Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Mei 2019

Oh.. Abdi Bangsaku, Kasihanilah Muridmu.. ‘Cerita Kehidupan di Borneo Barat’

Semburat mentari sudah mulai menampakkan diri sejak pagi tadi, dan kini teriknya cukup menyengatkan badan saat kita berlama-lama di bawah sinarnya. Cuaca Borneo beberapa hari ini cukup panas akibat dilewati oleh garis khatulistiwa yang membelah bumi jadi dua bagian. Ah, mungkin titik ekuinoks sedang terjadi di belahan Bumi Borneo bagian barat sekarang ini.
adheb photo
Keceriaan Siswa SD pelosok di Kalimantan
Waktu menunjukkan jam setengah delapan pagi, keceriaan anak-anak SD sudah mulai ramai terlihat memenuhi sekolah di pelosok desa yang terletak cukup jauh dari ibukota kabupaten. Mereka berbondong-bondong datang untuk mencari ilmu demi bekal masa depan yang lebih baik. Seperti asa setiap orang tua dari kita dan mereka. Tentunya, pendidikan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan agar kehidupan dewasa mereka bisa lebih maju, lebih baik, dengan menyerap semua pelajaran yang diajarkan di sekolah dari kecil. Itulah harapan tak terbantahkan dari semua orang bagi generasi penerusnya.

Setengah jam kemudian semua guru sudah berada di sekolah, karena kegiatan belajar mengajar baru dimulai ketika jam delapan teng. Di kabupaten ini, hampir semua sekolah di pelosok desa baru memulai KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) pukul delapan pagi walaupun ada beberapa sekolah yang sudah memulai sebelumnya, tetapi hal seperti ini sulit untuk ditemui. Alasan geografis, lokasi guru yang jauh dari sekolah, cuaca, akses menuju sekolah, termasuk kondisi perekonomian keluarga (tepatnya kurangnya perhatian orang tua terhadap anak) membuat beberapa siswa harus membantu kegiatan orang tua sebelum mereka berangkat ke sekolah. Karena itulah, di kabupaten ini masih tetap memberlakukan kegiatan KBM selama 6 hari, bukan 5 hari seperti di beberapa daerah lain.
Ah… memoriku sedikit mengingat kembali, flasback suasana setahun yang lalu ketika aku mengunjungi lokasi yang sama…
----------------------------------------------------------------------
Di tempat yang sama seperti setahun lalu itu, mataku masih saja melihat keadaan sekeliling sekolah yang masih sama. Nyaris tanpa ada beda. Tidak ada perubahan dengan keadaan sekolah yang terlihat bersih dan lumayan terawat dibanding beberapa sekolah lainnya. Biasanya, di sore hari halaman sekolah dimanfaatkan oleh warga setempat untuk menjemur padinya. Sama seperti tahun lalu, saya datang disaat musim ngetam tiba, dimana warga sibuk mengetam  padinya yang hanya bisa tumbuh sekali dalam setahun. Mereka menyebutnya dengan padi gunung. Senang rasanya bisa berjumpa kembali dengan beberapa abdi bangsa di sana yang masih semangat membagikan ilmu kepada anak didik dengan gigih. Beberapa guru di sini berasal dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Banten, Aceh dan sudah berpuluh-puluh tahun menjadi warga setempat sebagai pilihan jalan hidupnya.

Pak Wanari, merupakan seorang kepala sekolah yang open minded dan sangat terbuka kepada semua orang. Dia selalu berprinsip bahwa untuk dapat dipercaya oleh masyarakat, maka keterbukaan adalah hal yang utama tanpa harus ditutup-tutupi di dalam segala hal. Itulah kenapa beliau masih saja dipercaya untuk memimpin sekolah sampai sekarang, setelah kepala sekolah lama yang berasal dari Jogja pensiun beberapa tahun lalu. Beliau meneruskan tongkat kepengurusan ini tanpa pamrih, meskipun jabatannya hanya sebagai plt tanpa dapat tunjangan kepala sekolah yang seharusnya diterima. Maklum, golongannya belum menenuhi syarat untuk diangkat menjadi kepala sekokah, karna waktu itu dia melamar pns dengan ijasah SMA, walaupun sebenarnya dia sudah punya ijasah S1.

Dikala hampir semua sekolah meliburkan KBM di hari Sabtu ketika ada pertemuan KKG yang rutin diselenggarakan tiap 2 minggu sekali, beliau mempunyai kebijakan lain. Di sekolahnya, siswa diharuskan masuk walapun hanya bisa belajar dari jam delapan sampai setengah sepuluh. Setelah itu semua guru baru berangkat mengikuti kegiatan KKG. Biasanya baru dimulai jam sepuluh pagi, jika tidak molor agak siang. Dia tidak ingin siswanya kehilangan hak belajar mereka. Bayangkan saja, siswa di sini dan berbagai kecamatan lain harus kehilangan waktu belajar dua kali setiap bulan karena adanya KKG. Bukan karena kegiatannya, tetapi kebijakan kepala sekolah yang meliburkan siswa di waktu KKG membuat siswa dengan senang kehilangan hak mereka untuk memperoleh ilmu di sekolah. Lokasi KKG yang jauh atuapun rumah para guru yang jauh, membuat mereka memutuskan untuk meliburkan siswa setiap kegiatan KKG tiba. Ah, saya jadi bisa main ke sekolahan, melihat kegiatan dan belajar bersama dengan para siswa di Sabtu ini yang tetap masuk setengah hari.

Pernah suatu ketika saya melihat langsung Pak Wanari menegur aparat desa yang datang ke sekolah untuk menemui salah satu guru ketika masih mengajar, karena ternyata mereka datang bukan untuk urusan sekolah melainkan urusan desa yang lain, yang tidak ada hubungannya dengan sekolah. Beliau menegur dengan santun tanpa menyinggung perasaan. Seperti guru-guru yang lain, hampir semua guru di sini mempunyai pekerjaan sampingan di luar mengajar seperti mengurus lahan karet atau sawit. Di luar kegiatan sekolah, Pak Wanari mempunyai toko kelontong yang terletak di pusat desa dan selalu ramai setiap harinya dengan perbagai stok perabot rumah tagga  lengkap termasuk pakaian sehari-hari. Ia menghabiskan waktu menjaga toko ketika tidak mengurus kegiatan sekolah. Sesekali, beliau bercocok tanam menanam sayur di pinggiran kebun sawitnya yang lumayan luas.

Ada juga Pak Jojon, guru penyabar yang selalu menerima tugas tanpa pamrih. Dua tahun terakhir beliau ditunjuk sebagai wali kelas 6, sebagai ujung tombak kelulusan dan juga pertaruhan baik-buruk sekolah di mata dinas. Jika ada siswa yang tidak naik kelas, otomatis wali kelas 6 harus menanggung malu, disamping kepala sekolah yang juga ikut andil dalam hubungan kriteria kegagalan suatu sekolah. Pak Jojon pernah bercerita bahwa sebenarnya lebih mudah mengajar kelas rendah, apalagi kelas menengah yang sudah punya modal membaca dan mengenal huruf, sehingga cukup mengajar seperti biasa tanpa harus capek-capek memberikan les tambahan sepulang sekolah, agar siswa lulus seratus persen. Namun, apapun yang ditugaskan oleh beliau harus dijunjung dengan iklas, suka rela, demi pendidikan di desanya yang lebih baik lagi. Kepala sekolah merasa bahwa beliaulah satu satunya guru yang paling dipercaya untuk membimbing dan meningkatkan pengetahuan siswa dengan maksimal. Selain mengajar, beliau juga diberi tugas tambahan mengurusi anggaran sekolah dari dana BOS, karena dia guru yang bisa menggunakan komputer dibanding guru PNS lain yang sudah sepuh. di luar sekolah beliau juga sebagai ketua KKG rayon ini, sehingga setiap pertemuan KKG, dialah yang merancang serta menjadwalkan kegiatan setiap bulannya.

Dengan adanya tunjangan khusus ini, beliau merasa sangat bersyukur, karena secara tidak langsung pemerintah ikut memperhatikan guru guru yang ada di remot area ini. Sekarang ini, jika ditotal dalam sebulan rata rata dia memperoleh pendapatan belasan juta dari gaji yang ia terima sebagai seorang guru. Belum lagi usaha lain seperti kebun sawit serta penggilingan padi yang ia kelola di rumah. Namun rumah yang ia tempati bukanlah rumah pribadi, melainkan rumah dinas sekolahan yang sudah ia diami selama beberapa tahun. Selama ini, ia fokus untuk menyekolahkan anak anaknya sampai kuliah. Anak bungsunya masih kelas satu SMA di Pontianak, sementara dua kakaknya sudah selesai kuliah. Suatu saat dia ingin membangun rumah kecil kecilan, sebagai bekal pensiun nanti, karena setelah pensiun, otomatis dia akan mengembalikan rumah milik negara yang masih dia tempati sekarang ini.

Ada dua keinginan besar yang ingin beliau wujudkan beberapa tahun ke depan setelah pemilu ini, karena saat ini dia juga masih sibuk mengurusi pemilu sebagai ketua KPPS di daerahnya. Di usianya yang hampir kepala lima, dia masih ingin meningkatkan golongannya menjadi 4B. Saya sendiri belum pernah menemui golongan seperti itu bercokol di sekolah SD yang pernah saya kunjungi. Persyaratan yang cukup menyulitkan seperti tugas bikin karya ilmiah, membuat guru guru nyaman berada di level 4A di usianya yang tinggal pensiun beberapa tahun lagi. Penguasaan teknologi, seperti kurang familiar dengan laptop atau computer membuat guru-guru senior terlalu gagap untuk menyelesaikan tugas memakai komputer yang masih grotal gratul ini.

Keinginan beliau yang satunya adalah lanjut kuliah S2. Apresiasi yang luar biasa dari dalam hati saya melihat kegigihan guru di pelosok seperti ini, yang masih mempunyai ambisi untuk mencari ilmu lebih luas lagi. Dari berdua cerita sampai larut malam waktu itu, saya yakin keinginannya bukanlah sekedar untuk meningkatkan pangkat atau golongan, mengingat usia dan golongannya sudah termasuk taraf yang mapan dan aman.
Ah… sangat betah rasanya berada di rumah beliau yang sangat sederhana nan menenteramkan, dengan hidangan masakan khas Melayu bikinan istrinya yang cukup terasa bumbunya.

Tetapi gak semua guru mempunyai pemikiran yang cemerlang seperti mereka. Pak Broug misalnya, yang berasal dari ujung barat Indonesia. Beliau sudah cukup puas dengan rutinitas mengajar sehari hari dan langsung mengerjakan urusan pribadi lainnya setelah pulang sekolah. Di usianya yang menjelang pensiun ini, beliau lebih memilih mengurusi usaha dan kebunnya setiap sore, sebagai warisan bagi anak cucunya kelak. Ada juga Pak Hani yang berasal dari Pulau Jawa bagian barat. Hingga saat ini, beliau selalu merasa serba kekurangan untuk membiayai dua anaknya yang sedang kuliah. Gaji dan tunjangan sebesar belasan juta tiap bulan terasa sangat kecil untuk kehidupan sehari-hari keluarganya. Padahal, dia juga rajin mengurus pekerjaan sampingannya ketika tidak mengajar. Rumah tingkatnnyapun terlihat lebih besar dan bagus dibandingkan beberapa rumah di sekitar kanan kirinya. Saat terjadi tsunami di akhir tahun lalu, beliau sedang pulang kampung seminggu untuk urusan pribadinya. Beruntung, dia selamat karna berada agak jauh dari lokasi. Ah, ternyata manusia tempatnya rakus...

