Tampilkan postingan dengan label NTT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NTT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Mei 2013

Desa Ranggu, Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat

Desa Ranggu, Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat - Desa Ranggu, adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Desa ini berpenghuni sekitar 1.109 jiwa, dari 250 Kepala Keluarga (data desa tahun 2012). Desa Ranggu sendiri terdiri dari 3 Dusun, Yaitu Dusun Ranggu, yang terletak di paling luar, Dusun Nggorong, ada di agak pertengahan, dan Dusun Tado, terletak di paling ujung. Di Dusun Ranggu, terdapt 3 RT, yaitu RT 01, sekitar 35 KK, RT 02, sekitar 65 KK, dan RT 03, sekitar 86 KK. Di Dusun Nggorong terdapat 50 KK, dan Tado sekitar 68 KK.
Perjalanan ke Ranggu, dari Ibu kota Kecamatan Kuwus, kita harus menempuh perjalanan sekitar 2 jam, untuk bisa tiba sampai di Ranggu. Saat memasuki daerah Ranggu, kita akan melihat ada Lapangan besar, Gereja, dan ada Kantor Desa yang cukup kecil di sebelah kiri jalan. Di dekat Kantor Desa terdapat Sekolah SMP, SMA, dan Puskesmas. Kemudian, sekitar 200 meter ke depan ada SD Ranggu 2, dan ke depan lagi, ada Kampung Besar Dusun Ranggu. Di Kampung Besar inilah sebagian besar penduduk Desa Ranggu bermukim. Di sini terdapat situs budaya, yang dinamakan Batu Besar (Batu Ranggu), konon, batu ini bisa berjalan-jalan sendiri, dan kembali lagi ke tempat asalnya dengan bertumpuk-tumpuk ke atas. Di Dusun Ranggu ini, ada juga masyarakat pembuat gula merah. Gula merah di sini dari bahan aren, dan berupa serpihan-serpihan (bubuk), tidak dibuat cetakan seperti batangan ataupun bulat.
Warga di sini membuat gula merah sedikit-demi sedikit, dan jika sudah lumayan banyak, baru mereka akan menjualnya ke penadah. Namun, saat ini warga yang membuat gula merah hanya sekitar 3 sampai 4 orang saja, dan itupun mereka bekerja sendiri. Menurut penuturan salah satu warga, dulu di sini ada juga warga yang membuat sophi (arak khas Flores dari aren) untuk dijual, termasuk orang tersebut, namun sudah hampir sekitar 3 tahun ini mereka tidak membuat lagi, lantaran susah untuk memasarkannya.
Mayoritas penduduk Desa Ranggu adalaha petani, dimana jumlahnya hampir 90 persen, dan sisanya terbagi menjadi PNS, Guru, Pegawai Pemerintahan, atau Wiraswasta. Pertanian yang paling umum adalah padi. Selain itu, ada juga cengkeh, kopi (biasa panen di Bulan Juli-September), Kakao, Vanili, sedangkan untuk buahnya ada rambutan dan durian, walau tidak begitu banyak. Namun, kendala yang paling umum di sana adalah medan yang berliku-liku, dengan topografi yang naik turun, sehingga kesusahan untuk mengangkut hasil bumi menuju ke pusat kota. Selain itu, jalannya juga tidak begitu mulus, apalagi jalan di dalam desa yang masih bebatuan. Begitu juga dengan hasil sawah yang biasa dipanen 2 kali setahun, rata-rata mereka menyimpannya untuk kebutuhan sendiri, karena jika akan menjual ke kota biaya yang dikeluarkan lebih mahal daripada hasil yang akan diperoleh. Sangat tidak mungkin juga untuk menjual hasil bumi ke tetangga, karena rata-rata warga di sini juga mempunyai hasil pertanian.
Dusun Ranggu, yang terletak di paling luar adalah Dusun yang paling maju daripada dusun lainnya. Di sini terdapat beberapa fasilitas umum, seperti Kantor Desa, SD Ranggu, SMP Sada Ranggu, bahkan ada SMA Trinitas Ranggu yang bersebelahan dengan SMP, dan masih satu kompleks. Dan hanya di Dusun Ranggu saja yang sudah terdapat listrik dari PLN, sedangkan di Nggorong masih menggunakan genset, dan Tado kebanyakan masih menggunakan lampu pelita, walaupun sudah ada beberapa yang menggunakan genset.
Untuk menuju ke Dusun Nggorong, kita harus menempuh perjalanan lagi sekitar 2 kilometer. Untuk 1 kiometer pertama, jalan sudah beraspal, dan terdapat jembatan besar di situ, yang bernama Jembatan Wae Himpor. Di bawah jembatan ini terdapat aliran air hangat (Wae Kolang), yang selalu mengalir setiap saat.  Dulu dari pihak dinas pariwisata setempat pernah menawar untuk membeli tanah ini, untuk dikembangkan menjadi area pariwisata, namun akhirnya tidak jadi, karena tidak terjadi kesepakatan harga dengan yang punya tanah ini.
Dari jembatan ini, perjalanan masih sekitar 1 kilometer, baru sampa di Dusun Nggorong. Jalannya pun bebatuan, dan cukup licin jika kita berjalan saat musim hujaan. Di Dusun Nggorong terdapat SD, yaitu SD Nggorong Kotak. Sedangkan untuk menuju Tado, perjalanan masih ada sekitar 1-2 kilometer dengan jalan bebatuan yang cukup susah, karena di Tado daerahnya yng paling terpencil daripada Dusun-Dusun lainnya di Desa Ranggu ini.

