Siapa sih yang gak kangen ama Gunung
Merbabu? Di wilayah Jawa Tengah Merbabu
menjadi salah satu gunung incaran para
pendaki yang hobi menikmati alam di atas ketinggian. Tentunya, ada beberapa
kelebihan yang membuat gunung ini menjadi dambaan para pendaki seperti adanya
stok air melimpah di pos 2 Merbabu via Wekas, indahnya panorama landscape geger
sapi di Merbabu via Suwanting, atau hamparan Padang Sabana yang menjadi tujuan
para pendaki ketika kita naik lewat jalur Selo. Yang terakhir ini menjadi jalur
terfavorit dan selalu membludak di tiap weekend sebelum akhirnya tutup di tahun
2019 lalu.
Meski sempat buka selama sebulan
di awal pandemi, pengelola memutuskan untuk menutup kembali jalur Selo cukup
lama. Beberapa kali terdengan isu bahwa jalur ini akan buka meski sampai
sekarang belum ada kejelasan. Meski jalur Selo sementara waktu masih tutup,
pertengahan Juni ini beberapa jalur lain sudah mulai dibuka dengan protokol
kesehatan yang ketat setelah adanya kajian mendalam oleh pengelola Taman Nasional
Gunung Merbabu. Kabar ini tentu menjadi angin segar bagi para pendaki setelah
menunggu sekian lama untuk merasakan keindahan alamnya yang cukup mempesona. Ada
beberapa hal yang perlu dipersiapkan dan diketahui, agar pendakian kalian
berjalan lancar.
Daftar online
Untuk melakukan pendakian Merbabu,
kalian harus mendaftarkan diri secara online di lamannya Taman Nasional Gunung
Merbabu. Setelah itu, kalian bisa pilih menu booking online dan pilih jalur pendakian
Selo, di situ terdapat informasi pendakian yang dibutuhkan. Jangan lupa cek
kuota terlebih dahulu untuk memastikan ketersediaan kuota pendakian sesuai hari
dan jumlah rombongan. Selanjutnya kalian bisa mendaftar dengan menyetujui segala
persyaratan yang ada, lalu mengsi formulir pendaftaran secara lengkap.
Terakhir, kalian akan mendapatkan bukti booking yang akan dikirimkan melalui
email yang didaftarkan. Jangan lupa simpan bukti tersebut karena akan digunakan
pada saat registrasi ulang sebelum pendakian.
Menurut informasi dari pengelola
taman nasional, para pendaki tidak diperkenankan melakukan solo hiking, namun
harus secara beregu dengan minimal 3 orang di setiap rombongan. Ini bertujuan
agar ketua rombongan benar-benar menjaga timnya agar dan tidak bergantung pada
rombongan lain ketika terjadi kecelakaan di salah satu anggotanya. Berkaca dari
pengalaman di beberapa gunung berbeda terkait adanya laporan kecelakaan yang
hanya menitip kepada rombongan lain, pengelola taman nasional ini ingin agar
setiap rombongan pendaki sudah siap dan dapat memanejemen timnya secara
mandiri. Pada masa pandemi ini, ini kuota
pendakian masih dibatasi sekitar 30 persendari total kuota yang ada. Sama halnya
dengan beberapa gunung lainnya, pembatasan kuota ini bertujuan untuk
meminimalisir penyebaran virus corona meskipun sebagian besar orang sudah mulai
melakukan vaksin.
Setelah melakukan pendaftaran secara online,
pendaki wajib melakukan registrasi ulang begitu tiba di beskem pendakian. Tunjukan
Bukti Booking ke petugas jalur pendakian untuk dilakukan Scan QR Code dan
validasi data. Registrasi ulang cukup
dilakukan oleh ketua rombongan, lalu melakukan pembayaran di loket bagian atas.
Ketua rombongan akan diberikan gelang RFID yang berfungsi untuk memonitor
pergerakan pendaki. Ketika rombongan sudah tiba di Sabana 1 misalnya, maka
gelang RFID akan menyala sehingga pergerakan ini dapat terdeteksi oleh petugas.
Gelang ini juga berguna bagi petugas untuk memonitor secara cepat ketika
terjadi suatu kecelakaan selama pendakian. Namun begitu turun pendaki harus
mengembalikan gelang tersebut agar tidak terkena denda.
Ketua rombongan diminta untuk
mengisi checklist peralatan semua anggota dan dicek satu per satu oleh petugas
sebelum kalian melakukan pendakian. Untuk itu, catat sedetail mungkin peralatan
yang kalian bawa dan jangan membawa peralatan yang dilarang seperti speaker,
tsu basah, dan lainnya. Jangan lupa bawa turun sampahmu, jangan ditinggal di
atas agar Merbabu tetap asri.
Saat ini para pendaki hanya
diperkenankan untuk melakukan pendakian maksimal 2 hari 1 malam di camp yang
telah disediakan dan kalian juga tidak diperkenankan untuk melakukan pendakian
lintas jalur. Untuk itu kalian harus naik dan turun melalui jalur yang sama. Bagi
yang ingin mendaki Merbabu ini kalian diwajibkan menyerahkan bukti rapid
antigen / genose terlebih dahulu (meski aturan ini masih banyak menuai
pro-kontra di antara para pendaki). Seperti aturan dalam perjalanan, masa
berlaku rapid hanya 1x24 jam. Untuk itu, persiapkan dengan baik pendakian
kalian agar segala urusan berjalan denga lancar.
Adanya HM (Hektometer) Penanda Jalur Pendakian
Pal HM merupakan sebuah penanda
bagi pendaki agar tidak tersesat. Tugu atau pal ini ditanam di sepanjang jalur
pendakian dengan jarak antar tugu sejauh 100 meter, dimulai dari titik start/
resort yang betuliskan HM-00 hingga puncak. Dengan adanya pal HM maka kalian
tidak perlu khawatir akan tersesat, tidak perlu bingung sudah sejauh mana jalur
yang sudah dilalui atau masih berapa jauh lagi pos selanjutnya. Cukup mengingat
penanda pal HM di setiap pos, maka kalian sudah bisa memperkirakan dengan
gampang berapa jauh lagi kalian harus berjalan menuju tujuan berikutnya. Pal HM
ini juga diberi scotlight agar menyala di malam hari ketika terkena sorot.
Dengan cat warna oren menyala, tugu ini dapat terlihat ketika terkena sinar di
malam hari. Jika kalian masih menemukan pal tersebut, berarti kalian sudah
berjalan sesuai trek yang ada.
Total ada sekitar 53 pal di jalur
Selo ini. Itu menunjukkan bahwa jarak tempuh pendakian dari titik start menuju
puncak sekitar 5600 meter. Namun, menurut pengelola sendiri pengukuran jarak
antar tugu menggunakan strava, sehingga mempunyai plus minus tersendiri apabila
dibandingan dengan pengukuran secara manual menggunakan rol ataupun pengukuran
menggunakan GPS hand.
Terdapat Perubahan Rute Pendakian
Di beberapa jalur terdapat
perubahan rute pendakian karena terkikisnya jalur pendakian. Kebakaran yang
melanda di tahun 2019 lalu membuat jalur menjadi gersang dan ketika hujan, air
langsung mengucur turun melalui jalur karena minimnya resapan. Yang paling
terlihat adalah rute dari pos 2 menuju pos 3 yang sebelumnya melewati jalur
tengah lalu menanjak terjal saat akan menjangkau pos 3, kini dibuat rute baru
di sebelah kiri. Di jalur baru ini, kita akan melewati lereng bukit namun lebih
landai bila dibandingkan dengan jalur sebelumnya. Melalui jalur baru ini kita
bisa melihat jalur lama yang legok akibat kebakaran, serta luasnya sabana di
jalur lama yang cukup indah.
Pemasangan CCTV di Sabana 1
Sabana 1 merupakan camp favorit
bagi para pendaki dengan lokasi yang cUkup nyaman, luas, serta keindahan
panorama pemandangan di sekitarnya. Di sini kita dapat melihat puncak Merbabu
di pagi hari termasuk indahnya Puncak Merapi dari arah sebaliknya. Terdapat
alat deteksi RFID serta kamera CCTV yang berada di atas menara kecil di
tengah-tengah lokasi tenda. Dengan kamera CCTV ini, patugas dapat memantau dengan
mudah pergerakan pendaki termasuk mendeteksi ketika terjadi kebakaran di
sekitar area camp. Jalur menuju puncak tidak begitu banyak perubahan dari
sebelumnya, dengan keindahan panorama yang masih tetap terjaga. Selesai
melakukan pendakian, petugas akan mengecek rombongan serta cek barang bawaan
kalian untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal maupun sebaliknya. Jangan
lupa bawa turun sampahmu.
Bagi kalian yang sudah kangen
dengan jalur ini, segera persiapkan persyaratan begitu buka, angkat carriermu
menuju hijaunya sabana, dan marilah mendaki dengan bijak…
Situasi pandemi seperti saat ini cukup mempersempit ruang gerak manusia di berbagai aktivitas. Bahkan aktivitas outdoor seperti pendakian gunung ikut terkena imbas, sehingga kita semua harus selalu waspada dan menjaga diri. Padahal, mendaki gunung merupakan suatu aktivitas penghilang penat bagi sebagian orang yang hobi mendaki di kala penatnya kesibukan. Beberapa jalur pendakian gunung memilih tutup demi menjaga keamanan, namun tidak sedikit yang memilih untuk tetap beroperasi dengan mewajibkan berbagai aturan yang berbeda dari biasanya.
Pendakian Lawu di Masa Pandemi
Untuk itu, kita harus mencari informasi yang detail sebelum melakukan pendakian baik sebelum berangkat menuju lokasi beskem jalur pendakian, maupun ketika kita sampai di beskem tersebut. Apa saja sih yang perlu dipersiapkan untuk melakukan pendakian di masa pandemi? Apa yang berbeda antara pendakian biasa dengan pendakian di musim pandemi kali ini?
Kali ini saya akan sedikit berbagai pengalama dari beberapa pendakian saya pada saat pandemi. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, hal yang paling utama adalah persiapan sebelum berangkat.
Transportasi
Di beberapa wilayah, fasilitas transportasi umum di masa seperti ini cukup terbatas, bahkan bisa jadi tidak beroperasi sama sekali. Jika menggunakan alat transportasi umum, kita harus mencari informasi terlebih dahulu bagaimana cara kita agar bisa sampai ke beskem. Apakah bus/pesawat/ kereta api tersedia, dan apakah jadwalnya rutin atau hanya di waktu tertentu saja, termasuk persyaratan untuk naik transportasi umum juga harus kita pahami. Apabila menggunakan transportasi pribadi maka lebih mempermudah ruang gerak kita dan jangan segan untuk bertanya ke penduduk setempat ketika kita bingung arah. Jangan selalu mengandalkan google maps, karena jalan di pegunungan agak berbeda dengan jalur di kota.
Informasi Buka Tutup Jalur
Sebenarnya hal yang sepele, tapi kadang masih ada pendaki yang melupakan tahapan ini. Di masa pandemi beberapa gunung memilih untuk tutup, sehingga kita harus tahu terlebih dahulu apakah gunung tersebut buka atau tidak. Sering-seringlah cari informasi baik lewat internet maupun medsos mengenai hal ini. Jangan lupa untuk mencari informasi jalur yang akan kita gunakan, karena di beberapa kasus, bisa saja gunung tersebut buka, namun di beberapa jalur pendakian mengalami penutupan.
Contohnya adalah ketika saya mendaki gunung Sumbing di akhir Juli, dimana hanya ada satu jalur yang buka, sementara jalur yang lain masih ditutup. Begitu juga ketika mendaki Gunung Sindoro dan Lawu, pada waktu itu tidak semua jalur dibuka.
Kuota Pendakian
Sebagian besar jalur pendakian membatasi jumlah pendaki per harinya. Ada yang hanya memberikan kuota 10 persen, 20 persen, 30, persen, atau 50 persen dari kuota regular. Untuk itu, kita harus paham berapa banyak kuota pendakian yang dibuka. Jangan lupa untuk memperkirakan waktu pendakian kalian. Pada saat weekend tentu jumlah pendaki lebih banyak dari hari biasanya, apalagi pada masa long weekend, pasti akan semakin bertambah banyak. Di Semeru kuota pendakian saat ini dibatasi hanya 20 persen saja, bahkan ketika saya mendaki sumbing, jumlah pendaki per hari maksimal hanya 50 peserta.
