Tampilkan postingan dengan label NTB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NTB. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Oktober 2013

Trip Rinjani (part2)


Trip Rinjani (part2) - Pulang dari Kalimantan, langsung ada temen yang nge whatsapp, posisi? Seperti biasa, jika dia tanya keberadaanku pasti kalimatnya gak jauh-jauh beda, seperti itu. Ya, memang aku banyak dikenal sebagai seorang yang nomadden Kadang tinggal di Jogja, kadang di rumah, dan paling sering pindah-pindah tempat di kota lain, karena tuntutan hidup. Langsung saja kubalas, "Gi di Jogja bro". Langsung balasan selanjutnya, aku diajak untuk mendaki ke Rinjani, gunung yang cukup favorit bagi kalangan pendaki, karena Danau Segara Anakan-nya yang terkenal cantik nan indah. Dia sudah lama mengajakku, bahkan sebelum aku berangkat ke Kalimantan, bulan lalu.
adheb's doc
Pemandangan Rinjani dari Plawangan Sembalun
Dia dan temannya, memang sudah lama ingin mendaki ke gunung ini, gak tau kenapa, tapi itulah keinginan mereka sejak lama. Bahkan, keinginan sebelummnya dicancel mereka, lantaran aku gak bisa menemani mereka. Waktu itu aku masih ada urusan di Kalimantan, hingga akhirnya sampailah di hari ini, kami berangkat ke Rinjani. Temenku ingin aku ikut, karena aku sudah pernah ke tempat itu 3 tahun yang lalu, sehingga dia merasa aman jika ada personil yang sudah pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya.
Aku putuskan untuk berangkat, walaupun harus rela meninggalkan kesempatan yang cukup dinantikan banyak orang yang baru lulus. CPNS. Ya, sungguh berat memang, melepaskan kesempatan yang satu ini. Di satu sisi, pasti yang namanya orang mencari pekerjaan ingin sesuatu yang terjamin, mapan, tetapi aku juga masih mengejar cita-citaku, walau itu sangat-sangat tidak pasti. Yang paling penting, adalah usaha kita, karena aku yakin, dan aku sangat legowo, jika kita sudah berusaha semaksimal mungkin, pasti ada suatu hikmah yang akan kita terima. masalah berhasil atau tidaknya, itu sudah urusan lain.
Seperti dulu, pendakian keduaku ini "ngeteng" yaitu perjalanan yang lanjut-berlanjut, karena mengingat budget kita yang terbatas, dalam bahasa kerennya, backpacker-an gitu. Dari jogja, pagi-pagi sudah harus cabut ke stasiun, naik Sri Tanjung. Satu-satu nya kereta ekonomi jarak jauh jurusan Banyuwangi. Malam hari, kami menginap dulu di Banyuwangi, sambil menjemput teman yang akan ikut kami, 2 orang dari sini.
Sebenarnya, kami mau langsung berangkat malam ini juga, namun karena teman kami masih ada kerjaan yang belum beres, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat besok siang. Malam ini, kami mempersiapkan kebutuhan dahulu, dan tidur agar besok pagi fresh.
Hari berikutnya, kami bersiap diri untuk perjalanan ke lombok. Dengan diantar mobil bak terbuka, kami berangkat berlima menuju ke Pelabuhan Ketapang. Tidak terlalu lama, 15 menit saja kami sudah tiba di Ketapang. Disana, sudah ada kawan yang menunggu, karena dia memang bekerja di kantor kapal. Kami langsung diantar menuju ke kapal, dan setelah itu dia kembali ke kantor di Ketapang, karena ada rapat. Lumayan, dapat tumpangan gratisan dengan kelas VIP. 
Di dalem sudah ada kantin, dan ruangan ber-aAC namun kami memilih duduk di luar sambil menikmati pemandangan selat Bali ini, ditemani kopi yang dibeli, lebih tepatnya gratisan lagi, karena tidak mau dibayar. Gelombang waktu itu tergolong besar, menemani kami perjalanan sekitar sejam.
Tiba di Gilimanuk sekitar pukul 2 siang, kami langsung keluar mencari angkutan arah Ubung. Lalu dari  ubung lanjut ke Padangbai .Jika malam hari, sebenarnya kalian bisa langsung cari angkutan yang menuju ke arah Padangbai. Di Padangbai, melanjutkan penyeberangan menuju ke Lembar. Biaya penyeberangan saat ini 40 ribu. Dari Lembar, kami menuju ke Mataram terlebih dahulu.
Biaya standar biasanya 15 ribu, namun karena masih terlalu dini hari dan ada salah sorang yang ingin cepat sampai ke Mataram, akhirnya kami menyewa mobil, dengan harga 25 ribu per orang. Di Mataram, tujuan kami adalah terminal Mandalika Bertais. Terminal Mandalika ini terletak di Bertais, sehingga kadang orang menyebutnya terminal Mandalika atau terminal Bertais.