Sebagian besar siswa SD ini berasal dari dusun setempat yang mayoritas penduduknya warga Melayu. Tempat ini merupakan satu-satunya dusun yang dihuni oleh orang Melayu, sementara dusun lainnya berasal dari warga lokal. Seperti di daerah Jawa, budaya Gemeinchaft cukup kentara di perkampungan yang lumayan padat ini. Hubungan kekerabatan inilah yang membuat mereka merasa harus sungguh-sungguh dalam mendidik siswa, karena yang mereka didik tidak lain adalah saudara sendiri. Di luar sekolahan, kepala desa cukup memperhatikan pendidikan di desanya. Beliau cukup inovatif dan masih muda. Wajar saja, di akhir tahun kemarin dia terpilih lagi untuk mengawal desa selama satu periode ke depan.

Sebenarnya pemerintah cukup perhatian pada guru-guru di pelosok daerah, dengan memberikan tunjangan tambahan. Harapanya, guru di perkotaan tertarik untuk mengajar ke pelosok sehinggga distribusi guru tidak hanya terpusat di perkotaan saja, tetapi ikut menyebar dan membawa perbaikan di desa desa. Program pengawasanpun juga diberikan mengikuti kebijakan yang ada, agar uang yang digelontorkan dengan jumlah yang tidak sedikit ini benar-benar terlihat manfaatnya. Salah satunya dengan pengawasan langsung oleh masyarakat desa setempat agar para guru rajin mengajar, disiplin, dan paling gak, dia rajin hadir, dan tidak makan gaji buta saja. Tetapi adanya tambahan tunjangan ini tidak serta merta menambah keaktifan guru untuk rajin datang ke sekolah seprti di SD Pak Wanari tadi. Masih banyak abdi negara yang nyaman dengan kehidupan sekarang, nyaman dengan metode pengajaran lama, dan susah move on meninggalkan kebiasaan.

Salah satu kepala sekolah di Jalompe, dimana kesejahteraan para guru akan meningkat dengan penambahan tunjangan khusus di tahun ini, dengan tegas menolak adanya program pengawasan sebagai imbas penambahan tunjangan.“Kalau pemerintah ingin meningkatkan pendapatan kami, itu sudah seharusnya, karna kami dari dulu banting tulang menghidupkan sekolah ini agar anak anak desa bisa sekolah, bisa pintar. Tetapi, jika dengan adanya tunjangan kami harus masuk pagi dan pulang siang, mending pemerintah tidak usah memberi yang muluk-muluk deh. Dua Puluh tahun lebih saya bersusah payah menghidupkan sekolah ini, dari dulu sendirian, dan sampai sekarang sekolah ini cuma diberi beberapa guru PNS saja, mana perhatian pemerintah? Sudah bertahun tahun sekolah saya sangat minim perhatian dari pemerintah”.

Sebenarnya beliau sedikit trauma dengan sekolah sebelah, yang sudah mendapat tunjangan tetapi terjadi konflik antara guru dengan warga setempat karena tidak mau diberikan pengawasan. Teringat sehari sebelumnya ketika saya datang ke sekolah ini jam 9 pagi kurang beberapa menit. Para siswa masih asik bermain, dan hanya ada 2 guru yang sudah datang bersiap siap menunggu jam 9. Secara formal, KBM memang dimulai jam 8 pagi, namun biasanya pak guru masuk jam 9 setiap harinya. Pengakuan semua murid sama ketika saya tanya, kenapa belum diajar guru. Ah,, jawaban polos para siswa memang tidak bisa dibohongi. Mereka masuk jam 9 dan pulang jam 10 setiap harinya.  Kadangkala jika gurunya betah, bisa pulang sampai jam stengah 11 atau jam 11 untuk kelas atas. Sementara kepala sekolah jarang hadir karena lebih sering tinggal di Ngabang menempati rumah pribadinya. Sesekali beliau datang ke sekolah menengok rumah dinas di samping kantor guru, yang ditempati oleh anaknya. Anaknyalah yang diberi tugas untuk mengurusi segala urusan di sekolahnya, walaupun tidak ada SK secara resmi. Banyak warga yang segan dengan beliau. Sejak tahun 86 dia sudah mengajar di sekolah ini dan nyaman dengan keadaan sehari-hari, sehingga beberapa kali menolak ketika akan dipindahtugaskan ke sekolah lain, termasuk dipindahkan ke dinas.

Pak Jaly, salah satu orang tua siswa bercerita kepada saya jika beberapa anak terpaksa tidak naik kelas karena ada permasalahan pribadi antara orang tuanya dengan kepala sekolah, termasuk dirinya. “Lebih baik kami diam dan cuek urusan sekolah, daripada anak-anak kami yang terkena imbas, bahkan sampai 2 kali tidak dinaikkan kelas. Padahal nilainya tidak kalah dengan teman kelas lain” katanya. Hidup di sini berpuluh puluh-tahun, membuat kepala sekolah mempunyai lahan yang cukup banyak, baik sawit, karet maupun kebun lain. Ketua komitepun sebenarnya sudah malas menjabat, karena partisipasinya di sekolah hanya sebatas tanda tangan tiap triwulan tanpa ia tahu lebih. Ia lebih suka berhenti jadi komite karena punya tanggungjawab moral yang besar sperti ketika dimintai tandatangan BOS yang tidak pernah ia tahu nilainya.

Di sekolah lain, masih dalam kecamatan yang sama, seorang guru memprotes keras adanya program seperti ini. Guru ini memperoleh beasiswa dari pemda, hingga bisa kuliah di Jawa sampai tahapan sarjana. Dua tahun terakhir dia ditugaskan untuk mengajar di sekolah ini dengan statusnya sebagai guru garda depan. Dia ingin, agar pengawasan seperti ini segera dihentikan, karena terlalu banyak prrmasalahan yang terjadi di sekolah. "Program ini terlalu banyak masalah, terlalu banyak konflik, makanya harus secepatnya dihentikan. Tetapi tunjangan untuk guru-guru harus tetap berjalan sebagai bentuk apresiasi pemerintah kepada guru, karena selama ini para guru mempunyai pendapatan yang tidak layak, sementara tugas yang diembannya cukup besar”, ucapnya sambil mencontohkan salah satu sekolah tadi yang sedang berkonflik dengan warga setempat. Tanpa beliau tahu, ketika berbincang dengan beberapa siswa dan orang tua, banyak yang mengatakan jika guru ini jarang hadir di sekolah. Rumahnya berada di Pontianak, dan masih sering berada di sana, sehingga hanya beberapa kali saja dalam seminggu dia datang ke sekolah.

Di kecamatan sebelahnya yang menjadi ibukota kecamatan di Kabupaten ini, saya bertemu dengan seorang kepala sekolah dengan pemikiran dan cara kerja yang sudah terbuka. Setahun menjabat sebagai kepala sekolah di SD yang harus ditempuh selama 2 jam dari kota ini, beliau berkeinginan untuk memperbaiki manajemen di sekolahan. Selama ini cukup amburadul tanpa ada sistem yang tertata rapi. Namun, satu tahun menjabat sebagai kepala sekolah ternyata tidak bisa meyakinkan para guru, karena ada 2 guru senior yang tidak mau diatur oleh kepala sekolah sekalipun, dan sering memprovokasi guru lain agar ikut mendukung pendapatnya. Pertama kali saya ke sana, dua guru yang tinggal di rumah dinas ini tidak masuk dan sedang berada di kota kabupaten entah untuk urusan apa, sementara para siswa hanya sekedar masuk tanpa apa pembelajaran akibat ditinggal gurunya untuk keperluan pribadi. “Mungkin mereka lebih mementingkan gaji, daripada sekedar kebiasaan mengajar yang hanya menjadi rutinitas harian saja. Hal seperti ini sudah sering terjadi”, kata guru honor yang masih rajin masuk mengajar para siswa setiap harinya. Sampai sekarang, kepsek hanya pasrah dan menunggu mereka yang satu dua tahun lagi pensiun tanpa bisa berbuat banyak.

Di polosok desa lainnya, dengan pusat kecamatannya yang sekaligus menjadi ibukota kabupaten ini, ternyata kondisinya tidak jauh berbeda. Ada salah satu sekolah yang hanya ada satu guru PNS yang standby mengajar, ditemani oleh semua guru honor yang rajin masuk setiap harinya. Sementara guru PNS lain jarang hadir ke sekolah, termasuk juga kepala sekolah. Ah,, hal yang mirip lagi-lagi kutemui. Kepala sekolah yang hanya datang beberapa kali dalam seminggu, bahkan ada juga PNS yang hanya pernah datang dalam hitungan jari selama tahun ajaran ini, kata beberapa guru yang takut jika info ini diketahui oleh atasannya dan memilih untuk diam. Jam sepuluh, orang tua sudah menunggu di depan halaman sekolah untuk menjemput anak-anak mereka, sebagai alasan para guru bahwa kegiatan KBM sudah harus diselesaikan. Memang benar, jika anak-anak rumahnya cukup jauh dari sekolah sehingga banyak yang dijemput, tetapi kebiasaan pulang lebih awal adalah hal buruk yang selalu diulang-ulang setiap harinya. Sementara mereka mempunyai jatah jam mengajar yang sudah ditentukan oleh dinas setiap minggunya.

Sudah kuhapal, setiap guru dan kepala sekolah yang malas selalu saja memprotes kedatangan kami karna tidak diberitahukan sebelumnya. Mereka beralasan hanya untuk menutupi ketidakdisiplinan guru bahkan dia sendiri agar terlihat rajin dan lengkap ketika kami datang. Tapi itulah makud kedatangan kami, agar kami bisa tahu keadaan yang sebenarnya di lapangan, seberapa semangat para guru bersedia mengajar dan membagikan ilmu kepada anak anak cemerlang di pelosok nengri ini. Apalah saya, hanya seorang petugas suruhan yang punya semangat tinggi untuk melihat suasana pendidikan di pelosok negri, memastikan agar mereka mendapatkan hak belajar dengan baik tanpa korupsi waktu yang mungkin sudah merajalela tanpa dirasa, tanpa dimengerti, termaklumi, bahkan mungkin sudah menjadi adat, budaya, dan tradisi. Jika saja, orang dinas rajin blusukan ke sekolah sekolah secara langsung dan menegur setiap guru yang rajin mangkir mengajar, tentunya mereka akan berubah sedikit demi sedikit. minimal mereka malu ketika ada sidak dari dinas, dan sedang asyik di rumah, sementara para siswa sudah menunggu ilmunya di ruang kelas.

Ternyata, tunjangan terpencil yang digelontorkan pemerintah lebih dari dua trilyun  per tahun ini belum signifikan untuk meningkatkan kesadaran guru agar lebih giat lagi dalam mengajar. Semua kembali lagi ke pemerintah, apakah akan tetap memberikan tunjangan tanpa merubah kedisiplinan guru, yang tentunya hanya mensejahterakan ekonomi guru semata, atau membuat model pengawasan yang tentunya membutuhkan biaya yang besar pula. Tetapi, pilihan tengah, yaitu dengan pengawasan dengan minim, tidak hanya dari bentuk kegiatan, tetapi juga anggaran, bukanlah hal yang terbaik, dan hasilnya tidak jauh berbeda dengan sekolah tanpa pengawasan.





