Tampilkan postingan dengan label Jateng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jateng. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Juni 2021

Pendakian Gunung Merbabu via Selo di Masa Pandemi

Siapa sih yang gak kangen ama Gunung Merbabu? Di wilayah Jawa Tengah Merbabu menjadi  salah satu gunung incaran para pendaki yang hobi menikmati alam di atas ketinggian. Tentunya, ada beberapa kelebihan yang membuat gunung ini menjadi dambaan para pendaki seperti adanya stok air melimpah di pos 2 Merbabu via Wekas, indahnya panorama landscape geger sapi di Merbabu via Suwanting, atau hamparan Padang Sabana yang menjadi tujuan para pendaki ketika kita naik lewat jalur Selo. Yang terakhir ini menjadi jalur terfavorit dan selalu membludak di tiap weekend sebelum akhirnya tutup di tahun 2019 lalu.

Meski sempat buka selama sebulan di awal pandemi, pengelola memutuskan untuk menutup kembali jalur Selo cukup lama. Beberapa kali terdengan isu bahwa jalur ini akan buka meski sampai sekarang belum ada kejelasan. Meski jalur Selo sementara waktu masih tutup, pertengahan Juni ini beberapa jalur lain sudah mulai dibuka dengan protokol kesehatan yang ketat setelah adanya kajian mendalam oleh pengelola Taman Nasional Gunung Merbabu. Kabar ini tentu menjadi angin segar bagi para pendaki setelah menunggu sekian lama untuk merasakan keindahan alamnya yang cukup mempesona. Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan dan diketahui, agar pendakian kalian berjalan lancar.

Daftar online

Untuk melakukan pendakian Merbabu, kalian harus mendaftarkan diri secara online di lamannya Taman Nasional Gunung Merbabu. Setelah itu, kalian bisa pilih menu booking online dan pilih jalur pendakian Selo, di situ terdapat informasi pendakian yang dibutuhkan. Jangan lupa cek kuota terlebih dahulu untuk memastikan ketersediaan kuota pendakian sesuai hari dan jumlah rombongan. Selanjutnya kalian bisa mendaftar dengan menyetujui segala persyaratan yang ada, lalu mengsi formulir pendaftaran secara lengkap. Terakhir, kalian akan mendapatkan bukti booking yang akan dikirimkan melalui email yang didaftarkan. Jangan lupa simpan bukti tersebut karena akan digunakan pada saat registrasi ulang sebelum pendakian.

Menurut informasi dari pengelola taman nasional, para pendaki tidak diperkenankan melakukan solo hiking, namun harus secara beregu dengan minimal 3 orang di setiap rombongan. Ini bertujuan agar ketua rombongan benar-benar menjaga timnya agar dan tidak bergantung pada rombongan lain ketika terjadi kecelakaan di salah satu anggotanya. Berkaca dari pengalaman di beberapa gunung berbeda terkait adanya laporan kecelakaan yang hanya menitip kepada rombongan lain, pengelola taman nasional ini ingin agar setiap rombongan pendaki sudah siap dan dapat memanejemen timnya secara mandiri. Pada masa pandemi ini, ini kuota pendakian masih dibatasi sekitar 30 persendari total kuota yang ada. Sama halnya dengan beberapa gunung lainnya, pembatasan kuota ini bertujuan untuk meminimalisir penyebaran virus corona meskipun sebagian besar orang sudah mulai melakukan vaksin.

Setelah melakukan pendaftaran secara online, pendaki wajib melakukan registrasi ulang begitu tiba di beskem pendakian. Tunjukan Bukti Booking ke petugas jalur pendakian untuk dilakukan Scan QR Code dan validasi data. Registrasi ulang cukup dilakukan oleh ketua rombongan, lalu melakukan pembayaran di loket bagian atas. Ketua rombongan akan diberikan gelang RFID yang berfungsi untuk memonitor pergerakan pendaki. Ketika rombongan sudah tiba di Sabana 1 misalnya, maka gelang RFID akan menyala sehingga pergerakan ini dapat terdeteksi oleh petugas. Gelang ini juga berguna bagi petugas untuk memonitor secara cepat ketika terjadi suatu kecelakaan selama pendakian. Namun begitu turun pendaki harus mengembalikan gelang tersebut agar tidak terkena denda.

Ketua rombongan diminta untuk mengisi checklist peralatan semua anggota dan dicek satu per satu oleh petugas sebelum kalian melakukan pendakian. Untuk itu, catat sedetail mungkin peralatan yang kalian bawa dan jangan membawa peralatan yang dilarang seperti speaker, tsu basah, dan lainnya. Jangan lupa bawa turun sampahmu, jangan ditinggal di atas agar Merbabu tetap asri.

Saat ini para pendaki hanya diperkenankan untuk melakukan pendakian maksimal 2 hari 1 malam di camp yang telah disediakan dan kalian juga tidak diperkenankan untuk melakukan pendakian lintas jalur. Untuk itu kalian harus naik dan turun melalui jalur yang sama. Bagi yang ingin mendaki Merbabu ini kalian diwajibkan menyerahkan bukti rapid antigen / genose terlebih dahulu (meski aturan ini masih banyak menuai pro-kontra di antara para pendaki). Seperti aturan dalam perjalanan, masa berlaku rapid hanya 1x24 jam. Untuk itu, persiapkan dengan baik pendakian kalian agar segala urusan berjalan denga lancar.


Adanya HM (Hektometer) Penanda Jalur Pendakian

Pal HM merupakan sebuah penanda bagi pendaki agar tidak tersesat. Tugu atau pal ini ditanam di sepanjang jalur pendakian dengan jarak antar tugu sejauh 100 meter, dimulai dari titik start/ resort yang betuliskan HM-00 hingga puncak. Dengan adanya pal HM maka kalian tidak perlu khawatir akan tersesat, tidak perlu bingung sudah sejauh mana jalur yang sudah dilalui atau masih berapa jauh lagi pos selanjutnya. Cukup mengingat penanda pal HM di setiap pos, maka kalian sudah bisa memperkirakan dengan gampang berapa jauh lagi kalian harus berjalan menuju tujuan berikutnya. Pal HM ini juga diberi scotlight agar menyala di malam hari ketika terkena sorot. Dengan cat warna oren menyala, tugu ini dapat terlihat ketika terkena sinar di malam hari. Jika kalian masih menemukan pal tersebut, berarti kalian sudah berjalan sesuai trek yang ada.

Total ada sekitar 53 pal di jalur Selo ini. Itu menunjukkan bahwa jarak tempuh pendakian dari titik start menuju puncak sekitar 5600 meter. Namun, menurut pengelola sendiri pengukuran jarak antar tugu menggunakan strava, sehingga mempunyai plus minus tersendiri apabila dibandingan dengan pengukuran secara manual menggunakan rol ataupun pengukuran menggunakan GPS hand.