Selasa, 19 Maret 2013

Pantai teddy's

Pantai Teddy's - Menikmati pemandangan sore, dengan sunset di sebelah barat ketika berada di pinggir pantai. Jika melihat ke sebelah timur, maka ada sebuah pulau yang akan kita lihat. Orang menyebutnya Pulau Kera. Sebelumnya, pulau tersebut tak berpenghuni, namun sekarang sudah mulai dihuni. Kata orang sini, penghuni pulau tersebut belum lama, yaitu mereka para pencari ikan di laut ini.
 
adheb's foto
Pantai Teddy's

Ya, di sinilah, aku berada saat ini, pantai Teddy’s. Pantai yang setiap sore selalu ramai pengunjung. Selain karena tempatnya yang berada di wilayah kota, pantai ini juga berada tak jauh dari terminal Kupang, atau biasa orang sini menyebutnya dengan daerah LLBK. Selain masyarakat umum, biasanya banyak pelajar, maupun mahasiswa Undana (Universitas Nusa Cendana) yang sering menikmati keindahan temaramnya mentari di sore hari, sambil bercengkerama dengan kawan-kawan. 
Menurut cerita warga, Kota Kupang awalnya dari daerah ini, yaitu Kupang. Di daerah ini, jika kalian bilang mau ke Kupang, maka di sinilah Kupang sebenarnya. Kupang, dulu dari kata Kopa, lalu Kopan, namun, karena aksen Belanda, maka berubah nama menjadi Kupang. 

Sebelah timurnya, tidak jauh dari sini ada Pasar Solor yang selalu ramai. Dua tempat inilah, Pantai Teddy’s dan Pasar Solor, yang harus anda kunjungi jika datang ke sini. Dahulu, di Pasar Solor ini dijadikan sebagai pasar ikan, dan setiap pagi pasti selaalu ramai dengan berbagai macam ikan segar yang ada. Namun sekarang sudah pindah, dan tidak menjadi tempat untuk jual beli ikan segar lagi, hanya sebagai paasar biasa saja. Dan jika kalian ingin mencari ikan segar, maka pergilah ke Oeba, pasti kalian akan menjumpai ikan segar tersebut setiap pagi. Tetapi, jika kalian ingin mencicipi makanan, khususnya mengenai ikan, maka di Solor inilah  kalian sebaiknya berkuliner. 

Terasa ada sesuatu yang kurang rasanya, jika di Pantai Teddy’s, kalian tidak mencicipi jagung bakar khas sini. Jagung bakar di pantai ini, dengan makan diselingi kopi dan Pemandangan sunset, merupakan suatu kesatuan yang wajib kita coba di Pantai ini. Olesan mentega dan juga sedikit sambal, sangat mencirikan jagung bakar ini, dibanding dengan jagung bakar di daerah lain. Ah,, suatu kebersamaan, bersama kawan-kawan yang perlu diulang suatu saat.