Tujuan kami langsung ke barat terminal, tempat orang ngedrop sayuran, karena mereka hampir semuanya berasal dari Sembalun. Kami mencari salah satu tumpangan untuk menuju ke Sembalun, dan akhirnya dapat juga. Setelah tawar menawar, jadilah biaya per orang 30 ribu sampai ke beskem sembalun. Namun, kami menunggu dulu mereka mengantar sayuran ke penjual-penjual sayuran di sekitar area pasar sini. Mereka setiap hari mengedrop sayuran ke pedagang, sambil mengambil uang hari kemarin, jadi, bisa dibilang sistimnya adalah menitipkan sayuran ke para pedagang.
Sebenarnya, biaya ke Sembalun memang sekitar segitu. Jika naik angkutan, dari Mataram kita ke Aikmal, 15 ribu, dan dari Aikmal kita lanjut ke Sembalun sekitar 15 sampai 20 ribu. Dahulu, angkutan dari Aikmal menuju ke Sembalun cukup banyak, namun sekarang hanya tinggal beberapa biji saja. Jika sudah melewati hutan-hutan, maka kita akan menjumpai banyak kera di pinggir pinggir jalan. Mereka biasanya meminta makanan jika ada orang yang lewat.
Tiba di sembalun, kita langsung ke beskem untuk registrasi, istirahat dan sholat sebentar, dilanjutkan naik ke atas. Jika ingin menyewa porter, maka biayanya 125 ribu. Namun, biasanya porter di sini maunya minimal 2 malam. bisa saja hanya semalam, namun harganya tergantung nego. Biasanya, porter tidak mau kalau diminta untuk jalan malam hari. Rencana awal kita menginap di pos 2, namun karena masih sore, akhirnya kita hanya mengambil air saja di pos 2, dan lanjut menginap tepat di atas sebelum pos 3.
Esok pagi, kita melanjutkan perjalanan ke Plawangan Sembalun. Perjalanan kali ini juga cukup panas, karena kita melakukan perjalanan di siang hari. sekitar pukul 2 siang, kita sudah tiba di Plawangan, langsung mendirikan tenda dan menikmati suasanya keindahan alam ini. Setiap hari, turis yang naik ke sini cukup banyak, bahkan orang lokal yang mendaki ke sini hanya sepertiga turis manca.
Malam hari, kita bersiap-siap untuk summit. Tepat pukul 2 dini hari, kita melakukan perjalanan ke puncak. Perjalanan ke puncak sangat dingin, karena angin cukup kencang. Bagi kalian yang ingin ke puncak, sebaiknya memakai sepatu dan pakaian hangat, agar tidak terlalu kedinginan. Perjalanan ke puncak ini didominasi oleh pasir berbatu, sehingga 3 tanjakan yang kita gerakkan, bisa saja merosot 1 tanjakan. seperti jika kita summit di Semeru.
Tiba di puncak sekitar pukul 6 pagi, istirahat dan foto-foto. Hal yang wajib silakukan, sebagai kenang-kenangan. Seperti kode etik yang selalu kupegang, dilarang mengambil sesuatu kecuali gambar. Puas berfoto-doto, kami turun, kembali ke tenda. Karena teman-teman terlalu lelah, akhirnya kita istirahat dulu, dan baru melanjutkan perjalanan ke danau pukul 2 siang.
Perjalanan ke danau sekitar 4 jam, menuruni punggungan. perjalanan kami cukup santai, dan tiba di danau pukul 6 sore. Langsung mendirikan tenda, dan mandi di air hangat. Baru memasak untuk suplai gizi kami, sesuai semboyan, “Logika tanpa logistik naĆÆf”. Tak lupa mancing, karena sudah dipersiapkan saat kita berangkat. Pagi hari, kembali memancing, sampai siang, lalu kembali berendam di air hangat. Karena sedang musim kemarau, maka air terjun di dekat pemandian air hangat ini tidak mengalir, tidak seperti perjalanan pertama saya, yang bisa menikmati mandi di air terjun ini waktu itu.
Sebenarnya, jika ingin mandi di sini enaknya pagi atau sore hari, disaat udara dingin, kita bisa berlama-lama merendam tubuh di kolam, namun karena kami akan melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan diri sejenak untuk berendam lagi, sebelum meninggalkan danau ini. Pukul 2 siang, kami melanjutkan perjalanan ke Plawangan Senaru. Perjalanan ke Plawangan ini sekitar 4 jam, dan kalian bisa berfoto-foto, karena banyak spot-spot yang cantik di perjalanan ke Plawangan Senaru ini, dengan latar Gunung Anak Rinjani, Danau Segara Anakan, dan juga Puncak Rinjani. Pas sebelum matahari tenggelam kami tiba si Plawangan Senaru.