Terdapat Perubahan Rute Pendakian

Di beberapa jalur terdapat perubahan rute pendakian karena terkikisnya jalur pendakian. Kebakaran yang melanda di tahun 2019 lalu membuat jalur menjadi gersang dan ketika hujan, air langsung mengucur turun melalui jalur karena minimnya resapan. Yang paling terlihat adalah rute dari pos 2 menuju pos 3 yang sebelumnya melewati jalur tengah lalu menanjak terjal saat akan menjangkau pos 3, kini dibuat rute baru di sebelah kiri. Di jalur baru ini, kita akan melewati lereng bukit namun lebih landai bila dibandingkan dengan jalur sebelumnya. Melalui jalur baru ini kita bisa melihat jalur lama yang legok akibat kebakaran, serta luasnya sabana di jalur lama yang cukup indah.


Pemasangan CCTV di Sabana 1

Sabana 1 merupakan camp favorit bagi para pendaki dengan lokasi yang cUkup nyaman, luas, serta keindahan panorama pemandangan di sekitarnya. Di sini kita dapat melihat puncak Merbabu di pagi hari termasuk indahnya Puncak Merapi dari arah sebaliknya. Terdapat alat deteksi RFID serta kamera CCTV yang berada di atas menara kecil di tengah-tengah lokasi tenda. Dengan kamera CCTV ini, patugas dapat memantau dengan mudah pergerakan pendaki termasuk mendeteksi ketika terjadi kebakaran di sekitar area camp. Jalur menuju puncak tidak begitu banyak perubahan dari sebelumnya, dengan keindahan panorama yang masih tetap terjaga. Selesai melakukan pendakian, petugas akan mengecek rombongan serta cek barang bawaan kalian untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal maupun sebaliknya. Jangan lupa bawa turun sampahmu.

Bagi kalian yang sudah kangen dengan jalur ini, segera persiapkan persyaratan begitu buka, angkat carriermu menuju hijaunya sabana, dan marilah mendaki dengan bijak…

Kamis, 19 Desember 2019

Menikmati Suasana Pendakian Gunung Lawu Via Candi Cetho

Bagiku, Gunung Lawu bukanlah suatu gunung yang asing karena masih berada di zona yang gak terlalu jauh untuk dijamah. Berada di wilayah Jawa Tengah tentu membuat biaya menjadi cukup terjangkau dengan kantong kita (gue kale) yang pas-pasan. Yah… begitulah, kira-kira saat ini, tapi sangat berbeda kondisinya ketika saya masih SMA dulu. Lawu adalah gunung yang pertama kali saya daki saat kelas 3 SMA. Mempunyai lingkungan teman anak-anak sispala membuatku sering diajak ketika mereka mendaki gunung, termasuk berbagai kegiatan outdoor lainnya… walaupun saya tak tergabung di dalamnya.

Begitu ceritanya mengapa saya bisa mendaki gunung yang lumayan tinggi ini. Sebagai seorang yang cukup antusias di kegiatan outdoor, saya cukup bersemangat ketika temen-temen sispala mengajakku naik Lawu sepulang sekolah. Waktu itu kami berangkat dari sekolahan di Sabtu siang. Sepulang sekolah kami langsung cabut cari bis ke arah Solo. Asal kalian tahu aja, kami berangkat dengan seragam SMA untuk menghemat ongkos transport. Dengan seragam sekolah, kita akan membayar biaya bis setengah dari harga umum tanpa ditanyakan identitas macam-macam sama kondektur. Kalau kalian ingin ngirit, coba deh, ikutin cara saya waktu SMA dulu…

Pendakian tektok pertama kali tentu gak pernah saya lupakan, merasakan kenangan alangkah dinginnya suasana malam di Gunung ini. Apalagi, waktu itu kami tidur di pinggir jalan setapak dengan tutup selimut yang dipakai bersamaan. Maklum, anak-anak sudah terlalu kecapekan dan tidak ada satupun yang merelakan tenaganya buat mendirikan tenda. Sungguh sia-sia kami bawa tenda sampai ke puncak tanpa kepake sama sekali. Tetapi yang masih menjadi kenangan adalah poto kami di puncak dengan seragam SMA yang tidak akan pernah saya dapatkan lagi, dan itu merupakan satu-satunya kenangan berfoto di puncak dengan seragam sekolah. Jarang-jarang anak SMA muncak gunung pake seragam, gak ada gurunya juga di sana… Yah, minimal itu sebuah wujud anak muda jaman dulu buat mengekspresikan suatu kegembiraan dan berita bahagia, bukan begitu?

Sampai sekarang, sudah sekitar 4 kali saya menjamah gunung Lawu ini walau sebatas mengenal jalur Cemoro Sewu, jalur yang paling umum dan paling dikenal bagi para pendaki. Layaknya Slamet via Bambangan, Sindoro-Sumbing via Garung, Merbabu via Wekas, Merapi via Selo, atau Ungaran via Mawar. Pernah juga sesekali lewat jalur Cemoro Kandang, karena ingin menikmati sate kelinci sehabis pendakian. Ceritanya, sekitar lima tahun yang lalu saya bersama teman-teman main ke Candi Cetho, sehabis menikmati suasana kebun teh. Disitu saya melihat beberapa pendaki yang mau muncak via Cetho ini. Tentu suatu saat saya ingin mencoba jalur ini kalau sudah resmi dibuka. Pada saat itu jalur Cetho ini belum dibuka secara resmi, walaupun sudah banyak yang mendaki.
.
Pendakian Lawu via Candi Cetho, by Theslackerhiker

Gasss… Lawu Via Candi Cetho
Jika sebelumnya selalu mendaki secara tektok di malam hari, untuk kali ini saya ingin mendaki secara santai. Niat kami dari awal memang untuk menikmati suasana padang sabana dan nge-camp di sana. Makanya, kami melakukan perjalanan ini selama tiga hari, dan hanya melakukan perjalanan di siang hari saja. Dulu saya selalu tektok di setiap pendakian, namun beberapa tahun belakangan ini jarang sekali saya tektok, bahkan bisa dikatakan hampir tidak pernah. Habitku sekarang, mendaki buat menikmati suasana, bukan sekedar mencapai puncak seperti ketika SMA dulu. adoh adohhh…

Jalur Candi Cetho merupakan jalur favorit bagi pendaki yang ingin menikmati sabana-nya Lawu, karena tidak akan ditemui di jalur resmi lainnya seperti Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang. Lokasi beskemnya terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Saat menuju ke sini, kita akan disuguhi panorama pemandangan kebun teh di sepanjang perjalanan. Tentu begitu istimewa… bahkan jika berminat, kalian bisa mengunjungi wisata kebun teh di sepanjang perjalanan menuju beskem baik sepulang ataupun sebelum naik. Perlu kalian ketahui, Jalur Lawu via Ceto lumayan panjang lur, karena lokasi beskem berada di ketinggian sekitar 1.500 mdpl. Kalian hitung sendiri, berapa elevasinya untuk menuju ke puncak Lawu di 3.265 mdpl (cari kalkulator…)