'nama dan lokasi sengaja disamarkan layaknya bunga desa dalam novel nusantara, kecuali keadaan yang benar adanya tanpa rekayasa'.

Selasa, 19 Desember 2017

UGM VS UNY Kuat-Kuatan Berdiam Diri Terhadap Kemacetan Di Simpang Selokan

UGM VS UNY Kuat-Kuatan Berdiam Diri Terhadap Kemacetan Di Simpang Selokan - Ketika aku kuliah di sini, hampir tiap mahasiswa memujinya dengan kota yang nyaman, ramah, sejuk, dan selalu ngangenin. Bahkan, bagi mereka yang pernah kuliah di sini, pasti akan mengatakan jika Jogja adalah kota yang ramah untuk ditinggali, selalu kangen buat datang ke tempat ini lagi setelah pulang kampung, bahkan tidak sedikit yang akhirnya tinggal di kota gudeg ini selepas kuliah entah untuk mencari nafkah ataupun sebagai tujuan tinggal yang mereka pilih. 

Namun, beberapa tahun terakhir banyak yang bilang kalau mereka resah dengan kemacetan yang terjadi di jalan-jalan utama kota ini. Bahkan belakangan banyak yang enggan buat keluar di kala weekend. Kemacetan hampir di setiap ruas jalan utama menjadi momok tersendiri saat weekend tiba, apalagi ketika ada tanggal merah sebelum atau sesudah hari libur yang memperpanjang weekend, dan secara otomatis akan memperpanjang hari kemacetan di Jogja tercinta ini. Tak heran, kaum millennial jaman now lebih memilih membeli kebutuhan mereka lewat aplikasi online, yang hanya dengan sentuhan jempol saja, barang atau makanan jadi sudah bisa sampai di rumah tanpa harus berjibaku dengan kemacetan di Jogja ini.
Begitu juga dengan saya, yang sudah 10 tahun tinggal di kota yang sudah saya anggap tempat tinggal sendiri ini. Sama seperti yang lain, kadang saya juga enggan jika harus keluar rumah di hari libur, apalagi dikala siang atau sore hari melewati jalur utama yang selalu macet. Jika bisa memilih, seringkali saya keluar rumah menghindari hari libur. Atau, jika di hari libur, saya lebih suka bepergian pagi hari, atau malam hari sekalian, agar tidak terjebak antre kemacetan yang harus diterobos demi ke suatu tempat tujuan.
Namun, belakangan saya agak resah dengan adanya kemacetan di Jalan Selokan Mataram dekat UGM, dimana jalan tersebut merupakan jalan yang sering saya lewati menuju ke berbagai tempat. Maklum lah, kos saya yang berdekatan dengan UGM membuat saya harus melewati jalan tersebut untuk keluar lokasi, walaupun kadangkala bisa memutar melewati jalan tikus yang sering bisa saya lalui untuk menuju ke daerah lain. Tak bisa dipungkiri, jika jalan ini mau tak mau, acapkali saya juga harus melalui jalan ini daripada harus jauh-jauh memutar melewati jalan tikus, karena jalan ini merupakan salah satu jalan utama yang cukup strategis buat ke berbagai lokasi di deket UGM maupun UNY, bahakan untuk ke daerah lain yang harus melewatinya.
Tidak seperti Jalan Selokan Mataram di daerah Babarsari yang cukup lama terjadi penumpukan kendaraan karena sempitnya jalan yang harus dilewati kendaraan, 2 tahun belakangan Jalan Selokan Mataram di seputaran UGM dan UNY selalu macet di kala jam-jam sibuk, khususnya siang hingga sore hari. Bukan disebabkan oleh jalannya yang kurang lebar, karena menurut saya jalan ini sudah cukup lebar dengan 2 jalur. Namun yang paling terasa adalah ketika ada pengalihan arus sebagai salah satu kebijakan kampus UGM, untuk meminimalisir kendaraan umum agar tidak melewati area dalam kampus.
Sejak jalur melewati daerah lembah UGM ditutup untuk umum, dan arus kendaraan dialihkan melalui polsek Bulaksumur, melewati persimpangan sebelah barat Teknik UNY, jalan di persimpangan antara UGM dan UNY tersebut semakin hari semakin macet. Hal ini dikarenakan kendaraan dari arah Sagan menuju ke arah Deresan, Klebengan, dan sekitarnya harus melewati jalur tersebut, jika tak ingin memutar melalui Perempatan Mirota Kampus yang selalu macet.
Belum Lagi, mereka harus memutar terlebih dahulu lewat selatan Bundaran UGM, atau memutar melalui Gejayan jika tujuannya di sebelah timur. Otomatis, jalur ini merupakan salah satu alternatif yang paling dekat untuk, walaupun sama-sama tidak begitu efektif untuk dilalui.
Sebagai jalan utama di lingkungan kampus, kadang kala ada petugas kampus yang bersedia mengatur arus lalu lintas jika ada kegiatan di kampus yang bersangkutan. Atau petugas jaga dari pihak kepolisian yang selalu mengatur lalu lintas, walaupun hanya di jam tertentu saja. Tetapi di saat jam sibuk di siang hari, atau bahkan di sore hari, seringkali tidak ada petugas yang menjaga persimpangan yang selalu bikin macet ini.
Bukan karena persimpangan yang sempit, tetapi yang menyebabkan kemacetan ini adalah tidak adanya rambu lalu lintas atau petugas pengatur lalu lintas yang senantiasa menertibkan para pengendara jalan. Alhasil, seringkali pengemudi mobil turun dan mengatur arus lalu lintas setelah mobilnya cukup lama terjebak kemacetan, agar mobilnya bisa keluar dari jebakan kemacetan, karena banyak yang selalu ingin menang sendiri tanpa adanya koordoinasi. Namun setelah mobilnya keluar, mereka melanjutkan perjalanannya lagi menuju tujuan. Begitulah yang selalu terjadi, tidak banyak pengemudi yang merelakan diri membuka kemacetan agar kendaraannya bisa keluar dari kemacetan.
Kadang kala, ada juga warga yang rela mengatur lalu lintas setelah melihat kemacetan panjang yang tak kunjung usai, dan mereka yang bisa keluar dari kemacetan akan memberikan uang receh mereka sebagai bentuk terima kasih atas bantuan tersebut. Saya sendiri tidak begitu tahu, apakah warga setempat atau bukan. Tetapi, saya salut kepada mereka, yang memang bertujuan mulia untuk mengurai kemacetan. Tidak seperti pak ogah yang memang ingin mencari penghasilan dengan ikut membantu menyeberangkan kendaraan di jalan raya.
Pertanyaan saya, sampai kapan pihak elit terkait akan berdiam diri atas kemacetan yang terjadi cukup lama ini? Khusnudzon saja, mungkin pihak kampus UNY tidak begitu memperdulikan walaupun kemacetan ini terjadi di area kampusnya, karena menganggap UGM lah yang harus bertanggung jawab, sebagai imbas dari kebijakan penutupan jalan melalui lembah UGM, sehingga masih berdiam diri atas fenomena ini. Ataukah pihak UGM yang juga lepas tangan, karena menganggap jika ini merupakan jalan umum dan bukan jalan kampus, sehingga pemerintah setempat-lah yang harus turun tangan menyelesaikan permasalahan kemacetan jalan umum ini.
Kadangkala, ketika melewati jalan ini saat kemacetan parah, saya berhenti sejenak untuk melihat pak ogah yang dengan rela hati mengurai kemacetan tanpa menyadongkan kotak untuk meminta sumbangan bagi mereka yang melewatinya, sambil berpikir, sampai kapan mereka akan berdiam diri membiarkan ini terjadi (dan diakui, memang saya hanya melihat suasana, dan belum tergerak untuk membantu mengurai kemacetan itu).
Menurut Wiliiam N. Dunn, lewat buku terjemahannya yang diterbitkan oleh Gajahmada University Press menyebutkan bahwa kebijakan publik adalah pola ketergantungan yang kompleks dari pilihan-pilihan kolektif yang saling tergantung, termasuk keputusan-keputusan untuk tidak bertindak, yang dibuat oleh badan atau kantor pemerintah. Secara sederhana dapat didefinisikan bahwa kebijakan publik adalah apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh pengambil keputusan.
Namun apakah para elit akan mengambil keputusan untuk tidak melakukan sesuatu atas kejadian ini? Dalam jangka panjang mungkin perlu dirumuskan suatu solusi yang bisa memecahkan permasalahan ini, seperti kasus Jalan Selokan Mataram dari arah Gejayan menuju ke Babarsari misalnya, yang direncanakan untuk diperlebar agar mengurangi kemacetan. Tentunya ini membutuhkan waktu yang tidak singkat, karena butuh proses, baik dari sisi perencanaan, anggaran maupun proses pengerjaan yang tidak sebentar.
Bagi saya kemacetan yang terjadi di jalan Selokan Mataran seputaran UGM-UNY ini merupakan sesuatu yang urgen, dan harus secepatnya dicarikan solusi oleh pihak terkait, baik oleh UGM, UNY, maupun pemda setempat (dalam hal ini Dishub Sleman yang mempunyai wewenang), baik dengan cara membuat rekayasa arus lalu lintas baru, pemberian rambu-rambu, ataupun menempatkan petugas yang bisa menjaga persimpangan setiap saat secara bergantian agar kemacetan bisa terkurangi. Kolaborasi ketiganya sangat diperlukan dalam waktu dekat ini, sambil mencari solusi yang tepat untuk jangka panjang atau menyelaraskan dengan roadmap lalu lintas yang mungkin akan direncanakan ke depan.
Jika elit terkait sadar dan tergerak akan hal ini, maka masyarakat khususnya mahasiswa UGM maupun UNY yang melewati jalan ini tidak akan kelamaan melewati jalur ini dan bisa mengurangi bahan bakar yang terbuang sia-sia saat menunggu kemacetan di Jalan Selokan Mataram ini. Begitu juga saya, bisa nyaman menuju suatu tempat melewati jalan ini…

SalamAspalGronjal

Kamis, 20 Agustus 2015

Berkaca Pada JBR Kemarin, Mari Kita Tertibkan Konvoi Motor di Jogja ke Depan

Foto aksi pencegatan yang ramai di berbagai medsos kala itu
Berkaca Pada JBR Kemarin, mari kita tertibkan konvoi motor di Jogja ke depan -
Konvoi para biker Harley yang banyak dihujat netizen belakangan ini ternyata juga ikut mempengaruhi saya untuk ikut berempati terhadap Jogja, sebagai kota yang berhati nyaman (semoga ikon sebaliknya -Jogja Berhenti Nyaman- tidak akan terjadi). Ya, sebagai pendatang yang sudah bertahun hampi 10 tahun berada di kota tercinta ini, tentunya saya ikut prihatin dengan adanya konvoi yang dilakukan oleh orang kelas atas tersebut seenaknya sendiri. Tak hanya saya, mayoritas kelas menengah ke bawah, atau bahkan kelas ataspun juga banyak yang bersimpati dengan Erlanto, pesepeda yang berani menghadang para sok penguasa jalanan tersebut agar bisa mentaati peraturan lalu lintas yang ada.