adheb's doc
Memancing Sejenak di Danau Segara Anakan
Pemandangan inilah yang paling bagus menurut saya, karena di sini, kita bisa berfoto, dengan latar belakang seperti tadi. Namun, pemandangan ini terlihat di pagi dan sore hari, karena biasanya siang hari tertutup kabut. Begitu juga dengan sunset di sini, menghadap kemanapun, pemandangan terlihat sangat indah, dengan berbagai bukit-bukit yang menghiasi pemandangan mata kita berhampar begitu luas.
Kami melanjutkan perjalanan malam, dan mendirikan tenda di pos 2. Sebenarnya, sebelum pos 2 ada keinginan untuk istirahat, tetapi akhirnya diurungkan dan lebih memilih untuk ngecamp di pos. malam ini, kami memasak ikan hasil pancingan tadi siang, lumayan menggoda, setelah perjalanan yang cukup melelahkan, hidangan kali ini sangat spesial. yang tadinya sesampai di pos ingin tidur, akhirnya ikutan makan, mengingat bau ikan goreng yang tak tahan untuk tidak mencicipinya. akhirnya, jam 12 malam kita baru istirahat.
Bangun pagi, saya langsung keluar dan mencari sumber air. Maklum, air kita tinggal stengah botol. Pasti tidak cukup untuk memasak dan bekal turun. Sekitar 100 meter dari tempat camp terdapat mata air, namun airnya tidak begitu bersih. Sayapun mengambilnya botol demi botol, dengan menggali pasir terlebih dahulu, agar keluar airnya. Setelah dirasa cukup, saya kembali naik dan memasak. Pagi ini masak terakhir kita, untuk itu kami menghabiskan logistik yang ada, sebelum turun ke beskem. selesai makan sekitar jam 9, kita lanjut turun. Dari pos 2 menuju ke pos ekstra, dan dari pos ekstra dilanjutkan ke pos 1. Istirahat sekitar 15 menit di pos 1, kami lanjut ke gerbang masuk Rinjani via Senaru.
Setelah sekitar sejam perjalanan, kami tiba, dan istirahat di sini untuk melepas lelah, sambil minum sebentar. Puas istirahat, kami melanjutkan lagi perjalanan ke beskem Senaru. Sampai di sana, langsung saja saya mencari angkutan ke jalur bis terdekat, sembari menunggu teman yang lain tiba.
Setelah mencari kesana-kemari, dan tidak dapat, akhirnya saya mengambil alternatif, yaitu mencari ojek. Jika beruntung, sebenarnya kita bisa dapat angkutan jika ada turis yang datang, lalu kita nego untuk mengantarkan ke tempat tujuan kita. Itu biasanya di pagi hari, karena kebanyakan turis datang ke sini di pagi hari dan langsung mendaki.
adheb's doc
Plawangan Senaru
Biaya ojek standar,25 ribu per orang sampai ke terminal Anyar. Dari terminal, lanjut perjalanan ke Lembar. Karna ingin cepat, akhirnya kita naik angkutan dengan tarif 225 ribu, sampai ke pelabuhan lembar. Padahal, tarif biasa tidak sampai segitu. Niat ingin cepat sampai, ternyata tiba di pelabuhan kami diminta lagi uang 30 ribu oleh supir, karena sebelum sampai di pelabuhan, kami dioper ke mobil trayek pelabuhan sini. Saya tidak aneh, karena sebelumnya pun saya juga mengalami hal yang sama.
Perjalanan Lembar-Padang Bai kali ini lebih cepat, dari yang biasanya 6 jam bahkan lebih, kali ini penyeberangannya hanya 3 jam saja, gak tau kenapa, karena lumayan lebih cepat dari waktu standarnya. Sampai di Padang Bai, kami istirahat, sambil menunggu truk di luar pelabuhan. Karena hari sudah malam, kami cukup kesulitan untuk menyetop truk menuju ke Ketapang. Akhirnya, kami istirahat, tidur sebentar sambil menunggu pagi. Sekitar jam 2 dini hari, ada orang datang, dan menawarkan tumpangan. Setelah nego- nego, akhirnya kami ikut angkutan sampai ke Ubung, dengan biaya 100 ribu.
Tiba di Ubung masih jam 4 pagi, dilanjut mencari angkutan ke terminal Gilimanuk. Biaya per orang 35 ribu. Namun, jika tidak melakukan penawaran terlebih dahulu, kalian akan diminta uang lebih, sekitar 35 sampai 40 ribu. Dari terminal Gilimanuk lanjut jalan menuju ke pelabuhan sekitar 100 meter, dan menyeberang menuju ke ketapang. Biaya penyeberangan 6.500 per orang. Dari ketapang kami singgah dulu di Banyuwangi. Di sana kami menginap semalam, dan jalan- jalan keliling Banyuwangi. Sebenarnya ingin lebih lama di Banyuwangi, namun karena masih ada urusan di Jogja, akhirnya saya pulang terlebih dahulu.
Tibalah saya sampai jogja kembali.... 