Begitu sampai di beskem, kami istirahat sebentar sambil mempersiapkan kembali semua logistik untuk pendakian. Pak Tarjo menerima para pendaki dengan baik dan ramah, termasuk juga kepada kami ketika sampai lokasi. Bahkan beliau rela membawakan carrier menuju rumahnya saat kami kesulitan untuk mencari tempat parkir. (baik banget yaaa..) waktu itu memang sedang banyak pendaki yang datang dan berkumpul di seputaran tempat parkir. Penyambutan tuan rumah membuat kami nyaman berada di beskem ‘Barokah' ini. Pendakian Lawu kali ini lumayan ramai, karena mayoritas gunung sedang tutup. Bahkan hampir semua gunung tinggi di Jawa Tengah dalam kondisi ditutup, dan cuma Lawu satu-satunya yang resmi dibuka. Maklum, mungkin itu puncaknya musim kemarau, makanya pada kebakaran dimana-mana. Tak lama kemudian kami berangkat menuju ke pos retribusi yang berada di sebelah barat Candi Cetho. Untuk menuju ke pos pendaftaran, kita harus mlipir sedikit lewat samping lokasi Candi Cetho. Sambil berjalan, saya menoleh ke turis yang masuk ke kawasan candi dengan kain jarik yang disarungkan. Nuansanya mirip seperti wisatawan Candi Prambanan atau Borobudur. Ternyata tiket masuk ke Candi Cetho ini masih murah, hampir sama seperti saat aku ke sini lima tahun lalu. Berbeda jauh dengan harga tiket Candi Prambanan atau Borobudur sekarang ini.

Saat registrasi, kami meninggalkan identitas yang akan diambil lagi pada saat turun nanti. Tak lupa, petugas pos jaga menginfokan dengan jelas tentang peraturan pendakian ini baik dari segi jalur, estimasi waktu, maupun larangan-larangan yang tidak boleh kami lakukan selama pendakian. Cuss, langung saja kami memulai perjalanan setelah semua urusan beres. Tak lupa kami berdoa seperti biasa, agar diberi kelancaran selama pendakian hingga kembali ke rumah. Beberapa pendaki terlihat masih istirahat di shelter sebelah pos ketika kami berjalan memutari candi. Jalur awal pendakian memang tidak melalui kawasan candi, dan hanya memutar di sebelah kirinya. Namun, di depan nanti kita akan dapat melihat dengan jelas Candi Kethek yang berada di samping kanan jalur pendakian.

Menuju ke pos 1 (Mbah Branti) 1.705 mdpl
Di awal perjalanan ini kami melewati tiga gapura kecil dari bambu yang cukup mirip dari segi model dan ukuran. Di atasnya tertulis, ‘Pendakian Lawu via Candi Cetho’ terpampang jelas. Setelah itu kami harus melewati lereng jalan memutari sungai, mengikuti jalan yang sudah di-cor seperti anak tangga walaupun hanya beberapa ratus meter saja. Di depan ada sedikit jalur yang dirubah akibat longsor, sehingga kami harus berpindah menuju jalan berbatu.  Sekitar 15 menit perjalanan, kita sampai di area Candi Ketek dengan struktur batu yang terlihat sangat kuno melebihi usia Candi Cetho di depan sana. Beberapa lahan milik warga terlihat sepi karena sudah tidak terdapat tanaman yang harus diurus. Dilihat dari bekas tanamannya, sepertinya mereka baru panen dan membiarkannya begitu saja sambil menunggu musim tanam. Lahan tanaman di jalur ini tidak terlalu luas dan kami hanya melewati sebentar saja. Selebihnya berupa semak belukar yang harus kami lalui dengan hati-hati. Pipa-pipa air terlihat menyembul di beberapa lokasi di pinggiran jalur pendakian. Pipa ini berfungsi untuk menyalukan air dari atas, sebagai sebagai sumber air bagi penduduk setempat. 

Oh ya, setelah melewati kebun kami istirahat sebentar di kolam yang lumayan lebar. Kolam mini sekitar 10 meter persegi ini baru dibangun dan terlihat belum selesai, dengan material batu yang tersusun rapi di atas dan di bawah kolam. Penyaringannya pun cukup lancar, sehingga air terlihat selalu jernih. Beberapa kepala singa mengeluarkan air melalui mulutnya mengairi kolam ini. Suasana ini sungguh membuat keadaan menjadi segar. Kata seorang teman, kolam tempat kami istirahat ini dibuat oleh pemeritah untuk para peziarah yang ingin mandi, agar mereka segar kembali baik sebelum maupun sesudah ziarah ke atas. Masuk akal juga sih, karena di beberapa sudut kolam terdapat sesajen yang sudah mulai kering. Mungkin ada peziarah yang menaruhnya sekitar 2 atau 3 hari yang lalu, berdoa agar hajat mereka terkabul. Para pendaki yang mulai turun juga cukup banyak. Beberapa dari mereka kemudian beristirahat dan membersihan tubuh  dari debu-debu jalanan yang cukup tebal. Jalur Cetho ini memang sering digunakan oleh peziarah menuju ke puncak untuk berdoa di Hargodumilah. Bahkan di setiap pos terdapat kotak besi berwarna hitam yang digunakan untuk menaruh sesajen. Untuk menuju ke pos satu ini, kita membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam perjalan dari titik start. Di pos 1 terdapat bangunan kayu yang ditutupi terpal. Areanya tidak terlalu luas sih, tapi bisa untuk menampung sekitar 5 tenda di sini.

Menuju ke pos 2 (Brakseng) 1.915 mdpl
Perjalanan menuju ke pos 2 ini keadaannya masih mirip dengan sebelumnya, dengan tanah berdebu diselimuti vegetasi yang lumayan rapat. Jalurnya juga cukup landai, membuat perjalanan kami tidak begitu ngos-ngosan. Tidak begitu banyak perbedaan vegetasi di sini dengan jarak tempuh sekitar satu jam, kita akan sampai di pos 2. Namun di pos 2 lokasinya lebih luas dan dapat menampung hingga 20 tenda. Jika kalian lelah, disini terdapat shelter yang cukup nyaman dan luas dibanding pos 1 tadi.

Bagi kalian yang belum pernah melewati jalur ini, pos 2 paling gampang untuk diingat, karena terdapat pohon besar dengan penutup kain yang melilitnya. Suasana di pos 2 memang terkesan mistis, namun di siang hari cukup sejuk, dan semilir angin begitu terasa saat kita beristirahat di bawah pohon besar ini. Walaupun terik matahari menyengat, suasana di sini tidak begitu panas, karena sinarnya tertutup oleh ranting-ranting pohon yang rimbun. Malah terlihat indah ketika sorotnya menyembul di sela-sela dedaunan yang lebat.

Menuju Pos 3 (Cemoro Dowo) 2.230 mdpl
Setelah istirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Perjalanan kali ini mulai terasa menanjak dengan jarak tempuh yang lumayan lama, sekitar 90 menit perjalanan untuk sampai di pos berikutnya. Dengan medan tanah yang masih berdebu, kontur tanaman lebih rapat daripada sebelumnya yang didominasi oleh pohon lamtoro di sepanjang perjalanan. Untuk menuju ke pos 3 ini, fisik dan pernafasan harus mulai diatur dengan baik.

