhan yang satu. Teori ini melakukan pandangan bahwa pada mulanya monotheisme merupakan agama dasar yang telah manusia peluk. Kemudian, selanjutnya terjadi perubahan menjadi henotheisme dan selanjutnya menjadi polutheisme.

Perubahan ini pada dasarnya bergerak secara linear dan dipengaruhi oleh kondisi geografik, antropologik, dan sosiologiknya yang pada akhirnya terjadi penyimpangan dari aslinya. Teori ini bertentangan dengan teori evolusi, ketika nampaknya terjadi perbedaan arah yang satu maju ke depan, dan yang lain mundur ke belakang. Namun, titik persamaan keduanya beranggapan bahwa asal-usul agama berasal dari bangsa primitif sebagai basic tumbuhnya agama-agama masyarakat pada umumnya.

Andrew Lay, dalam karyanya berjudul “The Making Religion” beranggapan bahwa monotheisme di kalangan bangsa primitif sudah lama ada. Karena itu, teori ini menamakan Oer-Monotheisme, yang berarti kepercayaan terhadap Tuhan yang satu yang sudah lama. 
        3. Teori Relevasi
Kata relevasi berarti wahyu, berarti semua agama itu adalah diwahyukan dari sumbernya, yakni Tuhan. Teori ini sependapat dengan Oer-Monotheisme, karena relevasi juga mengakui Tuhan yang satu, hanya berbeda dalam substansi sumbernya. Oer-Monotheisme cenderung mengaitkan dengan bangsa primitive sebagai asal-muasalnya (the origin), sedangkan relevasi mengakui doktrin monotheisme ini adalah dari kitab suci dan bersifat revelatif, merupakan ajaran langsung daru Tuhan.

Tokoh teori ini adalah William Schmid, seorang katolik yang kuat sebagai teolog. Ia menulis aryanya yang berjudul Der Ursprung der Gottesidee, yang terdiri dari delapan jilid yang besar. Ia mengajukan teorinya tentang revelasi yang dianggapnya berbeda dengan pendapat sebelumnya yang diwakili oleh tokoh evolusi dan oer-monotheisme. Teori revelasi ini merupakan hasil penelitiannya terhaap beberapa suku primitif yang ada di beberapa negara Asia.
         D. Metode / Pendekatan dalam Studi Agama-Agama (Sejarah Agama-Agama)
Dalam studi sejarah agama-agama, yang menjadi sasaran penelitian adalah pengalaman keagamaan pemeluk-pemeluk agama yang merupakan aspek insasiyah sebagai pemahaman dan pengamalan ajaran agama. Pengalaman keagamaan ini adalah sejarah sebagai kultur manusia yang dikenal sebagai ajaran yang bersifat historic. Jaran ini mungkin sama, mungkin juga berbeda.

Para ahli studi agama-agama, antara lain Joachim Wach mengatakan bahwa pendekatan studi agama termasuk sejarah-agama-agama ada empat macam :
        1. Historical Approach
        2. Sosiological Approach
        3. Psichological Approach
        4. Phenomenological Approach

Sedangkan H.A. Mukti mengistilahkan dengan metodos. Menurutnya, ada enam metodos studi sejarah agama-agama.
      1. Metodos Philologis
      2. Metodos Historis
      3. Metodos Antropology
      4. Metodos Volker Psychologie
      5. Metodos Sosiology
      6. Metodos Apology

Secara substantif, keduanya cenderung berfikir ke arah kerangka methodology pengkajian agama-agama dengan meminjam istilah multidisiplin. Hanya saja, Wach memaparkan metodologi ke arah makro, sedangkan Mukti Ali dalam artian mikro. 

           E. Konsep Toleransi Beragama
Adanya ajaran agama yang bersifat normatif memberikan peluang untuk munculnya konflik di tengah umat beragama, baik internal maupun eksternal. Masalah normatif pada agama telah mempengaruhi keyakina agama secara radikal yang melahirkan adanya kecenderungan ke arah fundamentalisme. Sikap pemeluk agama yang fundamentalistik cenderung menganggap orang lain berbeda, bahkan bertentangan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pemeluk agama yang menerima ajaran agama dalam konteks keyakinan, bukan pemahaman. Artinya, agama hanya didudukan sebagai suatu sistem krido yang eksklusif dan tidak affair.

Umat beragama yang cenderung eksklusif tersebut memberikan ekses terisolirnya komunitas tersebut dari khalayak dan pada akhirnya menjadi statis. Beragama statis menjadikan sikap tidak toleran, bahkan berdampak makin menajamnya konflik dan pertentangan di kalangan umat beragama. Tidak ada toleransi di antara umat beragama karena lemahnya studi deskriptif bagi umat beragama, sehingga komunitas masing-masing pemeluk berjalan secara parsial dan terpisah.

Pemahaman dan pengakuan adanya persamaan dan perbedaan merupakan modal dasar umat beragama menuju tercapainya kerja sama dan toleransi antar umat beragama secara komprehensif, sebab secara obyektif setiap agama memiliki peluang terjadinya konflik dan toleransi diantara umat beragama baik secara internal maupun eksternal. Namun, kesemuanya itu harus dikembalikan pada pemahaman ajaran agama oleh pemeluknya masing-masing. Artinya, apabila pemahamannya rasional, tentu saja mudah terjadi kerukunan, sedangkan sebaliknya, dipahami secara emosional, maka akan muncul konflik yang berkepanjangan. 

Baca Juga Yang Ini, Seru Loo!!

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan pembaca berkomentar dengan santun untuk memberikan saran dan masukan kepada kami, terimakasih.