Kamis, 09 Juni 2011

Sisi lain Pendakian Rinjani

Sisi lain Pendakian Rinjani
Pulau Lombok
Lombok dikenal dengan kota 1000 masjid. Saat saya ke sana, tiap daerah pasti ada masjidnya, dan kehidupan di Kota Mataram cukup kental dengan adat Islamnya. Namun, di pinggiran, seperti pantai, ternyata juga terdapat daerah yang cukup bebas. Bebas ngisep, bebas minum, maupun bebas nge seks. Makanya, banyak bule-bule yang suka hidup/ plesiran di pantai-pantai. Konon, semboyannya “Tak ada polisi tak Ada Polusi”.

Selasa, 10 Mei 2011

Pendakian Rinjani

adheb's doc
Para Pendaki Rinjani
Pendakian Rinjani - Hari semakin dekat, menjemput masanya. Masa yang selama ini ditunggu-tunggu oleh para pecinta alam yang ingin melihat kemolekan sebuah maha karya sang pencipta, kata pujangga, sungguh indah pikiran ini membayangkannya, walaupun mata belum pernah menembusnya. Indah, cantik, dan menyejukkan hati. Ya, Gunung Rinjani, Gunung yang menjadi dambaan para petualang untuk menjejakkan kaki di sana.

Rabu, 27 April 2011
Pagi, jam 06.00 WIB kami bersiap-siap menuju ke stasiun Lempuyangan, stasiun yang berjarak sekitar 2 km dari kampus UIN. Sampai di stasiun , sudah ada Papi di sana, senior Mapalaska (alumni red) Setelah berkumpul semuanya, kami masuk stasiun untuk menaiki kereta yang telah lama menunggu, siap-siap untuk jalan. Sebelum naik kereta, kami berfoto-foto sebentar sebagai salah satu dokumentasi perjalanan kami, perjalanan yang pastinya akan cukup melelahkan. Perjalanan kereta kami ini dimulai tepat pukul 07.30 WIB.
Santai tapi pasti, tidak terjebak macet, ekonomis, sekaligus sedikit gratis. Ya,, itulah kereta ekonomi yang sangat terjangkau oleh rakyat, khususnya kalangan bawah, termasuk juga kami, para mahasiswa yang keterbatasan dana, namun, mempunyai keinginan kuat untuk melangkah. Kami duduk berada di gerbong bertuliskan K3-787 08, kelas ekonomi dengan 106 penumpang. Begitulah tulisan yang tepat berada di depan saya. Dengan lalu lalang para penjaja makanan, minuman, dan sejenisnya kita merasa nyaman, tanpa merasa terganggu dengan suasana yang ada.
Kami menikmati perjalanan ini dengan penuh canda dan sua.Tempat duduk yang cukup leluasa mulai dari Jogja hingga sampai di Banyuwangi. Kadang, jika sedang bosan duduk, maka kami jalan-jalan di gerbong, dan duduk di antara gerbong maupun di pintu kereta sekedar melihat suasana luar kereta di sepanjang jalan yang dilalui.Pemandangan yang terasa menyejukkan, karena penuh dengan hijaunya padi dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan yang membisingkan.
Stasiun Purbalingga telah kami lalui, jarum jam menunjukkan pukul 17.45 WIB, menandakan hampir berakhirnya matahari memancarkan teriknya, dan bersiap-siap untuk terbenam. Salah satu yang ada di benak kita, kapankah akan sampai di Banyuwangi?.Ternyata jam 21.00 WIB baru akan sampai di Banyuwangi. Jauh juga ya,.
Akhirnya, kita tiba di stasiun Banyuwangi. Kulihat jam di hpku, waktu menunjukkan pukul 22.13 WIB. Sebelum keluar, ada sedikit insiden, dimana rokok kita yang telah habis, dan kebetulan kita menemukan 3 bungkus rokok, dikira itu adalah rokok yang tertinggal atau sengaja ditinggal oleh pemiliknya. Tanpa berpikir panjang, kami pun menyulutnya, eh, ternyata pemiliknya kembali lagi ke tempat semula untuk mengambil rokok tadi, untung saja pemiliknya merelakan, karena terlihat dia tidak begitu membutuhkannya. Kereta ini telat dari jadwal semula, yang di jadwal terpampang pukul 21.00 WIB tiba di satsiun Banyuwangi.
Keluar dari stasiun, kami langsung menuju ke Pelabuhan Ketapang yang hanya berjarak sekitar 15 menit perjalanan dari stasiun Banyuwangi. Kita menuju ke Pelabuhan Ketapang dengan jalan kaki.Tanpa menunggu lama, kapal yang kami naiki langsung menuju ke Bali. Sampai di Pelabuhan Gilimanuk, Bali, waktu menunjukkan pukul 22.30 WITA. Perjalanan kapal yang tidak sampai 1 jam ini kami nikmati dengan baik. Di pelabuhan Gilimanuk, kami istirahat menunggu pagi dengan bercengkerama dengan teman-teman Mapala. Ada 2 orang dari Unisi dan juga 4 orang dari Mahapeka Bandung hingga larut pagi.

Kamis, 28 April 2011
Setelah tidur yang hanya sekitar 2 jam, karena mengobrol kesana-kemari dengan teman Unisi, sekitar jam 05.30 WITA kami bangun untuk meneruskan perjalanan. Keluar dari Pelabuhan Gilimanuk kita jalan kaki menuju ke Terminal Gilimanuk, yang jaraknya tidak jauh dari pelabuhan.
Sampai di terminal, kita ditawari untuk naik angkutan menuju ke Pelabuhan Padang Bai.Namun, sebelum berangkat kita mengisi perut dulu, makan di terminal dengan makanan khas, nasi balap. Kita transit di Kabupaten Karangasem pukul 10.30 WITA, dan baru tiba di Pelabuhan Padang Bai sekitar pukul 12.00 WITA.
Akhirnya, kami istirahat lagi di pelabuhan sambil makan dan ngopi.Karena kecapekan, ada yang tidur, namun ada juga yang jalan-jalan menikmati pemandangan di Pelabuhan Padang Bai yang cukup indah itu. Jam 18.30 WITA, kami bangun dan menuju ke kapal yang akan mengangkut kita. Setelah antri beberapa saat, kamipun masuk ke kapal.Waktu menunjukkan pukul 19.15 WITA, kapal meninggalkan pelabuhan Padang Bai.
Semilir angin di tengah laut menggelayuti tubuh ini yang belum mandi. Di atas dek, kami bermain poker ditemai dengan kopi dan snack, sambil mengobrol dengan orang Lombok asli bernama Ading. Dia banyak bercerita tentang keindahan Pulau Lombok .Dengan Pantai Senggigi yang cukup terkenal, dan bermacam objek wisata lainnya.
Di pantai Kute, setiap tahun selalu ada perayaan yang disebut dengan Nyale.Nyale adalah hewan sejenis cacing di pantai ini, yang hidup hanya sekali dalam setahun, mulai dari matahari terbit hingga matahari terbenam. Sayang, saya tidak tahu persis tanggal perayaan itu terjadi.
Lombok juga terkenal dengan sebutannya sebagai Pulau Seribu Masjid. Mayoritas penduduknya beragama Islam. Disebut demikian, karena sangat banyaknya masjid dan mushalla yang ada di pulau ini.
Akhirnya, kita tiba di Lembar sekitar pukul 23.30 WITA, setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam. Keluar dari pelabuhan, kita menuju ke mushalla di daerah pelabuhan untuk beristirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan esok hari.