Sekitar 10 menit sebelum pos 3 terdapat mata air yang bisa digunakan untuk mengambil air bagi para pendaki. Begitu mendengar kata ‘mata air’ membuat jiwaku bersemangat, karena itu berarti saya bisa memperoleh stok air di atas gunung. Ketika dapat info di pendaftaran mengenai mata air ini, saya membayangkan jika lokasinya terletak agak menyimpang dari jalur dan harus turun, bahkan mungkin sedikit terjal untuk mencapainya. Ternyata dugaanku salah, karena begitu tiba di lokasi saya bisa mendapatkan air dengan mudah di jalur pendakian. Air ini berasal dari kucuran pipa yang sengaja dilubangi, agar para pendaki bisa mengambil dan memanfaatkannya untuk keperluan minum. Kalau ini sih sangat mudah buat mengambilnya, tinggal membuka penutupnya, air sudah bisa mengalir. Modelnya mirip seperti di pos 2 Merbabu via Wekas.

Sebenarnya untuk menuju ke pos 3 hanya butuh berjalan sekitar 10 menit, tetapi kami memutuskan untuk mendirikan tenda disini. Selain karena dekat dengan lokasi air, kami dapat info dari pendaki yang baru turun jika pos sudah penuh dan agak susah jika kami harus nge-camp di sana. Walaupun hari masih terlihat terang, saya langsung mengeluarkan tenda dan memasangnya karena sudah terlalu nyaman berada di sini. Malam ini hanya tenda kami saja yang berdiri kokoh di sini. Sebenarnya lokasinya cukup luas dan bisa menampung lebih dari 10 tenda dengan model bertingkat, tetapi debu di sini cukup tebal, sehingga para pendaki lebih memilih pos 3 sebagai tempat menginap walaupun harus naik-turun ke sini buat ambil air. Memang sih, di pos mata air ataupun pos 3 adalah lokasi yang paling ideal buat istirahat jika kalian akan melakukan pendakian santai selama 3 hari.

Pagi hari (yang agak siang), kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju camp selanjutnya. Benar saja, tidak sampai 10 menit kami sudah tiba di pos 3. Di sini terdapat shelter dari seng untuk istirahat dan beberapa tenda terlihat masih berdiri ditinggal penghuninya yang sedang perjalanan summit ke puncak sejak jam 3 tadi. Sebagian orang masih bersantai, terlihat bercengkerama sambil mengaduk kopi menunggu kawannya yang sedang muncak. Mereka memang tidak berencana ke puncak, cukup menikmati suasana di lokasi camp. Camps site nya juga bertingkat seperti di pos mata air tadi, tetapi tidak terlalu berdebu. Kami hanya sebentar berada di sini, karena tenaga masih full, lanjut ke pos berikutnya.

Menuju ke Pos 4 (Penggik/Ondorante) 2.563 mdpl
Perjalanan selanjutnya katanya perjalanan yang paling susah, karena medannya sangat terjal. Benar juga, saya merasakan jalur yang cukup terjal sepanjang trek yang dilewati. ‘Pelan-pelan saja lur, yang penting napasnya teratur, daripada jalan cepat tetapi nanti terlalu banyak istirahat’. Begitu kata temenku. Saya sendiri masih seperti biasa dan belum terasa lelah karena baru beberapa menit memulai perjalanan.

Di awal perjalanan, vegetasi yang terlihat masih sama dengan sebelumnya, didominasi oleh pohon lamtoro atau kaliandra yang cukup rapat di sekeliling kita. Sesekali vegetasi agak terbuka walau kami tidak dapat melihat sekeliling dengan jelas. Maklum, kabut mulai menyelimuti perjalanan kita kali ini. Jalurnya juga masih sempit dan berdebu. Namun saat akan tiba di pos 4 vegetasi mulai berganti dengan pohon cemoro yang cukup banyak. Dan hampir 2 jam perjalanan, kita sampai di pos 4, terlihat dengan adanya shelter kecil dari seng seperti pos-pos sebelumnya. Camp site di sini tidak terlalu luas, hanya bisa menampung sekitar 3 atau 4 tenda saja. Makanya, jarang yang mendirikan tenda di pos 4 ini.

Menuju ke Pos 5 (Bulak Peperangan) 2.860 mdpl
Setelah istirahat setengah jam lebih, kami melanjutkan perjalanan menuju ke pos 5. Di awal perjalanan masih saja terlihat pohon cemoro, namun setelah beberapa saat kita akan menjumpai pohon edelweis yang lumayan banyak di kanan kiri jalur. Melihat bunga ini, membuat saya semangat, merasakan benar-benar perjalanan di gunung. Jalur ini relatif lebih mudah daripada sebelumnya, walaupun waktu tempuh sedikit lebih lama. Memang sih, karena setelah melewati edelweis, terdapat beberapa bonus, jalur sedikit landai. Tetapi setelah itu kembali menanjak walaupun jalurnya berbentuk zig-zag. Saya sendiri merasakan jika jalur ini lebih susah daripada jalur sebelumnya. Ada sejumlah pohon yang roboh di beberapa tempat yang kita lalui, sehingga kalian harus berhati-hati  untuk melompatinya.

Di pertengahan jalan, terdapat dua buah pohon besar di sebelah kanan kita. Jika naik ke kanan melewati pohon tersebut, kita akan melewati jalur lama untuk turun ke bawah, tetapi kami belok ke kiri, karena tujuannya mau ke puncak. Setelah melalui jalur yang zig-zag, kita akan menemui jalur yang landai, bahkan semakin landai menjelang tiba di pos 5. Menuju ke pos 5 ini akan semakin terasa nuansa padang sabananya. Terlihat beberapa sabana kecil di sepanjang jalur. Senang rasanya saat saya melewati beberapa jalur landai ini, karena tidak memerlukan tenaga lebih buat berjalan. Cukup gunakan tenaga buat menikmati suasana alamnya. Tak terasa, perjalanan sudah hampir satu setengah jam. Di sini kita akan menemui pos 5 yang sangat datar. Bahkan, buat mendirikan ratusan tenda di sini sepertinya muat. Jika kalian lewat jalur lain, yaitu jalur Jogorogo, maka akan bertemu dengan jalur Cetho di titik ini. Berbeda dengan pos-pos sebelumnya, di pos ini tidak terdapat shelter untuk berteduh pendaki ketika hujan tiba. 