Minggu, 13 Juli 2014

Masyarakat Papua, Belum Begitu Membutuhkan Uang

Masyarakat Papua, Belum Begitu Membutuhkan Uang - Aneh memang, jika orang berkata seperti itu. Mana ada, orang tak butuh uang di dunia  ini. Namun, jika kita telisik lebih mendalam, masyarakat di pegunungan tengah ini (Jayawijaya, Mamberamo, Tolikara, Ninia, Lanny Jaya, Puncak Jaya, Puncak, dan Kabupaten lain di Pegunungan Tengah) secara tidak langsung masih hidup dengan pola dahulu, walaupun secara kasat mata, mereka juga menggunakan uang dalam kehidupan sehari hari.
adheb's photo
Babi yang Sedang Menyusui
Dalam kehidupan sehari-hari, untuk makan misalnya, mereka masih mengandalkan kebun untuk mencukupi kebutuhan. Buah-buahan di sini juga melimpah, sebagai bahan makan mereka. Mereka mempunyai lahan yang cukup luas. Biasanya, mereka akan menanam ubi sebagai makanan utama mereka, dengan cara berpindah-pindah. Jika sebuah areal sudah ditanami ubi dan sudah dipanen, mereka akan menanami tempat lain, dan lahan tersebut mereka biarkan, kemudian pindah ke tempat lain lagi, sampai mereka kembali akan menanami lahan yang pernah mereka tanami. Maka jangan heran jika banyak lahan yang orang lain bilang, sebagai lahan terlantar.

Bagi mereka, lahan tersebut bukanlah terlantar, tetapi memang dibiarkan begitu saja, bahkan sampai rumput tumbuh tinggi. Tetapi, suatu ketika mereka akan mempergunakannya untuk menanam ubi atau sayuran lain untuk kebutuhan hidupnya. Sistem ladang berpindah seperti ini masih ada di sini hingga sekarang. Sampai saat ini, untuk menggali tanahpun mereka hampir semuanya menggunakan sekop, karena mereka dari dulu diajarkan menggali dengan alat tersebut. Mereka merasa aneh atau tidak terbiasa, bahkan ada yang mengatakan, merasa pegal jika harus menggali tanah dengan cangkul seperti orang Jawa pada umumnya.

Tidak hanya sebagai makanan manusia, karena ubi di sini juga untuk makanan peliharaan mereka di sini, babi. Sebagai alat tukar dari zaman dahulu, babi tetap saja digunakan warga sini seperti untuk mas kawin, alat sosial, yaitu sebagai sumbangan jika ada duka/ warga yang meninggal, untuk acara berbagai selamatan dengan bakar batu, maupun acara lainnya. itu adalah alat utama mereka, dengan harga jual yang tinggi di sini, sekitar 50-60 juta per ekor babi yang sudah besar.

Namun, di sini  pernah terjadi penyakit mematikan. Penyakit sejenis kolera, yang membuat babi mati secara tiba-tiba, sampai babi di sini tinggal sedikit, sehingga membuat harga babi melonjak sampai seperti sekarang ini. Karena persebaran babi yang sedikit ini, membuat warga sedikit beralih dalam kegiatannya, seperti menggunakan uang sebagai tambahan mas kawin jika babi kurang, ayam sebagai pelengkap bakar batu saat kekurangan babi, ataupun beras, minyak, uang dan kebutuhan sehari-hari lainnya yang diberikan oleh warga saat duka sebagai pengganti babi. Begitu juga uang sebagai tambahan denda jika ada suatu permasalahan, dikalkulasikan dengan harga per ekor babi di sini.

Jika mereka membutuhkan uang, maka mereka akan menjual babi ataupun hasil kebun ke kota. Namun, jika belum butuh, maka mereka hanya menggunakannya untuk kebutuhan sehari-harinya. Jika mereka ke kota, maka biasanya mereka yang membutuhkan uang, dan menjual barang mereka Untuk itu, kita bisa menawar dengan harga yang lebih murah karena merekalah yang membutuhkan uang, namun jika kita datang ke mereka, dan membeli babi misalnya, maka bisa saja akan diberi harga yang mahal, karena mereka menganggap kita yang butuh. Sedangkan mereka belum begitu membutuhkannya. Makanya, jika anda memerlukan sesuatu, sebaiknya beli saja di pasar, agar mendapatkan harga yang  wajar.

Jumat, 27 Juni 2014

Di Timur Matahari, Wamena Yang Sebenarnya

Di Timur Matahari - Sebuah film karya Ari Sihasale, yang cukup fenomenal bagi saya, karena memang betul-betul menggambarkan keadaan di daerah ini, karena saya sendiri mengalaminya dan berada di sini saat menulis ini. Gak tau kenapa, walaupun sudah mempunyai film ini sewaktu di Jogja, tetapi baru kali ini saya sempatkan untuk menontonnya. Di Wamena ini, malam terakhir sebelum kami meninggalkan Wamena, untuk menuju ke Jayapura, dan kembali ke Jogja. Pas sekali flm ini saya tonton, di hari terakhir saya berada di sini, setelah 40 hari keliling Kabupaten Jayawijaya ini.
adheb's foto
Kayo, ICON Kota Wamena
Wamena, sudah tidak asing lagi bagi saya, karena di tahun 2012 saya pernah di sini selama satu setengah bulan, berkeliling di beberapa kabupaten di sini seperti Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Mamberamo, dan Kabupaten Jayawijaya ini sendiri, khususnya di Kabupaten-Kabupaten yang berada di Pegunungan Tengah. Kemudian kembali lagi ke Pegunungan Tengah ini sehabis lebaran selama sebulan. Perjalanan selama tiga kali ini, bukan saya tinggal di kota, melainkan menuju ke daerah-daerah pedalaman, sehingga tahu bagaimana kehidupan orang pegunungan tengah ini.
Di pegunungan tengah ini, orang mengatakan, belum merasakan Papua, kalau kalian belum pernah ke Wamena. Jika kalian belum pernah ke Papua sama sekali, kata itu sama sekali tidak berpengaruh, karena kalian belum pernah melihat Papua secara langsung, tetapi, bagi saya itu adalah kata yang memang benar-benar asli. Itu adalah kata yang sebenarnya, dimana Papua terkenal dengan adat istiadatnya, dan yang masih ada sampai sekarang seperti di Pegunungan Tengah ini. Saya mengatakan ini, karena selama beberapa kali saya ke Papua seperti ke Keerom, Jayapura baik Kota maupun Kabupaten, Sorong, Raja Ampat, Mimika, Fak-Fak, dan Kabupaten Bintuni, yang merupakan daerah-daerah yang pernah saya kunjungi, tidak semenarik, tidak sekeras, dan tidak senatural daerah di Pegunungan Tengah ini.
Perjalanan saya ke Pegunungan Tengah ke tiga kali ini, saya tidak membawa cerita banyak, hanya sebuah catatan spontan kecil ini, sesaat setelah saya menonton film Karya Ari Sihasale ini, yang mengambil tempat di Distrik Tiom, Kabupaten Lanny Jaya. Sebuah tempat yang jaraknya sekitar 3 jam dari kota (jangan me gukur jarak di sini dengan kilometer seperti di Jawa, karena di sini akan lebih akurat jika kita mengukurnya dengan waktu, meliihat topografi di sini dengan kontur yang cukup rapat dalam bahasa geografi). Walaupun saya belum pernah ke Kabupaten tersebut, tetapi saya pernah melihatnya dari jauh, dari Distrik Piramid, saat saya berada di sana. Dari Piramid ini, perjalanan menuju ke Tiom masih sejam lagi. Semua akses ke Pegunungan Tengah berpusat di Wamena ini, sebagai satu-satunya jalur utama menuju ke setiap daerah, dan semua pasokan dari Jayapura, melalui udara.
Cukup dengan menonton film ini dan membaca catatan kecil saya, maka seperti itulah keadaan di sini. Yang perlu diteladani di sini intinya adalah kesatuan dan persatuan warga Papua, bahwa mereka sebenarnya satu, hidup damai dan saling mengasihi antar sesama, sesuai dengan mayoritas ajaran yang mereka anut di sini. Walaupun setiap hari masih ada kerusuhan, pencurian, kekerasan, denda, dan sebagainya, namun mari kita ambil hikmahnya, semangat untuk memperbaiki itu semualah yang harus kita pikirkan, seperti film ini salah satunya. Jika warga bisa menonton dengan ‘hati’, maka kekerasan dan perpecahan di sini akan semakin berkurang. Untuk itulah, perlu adanya gebrakan-gebrakan lain, ide-ide lain yang selalu bermunculan, agar keadaan di sini semakin berubah lebih baik, tanpa harus meninggalkan budaya yang sangat unik di sini. Ide seperti itulah yang sangat diperlukan, sebagai kontribusi kita sebagai bangsa Indonesia, dan keyakinan kita bahwa Papua adalah bagian dari kita, bagian dari Bangsa Indonesia. Karena bagaimanapun juga, walaupun ribuan pulau, tetapi kita tetap satu. INDONESIA RAYA.
Beberapa hal kecil yang menarik, tidak seperti di tempat lain adalah cara orang sini yang sering bergandengan tangan, tidak peduli sesama perempuan, laki-laki perempuan, dan yang paling sering saya jumpai sesama laki-laki yang saling bergandengan tangan. Bukan karena mereka homo, tetapi itulah bentuk kasih sayang mereka, bahwa mereka sangat sayang terhadap sesama, melebihi sayang kita terhadap sesama di daerah lain. Perhatikan juga cara salaman mereka, yang cukup unik, dan selalu berkata terima kasih atas setiap bantuan, dan masih banyak lagi lainnya.
Film ini cukup menariik bagi saya, walaupun kekerasan masih banyak terjadi, namun cukup menyentuh, membuat saya ingin kembali lagi ke tempat ini kelak., ataupun menjamah daerah tertinggi di atas sana, yang merupakan cita-cita saya suatu saat yang entah kapan bisa terwujud. Semoga bisa menginspirasi kalian yang membaca, agar juga memikirkan rakyat Indonesia yang ‘terpinggirkan’ ini, di sela panasnya persaingan pilpres saat ini. Sebagai intermezo berita persaingan saat ini, karena pada intinya adalah bagaimana supaya rakyat Indonesia ini semakin sejahtera.
Cinta dan kedamaian akan membawa kebahagiaan bagi anak kita kelak,,
We Love Papua. ITU SUDAHHH….      (aiiiiiiiiii)
Sedikit catatan di sini, Wamena, Jayawiya, Pegunungan Tengah Papua, 27/06/14

Minggu, 22 Juni 2014

Kurullu, The Beauty of Wamena

Kurullu, The Beauty of Wamena - Di sinilah ikon dari Wamena, atau dari Kabupaten Jayawijaya ini. Ada beberapa alasan mengapa disrik kurulu yang paling banyak dicari oleh para turis, baik domestik maupun mancanegara. Pertama, karena daerahnya yang dekat dengan kota. Dari kota, kita bisa menuju ke daerah ini tidak sampai satu jam. Baik naik mobil dobel gardan, naik angkot, bahkan naik kendaraan bermotor pun kita bisa menjangkaunya. Jika naik angkutan, dari Wamena kita menuju ke pasar Jibama atau orang biasa sebut Pasar Baru seharga 5 ribu. Lalu, dilanjutkan ke Kurulu, cukup membayar 10 ribu.
adheb's photo
Berfoto dengan Mumy Wim Motok
Untuk jurusan Kurulu, angkutan putih cukup banyak, tinggal kita cari saja di pojokan belakang, yang bertulis KL, kita akan sampai ke kurulu. Namun, jika naik mobil apa saja bisa juga, baik mobil arah Yalengga, Bolakme, Tolikara, Eragayam, Ninia, Mamberamo, ataupun Puncak. Yang ke dua, karena tempat di daerah ini sering diadakan festival, seperti Festival Lembah Baliem yang cukup terkenal, karena selalu rutin diadakan setiap tahun. Festival Lembah Baliem ini beberapa kali diadakan di kampung Wosi, sehingga kampung ini cukup terkenal bagi mereka yang pernah melihat festival ini.
adheb's photo
Kayo, Icon Wamena
Yang ke tiga, di daerah ini terdapat wisata mummy terkenal, yaitu Mumi Wim Motok Mabel, di Sompaima, Kampung Jiwika, Kurulu. Mumi ini cukup terkenal, karena merupakan salah satu mumi tertua di dunia, dan yang paling tekenal di daerah Lembah Baliem ini. Konon, menurut sang juru kunci, umurnya saat ini sudah 371 tahun. Berbeda dengan mumi di negara lain yang diawetkan dengan formalin, mumi Wim Motok ini diawetkan dengan cara diasap. Zaman dahulu, kepala suku yang merupakan keturunan suku Dani generasi ke tujuh tersebut sangat dihormati, dan ketika meninggal pada saat perang, warga mengabadikannya dengan mengasap, sebagai salah satu wasiatnya sebelum meninggal.