Jum’at, 29 April 2011
Tidur di mushalla sangat nyaman, membuat badan kami agak fit kembali. Jam 05.00 WITA kami bangun untuk melakukan sholat berjamaah, dilanjutkan berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan menuju Terminal Mandalika, Mataram. Jam 06.15 WITA kami tiba di Mandalika. Di terminal kami istirahat sebentar untuk menyantap sarapan pagi. Seperti menu biasa, makanan khas nasi balap.Hanya 4 ribu perak. Setelah cukup kenyang, kita melanjutkan naik line (Kata orang sana, di Lombok tidak ada bis, tapi adanya line) menuju ke Aikmal sekitar jam 06.30 WITA. Kemudian kita transit di pasar Masbagik jam 07.40 WITA. Di sana kita membeli kebutuhan sekitar 20 menit (salah satunya adalah persediaan rokok kami 1 pak), dan meneruskan perjalanan lagi . Jam 11.20 kami sampai di desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun yang merupakan jalur pendakian Gunung Rinjani dengan mitosnya Putri Anjani.
Di base camp, kami membayar retribusi terlebih dahulu. Kebetulan, retribusi bulan April ini seharga 10.000 rupiah dari harga biasanya, 2.500 rupiah. Kami diberi 2 tiket, 2.500 untuk retribusi masuk taman nasional, dan ada tambahan sebesar 7.500 untuk pemeliharaan dan kegiatan lain. Selesai membayar retribusi dan mengisi air, kami langsung melakukan perjalanan menaiki gunung. Hingga jam 14.06 WITA, kita istirahat untuk mengisi perut kembali.
Pukul 16.30 kita tiba di pos 1, kami istirahat sejenak, karena perjalanan yang cukup melelahkan.Setelah melepas lelah sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Tiba di pos 2 pukul 06.00 WITA, di sana bertemu dengan teman-teman dari Kapalasastra FIB UGM, yang juga sedang melakukan pendakian Rinjani dalam rangka Ekspedisi Putri. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, mereka lalu melanjutkan perjalanan ke pos 3 yang berjarak sekitar 1 km, dan kami akhirnya memutuskan untuk nge-camp di pos 2 ini. Kamipun mendirikan tenda dan memasak untuk makan malam. Setelah makan malam, kami bercengkerama sebentar sambil minum kopi, dan tidur pukul 22.00 WITA untuk meneruskan perjalanan esok hari.

Sabtu, 30 April 2011
Jam 06.00 WITA kami bangun, lalu memasak untuk mengisi tenaga yang akan kami pakai. Setelah memasak, makan dan berkemas-kemas, maka pukul 8 pagi kami meneruskan perjalanan ke pos 3. Di sana kami bertemu lagi dengan teman-teman dari Kapalasastra. Ada juga penduduk lokal yang akan memancing di segara anak, maupun bule yang akan dan telah mendaki Rinjani. Tiba di pos 3 jam 09.30 WITA, kita istirahat cukup lama, hampir 1 jam karena menunggu teman Kapalasastra yang akan mendaki terlebih dahulu.
Sekitar pukul 12.00 WITA, kita memulai untuk mendaki 7 Bukit Penyesalan. Untuk mendaki trek ini, kita harus memiliki tenaga ekstra, karena setelah puncak akan ada puncak lagi, hingga berjumlah 7 puncak. Pukul 15.00 WITA kami (Go-Blank, Papi, dan Bokir) telah sampai di pos Plawangan. Di sana kami istirahat hampir 1.5 jam, sambil menunggu Gondes dan Jiban yang masih lama berada di belakang jauh. Kemudian setelah mereka sampai, kami melanjutkan perjalanan menuju kamp, yang berjarak sekitar 30 menit.
Tiba di tempat kamp pukul 15.00 WITA, dan langsung mendirikan tenda. Di sana pemandangannya cukup indah, sunset yang kemerah-merahan dan menjulang begitu lebar. Serta puncak gunung agung yag terlihat jelas. Di Plawangan ini, para pendaki disuguhi oleh berbagai bunga yang begitu cantik menawan, setelah lelah melewati bukit penyesalan.Dari sinilah, awal keindahan itu bisa dinikmati. Gunung Rinjani yang begitu mempesona baik bagi para pendaki lokal maupun turis asing yang berminat.
Selama perjalanan, kami berpapasan dengan turis dari Singapur, Barcelona, Prancis, Belanda, maupun Australi. Mereka datang kemari untuk menikmati keindahan Gunung Rinjani yang sangat memukau mata ini.
Di kamp 4 (Plawangan Sembalun) ini, hawa dingin sangat menusuk tulang, dengan ketinggian sekitar 2.800 Mdpl. Puncak Gunung Rinjani sendiri ada di ketinggian 3726 Mdpl. Gunung tertinggi ke2 di Indonesia ini setelah puncak Cartenz. Sore hari beranjak malam, dinginpun kian menusuk tulang. Kamp kami yang tepat mengarah ke tebing yang curam, namun sangat menarik, karena pemandangannya yang terlihat cukup bagus, membuat hati kita tentram, tanpa ada rasa lelah sedikitpun. Subhanallah..,.
Setelah mendirikan tenda, tidak lupa kami memasak untuk makan malam. Setelah makan, kami membuat kopi untyuk penghangat badan,sambil menunggu mata ini terpejam. Have a nice dreams,, good luck to top Rinjani.