Menuju camp Gupak Menjangan 2.944 mdpl
Kami berfoto sebentar begitu melihat pemandangan sabana yang bagus ini. Jika lewat jalur ini, kalian tidak akan menemukan pemandangan yang menarik sebelumnya. Tetapi pemandangan-pemandangan indah akan kalian jumpai begitu menuju pos 5 hingga puncak. Berbeda dengan jalur di bawah tadi, perjalanan kali ini tidak begitu banyak debu yang harus kami lalui. Senang sekali rasanya, bisa melewati trek dengan pemandangan yang sangat indah ini. Jalurnyapun cukup landai, sehingga kami dapat dengan santai berjalan tanpa ngos-ngosan. Terlihat bukit yang menjulang tinggi dengan batu-batu besar yang menempel di sebelah kanan dan kiri jalur ketika perjalanan awal dari pos 5 ini. Pohon pinus tumbuh begitu kokohnya menutupi bukit tersebut, walaupun terlihat agak gersang di musim kemarau ini.
adheb's poto
perjalanan dari Pos 5 menuju Gupak Menjangan
Selanjutnya akan mulai terlihat padang sabana yang terhampar begitu luas di depan kami. Tanah datar yang sangat luas ini sebenarnya cukup sayang untuk dilewatkan begitu saja, namun terik matahari yang begitu panas membuat kami tidak bisa berlama-lama, takut kulit menjadi gosong. Beberapa pendaki terlihat bersantai dan mendirikan tenda. Mungkin mereka ingin menikmati pemandangan sabana di malam hari sehingga memutuskan untuk mendirikan tenda di situ. Perjalanan menuju Gupakan Menjangan tidak terlalu lama, hanya 30 menit perjalanan kami sudah tiba. Keadaan alam di sekeliling kami yang membuat mata terpesona, menjadikan perjalanan pendek ini terasa begitu cepat. Ah, ternyata lokasi di Gupak menjangan lebih syahdu lagi, didominasi oleh pohon pinus yang cukup rimbun, membuat lokasi begitu favorit untuk dijadikan camp bagi para pendaki.

Gupak Menjangan
Terik matahari masih panas dan cahaya masih terlihat terang di atas sana ketika kami tiba di Gupakan Menjangan. Walauapun begitu, kami tidak ingin melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya. Cukup sampai di sini saja perjalanan hari ini, karena kami ingin rebahan dahulu sambil menikmati indahnya sabana yang terbentang luas di depan kami. Sabana ini terbelah oleh jalur pendakian yang berada di tengah-tengahnya. Saya langsung meletakkan carrier di bawah pohon pinus, lalu berjalan ke arah sabana untuk menikmati suasana. Di sebelah kiri terdapat bukit yang ditumbuhi oleh pohon pinus, sementara di sebelah kanan masih saja terlihat padang sabana yang cukup luas.  Beberapa pendaki terlihat sedang berjalan melewati jalur, membelah sabana hingga ujungnya, lalu berbelok sedikit ke kiri memutari bukit hingga samar-samar mereka menghilang.

Saya masih saja duduk di semak-semak yang terlindungi oleh awan, mengobrol dengan kawan sependakian, sementara beberapa teman yang lain sedang hunting foto di tengah sabana. Ketika hujan tiba, sabana yang berupa cekungan di depan saya duduk ini akan menjadi danau kecil dengan diameter sekitar 100-an meter persegi. Namun hanya beberapa jam setelah hujan reda, air kembali surut masuk ke dalam tanah. Pendaki yang beruntung dapat mengabadikannya seperti Ranu Kumbolo di Semeru versi mini. Katanya sih tempat ini dulu buat minum binatang yang ada di sekitaran sini dikala tergenang air. Salah satunya adalah menjangan, makanya lokasinya disebut gupak menjangan. Cukup lama kami bersantai bersama beberapa pendaki semenjak tadi, tanpa terasa cuaca hampir gelap. Saya bergegas untuk mendirikan tenda yang terletak di ujung, agar tidak terlalu berisik dan mengganggu pendaki lain, karena kami bawa genset yang selalu menggelegar tiap malam (hehehe). Sudah ada sekitar 10 tenda yang berdiri di sekitaran kami saat ini, dan tentunya akan semakin bertambah banyak sampai malam nanti. Hawa di luar tenda cukup dingin, saatnya saya masuk dan bergantian dengan teman yang siap-siap untuk memasak. Bagi kalian yang mendaki Lawu ini, jangan lupa bawa jaket karena cuaca di sini sangat dingin.

Menuju Hargo Dalem 3.152 mdpl
Awalnya sih saya sama sekali tidak ada niatan buat summit ke puncak, karena sudah pernah ke sana beberapa kali meskipun lewat jalur yang berbeda. Namun pagi ini keinginan saya berubah, karena sudah cukup lama saya tidak merasakan puncak Lawu ini. Sekitar jam 8 pagi akhirnya kami semua berangkat dari tenda memulai perjalanan summit. Dalam perjalanan kali ini, karena kami hanya membawa beberapa keperluan summit saja, sementara yang lain kami tinggal di tenda. Setelah melewati padang sabana, kami sedikit memutari bukit ke sebelah kiri. Pohon cantigi mulai terlihat menggantikan sabana yang luas tadi. Tak begitu lama kita akan menemukan Pasar Dieng atau Pasar Setan, begitu melihat pecahan-pecahan bebatuan di sepanjang jalur. Di sini terdapat bekas bangunan kuno yang sudah runtuh dan tangga batu yang tertata rapi di tengah-tengah.

Kami tidak mengikuti tangga batu tersebut, tetapi memilih untuk berbelok melewati jalan sebelah kiri. Jalan sebelah kiri ini relatif lebih cepat dan sepi, namun jalurnya cukup sempit. Ketika berpapasan dengan pendaki lain kami harus bergantian, membuat perjalanan cukup lama. Hari itu cukup ramai pendaki yang melewati jalur ini, karena pas hari Minggu. Tak beberapa lama, rumah seng mulai terlihat berjajar di depan sana. Bagi para pendaki, tempat ini tidaklah asing, yang terkenal dengan sego pecelnya. Banyak yang bilang, jika warung Mbok Yem merupakan warung tertinggi di Indonesia karena lokasinya yang berada di atas gunung. Namun begitu, sebenarnya ada beberapa warung di sekitarnya yang juga melayani para pendaki di saat ramai. Bedanya, warung Mbok Yem akan selalu buka setiap saat, dan bilau hanya turun pada saat lebaran.
Cari minuman hangat dulu sebelum muncak, biar badan seger dan bugar...

Menuju Puncak Hargo Dumilah 3.265 mdpl
Menuju ke puncak tertinggi Lawu membutuhkan waktu sekitar setengah jam dari warung Mbok Yem ini. Kami memilih untuk lewat jalur yang sepi agar tidak terlalu banyak menghirup debu. Waktu sudah agak siang, tetapi masih banyak pendaki yang ingin menuju ke puncak membuat jalan utama cukup berdebu. Kami melewati jalur di samping rumah Mbok Yem dan melewati jalur sepi. Jalur ini lebih cepat daripada jalur utama, dan sepanjang perjalanan kita dapat melihat Puncak Pemancar atau disebut dengan Hargo Puruso.  Bendera merah putih terlihat berkibar-kibar terkena angin menjulai di atas pemancar itu. Lokasi itu lebih terkenal dengan sebutan Puncak Pemancar, karena di sana terdapat pemancar milik stasiun TVRI dengan tinggi lebih dari 10 meter.
adheb's poto
Puncak Hargo Dumilah
Sebelum sampai puncak, jalur yang kami lalui akan kembali bertemu dengan jalur utama, membuat perjalanan kembali berdebu. Tetapi buff sudah saya persiapkan, tinggal menarik ke atas buat menutupi hidung. Lima menit kemudian kami sampai di Puncak Hargo Dumilah bersama beberapa pendaki yang sudah ada di sana. Puncak ini masih sama seperti dahulu,  dan tidak tampak adanya perubahan seperti yang saya lihat terakhir kali. Di sini kami istirahat sebentar, melihat lalu-lalang para pendaki yang saling bergantian berfoto. Mengabadikan moment terpentingnya Saya sendiri asik dengan beberapa burung jalak yang beterbangan di samping tempat kami duduk.