Selain itu, tanyakan juga apakah jalur tersebut dibuka untuk semua kalangan. Di Wonosobo, beberapa jalur hanya boleh didaki oleh orang lokal, dalam artian hanya diperbolehkan untuk kalangan warga Jawa Tengah dan Jogja. Namun ada juga yang lumayan longgar seperti di Gunung Lawu.
Persyaratan Pendakian
Kalian harus memahami persyaratan pendakian apa saja yang wajib dijalankan ketika melakukan pendakian. Setiap gunung mempunyai persyaratan yang berbeda-beda. Ketika saya mendaki gunung Sumbing via Butuh, Kaliangkrik, terdapat beberapa persyaratan yang wajib dipatuhi antara lain, para pedaki wajib membawa alat makan sendiri baik piring, gelas, maupun sendok. Setiap pendaki wajib membawa hand sanitizer demi keamanan diri. Wajib memakai masker serta membawa masker cadangan. Jangan lupa untuk menanyakan berapa jumlah masker yang wajib dibawa. Untuk melakukan pendakian ke Semeru, masker yang wajib dibawa minimal 4 buah.
Cek apakah perlu surat sehat serta surat jalan dari desa atau tidak. Ketika saya mendaki gunung Lawu, persyaratan di sana cukup longgar tanpa perlu menunjukkan surat sehat. Bahkan pendakian juga relatif tidak dibatasi sehingga banyak pendaki dari daerah lain yang memilih untuk mendaki gunung ini. Beberapa wilayah bahkan mewajibkan rapid tes bagi para pendaki sesuai arahan dari pemerintah setempat. Pastikan bahwa kalian dalam keadaan sehat. Jika tiba-tiba demam, sebaiknya kalian mengurungkan niat untuk mendaki. Untuk itu, kalian harus rajin berolahraga dan jangan lupa untuk minum vitamin dan suplemen kesehatan.
Sebagian besar gunung mewajibkan pendaki mengisi tenda hanya 50 persen dari kapasitas yang ada. Jadi, jika kalian membawa tenda kapasitas 4 orang maka hanya bisa digunakan untuk 2 orang saja. Begitu juga jika misalnya rombongan kalian 3 orang, maka jangan hanya membawa tenda dengan kapasitas 4 orang, tetapi harus melebihi.
Pembatasan Waktu Pendakian
Waktu saya mendaki sumbing, kita hanya dibatasi maksimal satu malam untuk menginap di tenda dengan total maksimal pendakian 2 hari 1 malam. Begitu juga untuk jumlah pendaki yang ingin menginap di beskem juga dibatasi, maksimal 50 orang per malam. Hal yang sama juga terjadi di Semeru, para pendaki hanya diperbolehkan melakukan pendakian 2D1N. Jika kalian suka mendaki di malam hari, cek kembali apakah diperbolehkan atau tidak, karena pengalaman saya mendaki Sumbing hanya diperbolehkan melakukan pendakian dari pagi hingga sore hari, dan maksimal untuk pendakian jam 5 sore.
Pendakian di masa pandemi ini sebisa mungkin kalian meminimalisir pertukaran alat sesama rombongan. Usahakan untuk membawa dan memakai alat pribadi sendiri. Jika terpaksa bertukar, maka usahakan untuk menyemprot alat tersebut dengan disinfektan. Selain itu akan lebih nyaman jika kita mencari jalur yang relatif sepi agar meminimalisisr kontak fisik dengan pendaki lain. Yang terpenting, jangan lupa untuk selalu menjaga jarak agar kita tetap aman dan terhindar dari virus corona. Semoga kita selalu menjaga diri agar tetap sehat dan bisa beraktivitas dengan baik.
Bagiku, Gunung Lawu bukanlah suatu gunung yang asing karena masih berada di zona yang gak terlalu jauh untuk dijamah. Berada di wilayah Jawa Tengah tentu membuat biaya menjadi cukup terjangkau dengan kantong kita (gue kale) yang pas-pasan. Yah… begitulah, kira-kira saat ini, tapi sangat berbeda kondisinya ketika saya masih SMA dulu. Lawu adalah gunung yang pertama kali saya daki saat kelas 3 SMA. Mempunyai lingkungan teman anak-anak sispala membuatku sering diajak ketika mereka mendaki gunung, termasuk berbagai kegiatan outdoor lainnya… walaupun saya tak tergabung di dalamnya.
Begitu ceritanya mengapa saya bisa mendaki gunung yang lumayan tinggi ini. Sebagai seorang yang cukup antusias di kegiatan outdoor, saya cukup bersemangat ketika temen-temen sispala mengajakku naik Lawu sepulang sekolah. Waktu itu kami berangkat dari sekolahan di Sabtu siang. Sepulang sekolah kami langsung cabut cari bis ke arah Solo. Asal kalian tahu aja, kami berangkat dengan seragam SMA untuk menghemat ongkos transport. Dengan seragam sekolah, kita akan membayar biaya bis setengah dari harga umum tanpa ditanyakan identitas macam-macam sama kondektur. Kalau kalian ingin ngirit, coba deh, ikutin cara saya waktu SMA dulu…
Pendakian tektok pertama kali tentu gak pernah saya lupakan, merasakan kenangan alangkah dinginnya suasana malam di Gunung ini. Apalagi, waktu itu kami tidur di pinggir jalan setapak dengan tutup selimut yang dipakai bersamaan. Maklum, anak-anak sudah terlalu kecapekan dan tidak ada satupun yang merelakan tenaganya buat mendirikan tenda. Sungguh sia-sia kami bawa tenda sampai ke puncak tanpa kepake sama sekali. Tetapi yang masih menjadi kenangan adalah poto kami di puncak dengan seragam SMA yang tidak akan pernah saya dapatkan lagi, dan itu merupakan satu-satunya kenangan berfoto di puncak dengan seragam sekolah. Jarang-jarang anak SMA muncak gunung pake seragam, gak ada gurunya juga di sana… Yah, minimal itu sebuah wujud anak muda jaman dulu buat mengekspresikan suatu kegembiraan dan berita bahagia, bukan begitu?
Sampai sekarang, sudah sekitar 4 kali saya menjamah gunung Lawu ini walau sebatas mengenal jalur Cemoro Sewu, jalur yang paling umum dan paling dikenal bagi para pendaki. Layaknya Slamet via Bambangan, Sindoro-Sumbing via Garung, Merbabu via Wekas, Merapi via Selo, atau Ungaran via Mawar. Pernah juga sesekali lewat jalur Cemoro Kandang, karena ingin menikmati sate kelinci sehabis pendakian. Ceritanya, sekitar lima tahun yang lalu saya bersama teman-teman main ke Candi Cetho, sehabis menikmati suasana kebun teh. Disitu saya melihat beberapa pendaki yang mau muncak via Cetho ini. Tentu suatu saat saya ingin mencoba jalur ini kalau sudah resmi dibuka. Pada saat itu jalur Cetho ini belum dibuka secara resmi, walaupun sudah banyak yang mendaki.
Jika sebelumnya selalu mendaki secara tektok di malam hari, untuk kali ini saya ingin mendaki secara santai. Niat kami dari awal memang untuk menikmati suasana padang sabana dan nge-camp di sana. Makanya, kami melakukan perjalanan ini selama tiga hari, dan hanya melakukan perjalanan di siang hari saja. Dulu saya selalu tektok di setiap pendakian, namun beberapa tahun belakangan ini jarang sekali saya tektok, bahkan bisa dikatakan hampir tidak pernah. Habitku sekarang, mendaki buat menikmati suasana, bukan sekedar mencapai puncak seperti ketika SMA dulu. adoh adohhh…
Jalur Candi Cetho merupakan jalur favorit bagi pendaki yang ingin menikmati sabana-nya Lawu, karena tidak akan ditemui di jalur resmi lainnya seperti Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang. Lokasi beskemnya terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Saat menuju ke sini, kita akan disuguhi panorama pemandangan kebun teh di sepanjang perjalanan. Tentu begitu istimewa… bahkan jika berminat, kalian bisa mengunjungi wisata kebun teh di sepanjang perjalanan menuju beskem baik sepulang ataupun sebelum naik. Perlu kalian ketahui, Jalur Lawu via Ceto lumayan panjang lur, karena lokasi beskem berada di ketinggian sekitar 1.500 mdpl. Kalian hitung sendiri, berapa elevasinya untuk menuju ke puncak Lawu di 3.265 mdpl (cari kalkulator…)
Begitu sampai di beskem, kami istirahat sebentar sambil mempersiapkan kembali semua logistik untuk pendakian. Pak Tarjo menerima para pendaki dengan baik dan ramah, termasuk juga kepada kami ketika sampai lokasi. Bahkan beliau rela membawakan carrier menuju rumahnya saat kami kesulitan untuk mencari tempat parkir. (baik banget yaaa..) waktu itu memang sedang banyak pendaki yang datang dan berkumpul di seputaran tempat parkir. Penyambutan tuan rumah membuat kami nyaman berada di beskem ‘Barokah' ini. Pendakian Lawu kali ini lumayan ramai, karena mayoritas gunung sedang tutup. Bahkan hampir semua gunung tinggi di Jawa Tengah dalam kondisi ditutup, dan cuma Lawu satu-satunya yang resmi dibuka. Maklum, mungkin itu puncaknya musim kemarau, makanya pada kebakaran dimana-mana. Tak lama kemudian kami berangkat menuju ke pos retribusi yang berada di sebelah barat Candi Cetho. Untuk menuju ke pos pendaftaran, kita harus mlipir sedikit lewat samping lokasi Candi Cetho. Sambil berjalan, saya menoleh ke turis yang masuk ke kawasan candi dengan kain jarik yang disarungkan. Nuansanya mirip seperti wisatawan Candi Prambanan atau Borobudur. Ternyata tiket masuk ke Candi Cetho ini masih murah, hampir sama seperti saat aku ke sini lima tahun lalu. Berbeda jauh dengan harga tiket Candi Prambanan atau Borobudur sekarang ini.
Saat registrasi, kami meninggalkan identitas yang akan diambil lagi pada saat turun nanti. Tak lupa, petugas pos jaga menginfokan dengan jelas tentang peraturan pendakian ini baik dari segi jalur, estimasi waktu, maupun larangan-larangan yang tidak boleh kami lakukan selama pendakian. Cuss, langung saja kami memulai perjalanan setelah semua urusan beres. Tak lupa kami berdoa seperti biasa, agar diberi kelancaran selama pendakian hingga kembali ke rumah. Beberapa pendaki terlihat masih istirahat di shelter sebelah pos ketika kami berjalan memutari candi. Jalur awal pendakian memang tidak melalui kawasan candi, dan hanya memutar di sebelah kirinya. Namun, di depan nanti kita akan dapat melihat dengan jelas Candi Kethek yang berada di samping kanan jalur pendakian.
Menuju ke pos 1 (Mbah Branti) 1.705 mdpl
Di awal perjalanan ini kami melewati tiga gapura kecil dari bambu yang cukup mirip dari segi model dan ukuran. Di atasnya tertulis, ‘Pendakian Lawu via Candi Cetho’ terpampang jelas. Setelah itu kami harus melewati lereng jalan memutari sungai, mengikuti jalan yang sudah di-cor seperti anak tangga walaupun hanya beberapa ratus meter saja. Di depan ada sedikit jalur yang dirubah akibat longsor, sehingga kami harus berpindah menuju jalan berbatu. Sekitar 15 menit perjalanan, kita sampai di area Candi Ketek dengan struktur batu yang terlihat sangat kuno melebihi usia Candi Cetho di depan sana. Beberapa lahan milik warga terlihat sepi karena sudah tidak terdapat tanaman yang harus diurus. Dilihat dari bekas tanamannya, sepertinya mereka baru panen dan membiarkannya begitu saja sambil menunggu musim tanam. Lahan tanaman di jalur ini tidak terlalu luas dan kami hanya melewati sebentar saja. Selebihnya berupa semak belukar yang harus kami lalui dengan hati-hati. Pipa-pipa air terlihat menyembul di beberapa lokasi di pinggiran jalur pendakian. Pipa ini berfungsi untuk menyalukan air dari atas, sebagai sebagai sumber air bagi penduduk setempat.