Minggu, 1 Mei 2011
Pukul 4 pagi kita bangun untuk melakukan pendakian ke puncak. Setelah menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke puncak, kami berangkat dengan 4 personil yaitu Gondes, Go-blank, Jiban, dan Bokir. Papi tidak ikut ke puncak, karena ia pernah menjajakkan kakinya di puncak ini, sehingga memilih untuk tidur di tenda dengan pulas, sambil menjaga barang yang kami tinggal.
Setelah menaiki tanjakan yang cukup curam, dengan berjalan setapak demi setapak, Bokir dan Go-Blank tiba di puncak pukul 08.30 WITA. Terbayarlah seluruh kelelahan yang kami lakukan selama perjalanan ini. Tak berapa lama Jiban datang menyusul kami, Akhirnya kami bertiga berfoto-foto di puncak ini. Sekitar 1 jam kemudian, kami memutuskan untuk turun, karena kabut cukup pekat. Namun setelah kami turun sekitar 30 menit, Gondes yang berada di bawah kami kira tidak akan naik ke puncak memutuskan untuk naik, sehingga kami menunggu dia naik ke puncak. Sambil menunggu, kami menikmati roti dan agar-agar yang telah kami persiapkan sebelumnya.Ahirnya, setelah ditunggu lebih dari 4 jam, Gondes turun. Memang, gondes adalah tim kami yang sangat lamban dalam melakukan perjalanan, sehingga, setiap perjalanan kami harus menunggu dia dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Karena menunggu Gondes yang cukup lama, akhirnya semua tiba di kamp sore hari, sehingga membuat kami kembali untuk menginap di kamp ini lagi. Sebenarnya, hari ini kami mernjadwalkan untuk turun ke Danau Segara Anak. Di kamp ini ternyata jika siang hari sangat banyak kera liar yang suka mengganggu para pendaki.

Senin, 2 Mei 2011
Jam 06.00 WITA kami beranjak dai selimut untuk bersiap-siap menuju ke Danau Segara Anak. Danau yang berada di bagian atas Gunung Rinjani, dimana di tengah-tengahnya terdapat Gunung Anak Rinjani yang selalu aktif.
Jam 07.30 Bokir dan Papi turun terlebih dahulu menuju danau untuk memancing, sedangkan yang lainnya masih menunggu hingga tenda dan perlengkapan yang kami jemur kering, karena hujan kemarin. Jam 11, mereka telah sampai di Danau Segara Anak, sedangkan Go-Blank, Jiban, dan Gondes mulai perjalanan turun pukul 09.00 WITA.Perjalanan turun kami sangat santai, karena Gondes tidak mau jalan dengan cepat. Hingga pukul 13.00 Go-Blank dan Jiban tiba di Danau terlebih dahulu. Setengah jam kemudian, baru Gondes datang.
Di sini, kami memancing ikan.Tapi, ikan di sini katanya tidak sebanyak dahulu, dan kebanyakan ikannya kecil-kecil. Padahal, di tahun-tahun sebelumnya, ikan besar sangat mudah didapat. Tak berapa lama, kamipun mendirikan tenda dan langsung memasak, karena kami belum sarapan pagi.
Walaupun ikannya sedikit, tapi sore hari Papi berhasil mendapatkan 1 ikan yang cukup besar, disamping puluhan ikan kecil-kecil yang didapat. Ikan-ikan tersebut kami masak, untuk lauk makan malam. Sore hari, setelah memasak kami melakukan kegiatan apa saja, mulai dari memancing, bercengkerama, melihat pemandangan, maupun melakukan permainan rutin kita pokeran, hingga larut malam.

Selasa, 3 mei 2011
Hari ini kami melakukan kegiatan santai santai, menikmati indahnya Danau Segara Anakan. Kegiatan sehari ini kami isi dengan memancing, berfoto-foto, memasak, makan, ataupun mandi di air hangat, yang terletak sekitar 200 meter dari kamp kami. Air hangat ini dipercaya oleh warga sekitar dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Banyak warga yang mempunyai penyakit datang ke sini hanya sekedar untuk berobat. “Asalkan dengan niat yang tulus, Insya Allah penyakit dapat terobati”, kata salah satu penduduk lokal yang kebetulan bersam kami.Air hangat ini terbagi dalam 3 tempat. Jika anda baru pertama kali mendi di air hangat ini, maka harus berendam di air yang paling bawah, untuk penyesuaian. Baru berpindah ke atasnya, dan yang paling atas adalah air yang paling panas.Tepat di sebelah air hangat ini, terdapat air terjun yang begitu menakjubkan.Waw,, sungguh indah.,.,