Turun kembali ke tempat camp
Setelah cukup puas berada di sini, kami kembali ke tempat kamp lewat jalur yang sama seperti pada saat berangkat. Mungkin tidak terlalu banyak yang tahu jalur ini, sehingga tidak perlu antri ketika simpangan dengan pendaki lain akibat debu yang cukup tebal. Sepanjang turun sampai ke Warung Mbok Yem, kami hanya berpapasan dengan dua orang saja, padahal di jalur utama cukup ramai para pendaki baik yang ingin naik maupun turun dari puncak. Tak lupa, kami menikmati makanan khas di ketinggian Lawu. P.e.c.e.l. Banyak pendaki yang sengaja datang ke sini untuk bernostalgia menikmati pecel di ketinggian Lawu, termasuk salah satu bapak yang berpapasan dengan kami tadi. Dia mendaki seorang diri hanya untuk merasakan pecel Mbok Yem yang khas katanya.

adheb's poto
menikmati segarnya es buah di camp Gupak Menjangan. Sabana terhampar luas di belakang kami
Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan turun ke tenda. Masih saja kami berpapasan dengan  beberapa pendaki yang ingin naik menuju ke Puncak Hargodumilah. Hingga akhirnya kami tiba kembali ke tenda di antara pohon pinus yang sangat rindang. Di sini sudah ada teman yang tadi turun terlebih dahulu, menyiapkan sup buah yang sungguh menakjubkan. Kami istirahat sebentar di samping tenda sambil menikmati es buah yang dibungkus dengan wadah semangka ini. Jaman sekarang, harga bukan hanya tercermin dari kualitas barangnya saja, tetapi suasana membuat harga semakin melambung. So, kamu perlu porter buat bawa barang, jika gak mau capek angkut-angkut bawaan yang berat ke sin. Bongkahan semangka dengan berbagai jenis buah di mix jadi satu bersama susu, membuat sup buah ini begitu menggoda bagi siapapun yang melihatnya. Ingin rasanya berlama-lama lagi di sini, namun waktu mengharuskan kami untuk segera packing, dan kembali turun ke bawah.

Perjalanan kembali ke beskem
Setelah puas menikmati es buah, kami berbenah dan segera bergegas turun. Perjalanan turun kali ini kami tempuh relatif cepat. Setelah pos 5, kali ini kami memilih jalur sebelah kiri untuk mengenang jalur lama, mencari Cemoro Kembar yang sudah tidak dilewati lagi. Tetapi lebih baik kalian jangan lewat sini jika belum ada yang pernah melalui sebelumnya. Salah satu dari kami pernah lewat jalur ini. Dia ingin kembali merasakan jalur dulu, melewati Cemoro Kembar yang cukup kesan sebagai pintu masuk menuju padang sabana kala itu, namun jalur ini sekarang sudah ditutup, digantikan jalur lain yang lebih landai. Di jalur yang kami lewati ini, kami bisa menemukan Cemoro Kembar yang menjulang tinggi, walaupun sudah mulai agak sedikit rapuh.
adheb's poto
Berfoto di Cemoro Kembar, kalian hanya akan menemuinya jika lewat jalur lama 
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan, dan hanya berhenti beberapa menit saja di setiap pos, kecuali di mata air yang hampir setengah jam. Tak lupa kami mampir sebentar di sendang untuk membersihkan kaki sebelum kembali tiba di beskem. Sampai di tempat registrasi, kami melapor kembali dan mengambil kartu identitas yang kemarin ditinggal. Hari sudah sore ketika kami sampai di beskem. Sebentar lagi magrib tiba, dan kami bergegas untuk pulang ke rumah.

see uu di next pendakian...


Rabu, 25 September 2019

Pendakian Gunung Kembang, Belajar Pentingnya Pendakian Edukatif

Bagi seorang yang hobi mendaki, sudah menjadi hal yang lumrah jika ingin lebih mengeksplore gunung karena keindahannya, karena jalurnya yang gak biasa, menantang, atau ciri khas suatu track yang berbeda dengan jalur lain untuk mencapai puncak di gunung yang sama. Mungkin, saya adalah salah satu orang yang suka mencoba merasakan keindahan gunung-gunung, khususnya di seputaran Jawa Tengah ini. Walaupun belum semua gunung di Jawa Tengah pernah saya daki, tetapi saya sudah merasakan sebagian besar puncak yang ada di kawasan Jawa Tengah ini, dan selalu ingin untuk mencoba merasakan pendakian melalui jalur baru yang berbeda. Merasakan kekhasan tracknya, dan juga keramahan warga beskem di setiap jalur yang berbeda.
Suasana di Puncak Gunung Kembang
Bagi seorang pemula, bahkan sebagian besar pendaki tujuan utama mereka adalah untuk mengeksplore keindahan alam yang ada di wilayah itu. Biasanya sih spot puncak yang menjadi favorit utama, dengan latar pegunungan, awan, atau pemandangan yang berbeda sebagai pengalaman pendakian pertama, atau pendakian  ke sekian kalinya agar kelak bisa diceritakan ke temen atau lewat status yang bisa langsung dibagikan ke kawan lain. Wajar sih, karna itu suatu reward atas usaha kita setelah melakukan pendakian cukup panjang, capek, dan melelahkan yang belum tentu akan bisa terulang kembali.

Sampai sekarang belum banyak gunung yang mempunyai misi untuk  mengedukasi para pendaki, khususnya pemula tentang Tata Cara Mendaki Yang Baik. Bukan melalui tutorial, bukan lewat youtube, atau sekedar ilmu dan materi yang kita serap tanpa mengaplikasikan di ruang yang sebenarnya, tetapi lewat pengalaman langsung dengan pemahaman-pemahaman dan sanksi nyata. Sesekali kalian perlu mencoba pendakian Gunung Kembang Via Blembem agar tahu tata cara pendakian yang edukatif secara langsung dan nyata, sebagai bekal kalian untuk melakukan pendakian selanjutnya.

Pengalaman pendakian via Blembem ini suatu hal yang sangat penting bagi pendaki pemula, karena belum ada satu gunungpun yang saya temui, mempunyai misi pendakian yang cukup edukatif seperti jalur Blembem ini. Mungkin beberapa gunung sudah mengelola pendakian secara professional atau online. Namun, jika pengelolaannya dilakukan secara edukatif, saya yakin belum begitu banyak yang melakukannya. Yang saya tahu, baru Gunung Gede Pangrango yang melarang penggunaan botol air mineral untuk dibawa ke atas. Saya belum tahu gunung lainnya, karena selama melakukan pendakian, belum ada satupun gunung yang saya jumpai melakukan screening logistik secara ketat, termasuk pemahaman mengenai sampah yang akan timbul dari barang bawaan para pendaki.