Di kampung ini kita bisa berfoto dengan mumi Wim Motok. Namun, biasanya akan dikenakan tarif 40 ribu per orang. jika sudah sama-sama deal, maka mumi akan dikeluarkan dari honai oleh penjaganya, dan kita bisa foto bersama mumi tersebut. di area ini, mereka juga memajang aneka barang khas pegunungan tengah sini untuk dijual seperti noken, koteka, kalung babi, kalung kasuari, kapak batu, perhiasan bulu kasuari, dan lainnya. Kita bisa membelinya dengan harga bervariasi, sesuai dengan hasil tawaran yang sudah disetujui.

Yang paling disukai oleh pemuda, di sini mereka menggunakan pakaian adat jika ada pengunjung datang. Yang laki-laki menggunakan koteka saja, untuk menutupi alat kelaminnya, sedangkan yang perempuan menggunakan daun rumbia. itulah yang paling disukai. Bagi para cewek, kalian bisa berfoto dengan laki-laki berkoteka, dan bagi para cowok, bisa berfoto ria dengan perempuan-perempuan bertelanjang dada. Namun, setiap foto yang diambil, mereka akan meminta uang. Umumnya sejumlah 10 ribu tiap warga yang diajak foto.

bagi saya, yang sudah tinggal beberapa hari di sini, ini adalah hal biasa, karena setiap hari pasti menjumpai orang pakai koteka. Namun, jika kalian belum pernah ke sini, pasti hal seperti ini sangat mengagumkan, karena kita serasa di negeri zaman dahulu, zaman purba. Yang jarang diketahui, adalah bahwa jika para pengunjung sudah pulang, maka mereka akan berpakaian seperti biasa, memakai baju lagi, walaupun masih ada yang memang sehari-harinya memakai koteka dalam sehari-hari.
adheb's photo
Orang Dengan Pakaian Khas Pegunungan Tengah
Yang terakhir, yang membuat daerah ini terkenal adalah si Denias yang pasti diketahui oleh para penggemar film. Dengan filmnya, “Negeri di Atas Awan”. Film tersebut juga diambil di kampung ini, di belakang area mumi. Wajar memang, karena panorama di sini memang begitu indah, dan menakjubkan bagi saya, dengan bukit-bukit yang sangat mempesona, dengan beberapa honai yang ada. Bagi kalian yang belum pernah, hal semacam ini sangat jarang kalian temui, di Papua sekalipun kecuali kalian ke Papua bagian Pegunungan Tengah ini, dengan puncaknya yang terkenal, Puncak Cartenz. Siapkan saja tabungan dari sekarang, karena wisata seperti ini bukanlah wisata yang murah. haha.... Selamat mencoba kawan...

Selasa, 10 Juni 2014

Ambulance Yang Tersandera

Ambulance Yang Tersandera - Ambulance, bagi kita yang sedang sakit dan harus ke rumah sakit, merupakan moda transportasi yang diperlukan, apalagi jika digunakan untuk pengantar pasien oleh puskesmas atau rumah sakit. Sewajarnya, jika puskesmas mempunyai alat transportasi tersebut untuk mobilisasi pasien. Namun, tidak begitu dengan Puskesmas Yalengga ini. Mobil ambulance yang sekiranya digunakan sebagai fasilitas pemerintah ini malah dibawa oleh kepala puskesmas. Payahnya, sudah 4 tahun kepala puskesmas tidak pernah datang ke sini. Otomatis, jika ada pasien yang memerlukan rujukan ke rumah sakit, harus menggunakan angkutan umum untuk menuju ke kota.
Mobil Ambulance
Padahal, pemerintah menganggarkan fasilitas tersebut untuk menunjang aktifitas puskesmas, agar pelayanannya bisa maksimal. Jika tidak ada pasien, mungkin mobil tersebut bisa digunakan untuk antar jemput petugas puskesmas yang semuanya tinggal di kota, walaupun sebenarnya tidak diperbolehkan. Seperti di Puskesmas Hubikoshi misalnya, yang selalu menggunakan mobil ambulance untuk antar-jemput petugas. Hal seperti itu sebenarnya bisa memaksimalkan tingkat kehadiran petugas puskesmas. Bayangkan, jika setiap hari petugas puskesmas berangkat dari kota sejauh 40 kilo meter, dan mengeluarkan biaya 30 ribu sekali jalan. angkutan menuju ke puskesmas pun tidak selalu lancar. Jadi, jika mereka tidak masuk ataupun telat tiba di puskesmas, adalah hal yang wajar bagi mereka. Belum lagi adanya pemalakan di tengah jalan, warga yang mencegat mobil dan meminta uang. Hal seperti inilah yang paling tidak disukai petugas.
Namun jika ada mobil untuk antar jemput, maka mereka tidak usah bingung mencegat angkutan setiap hari, cukup mobil tersebut yang akan menjemput petugas, dan petugas bisa datang tepat waktu. Sehingga, pasien yang akan berobat ke puskesmas tidak selalu harus menunggu di depan puskesmas, sampai petugas puskesmas datang dan memberikan pelayanan. Di saat sekarang ini, hal seperti ini yang paling dibutuhkan oleh petugas, mengingat mereka juga masih takut akan keamanan di daerah, jika mereka harus tinggal di area puskesmas. Belum lagi fasilitas yang minim seperti air, listrik yang belum tentu ada.

Jumat, 23 Mei 2014

Kemuliaan Seorang Bidan Yang Terganjal Oleh Aturan

Kemuliaan Seorang Bidan Yang Terganjal Oleh Aturan - Terik matahari sudah mulai menyengat, aktivitas warga sudah mulai terlihat sejak tadi pagi. Maklum, jam sudah menunjukkan pukul 9 Waktu Papua. Biasanya, Hari Jumat seperti ini umumnya digunakan untuk agenda kebersihan, karena biasanya warga sudah tidak asing dengan istilah jumat bersih. Di pintu gerbang masuk area Puskesmas sana, Bapak Willem Tabuni, Kepala Puskesmas Asologaima sudah mulai sibuk bersama beberapa warga membersihkan jalan, karena Jum’at depan akan ada banyak pejabat yang datang, baik dari Dinas Kesehatan maupun dari Pemerintah Kabupaten setempat. Akan ada hajatan besar disini, yaitu dengan diresmikannya bangunan baru yang terletak persis di sebelah bangunan yang ada sekarang.
adheb's doc
Pasien sedang menunggu di teras Puskesmas
Seminggu lagi bangunan tersebut resmi dijadikan sebagai puskesmas rawat jalan, sementara puskesmas yang dipakai sekarang akan menjadi rawat inap. Bersamaan dengan itu pula, maka 2 bangunan rumah baru di belakang puskesmas yang telah dibangun selama 4 bulan ini juga secara resmi bisa ditempati oleh dokter, sehingga mereka tidak perlu jauh-jauh datang dari kota Wamena setiap hari. Dengan menetapnya dokter di puskesmas ini, otomatis Puskesmas Asologaima, yang merupakan puskesmas rawat inap ini bisa langsung menangani pasien kapan saja. Ke depan, bangunan-bangunan couple di sekitar puskesmas ini juga akan direhab, agar lebih banyak petugas puskesmas yang tinggal, dan bisa standby 24 jam.

Pagi itu saya duduk sendirian di puskesmas ini sambil mendengarkan musik. Setengah jam sudah saya berada di sini, menunggu petugas puskesmas, namun belum ada satupun petugas yang terlihat. tak berapa lama, datang ibu-ibu membawa anaknya untuk berobat. Ada 3 orang ibu-ibu yang membawa seorang anaknya. Namun ada seorang ibu yang juga membawa segepok noken di kepalanya. sambil menunggu petugas puskesmas, saya berbincang-bincang dengan ibu tersebut terkait noken, barang yang multifungsi bagi warga sini. saat iseng-iseng mengamati, ternyata di dalam noken yang dipanggulnya ada bayi mungil yang baru berusia beberapa bulan. Jika hanya sekilas saja, maka kita tidak akan tahu jika di dalam noken tersebut ada seorang bayi, karena bayi di dalam noken di sini jarang menangis. Di sela-sela kami mengobrol, ada juga 2-3 orang warga yang mau berobat, dan langsung pergi lagi, setelah tahu kalau puskesmas belum buka.

Lama kami mengobrol, hingga jam 10 baru ada seorang petugas yang datang menyalami kami, dan sekaligus membuka pintu puskesmas agar kami bisa masuk. dia adalah Mama Regina, bidan di puskesmas ini yang tinggal di salah satu rumah dinas puskesmas, terletak sekitar 20 meter di depan puskesmas ini. Setelah membuka pintu-pintu ruangan, ibu bidan datang ke kami, dan menyampaikan maaf terlebih dahulu. Aduh, maaf sekali ibu, petugas loket belum juga datang jadi,, saya belum bisa melayani ibu-ibu. Kemudian ibu bidan bercengkerama dengan kami, sesekali bercanda dengan anak kecil yang sedang bermain berlarian kesana-kemari.

30 menit sudah berlalu, ibu bidan mulai gelisah. Akhirnya, dia pulang ke rumah, ambil hp dan mencari tempat sinyal dan menelpon petugas loket yang bertugas hari ini. Petugas loket tersebut tinggal di Wamena. Biasanya jam 10 sudah tiba. Setelah tidak ada jawaban, beliau kembali datang ke kami, dan meminta kami menunggu. “Tunggu sebentar e… 30 menit lagi, siapa tau dorang datang”, sambil meminta maaf kepada kami. 30 menit berikutnya juga sudah berlalu, akhirnya dengan menyerah beliau meminta maaf kepada kami, dan meminta agar besok Senin kembali datang ke puskesmas. Maklum, di papan pengumuman, puskesmas buka sampai hari Jumat saja, dari pukul 08-12 wpb.