Oh ya, setelah melewati kebun kami istirahat sebentar di kolam yang lumayan lebar. Kolam mini sekitar 10 meter persegi ini baru dibangun dan terlihat belum selesai, dengan material batu yang tersusun rapi di atas dan di bawah kolam. Penyaringannya pun cukup lancar, sehingga air terlihat selalu jernih. Beberapa kepala singa mengeluarkan air melalui mulutnya mengairi kolam ini. Suasana ini sungguh membuat keadaan menjadi segar. Kata seorang teman, kolam tempat kami istirahat ini dibuat oleh pemeritah untuk para peziarah yang ingin mandi, agar mereka segar kembali baik sebelum maupun sesudah ziarah ke atas. Masuk akal juga sih, karena di beberapa sudut kolam terdapat sesajen yang sudah mulai kering. Mungkin ada peziarah yang menaruhnya sekitar 2 atau 3 hari yang lalu, berdoa agar hajat mereka terkabul. Para pendaki yang mulai turun juga cukup banyak. Beberapa dari mereka kemudian beristirahat dan membersihan tubuh dari debu-debu jalanan yang cukup tebal. Jalur Cetho ini memang sering digunakan oleh peziarah menuju ke puncak untuk berdoa di Hargodumilah. Bahkan di setiap pos terdapat kotak besi berwarna hitam yang digunakan untuk menaruh sesajen. Untuk menuju ke pos satu ini, kita membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam perjalan dari titik start. Di pos 1 terdapat bangunan kayu yang ditutupi terpal. Areanya tidak terlalu luas sih, tapi bisa untuk menampung sekitar 5 tenda di sini.
Menuju ke pos 2 (Brakseng) 1.915 mdpl
Perjalanan menuju ke pos 2 ini keadaannya masih mirip dengan sebelumnya, dengan tanah berdebu diselimuti vegetasi yang lumayan rapat. Jalurnya juga cukup landai, membuat perjalanan kami tidak begitu ngos-ngosan. Tidak begitu banyak perbedaan vegetasi di sini dengan jarak tempuh sekitar satu jam, kita akan sampai di pos 2. Namun di pos 2 lokasinya lebih luas dan dapat menampung hingga 20 tenda. Jika kalian lelah, disini terdapat shelter yang cukup nyaman dan luas dibanding pos 1 tadi.
Bagi kalian yang belum pernah melewati jalur ini, pos 2 paling gampang untuk diingat, karena terdapat pohon besar dengan penutup kain yang melilitnya. Suasana di pos 2 memang terkesan mistis, namun di siang hari cukup sejuk, dan semilir angin begitu terasa saat kita beristirahat di bawah pohon besar ini. Walaupun terik matahari menyengat, suasana di sini tidak begitu panas, karena sinarnya tertutup oleh ranting-ranting pohon yang rimbun. Malah terlihat indah ketika sorotnya menyembul di sela-sela dedaunan yang lebat.
Menuju Pos 3 (Cemoro Dowo) 2.230 mdpl
Setelah istirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Perjalanan kali ini mulai terasa menanjak dengan jarak tempuh yang lumayan lama, sekitar 90 menit perjalanan untuk sampai di pos berikutnya. Dengan medan tanah yang masih berdebu, kontur tanaman lebih rapat daripada sebelumnya yang didominasi oleh pohon lamtoro di sepanjang perjalanan. Untuk menuju ke pos 3 ini, fisik dan pernafasan harus mulai diatur dengan baik.
Sekitar 10 menit sebelum pos 3 terdapat mata air yang bisa digunakan untuk mengambil air bagi para pendaki. Begitu mendengar kata ‘mata air’ membuat jiwaku bersemangat, karena itu berarti saya bisa memperoleh stok air di atas gunung. Ketika dapat info di pendaftaran mengenai mata air ini, saya membayangkan jika lokasinya terletak agak menyimpang dari jalur dan harus turun, bahkan mungkin sedikit terjal untuk mencapainya. Ternyata dugaanku salah, karena begitu tiba di lokasi saya bisa mendapatkan air dengan mudah di jalur pendakian. Air ini berasal dari kucuran pipa yang sengaja dilubangi, agar para pendaki bisa mengambil dan memanfaatkannya untuk keperluan minum. Kalau ini sih sangat mudah buat mengambilnya, tinggal membuka penutupnya, air sudah bisa mengalir. Modelnya mirip seperti di pos 2 Merbabu via Wekas.
Sebenarnya untuk menuju ke pos 3 hanya butuh berjalan sekitar 10 menit, tetapi kami memutuskan untuk mendirikan tenda disini. Selain karena dekat dengan lokasi air, kami dapat info dari pendaki yang baru turun jika pos sudah penuh dan agak susah jika kami harus nge-camp di sana. Walaupun hari masih terlihat terang, saya langsung mengeluarkan tenda dan memasangnya karena sudah terlalu nyaman berada di sini. Malam ini hanya tenda kami saja yang berdiri kokoh di sini. Sebenarnya lokasinya cukup luas dan bisa menampung lebih dari 10 tenda dengan model bertingkat, tetapi debu di sini cukup tebal, sehingga para pendaki lebih memilih pos 3 sebagai tempat menginap walaupun harus naik-turun ke sini buat ambil air. Memang sih, di pos mata air ataupun pos 3 adalah lokasi yang paling ideal buat istirahat jika kalian akan melakukan pendakian santai selama 3 hari.
Pagi hari (yang agak siang), kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju camp selanjutnya. Benar saja, tidak sampai 10 menit kami sudah tiba di pos 3. Di sini terdapat shelter dari seng untuk istirahat dan beberapa tenda terlihat masih berdiri ditinggal penghuninya yang sedang perjalanan summit ke puncak sejak jam 3 tadi. Sebagian orang masih bersantai, terlihat bercengkerama sambil mengaduk kopi menunggu kawannya yang sedang muncak. Mereka memang tidak berencana ke puncak, cukup menikmati suasana di lokasi camp. Camps site nya juga bertingkat seperti di pos mata air tadi, tetapi tidak terlalu berdebu. Kami hanya sebentar berada di sini, karena tenaga masih full, lanjut ke pos berikutnya.
Menuju ke Pos 4 (Penggik/Ondorante) 2.563 mdpl
Perjalanan selanjutnya katanya perjalanan yang paling susah, karena medannya sangat terjal. Benar juga, saya merasakan jalur yang cukup terjal sepanjang trek yang dilewati. ‘Pelan-pelan saja lur, yang penting napasnya teratur, daripada jalan cepat tetapi nanti terlalu banyak istirahat’. Begitu kata temenku. Saya sendiri masih seperti biasa dan belum terasa lelah karena baru beberapa menit memulai perjalanan.
Di awal perjalanan, vegetasi yang terlihat masih sama dengan sebelumnya, didominasi oleh pohon lamtoro atau kaliandra yang cukup rapat di sekeliling kita. Sesekali vegetasi agak terbuka walau kami tidak dapat melihat sekeliling dengan jelas. Maklum, kabut mulai menyelimuti perjalanan kita kali ini. Jalurnya juga masih sempit dan berdebu. Namun saat akan tiba di pos 4 vegetasi mulai berganti dengan pohon cemoro yang cukup banyak. Dan hampir 2 jam perjalanan, kita sampai di pos 4, terlihat dengan adanya shelter kecil dari seng seperti pos-pos sebelumnya. Camp site di sini tidak terlalu luas, hanya bisa menampung sekitar 3 atau 4 tenda saja. Makanya, jarang yang mendirikan tenda di pos 4 ini.
Menuju ke Pos 5 (Bulak Peperangan) 2.860 mdpl
Setelah istirahat setengah jam lebih, kami melanjutkan perjalanan menuju ke pos 5. Di awal perjalanan masih saja terlihat pohon cemoro, namun setelah beberapa saat kita akan menjumpai pohon edelweis yang lumayan banyak di kanan kiri jalur. Melihat bunga ini, membuat saya semangat, merasakan benar-benar perjalanan di gunung. Jalur ini relatif lebih mudah daripada sebelumnya, walaupun waktu tempuh sedikit lebih lama. Memang sih, karena setelah melewati edelweis, terdapat beberapa bonus, jalur sedikit landai. Tetapi setelah itu kembali menanjak walaupun jalurnya berbentuk zig-zag. Saya sendiri merasakan jika jalur ini lebih susah daripada jalur sebelumnya. Ada sejumlah pohon yang roboh di beberapa tempat yang kita lalui, sehingga kalian harus berhati-hati untuk melompatinya.
Di pertengahan jalan, terdapat dua buah pohon besar di sebelah kanan kita. Jika naik ke kanan melewati pohon tersebut, kita akan melewati jalur lama untuk turun ke bawah, tetapi kami belok ke kiri, karena tujuannya mau ke puncak. Setelah melalui jalur yang zig-zag, kita akan menemui jalur yang landai, bahkan semakin landai menjelang tiba di pos 5. Menuju ke pos 5 ini akan semakin terasa nuansa padang sabananya. Terlihat beberapa sabana kecil di sepanjang jalur. Senang rasanya saat saya melewati beberapa jalur landai ini, karena tidak memerlukan tenaga lebih buat berjalan. Cukup gunakan tenaga buat menikmati suasana alamnya. Tak terasa, perjalanan sudah hampir satu setengah jam. Di sini kita akan menemui pos 5 yang sangat datar. Bahkan, buat mendirikan ratusan tenda di sini sepertinya muat. Jika kalian lewat jalur lain, yaitu jalur Jogorogo, maka akan bertemu dengan jalur Cetho di titik ini. Berbeda dengan pos-pos sebelumnya, di pos ini tidak terdapat shelter untuk berteduh pendaki ketika hujan tiba.
Menuju camp Gupak Menjangan 2.944 mdpl
Kami berfoto sebentar begitu melihat pemandangan sabana yang bagus ini. Jika lewat jalur ini, kalian tidak akan menemukan pemandangan yang menarik sebelumnya. Tetapi pemandangan-pemandangan indah akan kalian jumpai begitu menuju pos 5 hingga puncak. Berbeda dengan jalur di bawah tadi, perjalanan kali ini tidak begitu banyak debu yang harus kami lalui. Senang sekali rasanya, bisa melewati trek dengan pemandangan yang sangat indah ini. Jalurnyapun cukup landai, sehingga kami dapat dengan santai berjalan tanpa ngos-ngosan. Terlihat bukit yang menjulang tinggi dengan batu-batu besar yang menempel di sebelah kanan dan kiri jalur ketika perjalanan awal dari pos 5 ini. Pohon pinus tumbuh begitu kokohnya menutupi bukit tersebut, walaupun terlihat agak gersang di musim kemarau ini.
perjalanan dari Pos 5 menuju Gupak Menjangan
Selanjutnya akan mulai terlihat padang sabana yang terhampar begitu luas di depan kami. Tanah datar yang sangat luas ini sebenarnya cukup sayang untuk dilewatkan begitu saja, namun terik matahari yang begitu panas membuat kami tidak bisa berlama-lama, takut kulit menjadi gosong. Beberapa pendaki terlihat bersantai dan mendirikan tenda. Mungkin mereka ingin menikmati pemandangan sabana di malam hari sehingga memutuskan untuk mendirikan tenda di situ. Perjalanan menuju Gupakan Menjangan tidak terlalu lama, hanya 30 menit perjalanan kami sudah tiba. Keadaan alam di sekeliling kami yang membuat mata terpesona, menjadikan perjalanan pendek ini terasa begitu cepat. Ah, ternyata lokasi di Gupak menjangan lebih syahdu lagi, didominasi oleh pohon pinus yang cukup rimbun, membuat lokasi begitu favorit untuk dijadikan camp bagi para pendaki.
Gupak Menjangan
Terik matahari masih panas dan cahaya masih terlihat terang di atas sana ketika kami tiba di Gupakan Menjangan. Walauapun begitu, kami tidak ingin melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya. Cukup sampai di sini saja perjalanan hari ini, karena kami ingin rebahan dahulu sambil menikmati indahnya sabana yang terbentang luas di depan kami. Sabana ini terbelah oleh jalur pendakian yang berada di tengah-tengahnya. Saya langsung meletakkan carrier di bawah pohon pinus, lalu berjalan ke arah sabana untuk menikmati suasana. Di sebelah kiri terdapat bukit yang ditumbuhi oleh pohon pinus, sementara di sebelah kanan masih saja terlihat padang sabana yang cukup luas. Beberapa pendaki terlihat sedang berjalan melewati jalur, membelah sabana hingga ujungnya, lalu berbelok sedikit ke kiri memutari bukit hingga samar-samar mereka menghilang.