Berbeda dengan Gunung Kembang ini, yang banyak disebut sebagai anak dari Gunung Sumbing. Di sini kalian akan diajari bagaimana menjaga dan merawat gunung kita agar tetap asri. Saya sendiri sudah setahun yang lalu mendengar tentang kebersihan dan keistimewaan pendakian gunung via Blembem ini. Sebelumnya, satu setengah tahun yang lalu salah satu teman, theslackerhiker pernah mereview gunung ini ketika baru saja dibuka, namun belum seketat saat saya melakukan pendakian kemarin.

Semua penjaga yang berasal dari berbagai komunitas begitu ramah saat menjelaskan secara detail prosedur pendakian lewat beskem yang berada di tengah-tengah kebun teh ini. Sebelum registrasi, kita diwajibkan untuk mencatat semua barang yang mengandung plastik, kaleng, senjata tajam dan beberapa barang lain yang membutuhkan waktu lama untuk terurai. Kita akan diberikan selembar kertas checklist untuk kita isi secara detail. Kalau perlu jenis logistiknya kita tulis agar nanti saat turun mudah untuk melaporkan kembali. Termasuk pula saat saya membawa sebungkus rokok yang tinggal sepuluh batang, karena saat turun nanti tidak boleh sebatang puntung rokokpun yang tertinggal di atas. Jika ada salah satu yang tertinggal, maka kalian akan kena denda sebesar 1.025.000,- rupiah, atau kalian akan diminta naik ke puncak kembali untuk mencari barang tersebut seperti salah satu pendaki yang kehilangan bungkus sachet kopinya saat saya turun. Denda  sudah terpampang jelas di beberapa sudut agar setiap pedaki bisa membacanya dengan mudah. So, kalian tak bisa mengelak jika ada satu barang yang hilang dari daftar check list mu saat turun nanti.

Ada beberapa hal yang dilarang, seperti membawa tissue basah. Beberapa gunung sudah menerapkan hal ini. Termasuk saya sendiri yang sudah menghilangkan tissue basah dari daftar bawaan dalam setahun terakhir ini. Pendaki juga dilarang untuk camp di area hutan, dan hanya diperbolehkan camp mulai dari sabana sampai puncak. Itu artinya, kalian harus berjalan sekitar 3 jam terlebih dahulu, baru bisa mendirikan tenda. Di Sabana hanya bisa didirikan sekitar 10 tenda, karena medannya yang relatif terjal. Namun, jika kalian bisa sampai ke puncak yang hanya berjarak setengah jam dari Sabana, kalian akan dapat mendirikan tenda dengan nyaman karena kontur di puncak lumayan datar dan dapat didirikan tenda dengan kapasitas lebih dari 100 buah. Sangat jarang pendaki yang mendirikan tenda selain di puncak, kecuali mereka sangat kelelahan saat perjalanan. Saat ngecamp, kalian dilarang untuk membuat api ungguan karena berpotensi untuk terjadi kebakaran. Begitu juga, dilarang menyalakan kembang api sebagai euphoria seperti yang biasa dilakukan di kota ketika tahun baru. Jika melanggar salah satu item tersebut, denda siap-siap menghampiri anda.

Botol air mineral dilarang keras untuk dibawa naik karena berpotensi untuk tertinggal di atas. Tetapi jangan khawatir, karena disini disediakan jerigen dan botol air minum semacam tumbler dengan stok yang cukup banyak, yang siap menampung air anda ketika naik. Saya memang berniat untuk menyewa jerigen 5 literan dengan biaya 10 ribu rupiah. Tetapi ketika turun, saya masih dapat menukarkan jerigen tersebut dan dengan kembalian 8 ribu rupiah. Artinya, kalian hanya perlu membayar 2 ribu rupiah untuk menyewa jerigen air tersebut. Sama sekali bukan sesuatu hal yang terlihat mahal atau diaggap sebagai mencari keuntungan, karena sudah ada biaya untuk alokasi beskem sebesar 5 ribu rupiah per pendaki. Dengan biaya tersebut, kalian mendapatkan berbagai fasilitas seperti trashbag, plastik, musholla, toilet, bahkan cas gratis di lokasi. Air bersih juga sudah tersedia di samping rumah secara free. Sebagai seorang perokok, saya ambil satu botol bekas yang sudah disiapkan untuk menampung puntung rokok, agar tidak tercecer tanpa biaya.

Penjaga beskem menyarankan saya untuk mengambil trashbag dan juga plastik saat dia mengetahui di carrier saya tidak terdapat trashbag ketika checklist barang bawaan. Saya mengambil 2 buah trashbag gratis untuk saya bagi dengan teman. Bayangin aja, jika kalian membeli trashbag secara eceran, harganya 2-3 ribu, dan disini kalian dapat secara gratis. Memang, pendakian kali ini saya tidak memakai trashbag seperti biasa, karena selain kemarau cuaca cukup cerah ketika saya lihat keadaan cuaca baik di langit atau di aplikasi handphone sebelum berangkat.

Setelah semua logistik dicheck list, kami menuju tempat registrasi dan menyerahkan kartu identitas. Gak mahal sih, karena saya hanya membayar sebesar 25.000 dengan rincian 15 ribu untuk tiket, 5 ribu untuk biaya pengelolaan beskem, serta 5 ribu untuk biaya parkir motor. Bahkan jika kalian ingin lebih cepat, klain bisa naik tayo yang disediakan hinga pos 1 (Kandang Celeng) dengan biaya 20 ribu rupiah. Nanti kalian akan dapat voucher menarik yang dapat ditukarkan di beskem, berupa satu paket teh khas Tambi ini.

Saya sih lebih memilih untuk berjalan kaki, sambil merasakan indahnya pemandangan kebun teh selama satu jam perjalanan ini, walaupun pulangnya memilih untuk naik tayo karna bujukan teman. Setelah pos Kandang Celeng kalian hanya akan menemui hutan belukar dengan track yang cukup terjal sampai ke puncak. Sebagian besar sih mengatakan jika jalur ini cukup sadis, karena jarang sekali bonus untuk kita beristirahat. Namun tenang aja, karena di setiap jalur terdapat tanda agar kita tidak tersesat, termasuk tali di beberapa tanjakan yang cukup membantu pendaki dengan medan yang curam.