Sangat disayangkan, ketulusan hati seorang bidan, yang telah membaktikan dirinya 17 lebih ini tidak bisa melayani pasien puskesmas di saat jam pelayanan. Jika prosedur berobat tersebut, yang harus melalui berbagai tahapan dipangkas, maka akan ada berapa banyak pasien yang bisa tertolong setiap tahunnya, tanpa harus berbelit-belit mulai dari daftar sampai pasien mendapatkan obat. Semoga kemuliaanmu untuk mengabdikan diri di daerah terpencil takkan pudar, walau banyak masalah menantimu.

Senin, 10 Maret 2014

BSM (Bantuan Siswa Miskin)

Bantuan Siswa Miskin (BSM) - BSM (Bantuan Siswa Miskin) mulai dikenalkan oleh pemerintah sejak tahun 2008 untuk membantu siswa miskin agar dapat mengakses pendidikan ke jenjang yang tinggi. Minimal sesuai dengan program pemerintah, wajib belajar 9 tahun, yaitu sampai tingkat SMP atau sederajat. Seiring meningkatnya alokasi anggaran untuk pendidikan, yaitu sebanyak 20% dari APBN, maka kuota penerima manfaat BSM pun ikut meningkat dengan harapan, siswa di Indonesia bisa sekolah sampai jenjang SMA (12 Tahun Wajib Belajar). Kuota penerima BSM tahun ajaran 2012-2013 dan 2013-2014 ini menargetkan penerima BSM potensial sebanyak 1.260.400 siswa, dengan alokasi :

Kamis, 02 Januari 2014

Singgah ke Kampung RKI (Rumah Kayu Indonesia)


Singgah ke Kampung RKI (Rumah Kayu Indonesia) - Semilir angin sore serasa menembus tulang-tulang punggung, setelah baru saja mengangkut logistik untuk persiapan perjalanan sebulan ke depan. Lumayan banyak, dan yang pasti melelahkan. Setelah sebelumnya melakukan perjalanan dari Babo, langsung angkut2 barang untuk dinaikkan ke jeti dari ketinting yang kami tumpangi. Ketinting penuh dengan barang yang kami bawa, walau jumlah personil kami hanya 9 orang. Haha, jangan dilihat dari personilnya, tetapi itu adalah logistik kami selama sebulan lebih ke depan, ditambah kertas-kertas kuesioner pendataan yang lumayan banyak.
adheb's foto
Sore di Jety RKI
Jika melihat ke sebelah utara, terpampang laut dan pulau di depan yang cukup indah, di sebelah timur terpampang langit berwarna merah kebiruan, dengan awan yang bergerombol dan khas gerombolan awan disini berbaur dengan kilatan cahaya yang mirip seperti petir saat hujan di jawa, jarang terlihat jika kita memandang gerombolan awan di jogja. Maklum di sini tidak ada musim seperti di Jawa, yang ada musim penghujan atau kemarau. Di sini musim serba tidak jelas. Kadang terang, dan suatu ketika juga bisa terjadi hujan.

Melongok ke sebelah timur, ada pabrik udang, menjulang tinggi tanpa ada saingannya di sekitar situ. Di sebelah kiri saya, terlihat banyak kapal-kapal sedang bersandar, satu dua orang menjalankan long boot untuk menuju daerah lain. Dan di belakang, tentunya terlihat rumah-rumah warga yang sangat khas, karena semuanya terbuat dari kayu.
adheb's foto
Kondisi Jalan di RKI
Ya, disinilah aku berada saat ini. Jeti di kampung Sidomakmur, Distrik Wimro, Kabupaten Teluk Bintuni. Namun, orang menyebutnnya dengan Kampung RKI atau Rumah Kayu Indonesia. Gak tau kenapa dinamakan seperti ini. Tetapi yang jelas di sini semua bangunan hanya menggunakan bahan dari kayu. Begitu juga dengan jalan-jalan di sini. Semuanya beralaskan kayu di atas air dan di atas tanah. Jangan pikir ini di Papua, terus orangnya hitam keriting. Di RKI ini, mayoritasnya adalah para pendatang, baik dari Sulawesi, NTB, Kalimantan, Bima, Maluku, dan yang paling banyak adalah dari Jawa. Lebih dari setengah penduduk berasal dari Jawa, baik Sunda, Gresik, Tuban, Surabaya, Brebes, Banyuwangi, dan Probolinggo yang paling banyak. Makanya, jika kalian berbahasa jawa di sini, maka pastinya banyak yang tahu. 

Di sini, warganya banyak yang mencari udang, karena di sini adalah wilayah udang. Surga udang ada di daerah seputaran sini. Suatu ketika ada yang bercanda di sini, saat saya datang. Mas, di sini semua bisa, semua ada, namun cuman satu yang tidak. Di sini air yang susah. Memang, di sini warga mengandalkan dari air hujan. Namun, untuk makanan dan jajanan sehari hari, di sini malah lebih murah daripada di Babo. Tak tahu kenapa, tapi mungkin karena penduduknya banyak yang dari Jawa, singgah mereka tidak mengambil margin cukup banyak dala berjualan, tidak seperti orang-orang Papua biasanya. Tiba di sini, saya beli  es dawet, harganya hanya 3 ribu rupiah, begitu pula saat beli pop ice.

Air di sini cukup berharga, di saat tidak ada air hujan, mereka membeli air kolam, untuk dimasukkan ke drum drum simpanan mereka. mereka membayar jasa per drum sekitar 10 ribu rupiah. Jika di rumah hanya terdapat 2 atau 3 drum, maka mereka bisa mengisi 2 sampai tiga kali isi seminggu. Dikalikan saja jika setiap isi satu drum seharga sepuluh ribu. Namun tetap saja air dari kolam tersebut, yang asalnya juga dari air hujan hanya sebatas digunakan untuk mandi dan mencuci, karena airnya keruh, sedangkan untuk minum sehari-hari tetap saja mereka menyisihkan dari air hujan.
adheb's foto
Kolam Penampungan Air
Sebenarnya, di sini nama kampungnya adalah Sido Makmur. Zaman dahulu bernama Wimro, lalu sekitar tahun 1991 menjadi Trans Wimro, karena banyak pendatang yang berasal dari daerah lain, khususnya dari Jawa yang pindah ke sini. Para transmigran tersebut sekarang rata rata sudah mempunyai sertifikat tanah dan juga ladangnya. Bahkan sekarang tanah ataupun rumah mereka banyak yang disewakan untuk sesama pendatang yang datang belakanan. Karena hanya mereka yang ikut program ransmigrasi saja yang dapat tanah dari pemerintah. Namun, sampai sekarang tidak ada pajak PBB seperti tanah di Jawa pada umumnya

Hingga sekitar tahun 1993, mereka menamakan desa ini Sido Makmur, dengan harapan, warga di sini selalu makmur dan lebih sejahtera di masa yang akan datang. Namun, penamaan ini hanya sebatas secara kultural saja, dan hanya diakui secara de jure oleh masyarakat di Bintuni sini. Sekitar tahun 2010, Desa Sidomakmur secara resmi berdiri, dan diakui sampai Provinsi Papua Barat, mekar dari Wimro yang mempunyai wilayah di sebelah timur. Tidak tahu kenapa, di pusat nama Sido Makmur belum ada, hanya tercatat nama Wimro saja. Orang-orang di sini biasa berkata bahwa desa adanya desa ini hanya Tuhan lah yang mengetahui. Padahal, wilayah desa ini luasnya 10 ribu hektar, dengan sekitar 720 lebih warga yang mendiaminya.

Senin, 25 November 2013

PULANG



Pulang - Sebuah novel karya Leila S. Chudori yang cukup bagus. Pertama membaca, awalnya agak begitu malas untuk melanjutkan, karena selain novelnya yang cukup tebal, juga alurnya agak susah untuk dipahami. Namun, jika kalian menyelesaikan seperempat buku saja, maka kalian akan ketagihan untuk menyelesaikannya, karena di dalamnya sangat kompleks. Penulis memposisikan diri menjadi beberapa peran. Mulai dari seorang Hananto Prawiro, temannya, Dimas Suryo, istrinya seorang warga negara Prancis, Vivienne Deveraux, dan sebagai anaknya, Lintang. Ia memposisikan diri menjadi mereka semua, bersama rekan rekan eksil politik kala itu.

Jumat, 11 Oktober 2013

Sepowerfull Apakah KPS (Kartu Perlindungan Sosial) itu ?





Sepowerfull Apakah KPS (Kartu Perlindungan Sosial) itu? - Kenaikan harga BBM, berdampak pada kenaikan segala kebutuhan pokok di masyarakat. Bahkan, sebelum BBM naik, yaitu pada saat isu kenaikan BBM santer, beberapa kebutuhan pokok sudah naik terebih dahulu. Tak pelak, Presiden SBY megumumkan kenaikan BBM (bisa dibilang) secara tiba-tiba, dimana kenaikan harga BBM dipastikan terjadi secara pasti hanya dalam beberapa hari setelah info resmi beredar. Setelah Presiden SBY mengumumkan kenaikan BBM, maka tengah malam saat itu juga harga BBM naik, dan 8 kota besar di Indonesia diharuskan untuk membagikan kartu KPS (Kartu Perlindungan Sosial) secara serentak.

Selasa, 19 Maret 2013

Pantai teddy's

Pantai Teddy's - Menikmati pemandangan sore, dengan sunset di sebelah barat ketika berada di pinggir pantai. Jika melihat ke sebelah timur, maka ada sebuah pulau yang akan kita lihat. Orang menyebutnya Pulau Kera. Sebelumnya, pulau tersebut tak berpenghuni, namun sekarang sudah mulai dihuni. Kata orang sini, penghuni pulau tersebut belum lama, yaitu mereka para pencari ikan di laut ini.
 
adheb's foto
Pantai Teddy's

Ya, di sinilah, aku berada saat ini, pantai Teddy’s. Pantai yang setiap sore selalu ramai pengunjung. Selain karena tempatnya yang berada di wilayah kota, pantai ini juga berada tak jauh dari terminal Kupang, atau biasa orang sini menyebutnya dengan daerah LLBK. Selain masyarakat umum, biasanya banyak pelajar, maupun mahasiswa Undana (Universitas Nusa Cendana) yang sering menikmati keindahan temaramnya mentari di sore hari, sambil bercengkerama dengan kawan-kawan. 
Menurut cerita warga, Kota Kupang awalnya dari daerah ini, yaitu Kupang. Di daerah ini, jika kalian bilang mau ke Kupang, maka di sinilah Kupang sebenarnya. Kupang, dulu dari kata Kopa, lalu Kopan, namun, karena aksen Belanda, maka berubah nama menjadi Kupang. 

Sebelah timurnya, tidak jauh dari sini ada Pasar Solor yang selalu ramai. Dua tempat inilah, Pantai Teddy’s dan Pasar Solor, yang harus anda kunjungi jika datang ke sini. Dahulu, di Pasar Solor ini dijadikan sebagai pasar ikan, dan setiap pagi pasti selaalu ramai dengan berbagai macam ikan segar yang ada. Namun sekarang sudah pindah, dan tidak menjadi tempat untuk jual beli ikan segar lagi, hanya sebagai paasar biasa saja. Dan jika kalian ingin mencari ikan segar, maka pergilah ke Oeba, pasti kalian akan menjumpai ikan segar tersebut setiap pagi. Tetapi, jika kalian ingin mencicipi makanan, khususnya mengenai ikan, maka di Solor inilah  kalian sebaiknya berkuliner. 