Saya masih saja duduk di semak-semak yang terlindungi oleh awan, mengobrol dengan kawan sependakian, sementara beberapa teman yang lain sedang hunting foto di tengah sabana. Ketika hujan tiba, sabana yang berupa cekungan di depan saya duduk ini akan menjadi danau kecil dengan diameter sekitar 100-an meter persegi. Namun hanya beberapa jam setelah hujan reda, air kembali surut masuk ke dalam tanah. Pendaki yang beruntung dapat mengabadikannya seperti Ranu Kumbolo di Semeru versi mini. Katanya sih tempat ini dulu buat minum binatang yang ada di sekitaran sini dikala tergenang air. Salah satunya adalah menjangan, makanya lokasinya disebut gupak menjangan. Cukup lama kami bersantai bersama beberapa pendaki semenjak tadi, tanpa terasa cuaca hampir gelap. Saya bergegas untuk mendirikan tenda yang terletak di ujung, agar tidak terlalu berisik dan mengganggu pendaki lain, karena kami bawa genset yang selalu menggelegar tiap malam (hehehe). Sudah ada sekitar 10 tenda yang berdiri di sekitaran kami saat ini, dan tentunya akan semakin bertambah banyak sampai malam nanti. Hawa di luar tenda cukup dingin, saatnya saya masuk dan bergantian dengan teman yang siap-siap untuk memasak. Bagi kalian yang mendaki Lawu ini, jangan lupa bawa jaket karena cuaca di sini sangat dingin.
Menuju Hargo Dalem 3.152 mdpl
Awalnya sih saya sama sekali tidak ada niatan buat summit ke puncak, karena sudah pernah ke sana beberapa kali meskipun lewat jalur yang berbeda. Namun pagi ini keinginan saya berubah, karena sudah cukup lama saya tidak merasakan puncak Lawu ini. Sekitar jam 8 pagi akhirnya kami semua berangkat dari tenda memulai perjalanan summit. Dalam perjalanan kali ini, karena kami hanya membawa beberapa keperluan summit saja, sementara yang lain kami tinggal di tenda. Setelah melewati padang sabana, kami sedikit memutari bukit ke sebelah kiri. Pohon cantigi mulai terlihat menggantikan sabana yang luas tadi. Tak begitu lama kita akan menemukan Pasar Dieng atau Pasar Setan, begitu melihat pecahan-pecahan bebatuan di sepanjang jalur. Di sini terdapat bekas bangunan kuno yang sudah runtuh dan tangga batu yang tertata rapi di tengah-tengah.
Kami tidak mengikuti tangga batu tersebut, tetapi memilih untuk berbelok melewati jalan sebelah kiri. Jalan sebelah kiri ini relatif lebih cepat dan sepi, namun jalurnya cukup sempit. Ketika berpapasan dengan pendaki lain kami harus bergantian, membuat perjalanan cukup lama. Hari itu cukup ramai pendaki yang melewati jalur ini, karena pas hari Minggu. Tak beberapa lama, rumah seng mulai terlihat berjajar di depan sana. Bagi para pendaki, tempat ini tidaklah asing, yang terkenal dengan sego pecelnya. Banyak yang bilang, jika warung Mbok Yem merupakan warung tertinggi di Indonesia karena lokasinya yang berada di atas gunung. Namun begitu, sebenarnya ada beberapa warung di sekitarnya yang juga melayani para pendaki di saat ramai. Bedanya, warung Mbok Yem akan selalu buka setiap saat, dan bilau hanya turun pada saat lebaran. Cari minuman hangat dulu sebelum muncak, biar badan seger dan bugar...
Menuju Puncak Hargo Dumilah 3.265 mdpl
Menuju ke puncak tertinggi Lawu membutuhkan waktu sekitar setengah jam dari warung Mbok Yem ini. Kami memilih untuk lewat jalur yang sepi agar tidak terlalu banyak menghirup debu. Waktu sudah agak siang, tetapi masih banyak pendaki yang ingin menuju ke puncak membuat jalan utama cukup berdebu. Kami melewati jalur di samping rumah Mbok Yem dan melewati jalur sepi. Jalur ini lebih cepat daripada jalur utama, dan sepanjang perjalanan kita dapat melihat Puncak Pemancar atau disebut dengan Hargo Puruso. Bendera merah putih terlihat berkibar-kibar terkena angin menjulai di atas pemancar itu. Lokasi itu lebih terkenal dengan sebutan Puncak Pemancar, karena di sana terdapat pemancar milik stasiun TVRI dengan tinggi lebih dari 10 meter.
Puncak Hargo Dumilah
Sebelum sampai puncak, jalur yang kami lalui akan kembali bertemu dengan jalur utama, membuat perjalanan kembali berdebu. Tetapi buff sudah saya persiapkan, tinggal menarik ke atas buat menutupi hidung. Lima menit kemudian kami sampai di Puncak Hargo Dumilah bersama beberapa pendaki yang sudah ada di sana. Puncak ini masih sama seperti dahulu, dan tidak tampak adanya perubahan seperti yang saya lihat terakhir kali. Di sini kami istirahat sebentar, melihat lalu-lalang para pendaki yang saling bergantian berfoto. Mengabadikan moment terpentingnya Saya sendiri asik dengan beberapa burung jalak yang beterbangan di samping tempat kami duduk.
Turun kembali ke tempat camp
Setelah cukup puas berada di sini, kami kembali ke tempat kamp lewat jalur yang sama seperti pada saat berangkat. Mungkin tidak terlalu banyak yang tahu jalur ini, sehingga tidak perlu antri ketika simpangan dengan pendaki lain akibat debu yang cukup tebal. Sepanjang turun sampai ke Warung Mbok Yem, kami hanya berpapasan dengan dua orang saja, padahal di jalur utama cukup ramai para pendaki baik yang ingin naik maupun turun dari puncak. Tak lupa, kami menikmati makanan khas di ketinggian Lawu. P.e.c.e.l. Banyak pendaki yang sengaja datang ke sini untuk bernostalgia menikmati pecel di ketinggian Lawu, termasuk salah satu bapak yang berpapasan dengan kami tadi. Dia mendaki seorang diri hanya untuk merasakan pecel Mbok Yem yang khas katanya.
menikmati segarnya es buah di camp Gupak Menjangan. Sabana terhampar luas di belakang kami
Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan turun ke tenda. Masih saja kami berpapasan dengan beberapa pendaki yang ingin naik menuju ke Puncak Hargodumilah. Hingga akhirnya kami tiba kembali ke tenda di antara pohon pinus yang sangat rindang. Di sini sudah ada teman yang tadi turun terlebih dahulu, menyiapkan sup buah yang sungguh menakjubkan. Kami istirahat sebentar di samping tenda sambil menikmati es buah yang dibungkus dengan wadah semangka ini. Jaman sekarang, harga bukan hanya tercermin dari kualitas barangnya saja, tetapi suasana membuat harga semakin melambung. So, kamu perlu porter buat bawa barang, jika gak mau capek angkut-angkut bawaan yang berat ke sin. Bongkahan semangka dengan berbagai jenis buah di mix jadi satu bersama susu, membuat sup buah ini begitu menggoda bagi siapapun yang melihatnya. Ingin rasanya berlama-lama lagi di sini, namun waktu mengharuskan kami untuk segera packing, dan kembali turun ke bawah.
Perjalanan kembali ke beskem
Setelah puas menikmati es buah, kami berbenah dan segera bergegas turun. Perjalanan turun kali ini kami tempuh relatif cepat. Setelah pos 5, kali ini kami memilih jalur sebelah kiri untuk mengenang jalur lama, mencari Cemoro Kembar yang sudah tidak dilewati lagi. Tetapi lebih baik kalian jangan lewat sini jika belum ada yang pernah melalui sebelumnya. Salah satu dari kami pernah lewat jalur ini. Dia ingin kembali merasakan jalur dulu, melewati Cemoro Kembar yang cukup kesan sebagai pintu masuk menuju padang sabana kala itu, namun jalur ini sekarang sudah ditutup, digantikan jalur lain yang lebih landai. Di jalur yang kami lewati ini, kami bisa menemukan Cemoro Kembar yang menjulang tinggi, walaupun sudah mulai agak sedikit rapuh.
Berfoto di Cemoro Kembar, kalian hanya akan menemuinya jika lewat jalur lama
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan, dan hanya berhenti beberapa menit saja di setiap pos, kecuali di mata air yang hampir setengah jam. Tak lupa kami mampir sebentar di sendang untuk membersihkan kaki sebelum kembali tiba di beskem. Sampai di tempat registrasi, kami melapor kembali dan mengambil kartu identitas yang kemarin ditinggal. Hari sudah sore ketika kami sampai di beskem. Sebentar lagi magrib tiba, dan kami bergegas untuk pulang ke rumah.
Bagi seorang yang hobi mendaki,
sudah menjadi hal yang lumrah jika ingin lebih mengeksplore gunung karena
keindahannya, karena jalurnya yang gak biasa, menantang, atau ciri khas suatu
track yang berbeda dengan jalur lain untuk mencapai puncak di gunung yang sama.
Mungkin, saya adalah salah satu orang yang suka mencoba merasakan keindahan
gunung-gunung, khususnya di seputaran Jawa Tengah ini. Walaupun belum semua
gunung di Jawa Tengah pernah saya daki, tetapi saya sudah merasakan sebagian
besar puncak yang ada di kawasan Jawa Tengah ini, dan selalu ingin untuk mencoba merasakan pendakian melalui jalur baru yang berbeda. Merasakan kekhasan
tracknya, dan juga keramahan warga beskem di setiap jalur yang berbeda.
Suasana di Puncak Gunung Kembang
Bagi seorang pemula, bahkan sebagian
besar pendaki tujuan utama mereka adalah untuk mengeksplore keindahan alam yang
ada di wilayah itu. Biasanya sih spot puncak yang menjadi favorit utama, dengan
latar pegunungan, awan, atau pemandangan yang berbeda sebagai pengalaman
pendakian pertama, atau pendakian ke sekian kalinya agar kelak bisa
diceritakan ke temen atau lewat status yang bisa langsung dibagikan ke kawan
lain. Wajar sih, karna itu suatu reward atas usaha kita setelah melakukan
pendakian cukup panjang, capek, dan melelahkan yang belum tentu akan bisa
terulang kembali.
Sampai sekarang belum banyak gunung
yang mempunyai misi untukmengedukasi
para pendaki, khususnya pemula tentang Tata Cara Mendaki Yang Baik. Bukan
melalui tutorial, bukan lewat youtube, atau sekedar ilmu dan materi yang kita
serap tanpa mengaplikasikan di ruang yang sebenarnya, tetapi lewat pengalaman
langsung dengan pemahaman-pemahaman dan sanksi nyata. Sesekali kalian perlu
mencoba pendakian Gunung Kembang Via Blembem agar tahu tata cara pendakian yang
edukatif secara langsung dan nyata, sebagai bekal kalian untuk melakukan pendakian
selanjutnya.
Pengalaman pendakian
via Blembem ini suatu hal yang sangat penting bagi pendaki pemula,
karena belum ada satu gunungpun yang saya temui, mempunyai misi pendakian yang
cukup edukatif seperti jalur Blembem ini. Mungkin beberapa gunung sudah mengelola pendakian secara professional atau online. Namun, jika
pengelolaannya dilakukan secara edukatif, saya yakin belum begitu banyak yang
melakukannya. Yang saya tahu, baru
Gunung Gede Pangrango yang melarang penggunaan botol air mineral untuk dibawa
ke atas. Saya belum tahu gunung lainnya, karena selama melakukan
pendakian, belum ada satupun gunung yang saya jumpai melakukan screening logistik
secara ketat, termasuk pemahaman mengenai sampah yang akan timbul dari barang
bawaan para pendaki.
Berbeda dengan Gunung Kembang ini,
yang banyak disebut sebagai anak dari Gunung Sumbing. Di sini kalian akan
diajari bagaimana menjaga dan merawat gunung kita agar tetap asri. Saya sendiri
sudah setahun yang lalu mendengar tentang kebersihan dan keistimewaan pendakian
gunung via Blembem ini. Sebelumnya, satu setengah tahun yang lalu salah satu
teman, theslackerhiker pernah mereview gunung ini ketika baru saja dibuka,
namun belum seketat saat saya melakukan pendakian kemarin.