Selamat mencoba wisata edukasi, yang baru pertama kali saya rasakan di dalam pendakian gunung ini.
Mari mendaki dengan bijak…

Hal-hal yang dilarang :
membawa tisu basah
mendirikan tenda di hutan
membawa botol air mineral kemasan
membuat api unggun
menyalakan kembang api
meninggalkan sampah anorganik
masuk kawasan tanpa ijin
menebang pohon
membawa senjata tajam lebih dari 20 cm
membawa senjata api
membawa alat musik/speaker
membawa minumn keras
memetik edelweis
jika melanggar, maka denda sebesar 1.025.000,- per item

Jalur :
Beskem- Kandang Celeng     : 1 jam (sekarang tidak melewati istana katak)
Kandang Celeng Pos Liliput : 30 menit
Pos Liliput – Simpang 3        : 15 menit
Simpang 3 – Pos Akar          : 15 menit
Pos akar – Sabana                 : 30 menit
Sabana- Tanjakan Mesra       : 15 menit
Tanjakan Mesra – Puncak     : 15 menit

Rabu, 04 Oktober 2017

“Ekspedisi 100 Hari di Puncak Gunung Merbabu” ngobrol-ngobrol langsung dengan mereka

“Ekspedisi 100 Hari di Puncak Gunung Merbabu” ngobrol-ngobrol langsung dengan mereka - Setelah cukup lama gak merasakan jalur yang paling sering saya daki sewaktu SMA, kini kembali merasakan jalur ini lagi. Terakhir pendakian, sekitar tahun 2013, dan itupun cuma camping di pos 2. Sewaktu SMA, jalur Wekas ini adalah satu satunya jalur yang pernah saya daki, walaupun ada jalur lain di sebelah utara sana. Mungkin karena jalurnya yang relatif mudah dan ada air di pos 2, sehingga tiap kali teman mengajak naik ke Merbabu, jalur inilah yang selalu dipakai.
adheb's poto
Puncak Kenteng Songo
Perjalanan Merbabu via Wekas kali ini, kita ingin mengetahui, dan ngobrol langsung terkait kegiatan para pendaki yang sedang menjalani Ekspedisi 100 hari di Gunung Merbabu ini. Tentu saja, tujuan kami adalah langsung ke puncak dan mewawancarai mereka yang sedang menjalaninya,  Yaitu Mas Raka, yang berasal dari Salatiga sekaligus ketua tim ekspedisi ini, dan juga mas Dani, yang berasal dari Semarang. Walaupun salah seorang anggota mengundurkan diri karena suatu hal, mereka berdua tetap kompak untuk meneruskannya sampai 100 hari, yang jatuh sekitar tanggal 28 Oktober ini. Bahkan saat ketemu, mereka masih terlihat sehat bugar dan sering bercanda, tanpa ada niatan untuk berhenti di tengah jalan.
Beberapa kegiatan yang mereka lakukan selama 100 hari ini antara lain restorasi, konservasi, dan sosialisasi tentang Kenteng Songo, termasuk teknik pendakian, dan juga masalah sampah di Gunung Merbabu ini. Untuk restorasi Kenteng Songo, sejauh ini dalam tahapan pengumpulan batu, terutama yang jatuh ke bawah, di arah jalur utara. Terakhir, mereka menemukan 1 lumpang lagi di area Kenteng Songo yang terpisah, pecah menjadi 2 bagian. Penemuan ini secara tidak sengaja, karena sebenarnya hanya mengumpulkan batu dari bawah, tetapi saat itu menemukan 1 batu lagi di hari ke 70, sehingga total batu sekarang ada 7 buah lebih setengah.
Terkait pengalaman, banyak hal-hal unik yang telah mereka alami selama tinggal di puncak Kenteng Songo ini, Bahkan katanya, orang yang tidak biasa bermimpi pun bisa bermimpi ketika berada di sini. Seperti itulah sindromnya di Puncak Kenteng Songo ini. Mungkin awal-awal belum bermimpi, tetapi di beberapa hari berikutnya dia akan mengalami mimpi berhubungan dengan emosi individu mereka, yang banyak keluar di dalam mimpi. Selain itu, apa yang diucapkan, banyak terjadinya. Untuk itu, kita harus berhati hati dalam mengucapkan sesuatu hal, termasuk tidak boleh menyombongkan diri selama gunung ini.
Seperti saat mereka berkeinginan untuk ganti menu makan. Saat ingin ganti makan ayam, selang sehari datang 3 porsi ayam, lalu saat bercerita tentang turis, akhirnya datang juga besoknya, turis naik sendiri, tanpa porter. Cerita tentang tenda pun, selang sehari ada yang ngasih. Termasuk saat bicara tentang watu lumpang ini, saat bercerita semoga menemukan batu lagi, akhirnya menemukan juga 1 batu lumpang lagi. Semua terjadi tanpa sengaja. Tetapi jangan sampai berbicara tentang hal hal yang negatif, takutnya itupun bisa terjadi nantinya. Hal hal seperti ini yang bikin betah dan nyaman selama mereka menjalani ekspedisi 100 hari ini.
Adapun keinginan atau pesan mereka untuk para pendaki Gunung Merbabu . Pertama, harapannya para pendaki jangan sampai merusak pohon atau akarnya, walaupun sudah mati. Seperti jika membutuhkan pasak, tetapi karena kekurangan, sehingga menebang pohon. Hal ini kurang bagus, lalu trecking pole yang seharusnya bawa dari rumah, tetapi masih ada juga yang mengambil di tengah jalan saat ada pohon yang bisa digunakan. Terkait masalah sampah, masih banyak yang membuang sampah di gunung. Saat menggunakan tisu basah atau botol air mineral misalnya, masih banyak yang tidak masuk ke plastik sampah sendiri, tetapi tertinggal di gunung.
Masalah safety pun sangat penting buat para pendaki. Jangan sampai kita mengacuhkan safety selama pendakian Gunung Merbabu ini. Initnya, terkait kode etik dalam pendakian gunung. Kita harus lebih melestarikan alam, dengan tidak membuang sampah sembarangan dan memasukkan ke trashbag, dan masuk ke tas kita lagi, itu sudah cukup bagus. Pokoknya, apa yang kita bawa naik, sebaiknya juga bisa kita bawa turun. Hal ringan seperti ini sebetulnya harus diperhatikan. Penting juga untuk sering bertegur sapa, walaupun tidak kenal, minimal kita bisa bertegur sapa dengan sesama pendaki lain.
Ada juga, peraturan tidak tertulis yang khusus diterapkan di Gunung Merbabu ini, seperi tidak boleh memindahkan batu sebagai pengganti apapun, atau memindahkan batu dimanapun, di Gunung Merbabu ini. Memindahkan saja tidak boleh, apalagi sampai mengotorinya. Hal seperti ini yang jarang dipahami oleh para pendaki Gunung Merbabu ini.
Itulah, sekelumit cerita yang saya dapat ketika ngobrol dengan mereka sewaktu pendakian kemarin. Walaupun tidak banyak, tetapi minimal bisa berbagi dengan kalian, sesama pendaki, agar kita semakin bijak dan tertib saat mendaki gunung. Karena bagaimanapun juga sebagai orang yang suka mendaki gunung, kita harus ikut andil dalam melestarikan alam ini, agar gunung kita tetap lestari. Semoga ada hal menarik lagi yang bisa dibagi buat kita kemudian, sukses selalu…


Selasa, 19 April 2011

Nikahan Mas Dul

Nikahan Mas Dul - Kamis, 14 april 2011 Anggota Mapalaska kedapatan undangan untuk menghadiri acara pernikahan salah satu alumni, yaitu mas Dul. Acara resepsi pernikahan ini diadakan di tempat sang istri, yaitu di daerah Kendal. Tempat yang lumayan jauh jika ditempuh dari sanggar Mapalaska tercinta.