Terasa ada sesuatu yang kurang rasanya, jika di Pantai Teddy’s, kalian tidak mencicipi jagung bakar khas sini. Jagung bakar di pantai ini, dengan makan diselingi kopi dan Pemandangan sunset, merupakan suatu kesatuan yang wajib kita coba di Pantai ini. Olesan mentega dan juga sedikit sambal, sangat mencirikan jagung bakar ini, dibanding dengan jagung bakar di daerah lain. Ah,, suatu kebersamaan, bersama kawan-kawan yang perlu diulang suatu saat.

Sabtu, 10 November 2012

Ipere

Ipere, begitulah makanan atau lebih tepatnya makanan pokok orang Papua ini dikenal di daerah Wamena dan sekitarnya. Orang Indonesia Barat, mengenalnya dengan istilah ubi. Namun, di Papua ini ubi biasa disebut dengan berbagai kata, seperti ipere tadi, di daerah Yalengga sini,  Wamena dan sekitarnya, suburu, di daerah Yogosem, Kabupaten Yahukimo, dan sekitarnya, dan masih banyak lagi istilah lainnya, karena di Papua ini terdapat banyak suku dengan bahasa yang berbeda-beda. 
Ipere
Berbeda dengan di daerah Jawa, ubi di sini bentuknya lebih besar, dan yang paling penting, di sini sama sekali tanpa pupuk. Jadi, sudah tentu segar dan sehat, karna masyarakat sini belum mengenal (atau mungkin memang tidak butuh) yang namanya pupuk. Berbagai macam tanaman bisa tumbuh tanpa taburan pupuk, karena wilayah ini memang sudah subur sejak dahulu. 

Sangat disayangkan, jika pemerintah menggembor-gemborkan makanan pokok dengan padi, karena tanaman padi di sini sangat jarang. Jika harus memakan beras, maka bisa dikatakan mereka akan memakan makanan pokok hanya sekali dalam sebulan, yaitu pada saat pembagian raskin. Maklum, harga beras di sini sangat mahal. Beras bulog yang warnanya kuning, harganya sekitar 25.000. Bandingkan saja dengan harga di kota Wamena, yang harganya 15.000, di Jawa dengan harga kurang dari 5.000, dengan di pedalaman Papua seperti Yogosem, yang harganya bisa mencapai 50.000 per kilo. Sangat jauh memang. Itulah, keadaan di Papua yang sangat tergantung dengan wilayah topografinya. Semakin pedalaman wilayahnya, maka akan semakin mahal harganya, karena ongkos kirim baik menggunakan mobil, kapal, jalan kaki, maupun pesawat juga mahal. 

Setiap hari makanan pokok mereka masih sama saja dari dulu, yaitu ubi dengan dedaunan hasil ladang. Di sini, sudah agak mendingan, karena mereka sudah sedikit mengenal bumbu seperti penyedap rasa, bawang, maupun lombok. Bayangkan, waktu saya di Yogosem, yang untuk makan, sehari hari hanyalah ubi dengan sayur daun ubi saja. Untuk menambah rasa, kadang sayur daun ubi diberi sedikit garam. Maklum lah, daerahnya cukup tinggi, di lembah dengan ketinggian hampir 3.000 meter. Jadi, harga garam dan kebutuhan lainnya cukup mahal. 

Rata- rata,mereka  makan 2 kali sehari,yaitu pagi dan sore. Pagi hari, mereka makan sebelum keluar rumah, dan sore hari setelah pulang. Dari yang saya lihat, mereka umumnya hanya bisa mengolah ubi dengan direbus maupun dibakar. tidak ada olahan lain semacam digoreng, ditumbuk, atau dijadikan olahan lain seperti di Jawa. Maklum lah, untuk menggoreng saja, harga minyak goreng cukup mahal. Bagi mereka, jika perut sudah kenyang, maka cukup,tanpa harus menjadi olahan lain. 

Setiap hari, ubi mereka panen dari ladang, baik 1 noken, atau 2 noken. Panenan mereka pasti banyak, karena selain untuk makan sendiri, juga untuk makanan babi mereka yang habisnya malah jauh lebih banyak dari manusia. Seperti halnya manusia, biasanya babi makan setiap pagi dan sore hari. Namun, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tak jarang warga di sini menjual ubi ke kota. Mereka harus naik angkutan dengan biaya 25 ribu sekali jalan. Padahal, sekali bawa, ubi mereka laku sekitar 50-100 ribu saja, tergantung banyaknya ubi yang mereka bawa. Belum lagi untuk jajan mereka di kota. 

Di Wamena sendiri, harga ubi yang sudah digoreng 1.000 perak. Itupun cukup kecil, seperti gorengan di Jawa yang harganya 500 perak. Bayangkan, jika warga dapat mengolah dan menjualnya sendiri, pastinya mereka akan mendapatkan untung yang lumayan bukan..

Jumat, 02 November 2012

Kognitif Orang Papua

Kognitif Orang Papua - Pernahkah kalian mengetahui, apakah yang paling sulit dilakukan oleh orang Pegunungan Tengah, dari Wamena, Jayawijaya, Yahukimo, sampai daerah Puncak? Ya, sedikit jawaban yang saya tahu setelah keliling daerah itu, saya menyadari bahwa masalah umur dan masalah kognitif mereka agak kurang.

Minggu, 05 Agustus 2012

Sisi Lain Wamena

Sisi Lain Wamena - Menelisik para penjual di Wamena, ternyata omset di sini lumayan gede. Makanya, banyak para pendatang yang mencari nafkah sesuap nasi di sini. Mayoritas pedagang di sini adalah para pendatang, dan kebanyakan dari Jawa, khususnya Jawa Timur(an).. Segala sesuatu di sini mahal, karena akses ke kota ini hanyalah melalui udara. Gorengan yang di Jawa harga per bijinya 500 rupiah, di sini 1.000-2.000 rupiah. Omset sehari gak mati pasti selalu di atas 1 juta, bahkan sekitar 5 jutaan. Penjual gorengan di kota ini selalu ramai akan pembeli. Jika di Jawa, biasanya orang beli gorengan sekitar 5-10 ribu, maka di sini hal biasa orang beli gorengan 20,30,atau 50 ribu. Itu hal yang biasa. Begitu juga dengan makan. Standar makan di sini, 25-30 ribu. 

Selasa, 10 Juli 2012

Yalengga, Jayawijya

Yalengga, Jayawijya - Desa Yalengga, berada di Distrik Yalengga, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Desa ini mempunyai 6 RT/ dusun (karena RT dan dusun di sini tidak begitu berbeda). Dusun 1 terletak di pusat desa, dusun 2 agak ke timur, dusun 3 berada di dekat distrik, tetapi agak masuk ke dalam, dan juga berbatasan dengan desa Pilimo, yang merupakan desa pemekaran dari Yalengga. Dusun 4 berada di ujung, dusun 5 berada di tengah pulau dan dusun 6 di seberang lagi. Untuk sampai ke dusun 6, kita harus menyeberangi 2 sungai Baliem yang cukup lebar.

Senin, 04 Juni 2012

Yogosem

Yogosem - Merupakan sebuah desa kecil, dengan mayoritas suku Hupla, dan sebagian kecil suku Jali. Bahasa sehari-hari mereka pun juga bahasa Hupla. Tetapi, mereka juga bisa berbahasa Jali,  karena di sini merupakan perbatasan antara suku Hupla dengan suku Jali. Lerak Kampung Yogosem berada di koordinat S: 04° 14' 50.6", dan E: 139° 10' 08.1" (4 Derajat, 14 menit, 50.6 Lintang Selatan dan 139 Derajat, 10 Menit, 8,1 Detik Bujur Timur) dengan ketinggian hampir 3.000 meter di atas permukaan laut. 

Senin, 19 Desember 2011

Sejarah Agama-Agama

            Ruang Lingkup dan Kedudukan
Agama adalah satu doktrin dan realitassonal yang ada pada manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat, karena agama ada sejak manusia ada. Artinya, agama itu seumur dengan usia manusia. Di balik itu, dapat dipahami bahwa sejarah umat manusia adalah sejarah agama-agama, begitu juga sebaliknya, sejarah agama-agama adalah sejarah manusia.
Sejarah Agama-Agama
Sejarah agama-agama adalah sejarah umat manusia dengan aneka ragam tindakan manusia yang terjadi pada masa lalu dengan sandaran doktrin agama, karena doktrin agama yang mampu membentuk kepribadian umat manusia. Maka dalam kenyataanya beragam pengalaman ajaran agama bagi pemeluknya sangat ditentukan oleh pemahaman keagamaannya. Disamping bernilai normatif, sejarah agama-agama juga bernilai historik. Hal yang bersifat normatif dapat dipahami dengan kitab suci (manuskrip), sedangkan hal-hal yang bersifat historik merupakan pemahaman dan pegamalan ajaran agama sebagai pengalaman keagamaan umat manusia yang sifatnya beragam dan seragam.

Dalam pemahaman ilmu agama disepakati bahwa ajaran agama ada yang seragam (paralel) dan ada yang beragam (berbeda). Artinya, pada setiap ajaran agama ada persamaan dan perbedaannya, baik yang seragam maupun yang beragam. Itulah sebabnya, sejarah agama-agama disebut juga sebagai ilmu agama yang membicarakan tentang persamaan dan perbedaan doktrin agama-agama. Sebagian tokoh mengidentikkan sejarah agama-agama dengan perbandingan agama-agama.

Secara umum dapat dikatakan bahwa sejarah agama-agama merupakan studi ilmiah dalam menghampiri agama, karena pada dasarnya masalah keagamaan ada sebagai suatu pengalaman sejarah yang harus diakui keberadaannya. Sejarah agama-agama merupakan disiplin ilmu yang memberika gambaran masa lalu agama-agama. Hal ini memberikan implikasi bahwa sejarah agama memiliki batasan yang spesifik dalam kajiannya, yakni tentang asal-usul, tokoh, dan perkembangan agama tersebut. Kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa ruang lingkup pembahasan sejarah agama-agama meliputi segala aspek yang berkaitan dengan asal-usul (the origin), tokoh (the greatman), dan perkembangannya (the growth).

Perkembangan agama-agama erat juga kaitannya dengan masalah asal usul dan tokoh agama, yang dikaitkan dengan lingkungan yang mengitarinya, termasuk juga lingkungan dari tokoh agama, dimana ia dilahirkan. Sejarah agama juga secara tidak langsung mengkaji persamaan dan perbedaan eksistensi, baik doktrin dan pemahamannya maupun doktrin dan pengalamannya. Kesemuanya merupakan pengalaman pemeluk agama sebagai corak dari pengalaman sejarah agama-agama.

Pengalaman agama adalah objek dari sejarah agama yang bisa dibagi, diteliti, dan diungkap secara faktual menuju lahirnya sejarah agama sebagai ilmu. Artinya, pengalaman agama adalah sumber kebenaran ilmiah kajian tentang agama. Berdasarkan pemahaman ini, maka dapat digambarkan bahwa agama mempunyai dua posisi, yakni sebagai cabang ilmu pengetahuan agama dan sebagai pendekatan dalam kajian agama. Sebagai cabang ilmu agama, karena objeknya memperbincangkan masa lalu agama sebagai karakteristiknya, dan sebagai pendekatan dalam kajian agama karena berbeda dengan disiplin ilmu lainnya yang menekankan aspek asal-usul , tokoh agama, dan perkembangannya.
           