Semua penjaga yang berasal dari
berbagai komunitas begitu ramah saat menjelaskan secara detail prosedur
pendakian lewat beskem yang berada di tengah-tengah kebun teh ini. Sebelum
registrasi, kita diwajibkan untuk mencatat semua barang yang mengandung plastik, kaleng, senjata tajam dan beberapa barang lain yang membutuhkan waktu lama
untuk terurai. Kita akan diberikan selembar kertas checklist untuk kita isi
secara detail. Kalau perlu jenis logistiknya kita tulis agar nanti saat turun
mudah untuk melaporkan kembali. Termasuk pula saat saya membawa sebungkus rokok
yang tinggal sepuluh batang, karena saat turun nanti tidak boleh sebatang puntung
rokokpun yang tertinggal di atas. Jika ada salah satu yang tertinggal, maka
kalian akan kena denda sebesar 1.025.000,- rupiah, atau kalian akan diminta
naik ke puncak kembali untuk mencari barang tersebut seperti salah satu pendaki
yang kehilangan bungkus sachet kopinya saat saya turun. Denda sudah
terpampang jelas di beberapa sudut agar setiap pedaki bisa membacanya dengan
mudah. So, kalian tak bisa mengelak jika ada satu barang yang hilang dari
daftar check list mu saat turun nanti.
Ada beberapa hal yang dilarang,
seperti membawa tissue basah. Beberapa gunung sudah
menerapkan hal ini. Termasuk saya sendiri yang sudah menghilangkan tissue basah
dari daftar bawaan dalam setahun terakhir ini. Pendaki
juga dilarang untuk camp di area hutan, dan hanya diperbolehkan camp mulai dari
sabana sampai puncak. Itu artinya, kalian harus berjalan sekitar 3 jam terlebih
dahulu, baru bisa mendirikan tenda. Di Sabana hanya bisa didirikan sekitar 10
tenda, karena medannya yang relatif terjal. Namun, jika kalian bisa sampai ke
puncak yang hanya berjarak setengah jam dari Sabana, kalian akan dapat
mendirikan tenda dengan nyaman karena kontur di puncak lumayan datar dan dapat
didirikan tenda dengan kapasitas lebih dari 100 buah. Sangat jarang pendaki
yang mendirikan tenda selain di puncak, kecuali mereka sangat kelelahan saat
perjalanan. Saat ngecamp, kalian dilarang untuk membuat api ungguan karena
berpotensi untuk terjadi kebakaran. Begitu juga, dilarang menyalakan kembang
api sebagai euphoria seperti yang biasa dilakukan di kota ketika tahun baru.
Jika melanggar salah satu item tersebut, denda siap-siap menghampiri anda.
Botol air mineral dilarang keras
untuk dibawa naik karena berpotensi untuk tertinggal di atas. Tetapi jangan
khawatir, karena disini disediakan jerigen dan botol air minum semacam tumbler
dengan stok yang cukup banyak, yang siap menampung air anda ketika naik. Saya
memang berniat untuk menyewa jerigen 5 literan dengan biaya 10 ribu rupiah. Tetapi
ketika turun, saya masih dapat menukarkan jerigen tersebut dan dengan kembalian
8 ribu rupiah. Artinya, kalian hanya perlu membayar 2 ribu rupiah untuk menyewa
jerigen air tersebut. Sama sekali bukan sesuatu hal yang terlihat mahal atau
diaggap sebagai mencari keuntungan, karena sudah ada biaya untuk alokasi beskem
sebesar 5 ribu rupiah per pendaki. Dengan biaya tersebut, kalian mendapatkan
berbagai fasilitas seperti trashbag, plastik, musholla, toilet, bahkan cas
gratis di lokasi. Air bersih juga sudah tersedia di samping rumah secara free. Sebagai
seorang perokok, saya ambil satu botol bekas yang sudah disiapkan untuk
menampung puntung rokok, agar tidak tercecer tanpa biaya.
Penjaga beskem menyarankan saya untuk
mengambil trashbag dan juga plastik saat dia mengetahui di carrier saya tidak
terdapat trashbag ketika checklist barang bawaan. Saya mengambil 2 buah
trashbag gratis untuk saya bagi dengan teman. Bayangin aja, jika kalian membeli
trashbag secara eceran, harganya 2-3 ribu, dan disini kalian dapat secara
gratis. Memang, pendakian kali ini saya tidak memakai trashbag seperti biasa, karena
selain kemarau cuaca cukup cerah ketika saya lihat keadaan cuaca baik di langit atau di aplikasi handphone sebelum berangkat.
Setelah semua logistik dicheck list,
kami menuju tempat registrasi dan menyerahkan kartu identitas. Gak mahal sih, karena saya
hanya membayar sebesar 25.000 dengan rincian 15 ribu untuk tiket, 5 ribu untuk
biaya pengelolaan beskem, serta 5 ribu untuk biaya parkir motor. Bahkan jika
kalian ingin lebih cepat, klain bisa naik tayo yang disediakan hinga pos 1
(Kandang Celeng) dengan biaya 20 ribu rupiah. Nanti kalian akan dapat voucher
menarik yang dapat ditukarkan di beskem, berupa satu paket teh khas Tambi ini.
Saya sih lebih memilih untuk berjalan
kaki, sambil merasakan indahnya pemandangan kebun teh selama satu jam
perjalanan ini, walaupun pulangnya memilih untuk naik tayo karna bujukan teman. Setelah pos Kandang Celeng kalian hanya akan menemui hutan belukar dengan track yang cukup
terjal sampai ke puncak. Sebagian besar sih mengatakan jika jalur ini cukup
sadis, karena jarang sekali bonus untuk kita beristirahat. Namun tenang aja,
karena di setiap jalur terdapat tanda agar kita tidak tersesat, termasuk tali
di beberapa tanjakan yang cukup membantu pendaki dengan medan yang curam.
Selamat mencoba wisata edukasi,
yang baru pertama kali saya rasakan di dalam pendakian gunung ini. Mari mendaki
dengan bijak…
Hal-hal yang dilarang :
membawa tisu basah
mendirikan tenda di hutan
membawa botol air mineral kemasan
membuat api unggun
menyalakan kembang api
meninggalkan sampah anorganik
masuk kawasan tanpa ijin
menebang pohon
membawa senjata tajam lebih dari
20 cm
membawa senjata api
membawa alat musik/speaker
membawa minumn keras
memetik edelweis
jika melanggar, maka denda
sebesar 1.025.000,- per item
Jalur :
Beskem- Kandang Celeng : 1 jam
(sekarang tidak melewati istana katak)
Pendakian Gunung Argopuro Via Baderan-Bremi - Pendakian kali ini, kami akan mengujungi salah satu gunung dengan track pendakian terpanjang di Jawa. Seperti pada tahun sebelumnya, kami sudah berencana jauh-jauh hari untuk melakukan pendakian pasca lebaran ini. Maklum, kami semua pengangguran, jadi cukup enjoy dan bisa mendaki gunung kapanpun saat ada kemauan. Tinggal budjet saja yang harus disesuaikan, hehe...
Seperti yang kita ketahui, Gunung Argopro adalah salah satu gunung dengan track terpanjang di Jawa, dengan panjang track sekitar 50 km, sehingga butuh persiapan yang matang baik manajemen logistik maupun manajemen perjalanannya. Gunung yang berada kawasan Suaka Margasatwa Pegunungan Yang ini berada di antara gunung Raung dan juga Semeru. Posisi Gunung Argopro ini berada di 5 kabupaten yaitu Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, dan Situbondo, dengan luas hampir 15 ribu hektar.
Terdapat 3 puncak tinggi yang menjadi tujuan utama para pendaki ketika melakukan perjalanan pendakian ke tempat ini, yaitu puncak Arca/Puncak Hyang, Puncak Rengganis, dan Puncak Argopro sebagai puncak tertingginya. Konon, di salah satu puncak ini, yaitu Puncak Rengganis adalah tempat bermukim Dewi Rengganis pada saat itu, adik dari Nyi Roro Kidul.
Rute yang kami pilih adalah Baderan-Bremi dengan melintas melalui puncak. Jika di tahun sebelumnya referensi yang umum dipakai adalah jalur Bremi-Baderan, beberapa tahun terakhir jalur Baderan-Bremi sudah mulai banyak dijdikan referensi oleh para pendaki. Seperti pepatah bilang: Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Lewat jalur Baderan-Bremi ini kita akan melewati jalur dengan track yang lumayan panjang namun relatif landai, dan setelah melalui puncak, kita bisa istirahat menikmati indahnya Danau Taman Hidup sambil berenang maupun memancing di sana (kalau mau), sebelum kembali lagi turun ke beskem Bremi.
Dua orang dari kami pernah mendaki gunung ini sebelumnya di tahun 2013 dan 2014. Tetapi melalui jalur Bremi-Baderan serta Baderan-Bremi tanpa melintasi puncak. Sebelumnya, untuk melintas antar jalur ini umumnya melalui Cisentor sebagai persimpangan antar jalur. Baru pada setahun terakhir, jalur lintas melalui Puncak Argopuro dengan melewati Cemoro Limo banyak dilalui oleh para pendaki, dan cukup mempersingkat waktu perjalanan kami.
Lain halnya jika kita start melalui Bremi. Start dari sini relatif lebih cepat, bahkan bisa ditempuh dalam 2 hari saja sampai puncak, dengan medan yang cukup terjal dan lebih pendek. Bagi kalian yang tujuan utamanya adalah menuju puncak dengan waktu singkat, maka jalur ini menjadi referensi tersendiri. Namun jika ingin menikmati perjalanan sambil melihat pemandangan dan hewan-hewan liar seperti babi hutan, monyet, ayam hutan, dan juga merak, jalur Baderan lebih nyaman, dengan menginap semalam di Cikasur sambil menunggu merak di pagi hari. Bisa juga naik lewat Bremi dulu, lalu menimati sisa perjalanan di Cikasur sebelum turun ke Baderan, namun dengan perjalanan turun yang masih panjang.
Beskem Baderan
Kembali ke perjalanan kami, tidak lupa kami belanja bekal terlebih dahulu di pasar Besuki sebelum melanjutkan perjalanan menuju beskem Baderan. Beskem Baderan terletak di Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo. Dan tepat setahun yang lalu saya berada di daerah ini selama satu minggu untuk pergi ke kebun-kebun kopi milik warga untuk melihat sejauh mana budi daya kopi di sini bisa meningkatkan kesejahteraan warga sekitar, termasuk juga rantai distribusi penyaluran buah kopi di wilayah ini. So, jadi saya sudah sedikit banyak mengetahui wilayah desa di seputaran Sumber Malang ini.
Di Baderan ini tidak terlalu banyak toko kelontong yang menjual aneka keperluan untuk mendaki gunung, apalagi sayuran. Karena di sana mayoritasnya adalah petani kopi dan tembakau. Berbeda dengan warga di Bremi yang sudah ramai dengan banyak kios besar, serta jalan yang sudah aspal bagus.
Siang hari kami telah sampai di Baderan, dan istirahat sambil mempersiapkan perlengkapan untuk perjalanan esok hari. Tak lupa kami melapor dan registrasi terlebih dahulu sebelum melakukan pendakian.
Hari ke 1
Kami memilih untuk menggunakan ojek dari beskem menuju ke batas makadam sejauh 4 kilometer untuk menghemat tenaga kami di awal. Dengan menggunakan ojek ini kami bisa menyimpan tenaga yang seharusnya bisa ditempuh sekitar 4 jam-an. Jalan yang dilalui adalah tanah berbatu dengan banyak gundukan, sehingga kami harus berhati-hati saat naik ojek. Bagi kalian yang gak biasa, maka perjalanan ini terasa sedikit sakit, dengan jalan rusak yang bergelombang. Sepanjang jalan masih banyak perbaikan yang sedang dikerjakan oleh masyarkat baik membersihkan jalan, menambal jalan, maupun mereka yang sedang membuat talud agar jalan tidak tergerus air ketika hujan.