Rabu, 4 Mei 2011
Pagi hari, sekitar pukul 06.00 WITA kami bangun tidur, berkemas-kemas untuk pulang melalui Jalur Senaru. Setelah masak sebentar, kami sarapan dan berangkat pukul 09.00 WITA.
Perjalanan ini kami lakukan dengan mendaki tebing yang cukup curam, setelah berputar mengelilingi seperempat Danau Segara Anak ini. Tiba di Pos Plawangan Senaru pukul 12.00 WITA, kami istirahat sebentar untuk makan snack yang kami bawa. Dan setelah 1 jam, kami meneruskan perjalanan kembali. Satu jam kemudian, kami tiba di pos Cemara Lima, istirahat sebentar dan meneruskan perjalanan menuju k epos 3. Kami melakukan perjalanan pulang ini dengan cepat, karena kebetulan Gondes bisa diajak kompromi. Dari Cemara Lima, kami melewati hutan yang rimbun, tidak seperti pada saat kami melakukan perjlanan ke puncak.
Pukul 15.00 WITA kami tiba di pos 3, dan juga istirahat sejenak. Di pos ini juga ada bule –bule yang aka melakukan pendakian ke puncak. Dan melanjutkan perjalanan lagi menuju ke pos 2. Di perjalanan ini kami kembali melihat kera-kera yang cukup banyak. Di pos 2, kami bertemu kembali dengan teman-teman dari Kapalasastra, yang berjumlah 7 orang, membuat perjalanan kami cukup ramai.
Matahari pun mulai terbenam, saat kita melajutkan menuju ke pos ekstra. Perjalanan semakin paanas karena khawatir gelap menyelimuti langkah. Jalan pun semakin dipercepat, walaupun juga semakin licin. Akhirnya, kami sampai di pos 1 pukul 17.20 WITA. Kamipun mulai menelusuri jalan setapak yang penuh dengan akar-akar pohon. Kian lama, kaki semakin semangat menuruni jalan, sehingga goresan-goresan terasa biasa bagi kami. Akhirnya, pukul 18.00 WITA kami tiba di pintu masuk pendakian Desa Senaru, Kecamatan Bayan, KLU.
Di sini, langkah kami terhenti sejenak untuk mengatur nafas yang cukup lelah. Juga sejenak menyandarkan tubuh yang mulai diselimuti rasa capek. Perjalanan masih panjang, dari pintu masuk ini, kita harus berjalan lagi lebih dari 1.5 km, menuju ke permukiman warga.Ya, perjalanan masih sangat panjang kawan. 1.5 jam kemudian, kita sampai di pemukiman terdekat. Dengan penuh kegembiraan, walaupun badan masih digerogoti rasa letih, kami langsung menuju basep untuk membaringkan tubuh. Karena perut terasa lapar, akhirnya kami memasak untuk mengisi perut ini.
Dengan logistik sisa yang ada, kami memasak untuk terakhir kalinya, dan melahap hingga kenyang.Ternyata, masakan kami sangat banyak, dan tidak habis, akhirnya kami biarkan saja , kami tarus di misting kami, dan ditinggal tidur. Ternyata, di Senaru ini bamyak anjing. Entah liar ataupun tidak, yang jelas anjing-anjing tersebut sangat mengganggu kami. Mereka saling berebut memakan sisa nasi kami, sehingga lolongannya tidak habis-habis.

Kamis, 5 mei 2011
Pagi menjelang, kami bangun dan berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan pulang. Jam 07.00 WITA, kami naik line, menuju ke Mataram, sedangkan Go-blank dan Jiban jalan-jalan terlebih dahulu ke Pulau Gili Trawangan. Di perjalanan, tidak lupa kami mengisi perut, makan nasi balap khas Lombok. Selesai sarapan, pak sopirpun tancap gas menuju ke Mataram, pusat kota Lombok.

Jum’at, 6 Mei 2011
Jum’at ini, semua tim kembali berkumpul di rumah mas Gagap, senior Mapalaska. Rombongan Bokir CS telah sampai tadi malam, sedangkan Go-Blang bersama dengan Jiban sampai siang hari, sebelum Jum’atan.Kita stay di sini rencana selama 3 hari, di dekat Sanur. Tiba di Bali, Go-Blang CS istirahat, setelah bepergian jalan-jalan, sedangkan Gondes, Papi CS pergi ke Kute.

Sabtu, 7 Mei 2011
Hari ini, anak-anak pada jalan masing-masing. Ada yang pergi ke pantai sanur, istirahat di rumah, maupun jalan-jalan di daerah sekitar, melihat pemandangan kota Bali yang ramai nan macet (soalnya di kota). Namun, malam hari kita kembali pergi bareng-bareng ke puputan (Alun-alun Denpasar). Kita jalan-jalan di sana, bareng juga sama Beti, anak Mapala UMY, dan juga anak Mapala Univ. Muh. Malang. Ngobrol-ngobrol sampai larut malam, tak lupa berfoto-foto di keramaian Kota ini.

Minggu, 8 Mei 2011
Hari ini, kita persiapan untuk pulang dan juga main ke tempat alumni, mas Detri, karena diundang untuk makan malam bersama, sebelum pulang ke Jogja. Malam hari, kita pulang, dengan diantar oleh mas detri sampai ke Terminal Ubung. Di sana, kembali berjumpa dengan Beti, anak mapala UMY, yang memang rumahnya dekat dengan terminal. Dari terminal, kita naik angkutan sekitar pukul 21.30, dan tiba di pelabuhan Gilimanuk pukul 00.00 lebih. Di pelabuhan, kita kembali bertemu dengan 2 anak dari kapalasastra. Kita langsung menyeberang dengan kapal Feri. Di kapal, kita istirahat, di ruangan VIP (AC, vull music, poko’e mantaff) kapasitas 30an orang diisi hanya kami ber5.