Komponen dan Klasifikasi Agama
Pengertian agama belum ada satu kesepakatan yang jelas dari para tokoh agama. Artinya, masing-masing tokoh agama memiliki batasan tertentu dalam mendefinisikan agama. Pendefinisian masalah agama sangat beragam, dan lebih dari 48 definisi. Para psikolog cenderung mengatakan bahwa agama pada dasarnya adalah berlakunya aturan yang sakral atas profan (suci).

      Komponen-Komponen Agama
Komponen agama maksudnya adalah unsur-unsur yang menjadi indikator untuk memahami agama. Dengan adanya komponen tersebut, maka dapat dimengerti mana yang agama dan mana yang bukan. Menurut Joachim Wach, paling tidak ada 3 macam unsur-unsur agama.

a) Komponen Thought
Arti dasar dari kata thought adalah pemikiran yang mengandung makna semua yang dapat dipikirkan untuk diyakini. Sesuatu yang termasuk komponen tought meliputi aspek teologi, mitologi, dan doktrin atau dogma. Teologi adalah ajaran yang membicarakan tentang keyakinan terhadap Tuhan, seperti :siapa Tuhan, hubungan antara manusia dengan Tuhan, begitu pula mitologi, merupakan serangkaian cerita yang mengandung nilai spiritual sehingga menumbuhkan keyakinan pada kekuatan spiritual tersebut.

Doktrin dan dogma secara langsung berasal dari Tuhan. Oleh karena itu juga tidak mesti dapat dicerna oleh akal, melainkan cukup diimani atau minimal diinterpretasikan dan dimaknai doktrin atau dogma merupakan suatu ketentuan dan aturan, hukum dan kaedah yang diciptakan untuk manusia. Secara substantif dapat dikatakan bahwa dogma dan doktrin merupakan undang-undang yang terkandung dalam agama yang seharusnya sebagai pedoman pengamalan agama. Ketiganya harus ada dan merupakan isi dan inti agama. Oleh karena itu, memahami agama harus mengetahui apa doktrin dan dogma tersebut.

b) Komponen Ritual
Masalah ritual pada dasarnya merupakan ajaran agama tentang tata cara pengabdian kepada Tuhan dalam bentuk peribadatan. Pada komponen ini, tentunya lebih ditekankan pada aspek nilai spiritual yang bersifat normatif. Masalah ritual juga sebagai karakteristik suatu agama, sebab inti ajaran agama adalah berbicara masalah ritual yang bersifat spiritual. Artinya, pada hal-hal yang bersifat spiritual jiwa agama itu yang sebenarnya. Agama tanpa spiritual akan kehilangan substansinya.

c) Komponen Fellowship
Fellowship dalam masalah keagamaan dikenal sebagai embracer (pemeluk, peganut, pengikut) suatu agama baik dalam arti pribadi atau kelompok. Suatu agama erat kaitannya dengan pemeluk. Artinya, tanpa pengikut berarti agama tidak berkembang atau tidak punya nilai sejarah. Disamping tokoh agama, maka pemeluk agama merupakan penentu keberadaan agama tersebut. Fellowship dapat berarti juga pribadi, tetapi tentunya lebih kepada komunitas . Dalam semua agama dikenal istilah pemeluk ini sesuai dengan bahasa kitab suci masing-masing. Dalam islam dikenal jamaah, ummah, Kristen ada jemaat, sangha dalam Budha, dan kasta dalam Hindu. 

       Klasifikasi Agama-Agama
Konsep klasifikasi agama sanga beraneka ragam, tergantung dari sudut pandang yang digunakan. Ada yang berangkat dari pandangan normative yang memunculkan aspek substansinya yang efeknya akan lahir pembicaraan kebenaran agama. Umumnya, klasifikasi semacam itu di satu sisi memantapkan keyakinan keagamaan, namun di sisi lain berefek adanya agama yang tersudutkan.

Klasifikasi agama yang cenderung deskriptif bernuansa obyektif dan bersifat terbuka menerima keberadaan agama manapun. Klasifikasi semacam ini tergantung pada saudut pandangnya, namun sangat terbuka dan universal.

           Teori Asal-Usul Agama-Agama
Kajian tentang sejarah agama-agama dari aspek asal-usul agama telah banyak dikaji dan telah melahirkan teori-teori tentang asal-usul agama-agama. Prof.H.A. Mukti Ali mengemukakan beberapa teori tentang asal-usul agama. Menurut beliau teori tentang asal usul agama itu paling tidak ada 3 macam teori :

        1. Teori Evolusi
Ilmuan agama juga menggunakan teori evolusi dalam mencari asal-usul agama. Kekuatan di luar diri manusia yang diyakini dan dipercaya sebagai elemen yang dominan pada diri manusia telah mengkristal menjadi suatu kekuatan yang menjadikan manusia itu sebagai sesuatu yang bergantung secara spiritual, sehingga harus selalu berhubungan secara rutin dan intensif.

Frederich Max Muller mengintrodusir asal-usul dan kepercayaan umat manusia itu berkembang dari polytheistic dan henotheistic menuju monotheistik. Teori selanjutnya adalah aliran antropology evolusionisme dan psikologi evolusionisme. Antropology evolusionisme pada dasarnya merupakan faham evolusi yang meliha asal-usul agama dari aspek budayanya. Teori ini mendasarkan bahwa keyakinan seseorang terhadap agamanya selaras dengan kemajuan budayanya. Aliran ini beranggapan bahwa keyakinan atas suatu agama berkembang secara perlahan-lahan menuju kesempurnaan.

Edward Burnett Tylor berkeyakinan bahwa agama animisme merupakan keyakinan dasar bangsa primitif yang merupakan bentuk sederhana dari kepercayaan umat manusia, sesuai dengan isi karyanya, The Primitif Culture. Begitu juga menurut antropolog Emile Durkheim. Menururt penganut aliran anthropology evolusionisme ini, pada dasarnya sudah ada agama yang sederhana pada masyarakat primitif yang beraneka ragamnya dari bentuk polytheisme, henotheisme, menuju dualism monoisme dan pantheisme, hingga monotheisme. 

        2. Teori Oer –Monotheisme
Teori ini berangkat dari fakta bahwa suku primitif pada awalnya adalah penyembah Tuhan yang satu. Teori ini melakukan pandangan bahwa pada mulanya monotheisme merupakan agama dasar yang telah manusia peluk. Kemudian, selanjutnya terjadi perubahan menjadi henotheisme dan selanjutnya menjadi polutheisme.

Perubahan ini pada dasarnya bergerak secara linear dan dipengaruhi oleh kondisi geografik, antropologik, dan sosiologiknya yang pada akhirnya terjadi penyimpangan dari aslinya. Teori ini bertentangan dengan teori evolusi, ketika nampaknya terjadi perbedaan arah yang satu maju ke depan, dan yang lain mundur ke belakang. Namun, titik persamaan keduanya beranggapan bahwa asal-usul agama berasal dari bangsa primitif sebagai basic tumbuhnya agama-agama masyarakat pada umumnya.

Andrew Lay, dalam karyanya berjudul “The Making Religion” beranggapan bahwa monotheisme di kalangan bangsa primitif sudah lama ada. Karena itu, teori ini menamakan Oer-Monotheisme, yang berarti kepercayaan terhadap Tuhan yang satu yang sudah lama. 

        3. Teori Relevasi
Kata relevasi berarti wahyu, berarti semua agama itu adalah diwahyukan dari sumbernya, yakni Tuhan. Teori ini sependapat dengan Oer-Monotheisme, karena relevasi juga mengakui Tuhan yang satu, hanya berbeda dalam substansi sumbernya. Oer-Monotheisme cenderung mengaitkan dengan bangsa primitive sebagai asal-muasalnya (the origin), sedangkan relevasi mengakui doktrin monotheisme ini adalah dari kitab suci dan bersifat revelatif, merupakan ajaran langsung daru Tuhan.

Tokoh teori ini adalah William Schmid, seorang katolik yang kuat sebagai teolog. Ia menulis aryanya yang berjudul Der Ursprung der Gottesidee, yang terdiri dari delapan jilid yang besar. Ia mengajukan teorinya tentang revelasi yang dianggapnya berbeda dengan pendapat sebelumnya yang diwakili oleh tokoh evolusi dan oer-monotheisme. Teori revelasi ini merupakan hasil penelitiannya terhaap beberapa suku primitif yang ada di beberapa negara Asia.

            Metode / Pendekatan dalam Studi Agama-Agama (Sejarah Agama-Agama)
Dalam studi sejarah agama-agama, yang menjadi sasaran penelitian adalah pengalaman keagamaan pemeluk-pemeluk agama yang merupakan aspek insasiyah sebagai pemahaman dan pengamalan ajaran agama. Pengalaman keagamaan ini adalah sejarah sebagai kultur manusia yang dikenal sebagai ajaran yang bersifat historic. Jaran ini mungkin sama, mungkin juga berbeda.

Para ahli studi agama-agama, antara lain Joachim Wach mengatakan bahwa pendekatan studi agama termasuk sejarah-agama-agama ada empat macam :
        1. Historical Approach
        2. Sosiological Approach
        3. Psichological Approach
        4. Phenomenological Approach

Sedangkan H.A. Mukti mengistilahkan dengan metodos. Menurutnya, ada enam metodos studi sejarah agama-agama.
      1. Metodos Philologis
      2. Metodos Historis
      3. Metodos Antropology
      4. Metodos Volker Psychologie
      5. Metodos Sosiology
      6. Metodos Apology

Secara substantif, keduanya cenderung berfikir ke arah kerangka methodology pengkajian agama-agama dengan meminjam istilah multidisiplin. Hanya saja, Wach memaparkan metodologi ke arah makro, sedangkan Mukti Ali dalam artian mikro. 

           Konsep Toleransi Beragama
Adanya ajaran agama yang bersifat normatif memberikan peluang untuk munculnya konflik di tengah umat beragama, baik internal maupun eksternal. Masalah normatif pada agama telah mempengaruhi keyakina agama secara radikal yang melahirkan adanya kecenderungan ke arah fundamentalisme. Sikap pemeluk agama yang fundamentalistik cenderung menganggap orang lain berbeda, bahkan bertentangan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pemeluk agama yang menerima ajaran agama dalam konteks keyakinan, bukan pemahaman. Artinya, agama hanya didudukan sebagai suatu sistem krido yang eksklusif dan tidak affair.

Umat beragama yang cenderung eksklusif tersebut memberikan ekses terisolirnya komunitas tersebut dari khalayak dan pada akhirnya menjadi statis. Beragama statis menjadikan sikap tidak toleran, bahkan berdampak makin menajamnya konflik dan pertentangan di kalangan umat beragama. Tidak ada toleransi di antara umat beragama karena lemahnya studi deskriptif bagi umat beragama, sehingga komunitas masing-masing pemeluk berjalan secara parsial dan terpisah.

Pemahaman dan pengakuan adanya persamaan dan perbedaan merupakan modal dasar umat beragama menuju tercapainya kerja sama dan toleransi antar umat beragama secara komprehensif, sebab secara obyektif setiap agama memiliki peluang terjadinya konflik dan toleransi diantara umat beragama baik secara internal maupun eksternal. Namun, kesemuanya itu harus dikembalikan pada pemahaman ajaran agama oleh pemeluknya masing-masing. Artinya, apabila pemahamannya rasional, tentu saja mudah terjadi kerukunan, sedangkan sebaliknya, dipahami secara emosional, maka akan muncul konflik yang berkepanjangan.