Tiba di batas makadam, kami mulai melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju ke Pos Mata Air 1. Di sini kami istirahat sebentar sambil makan siang dari bekal yang sudah kami persiapkan sebelumnya, agar menghemat waktu perjalanan kami. Setelah itu kembali melanjutkan perjalanan menuju ke pos mata air 2. Jalan yang kami lalui banyak percabangan, antara jalur biasa dan jalur yang bisa dilalui sepeda motor. Jalur yang bisa dilalui oleh sepeda motor ini cukup sempit dan agak berlumpur, sehingga kita harus menapakkan kaki kita di tengah-tengah jalur tersebut, sambil berhati-hati agar tidak terpeleset.
Kami memilih mendirkan tenda di pos mata air 2 ini, karena selain dekat dengan mata air, lokasi camp cukup tertutup dari terpaan angin. Jika ingin mengambil air, kalian bisa turun sekitar 100 meter ke bawah di samping kanan tempat camp. Tetapi, kalian perlu berhati-hati, karena jalan menurun ini cukup terjal dan sedikit licin, dan apalagi di musim hujan. Ada 2 tempat yang bisa dijadikan sebagai tempat camp di sini, yaitu di bagian atas dan sebelah bawah. Kami memilih di bagian bawah, karena agak tertutup oleh pepohonan, sehingga lebih nyaman.
Hari ke 2
Setelah berkemas-kemas, kami melanjutkan perjalanan menuju titik selanjutnya yaitu Cikasur. Di awal perjalanan, kita banyak melalui semak-semak yang tinggi, sehingga jalan agak tertutup. Setelah itu kita akan melewati alun-alun kecil yang cukup bagus dengan pemandangan padang sabana-nya. Tak berselang lama, kita juga akan menemui alun-alun besar, dengan sabana yang lebih luas dari sebelumnya. Yang perlu diperhatikan, sepanjang perjalanan, kita harus berhati-hati karena ada tanaman yang banyak terdapat di Argopro ini yang perlu kita waspadai, yaitu pohon jelatang (Gardenia Palmate) atau yang biasa orang sebut dengan pohon jancukan. Mungkin dulu waktu orang sini terkena pohon ini, maka mereka reflex mengatakan “jancuk”, sebuah kata bijak yang umum dipakai orang Suroboyoan.. hehe.
Jika terkena tanaman berduri ini, maka bagian itu akan terasa gatal, seperti pengalaman saya saat terkena pohon ini secara tidak sengaja ketika akan tiba di Cikasur. Rasa gatal tersebut sampai berjam-jam baru bisa hilang. Jangan lupa juga, jika terkena tanaman ini sebaiknya durinya cepat-cepat dicabut agar tidak tertancap terlalu dalam di kulit. Keluar sedikit dari hutan kita akan melewati sabana lagi sebelum tiba di sungai Qolbu, yang banyak didatangi oleh merak di pagi hari untuk minum air. Naik sedikit dari sungai Qalbu, kita akan sampai di Cikasur, tempat camp kita selanjutnya.
Bagi kalian yang ingin menikmati perjalanan, Pos Cikasur ini sangat dianjurkan sebagai tempat menginap kalian sambil hunting merak. Karena di sekitar sini banyak merak yang berkeliaran dengan bulu yang berwarna indah seanjang 1 meter atau lebih. Tetapi kalian harus melihat dari jauh karena jika kalian mendekat, merak terebut akan terbang menjauh. Lokasi yang paling sering didatangi adalah sungai Qolbu ketika pagi hari. Merak-merak tersebut biasanya mencari minum di sini, dan kalian bisa melihatnya dari jauh. Beruntung, selama di Cikasur saya bisa melihat merak lebih dari 5 kali walaupun sebentar-sebentar.
Sungai Qolbu ini sangat jernih, dengan banyak tumbuhan selada air yang mengapung di atasnya. Namun sayang, beberapa pendaki mencuci bekas makan mereka di sungai, bahkan ada yang buang air di sini, membuat pemandangan sungai kurang mengenakkan. Tetapi, kalian perlu mencoba selada air ini untuk dimakan, dan saya anjurkan untuk mengambilnya di bagian hulu yang masih bersih. Jika membawa sambal pecel, maka rasanya sungguh luar biasa. Hem….
Menurut cerita pak Arifin ang berada di beskem Bremi, pada zaman dahulu Cikasur ini merupaan tempat penangkaran rusa di zaman Belanda, dan mereka membuat landasan pesawat untuk membawa olahan daging rusa tersebut ke tempat lain. Berjalan agak ke tengah, ada himbauan untuk dilarang melintas. Jika masuk lebih dalam ke areal tersebut, ditakutkan kita bisa tersesat jika tanpa pemandu, mengingat jalan di sana banyak bercabang menuju ke area hutan yang lain.
Hari ke 3
Seperempat jam melakukan perjalanan dari Cikasur dengan sedikit menanjak, maka kita akan melihat bekas landasan pesawat terbang pada jaman Belanda tersebut dengan jelas. Bekas landasan pesawat ini tidak begitu terlihat saat kita di Cikasur, sehingga sebaiknya kita berhenti sejenak di tanjakan ini untuk sekedar melihat pemandangan tersebut, sesekali sambil mengambil foto bekas landasan pesawat yang cukup luas.
Setelah melewati jalur yang agak lebat dengan rumput-rumput liar, serta lagi-lagi melewati sabana, kita tiba di pos Cisentor menyeberang sungai kecil. Sebelumnya, kita akan melihat banyak pohon berukuran besar yang sudah tumbang akibat kebakaran hutan. Bahkan beberapa pohon yang dilewati ukuranya cukup besar, diperkirakan dengan diameter lebih dari 2 meter.
Perjalanan kita kali ini lumayan santai, karena setelah perdebatan cukup panjang di malam hari tadi, akhirnya kami menambah hari satu malam dengan menginap di Cisentor ini. Sebelumnya kami berencana untuk langsung menginap di Sabana Argopro yang terkenal dengan sebutan Sabana Lonceng. Sabana Lonceng sendiri sebetulnya berlokasi agak di dalam, dan bukan di pinggir jalur. Tetapi, karena banyak yang menyebut lokasi ini dengan Sabana Lonceng, maka hingga sekarang Pos ini banyak yang menyebutnya dengan Sabana Lonceng.
Jalur menuju ke Cisentor ini relatif landai dengan didominasi oleh rumput dan semak-semak setinggi orang dewasa. Kalau kalian jalan di malam hari, perlu berhat-hati karena seringkali jalur tertutup oleh semak-semak. Beberapa pohon tumbang di sekitaran jalur, dan jika tidak waspada, kita bisa terkantuk.
Di Cisentor ini, kita akan menemui gubug yang bisa untuk berteduh di seberang sungai. Di depan gubug inilah kami mendirikan tenda. Sedangkan jika ingin menuju Taman Hidup, kita bisa menerabas melalui jalur di belakang gubug ini. Sungainya di sini cukup bersih, dengan debit air yang cukup banyak, sehingga kalian tidak susah-susah membawa air dari bawah. Berbeda dengan Rawa Embik, walaupun terdapat air, tetapi tidak sejernih dan sebesar debit sungai di Cisentor ini.
Lokasi camp di depan gubug ini hanya bisa untuk sekitar 5-6 tenda, tetapi di sebelah samping atas sungai terdapat lokasi yang sangat luas untuk mendirikan tenda, bekas dari camp para tentara yang melakukan latihan dan bermalam di sini.
Hari ke 4
Lagi-lagi, perjalanan kami kali ini agak santai, karena tujuan kami selanjutnya adalah Sabana Lonceng. Perjalanan awal dimlai dari Cisentor menuju ke Rawa Embik. Seperti ketika akan tiba di Cisentor, dalam perjalanan menuju ke Rawa Embik ini kita juga akan melihat banyak bebatuan berukuran besar di kanan-kiri jalan. Jauh di sebelah kanan Rawa Embik terdapat Gunung Semeru, dan jika kalian ingin mengeksplore, maka kalian harus belok ke kanan di pertengahan jalur antara Rawa Embik-Sabana Lonceng, tetapi sebaiknya membawa pemandu atau teman yang sudah pernah ke lokasi tersebut untuk agar tidak tersesat.
Sampai di Rawa Embik cuaca terlihat mendung, dan gerimis mulai tiba, sehingga kami harus memakai ponco maupun jas hujan dalam pendakian menuju ke Sabana Lonceng. Sepanjang perjalanan ini kita disuguhi oleh pepohonan edelweiss nan hijau yang cukup banyak dengan ketinggian antara 1 sampai 3 meter. Ada juga pohon yang sudah tua dengan tinggi lebih dari 4 meter. Pemandangan edelweiss nan hijau ini baru saya jumpai di pegunungan Argopro dan belum pernah saya jumpai di gunung-gunung lainnya.
Menyusuri Hijaunya Hutan Edelweiss
Mendekati Sabana Lonceng, suasana kabut menyelimuti perjalanan dengan cuaca segar sehabis hujan. Kami langsung mendirikan tenda, karena beberapa teman sudah kedinginan akibat terpaanhujan sepanjang perjalanan. Ternyata, malam ini hanya kami saja yang bertenda di pos Sabana Lonceng ini, tanpa ada tim lain yang ikut menemani suasana malam kami di sini.
Kabut di Sabana Lonceng
Hari ke 5
Pagi hari kami summit ke puncak Rengganis. Perjalanan ke puncak Rengganis dari Sabana Lonceng hanya sekitar 500 meter dilalui dengan santai tidak sampai 30 menit. Kami hanya membawa perbekalan sedikit, dan barang-barang lain kami tinggal di tenda. Sebelum sampai di puncak kami melihat beberapa bekas bangunan di sebelah kiri jalur (sedikit agak masuk) serta tumpukan batu yang menyerupai makam di sebelah kanan. Kami sendiri tidak tahu, apakah itu makam atau bukan, karena tidak ada tanda-tanda seperti nisan ataupun hal lain yang bisa meyakinkan kami mengenai hal itu. Sesekali, saya mengamati tumpukan-tumpukan batu kecil yang ditata ke atas oleh para pendaki yang iseng belajar menata batu biar bisa simetris. Konon, di puncak Rengganis ini terdapat batu yang ada airnya, dan jika beruntung, kita bisa mengambil air tersebut sampai beberapa botol.
Setelah merasa cukup explore Puncak Rengganis, kami kembali lagi ke tenda. Tak lupa sarapan buat persiapan summit ke puncak tertinggi, yaitu puncak Argopuro. Perjalanan summit kali ini agak siangan, karena kami istirahat sebentar sambil mengeringkan barang yang basah kemarin. Cuaca kali ini cukup cerah, menemani perjalanan summit sekitar 30 menit menuju puncak dengan medan yang cukup terjal.
Di Puncak Argopro ini ditandai dengan patok baja triangulasi yang tidak terlalu tinggi. Tidak seperti pemandangan puncak di gunung yang lain, di puncak Argopro ini terdapat beberapa pohon yang menjulang, walaupun tidak terlalu tinggi.
Perjalanan kami lanjutkan kembali ke puncak Arca/Puncak Hyang, melewati bebatuan yang agak landai. Tidak sampai 30 menit kami sudah sampai di puncak Arca. Sedikit flashback di di tahun 2006 lalu, ada teman dari salah satu anggota tim kami yang hilang misterius, dan hanya ditemukan jejak gelasnya di saddle dari Puncak Argopuro menuju Puncak Arca ini dan belum ketemu hingga sekarang.
Puncak Arca berada di sebelah atas, sedangkan arcanya sendiri agak di bawah tertutup tanah dengan jarak sekitar 3 meter dari Puncak Arca tersebut. Tetapi kepala arca tersebut kini sudah tidak ada akibat ulah tangan orang jahil yang mengambil patung kepala arca secara tidak bertanggungjawab. Kami beruntung, bisa melihat awan indah di seberang sana dari bawah puncak Arca ini, ketika kabut turun.
Setelah itu kami turun menuju ke Danau Taman Hidup, melalui Cemoro Limo. Perjalanan ke Cemoro Limo ini cukup terjal, dan melalui beberapa tebing. Kami juga menemukan beberapa sungai musiman, yang hanya ada air ketika musim hujan. Sepanjang perjalanan kita perlu berhati-hati, karena tanahnya cukup licin.