Senin, 9 Mei 2011
Tiba di Pelabuhan Ketapang, kita langsung menuju ke terminal Ketapang, kita bermalam disana, sampai pagi hari. Jam 5 pagi kita bangun. Dan pukul 06.30 Kereta kita berangkat menuju ke Yogyakarta.Perjalanan terakhir ini harus kita nikamati dengan sebaik-baiknya.. Slamat tinggal Bali, Banyuwangi, Surabaya,,

Tak terasa kita tlah tiba di Yogyakarta, pukul 22.00 WIB.Di lempuyangan kita istirahat sebentar, sambil kumpul-kumpul. Dan sejam kemudian kita pulang ke rumah masing-masing. Ah,, bener-bener pengalaman yang tak terlupakan.. (smoga suatu ketika ada yang menuliskan kisah, lebih bagus dari bait-bait Rinjani.,.,,)
Bokir, Go-Blank, dkk

Senin, 07 Maret 2011

Bait-Bait Suci Gunung Rinjani

Bait-Bait Suci Gunung Rinjani - Dimulai dari pengalamannya pada saat mendaki Gunung Rinjani, Fajar bersama temannya, Bambang, memulai pendakian melalui jalur Sembalun, dimana pada saat itu pendakian sedang ditutup. Suasana menjadi semakin mengenaskan manakala pendakian itu terasa sepi. Maklum, jika pendakian sedang ditutup, maka setiap orang dilarang untuk mendakinya.
Rinjani
Namun, di pos Plawangan Sembalun mereka bertemu dengan Ria yang tomboi abis, bersama dengan teman-temannya yang kebetulan sedang mendaki lewat jalur Senaru.  Tempat ini memang tempat camp para pendaki, karena merupakan pertemuan pendakian dari jalur Senaru dan Sembalun, sebelum menuju ke puncak tertinggi. Perkenalan itu berlanjut karena mereka nge-camp di tempat yang sama, baik di Plawangan Sembalun, maupun di Danau Segara Anak.

Pertemuan yang mengesankan ini akhirnya menjadi terngiang-ngiang hingga Fajar tiba di rumah. Namun, mereka tidak bisa saling kontak, karena nomor hp yang dicatat di handphone Bambang, ternyata hp nya malah hilang. 

Hingga suatu ketika, Fajar akrab dengan Imel, teman kuliah adiknya yang curhat masalah jodoh, dan Fajar pun akhirnya menjali hubungan dengan Imel. Mereka tiap hari selalu rajin berkomunikasi menggunakan telfon. 

Suatu ketika saat Fajar sedang di pondok, dia mendapatkan kabar setelah menelfon Imel, dan pembantunya mengabarkan bahwa Imel telah tiada. Begitu hancurnya perasaan Fajar, karena kekasih hati yang akan dijadikan seorang istri ini meninggalkan dunia karena kecelakaan yang tak bisa dihindarkan. 

Untuk menghilangkan kegundahan, suatu saat ia jalan-jalan dengan temannya ke air terjun di dekat pondok. Tanpa sengaja, ia bertemu kembali dengan Ria yang sedang melakukan penelusuran gua di dekat air terjun. Singkat cerita, Fajar kembali bertemu dengan Anis, teman Ria pada saat dia menjadi panitia sebuah acara di rumah neneknya. Anis mengajak Fajar untuk kembali mendaki Rinjani, untuk napak tilas almarhumah Ria, yang sudah meninggal. 

Alangkah terkejutnya, sampai di Sembalun, ternyata suatu yang tak terduga terjadi. Perjalanan tersebut bukan untuk napak tilas, melainkan Fajar diminta untuk menikahi Ria, sang gadis tomboy yang pernah memasuki relung hati Fajar saat itu. Ria sekarang ingin berubah menjadi wanita yang baik, dan kembali ke jalan yang benar, sepeninggalan ibunya. Akad nikah ini telah dipersiapkan oleh Anis selama sebulan. Akhirnya, mereka melakukan akad nikah di lereng Rinjani, dan Ria menepati janjinya untuk mengajak Fajar mendaki puncak ini berdua. 

Novel ini sangat mengesankan dan sangat bermnfaat apalagi bagi teman-teman yang suka berpetualang mendaki gunung. Bagi anda yang ingin melakukan pendakian ke Rinjani, novel ini cukup menggambarkan keadaan di sana, sehigga menjadi buku yang sangat direferensikan untuk dibaca sebelum melakukan pendakian. Selain itu, novel ini juga mengajak kita semua untuk memperhtikan nasib daripada anak-anak jalanan, bukan untuk mencaci mereka. 

Namun, menurut saya ada beberapa yang perlu untuk diperbaiki, jika novel ini dicetak ulang. Misalnya saja, pada saat pendakian dari Base  Camp Sembalun menuju ke Plawangan Sembalun, dalam novel ini ceritanya sangat singkat. Padahal, sangat banyak tempat-tempat yang menarik selama perjalanan pendakian dari start hingga Plawangan, sehingga pemahaman mereka yang berkeinginan melakukan pendakian semakin berkurang. Selain itu, ada beberapa kata asing tentang petualangan yang salah penulisannya, walaupun sudah dicetak miring. 

Terakhir, yang menurut saya cukup fatal adalah cerita pendakian Gunung Rinjani yang pertama, dimana ia mendaki pada saat jalur pendakian sedang ditutup. Walaupun tidak terlalu beresiko, namun pendakian ini dianggap ilegal, dan sangat-sangat tidak mendidik bagi para petualang. 

Di luar itu semua, novel ini bagi saya sangatlah berkesan, apalagi saya baru membacanya setelah melakukan perjalanan pendakian Rinjani ini, sehingga saya cukup memahami alur pendakian, antara yang diceritakan di dalam novel dengan yang sebenarnya. Semoga teman-teman membaca novel dari seorang santri yang juga aktif mengurusi anak jalanan ini. Poko’e, 2 jempol buat Mas Khaerul Shidiq, dan semoga novel-novel berikutnya segera diterbitkan agar bisa menyaingi novel Habiburrahman, amin…