Di Cemoro Limo terdapat tanda bekas camp tentara seperti halnya di Cisentor. Tempat ini sangat cocok untuk beristirahat sejenak, di bawah naungan pohon cemara yang rindang, dan kita juga bisa melihat pemandangan awan. Di depannya juga terdapat puncak, tetapi tidak ada jalur untuk menuju ke sana. Kami sebenarnya sudah mencoba untuk naik ke puncak tersebut untuk melihat danau yang ada di atas puncaknya, namun belum ada setengah perjalanan, kabut melanda, sehingga kami memutuskan untuk kembali turun ke Cemoro Limo.
Konon, dulu gunung tersebut merupakan daerah yang subur dan indah, dengan danau yang berada di atas puncak. Namun karena Dewi Rengganis tidak suka, maka gunung tersebut dikutuk menjadi daerah yang kering dan tandus. Bahkan sampai sekarang, ketika musim hujan tiba, danau tersebut tetap tidak ada airnya.
menikmati kopi pagi di Danau Taman Hidup
Lelah terasa hilang, setelah kita tiba di Danau Taman Hidup yang cukup luas dengan pemandangan berselimut kabut ketika kami sampai. Kalian bisa mendirikan tenda di pinggir danau ini sambil menikmati pemandangan layaknya di Ranukumbolo, tetapi suhunya cukup dingin di malam hari. Jika ingin mencari yang agak tertutup, lebih baik mendirikan tenda di area camp yang agak masuk, agar lebih nyaman.
Saya iseng-iseng mengelilingi danau ini, dengan berjalan sekitar 1 jam. Namun, jika ingin berjalan di area danau, lebih enak tidak memakai sepatu karena beberapa tanah tergenang air. Di seberang danau, tanah berwarna merah dan sedikit licin. Banyak babi hutan di sana, karena daerahnya cukup rimbun. Saya sendiri beberapa kali melihat segerombolan babi hutan yang berlarian masuk ke rerimbunan pohon.
Hari ke 6
Hari terakhir perjalanan ini, kami lakukan dengan santai. Setelah mengambil gambar di danau, kami melanjutkan menyusuri hutan dengan jalan tanah menurun. Jalur yang kita lalui banyak percabangan ataupun ada 2 jalur. Namun rata-rata jalur tersebut bertemu setelah beberapa meter kita berjalan. Jadi kalian bebas memilih apakah mau menggunakan jalur yang landai, atau jalur yang lebih cepat. Semua sama saja, karena akan kembali bertemu di jalur berikutnya.
Di bagian bawah, kita akan banyak melihat pohon damar yang diambil getahnya oleh masyarakat sekitar. Kemudian terakhir, kita akan melalui kebun milik warga yang banyak ditanami berbagai jenis sayuran, dengan sungai kecil di pinggirnya. Airnya sungguh menyegarkan jika diminum. Di sebelah kiri kita terdapat Gunung Gendeng menjulang tinggi di seberang sungai, dengan punggungan yang menyatu ke arah puncak.
Tidak terasa, kami sampai di beskem Bremi setelah melalui perjalanan selama enam hari ini. Oya, jika kalian naik angkutan, dari Bremi ini hanya 2 kali lewat, yaitu di pagi hari sekitar jam 6 dan sore hari sekitar jam 4. Selamat mencoba… Berikut estimasi pilihan biaya yang perlu kalian keluarkan
Tarif ojek :
Besuki-Baderan (+/- 30 menit) : 45.000-50.000,-
Beskem-Batas Makadam (+/- 30 menit) : 40.000,-
Baderan-Cikasur (+/- 3 jam) : 300.000,-
Biaya Registrasi lokal :
Week days : 20.000/orang/hari
Week end : 30.000/orang/hari
Mancanegara :
Week days : 250.000/orang/hari
Week end : 375.000/orang/hari
Estimasi lama perjalanan kami (santai dengan carrier)
Beskem Baderan – Batas Makadam (dengan ojek) : 30 menit -- jarak 4 km
Batas Makadam – Pos Mata Air 1 : 4 jam – jarak 3 km
Pos Mata Air 1 - Pos Mata Air 2 : 3 jam – jarak 5,5 km
Pos Mata Air 2 – Alun-Alun Kecil : 1 jam – jarak 2,5 km
Alun-Alun Kecil - Alun-Alun Besar : 2 jam – jarak 2 km
Alun-Alun Besar – Cikasur : 1,5 jam – jarak 3,5 km
Cikasur - Cisentor : 5 jam - jarak 5 km
Cisentor - Sabana Lonceng : 6 jam - jarak 5,5 km
Sabana Lonceng - Puncak Rengganis : 20 Menit - Jarak 0,5 km
Sabana Lonceng - Danau Taman Hidup : 6 jam - jarak 9,5 km
Danau Taman Hidup - Bremi : 3 jam - jarak 7,5 km
“Ekspedisi 100 Hari di Puncak Gunung Merbabu” ngobrol-ngobrol langsung dengan mereka - Setelah cukup lama gak merasakan jalur yang paling sering saya daki sewaktu SMA, kini kembali merasakan jalur ini lagi. Terakhir pendakian, sekitar tahun 2013, dan itupun cuma camping di pos 2. Sewaktu SMA, jalur Wekas ini adalah satu satunya jalur yang pernah saya daki, walaupun ada jalur lain di sebelah utara sana. Mungkin karena jalurnya yang relatif mudah dan ada air di pos 2, sehingga tiap kali teman mengajak naik ke Merbabu, jalur inilah yang selalu dipakai.
Puncak Kenteng Songo
Perjalanan Merbabu via Wekas kali ini, kita ingin mengetahui, dan ngobrol langsung terkait kegiatan para pendaki yang sedang menjalani Ekspedisi 100 hari di Gunung Merbabu ini. Tentu saja, tujuan kami adalah langsung ke puncak dan mewawancarai mereka yang sedang menjalaninya, Yaitu Mas Raka, yang berasal dari Salatiga sekaligus ketua tim ekspedisi ini, dan juga mas Dani, yang berasal dari Semarang. Walaupun salah seorang anggota mengundurkan diri karena suatu hal, mereka berdua tetap kompak untuk meneruskannya sampai 100 hari, yang jatuh sekitar tanggal 28 Oktober ini. Bahkan saat ketemu, mereka masih terlihat sehat bugar dan sering bercanda, tanpa ada niatan untuk berhenti di tengah jalan.
Beberapa kegiatan yang mereka lakukan selama 100 hari ini antara lain restorasi, konservasi, dan sosialisasi tentang Kenteng Songo, termasuk teknik pendakian, dan juga masalah sampah di Gunung Merbabu ini. Untuk restorasi Kenteng Songo, sejauh ini dalam tahapan pengumpulan batu, terutama yang jatuh ke bawah, di arah jalur utara. Terakhir, mereka menemukan 1 lumpang lagi di area Kenteng Songo yang terpisah, pecah menjadi 2 bagian. Penemuan ini secara tidak sengaja, karena sebenarnya hanya mengumpulkan batu dari bawah, tetapi saat itu menemukan 1 batu lagi di hari ke 70, sehingga total batu sekarang ada 7 buah lebih setengah. Terkait pengalaman, banyak hal-hal unik yang telah mereka alami selama tinggal di puncak Kenteng Songo ini, Bahkan katanya, orang yang tidak biasa bermimpi pun bisa bermimpi ketika berada di sini. Seperti itulah sindromnya di Puncak Kenteng Songo ini. Mungkin awal-awal belum bermimpi, tetapi di beberapa hari berikutnya dia akan mengalami mimpi berhubungan dengan emosi individu mereka, yang banyak keluar di dalam mimpi. Selain itu, apa yang diucapkan, banyak terjadinya. Untuk itu, kita harus berhati hati dalam mengucapkan sesuatu hal, termasuk tidak boleh menyombongkan diri selama gunung ini. Seperti saat mereka berkeinginan untuk ganti menu makan. Saat ingin ganti makan ayam, selang sehari datang 3 porsi ayam, lalu saat bercerita tentang turis, akhirnya datang juga besoknya, turis naik sendiri, tanpa porter. Cerita tentang tenda pun, selang sehari ada yang ngasih. Termasuk saat bicara tentang watu lumpang ini, saat bercerita semoga menemukan batu lagi, akhirnya menemukan juga 1 batu lumpang lagi. Semua terjadi tanpa sengaja. Tetapi jangan sampai berbicara tentang hal hal yang negatif, takutnya itupun bisa terjadi nantinya. Hal hal seperti ini yang bikin betah dan nyaman selama mereka menjalani ekspedisi 100 hari ini. Adapun keinginan atau pesan mereka untuk para pendaki Gunung Merbabu . Pertama, harapannya para pendaki jangan sampai merusak pohon atau akarnya, walaupun sudah mati. Seperti jika membutuhkan pasak, tetapi karena kekurangan, sehingga menebang pohon. Hal ini kurang bagus, lalu trecking pole yang seharusnya bawa dari rumah, tetapi masih ada juga yang mengambil di tengah jalan saat ada pohon yang bisa digunakan. Terkait masalah sampah, masih banyak yang membuang sampah di gunung. Saat menggunakan tisu basah atau botol air mineral misalnya, masih banyak yang tidak masuk ke plastik sampah sendiri, tetapi tertinggal di gunung. Masalah safety pun sangat penting buat para pendaki. Jangan sampai kita mengacuhkan safety selama pendakian Gunung Merbabu ini. Initnya, terkait kode etik dalam pendakian gunung. Kita harus lebih melestarikan alam, dengan tidak membuang sampah sembarangan dan memasukkan ke trashbag, dan masuk ke tas kita lagi, itu sudah cukup bagus. Pokoknya, apa yang kita bawa naik, sebaiknya juga bisa kita bawa turun. Hal ringan seperti ini sebetulnya harus diperhatikan. Penting juga untuk sering bertegur sapa, walaupun tidak kenal, minimal kita bisa bertegur sapa dengan sesama pendaki lain. Ada juga, peraturan tidak tertulis yang khusus diterapkan di Gunung Merbabu ini, seperi tidak boleh memindahkan batu sebagai pengganti apapun, atau memindahkan batu dimanapun, di Gunung Merbabu ini. Memindahkan saja tidak boleh, apalagi sampai mengotorinya. Hal seperti ini yang jarang dipahami oleh para pendaki Gunung Merbabu ini. Itulah, sekelumit cerita yang saya dapat ketika ngobrol dengan mereka sewaktu pendakian kemarin. Walaupun tidak banyak, tetapi minimal bisa berbagi dengan kalian, sesama pendaki, agar kita semakin bijak dan tertib saat mendaki gunung. Karena bagaimanapun juga sebagai orang yang suka mendaki gunung, kita harus ikut andil dalam melestarikan alam ini, agar gunung kita tetap lestari. Semoga ada hal menarik lagi yang bisa dibagi buat kita kemudian, sukses selalu…
Trip Rinjani (part2) - Pulang dari Kalimantan, langsung ada temen yang nge whatsapp, posisi? Seperti biasa, jika dia tanya keberadaanku pasti kalimatnya gak jauh-jauh beda, seperti itu. Ya, memang aku banyak dikenal sebagai seorang yang nomadden Kadang tinggal di Jogja, kadang di rumah, dan paling sering pindah-pindah tempat di kota lain, karena tuntutan hidup. Langsung saja kubalas, "Gi di Jogja bro". Langsung balasan selanjutnya, aku diajak untuk mendaki ke Rinjani, gunung yang cukup favorit bagi kalangan pendaki, karena Danau Segara Anakan-nya yang terkenal cantik nan indah. Dia sudah lama mengajakku, bahkan sebelum aku berangkat ke Kalimantan, bulan lalu.
Pemandangan Rinjani dari Plawangan Sembalun
Dia dan temannya, memang sudah lama ingin mendaki ke gunung ini, gak tau kenapa, tapi itulah keinginan mereka sejak lama. Bahkan, keinginan sebelummnya dicancel mereka, lantaran aku gak bisa menemani mereka. Waktu itu aku masih ada urusan di Kalimantan, hingga akhirnya sampailah di hari ini, kami berangkat ke Rinjani. Temenku ingin aku ikut, karena aku sudah pernah ke tempat itu 3 tahun yang lalu, sehingga dia merasa aman jika ada personil yang sudah pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya.
Aku putuskan untuk berangkat, walaupun harus rela meninggalkan kesempatan yang cukup dinantikan banyak orang yang baru lulus. CPNS. Ya, sungguh berat memang, melepaskan kesempatan yang satu ini. Di satu sisi, pasti yang namanya orang mencari pekerjaan ingin sesuatu yang terjamin, mapan, tetapi aku juga masih mengejar cita-citaku, walau itu sangat-sangat tidak pasti. Yang paling penting, adalah usaha kita, karena aku yakin, dan aku sangat legowo, jika kita sudah berusaha semaksimal mungkin, pasti ada suatu hikmah yang akan kita terima. masalah berhasil atau tidaknya, itu sudah urusan lain.
Seperti dulu, pendakian keduaku ini "ngeteng" yaitu perjalanan yang lanjut-berlanjut, karena mengingat budget kita yang terbatas, dalam bahasa kerennya, backpacker-an gitu. Dari jogja, pagi-pagi sudah harus cabut ke stasiun, naik Sri Tanjung. Satu-satu nya kereta ekonomi jarak jauh jurusan Banyuwangi. Malam hari, kami menginap dulu di Banyuwangi, sambil menjemput teman yang akan ikut kami, 2 orang dari sini.
Sebenarnya, kami mau langsung berangkat malam ini juga, namun karena teman kami masih ada kerjaan yang belum beres, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat besok siang. Malam ini, kami mempersiapkan kebutuhan dahulu, dan tidur agar besok pagi fresh.
Hari berikutnya, kami bersiap diri untuk perjalanan ke lombok. Dengan diantar mobil bak terbuka, kami berangkat berlima menuju ke Pelabuhan Ketapang. Tidak terlalu lama, 15 menit saja kami sudah tiba di Ketapang. Disana, sudah ada kawan yang menunggu, karena dia memang bekerja di kantor kapal. Kami langsung diantar menuju ke kapal, dan setelah itu dia kembali ke kantor di Ketapang, karena ada rapat. Lumayan, dapat tumpangan gratisan dengan kelas VIP.
Di dalem sudah ada kantin, dan ruangan ber-aAC namun kami memilih duduk di luar sambil menikmati pemandangan selat Bali ini, ditemani kopi yang dibeli, lebih tepatnya gratisan lagi, karena tidak mau dibayar. Gelombang waktu itu tergolong besar, menemani kami perjalanan sekitar sejam.
Tiba di Gilimanuk sekitar pukul 2 siang, kami langsung keluar mencari angkutan arah Ubung. Lalu dari ubung lanjut ke Padangbai .Jika malam hari, sebenarnya kalian bisa langsung cari angkutan yang menuju ke arah Padangbai. Di Padangbai, melanjutkan penyeberangan menuju ke Lembar. Biaya penyeberangan saat ini 40 ribu. Dari Lembar, kami menuju ke Mataram terlebih dahulu.
Biaya standar biasanya 15 ribu, namun karena masih terlalu dini hari dan ada salah sorang yang ingin cepat sampai ke Mataram, akhirnya kami menyewa mobil, dengan harga 25 ribu per orang. Di Mataram, tujuan kami adalah terminal Mandalika Bertais. Terminal Mandalika ini terletak di Bertais, sehingga kadang orang menyebutnya terminal Mandalika atau terminal Bertais.
Tujuan kami langsung ke barat terminal, tempat orang ngedrop sayuran, karena mereka hampir semuanya berasal dari Sembalun. Kami mencari salah satu tumpangan untuk menuju ke Sembalun, dan akhirnya dapat juga. Setelah tawar menawar, jadilah biaya per orang 30 ribu sampai ke beskem sembalun. Namun, kami menunggu dulu mereka mengantar sayuran ke penjual-penjual sayuran di sekitar area pasar sini. Mereka setiap hari mengedrop sayuran ke pedagang, sambil mengambil uang hari kemarin, jadi, bisa dibilang sistimnya adalah menitipkan sayuran ke para pedagang.
Sebenarnya, biaya ke Sembalun memang sekitar segitu. Jika naik angkutan, dari Mataram kita ke Aikmal, 15 ribu, dan dari Aikmal kita lanjut ke Sembalun sekitar 15 sampai 20 ribu. Dahulu, angkutan dari Aikmal menuju ke Sembalun cukup banyak, namun sekarang hanya tinggal beberapa biji saja. Jika sudah melewati hutan-hutan, maka kita akan menjumpai banyak kera di pinggir pinggir jalan. Mereka biasanya meminta makanan jika ada orang yang lewat.
Tiba di sembalun, kita langsung ke beskem untuk registrasi, istirahat dan sholat sebentar, dilanjutkan naik ke atas. Jika ingin menyewa porter, maka biayanya 125 ribu. Namun, biasanya porter di sini maunya minimal 2 malam. bisa saja hanya semalam, namun harganya tergantung nego. Biasanya, porter tidak mau kalau diminta untuk jalan malam hari. Rencana awal kita menginap di pos 2, namun karena masih sore, akhirnya kita hanya mengambil air saja di pos 2, dan lanjut menginap tepat di atas sebelum pos 3.
Esok pagi, kita melanjutkan perjalanan ke Plawangan Sembalun. Perjalanan kali ini juga cukup panas, karena kita melakukan perjalanan di siang hari. sekitar pukul 2 siang, kita sudah tiba di Plawangan, langsung mendirikan tenda dan menikmati suasanya keindahan alam ini. Setiap hari, turis yang naik ke sini cukup banyak, bahkan orang lokal yang mendaki ke sini hanya sepertiga turis manca.
Malam hari, kita bersiap-siap untuk summit. Tepat pukul 2 dini hari, kita melakukan perjalanan ke puncak. Perjalanan ke puncak sangat dingin, karena angin cukup kencang. Bagi kalian yang ingin ke puncak, sebaiknya memakai sepatu dan pakaian hangat, agar tidak terlalu kedinginan. Perjalanan ke puncak ini didominasi oleh pasir berbatu, sehingga 3 tanjakan yang kita gerakkan, bisa saja merosot 1 tanjakan. seperti jika kita summit di Semeru.
Tiba di puncak sekitar pukul 6 pagi, istirahat dan foto-foto. Hal yang wajib silakukan, sebagai kenang-kenangan. Seperti kode etik yang selalu kupegang, dilarang mengambil sesuatu kecuali gambar. Puas berfoto-doto, kami turun, kembali ke tenda. Karena teman-teman terlalu lelah, akhirnya kita istirahat dulu, dan baru melanjutkan perjalanan ke danau pukul 2 siang.
Perjalanan ke danau sekitar 4 jam, menuruni punggungan. perjalanan kami cukup santai, dan tiba di danau pukul 6 sore. Langsung mendirikan tenda, dan mandi di air hangat. Baru memasak untuk suplai gizi kami, sesuai semboyan, “Logika tanpa logistik naïf”. Tak lupa mancing, karena sudah dipersiapkan saat kita berangkat. Pagi hari, kembali memancing, sampai siang, lalu kembali berendam di air hangat. Karena sedang musim kemarau, maka air terjun di dekat pemandian air hangat ini tidak mengalir, tidak seperti perjalanan pertama saya, yang bisa menikmati mandi di air terjun ini waktu itu.
Sebenarnya, jika ingin mandi di sini enaknya pagi atau sore hari, disaat udara dingin, kita bisa berlama-lama merendam tubuh di kolam, namun karena kami akan melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan diri sejenak untuk berendam lagi, sebelum meninggalkan danau ini. Pukul 2 siang, kami melanjutkan perjalanan ke Plawangan Senaru. Perjalanan ke Plawangan ini sekitar 4 jam, dan kalian bisa berfoto-foto, karena banyak spot-spot yang cantik di perjalanan ke Plawangan Senaru ini, dengan latar Gunung Anak Rinjani, Danau Segara Anakan, dan juga Puncak Rinjani. Pas sebelum matahari tenggelam kami tiba si Plawangan Senaru.
Memancing Sejenak di Danau Segara Anakan
Pemandangan inilah yang paling bagus menurut saya, karena di sini, kita bisa berfoto, dengan latar belakang seperti tadi. Namun, pemandangan ini terlihat di pagi dan sore hari, karena biasanya siang hari tertutup kabut. Begitu juga dengan sunset di sini, menghadap kemanapun, pemandangan terlihat sangat indah, dengan berbagai bukit-bukit yang menghiasi pemandangan mata kita berhampar begitu luas.
Kami melanjutkan perjalanan malam, dan mendirikan tenda di pos 2. Sebenarnya, sebelum pos 2 ada keinginan untuk istirahat, tetapi akhirnya diurungkan dan lebih memilih untuk ngecamp di pos. malam ini, kami memasak ikan hasil pancingan tadi siang, lumayan menggoda, setelah perjalanan yang cukup melelahkan, hidangan kali ini sangat spesial. yang tadinya sesampai di pos ingin tidur, akhirnya ikutan makan, mengingat bau ikan goreng yang tak tahan untuk tidak mencicipinya. akhirnya, jam 12 malam kita baru istirahat.
Bangun pagi, saya langsung keluar dan mencari sumber air. Maklum, air kita tinggal stengah botol. Pasti tidak cukup untuk memasak dan bekal turun. Sekitar 100 meter dari tempat camp terdapat mata air, namun airnya tidak begitu bersih. Sayapun mengambilnya botol demi botol, dengan menggali pasir terlebih dahulu, agar keluar airnya. Setelah dirasa cukup, saya kembali naik dan memasak. Pagi ini masak terakhir kita, untuk itu kami menghabiskan logistik yang ada, sebelum turun ke beskem. selesai makan sekitar jam 9, kita lanjut turun. Dari pos 2 menuju ke pos ekstra, dan dari pos ekstra dilanjutkan ke pos 1. Istirahat sekitar 15 menit di pos 1, kami lanjut ke gerbang masuk Rinjani via Senaru.
Setelah sekitar sejam perjalanan, kami tiba, dan istirahat di sini untuk melepas lelah, sambil minum sebentar. Puas istirahat, kami melanjutkan lagi perjalanan ke beskem Senaru. Sampai di sana, langsung saja saya mencari angkutan ke jalur bis terdekat, sembari menunggu teman yang lain tiba.
Setelah mencari kesana-kemari, dan tidak dapat, akhirnya saya mengambil alternatif, yaitu mencari ojek. Jika beruntung, sebenarnya kita bisa dapat angkutan jika ada turis yang datang, lalu kita nego untuk mengantarkan ke tempat tujuan kita. Itu biasanya di pagi hari, karena kebanyakan turis datang ke sini di pagi hari dan langsung mendaki.
Plawangan Senaru
Biaya ojek standar,25 ribu per orang sampai ke terminal Anyar. Dari terminal, lanjut perjalanan ke Lembar. Karna ingin cepat, akhirnya kita naik angkutan dengan tarif 225 ribu, sampai ke pelabuhan lembar. Padahal, tarif biasa tidak sampai segitu. Niat ingin cepat sampai, ternyata tiba di pelabuhan kami diminta lagi uang 30 ribu oleh supir, karena sebelum sampai di pelabuhan, kami dioper ke mobil trayek pelabuhan sini. Saya tidak aneh, karena sebelumnya pun saya juga mengalami hal yang sama.
Perjalanan Lembar-Padang Bai kali ini lebih cepat, dari yang biasanya 6 jam bahkan lebih, kali ini penyeberangannya hanya 3 jam saja, gak tau kenapa, karena lumayan lebih cepat dari waktu standarnya. Sampai di Padang Bai, kami istirahat, sambil menunggu truk di luar pelabuhan. Karena hari sudah malam, kami cukup kesulitan untuk menyetop truk menuju ke Ketapang. Akhirnya, kami istirahat, tidur sebentar sambil menunggu pagi. Sekitar jam 2 dini hari, ada orang datang, dan menawarkan tumpangan. Setelah nego- nego, akhirnya kami ikut angkutan sampai ke Ubung, dengan biaya 100 ribu.
Tiba di Ubung masih jam 4 pagi, dilanjut mencari angkutan ke terminal Gilimanuk. Biaya per orang 35 ribu. Namun, jika tidak melakukan penawaran terlebih dahulu, kalian akan diminta uang lebih, sekitar 35 sampai 40 ribu. Dari terminal Gilimanuk lanjut jalan menuju ke pelabuhan sekitar 100 meter, dan menyeberang menuju ke ketapang. Biaya penyeberangan 6.500 per orang. Dari ketapang kami singgah dulu di Banyuwangi. Di sana kami menginap semalam, dan jalan- jalan keliling Banyuwangi. Sebenarnya ingin lebih lama di Banyuwangi, namun karena masih ada urusan di Jogja, akhirnya saya pulang terlebih dahulu.