Tampilkan postingan dengan label Papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Papua. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Desember 2018

Hidup Berdampingan, Berdamai Dengan OPM

Hidup Berdampingan, Berdamai Dengan OPM - Membaca postingan berita di media online hari ini, beberapa masih membahas seputar tewasnya para pekerja yang sedang membangun jalan trans di Papua sana, dan masih saja berlanjut dari beberapa hari yang lalu semenjak kejadian itu terjadi. Dengan jumlah korban meninggal yang cukup banyak dibanding kejadian serupa di tahun-tahun sebelumnya, wajar jika berita ini cukup ramai beberapa hari ini. Pemerintah mempublish sebagai bentuk bela sungkawa dan semangat patriotisme untuk menegakkan NKRI atau membumihanguskan terorisme di negeri ini. Sementara di kubu sana, OPM mempublish sebagai suatu bentuk luapan kegembiraan, bisa membasmi terorisme, atau meminimalisisr kolonialisme Indonesia yang selama ini ada.

Lantas, mana yang benar? Disini, saya akan sedikit mengulik yang saya tahu tentang OPM, dari pengalaman saya saat berada di Papua tahun 2012 lalu. Sejak beberapa tahun yang lalu pemerintah mengganti sebutan OPM dengan KSB atau KKSB. Kata/bahasa OPM terlalu berbahaya, terlalu melawan pemerintah, karena berkonotasi dengan separatis. Gantilah dengan KKSB, untuk mereduksi makna, agar terlihat sebagai segelintir orang, dan bukan banyak orang yang ingin menduduki Papua sering berbuat onar melawan tentara kita. 

Di saat telinga kita yang mulai lunak dengan bahasa KSB karena pemberitaan yang massif ini, sebenarnya mereka lebih suka disebut dengan OPM. Apakah semua OPM itu tentara bersenjata? Saya masih mengilustrasikan hal yang hampir sama dengan PKI pada masa lalu. Ada masyarakat yang berjuang dengan memanggul senjata, namun ada pula simpatisan yang secara tertutup mendukung perjuangannya. Terlihat abu-abu karena takut diketahui oleh kubu sebelah, entah warga atau pihak pemerintah. Sangat susah untuk melihat simpatisan ini, bahkan seringkali tetangga honai sendiri tidak tahu apakah rumah sebelah itu simpatian OPM atau pro pemerintah, jika tidak berhubungan dekat dengannya.

Bagi yang menenteng senjata, mereka menamakan diri sebagai TPNPB atau Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat yang berjuang sejati merebut kemerdekaan West Papua. Nama ini secara resmi mereka gunakan, dan mempunyai kepengurusan di setiap tempat yang terdapat pendukungnya di Papua ini. Mempunyai ghirroh yang sama dengan pejuang lain, menjadi satu wadah, KNPB. Sasaran utamanya bukanlah masyarakat sipil. Mereka hanyalah menyasar tentara atau polisi, karena sama-sama bertugas memegang senjata. Selain itu fasilitas pemerintahan juga menjadi sasaran mereka, sehingga cukup aman bagi kita sebagai masyarakat sipil ketika berada di sana. Kecuali ada kejadian tertentu yang dianggap membahayakan mereka. Hal seperti ini sebenarnya sudah tertuang di dalam undang-undang yang ada, tapi saya lupa pasal berapa.. hehe..

Trus kenapa kemarin banyak sipil yang meninggal? Ada beberapa masalah menurut saya. Pertama Saat saya di sana, saya selalu waspada setiap tanggal 1 di bulan Juli dan Desember, karena itu merupakan hari proklamasi dan kemerdekaan Papua Merdeka. Di tanggal itu mereka akan selalu memperingati layaknya kita setiap tanggal 17 Agustus, baik upacara ecara tertutup ataupun terang-terangan. Makanya, seringkali terjadi peristiwa bentrokan ketika mereka memproklamirkan secara terang-terangan, bahkan pembunuhan ketika upacara mereka yang sembunyi-sembunyi merasa diusik  atau diganggu. Seperti kejadian kemarin misalnya, dari pemberitaan menyebutkan bahwa pekerja sedang melihat, bahkan memfoto kegiatan mereka ketika itu. Hal ini sangatlah mengusik kekhusukan kegiatan mereka, karena sesuatu acara yang dianggap sakral. Saya selalu takut dan harus selalu waspada apabila harus berkegiatan di bulan-bulan tersebut di sana, karena selalu saja ada kejadian yang terjadi, walaupun lokasinya berbeda-beda.

Kedua OPM menganggap bahwa mereka itu bukanlah warga sipil, melainkan tentara zipur yang menyamar sebagai pekerja, entah tujuannya untuk sekedar mengintai atau supaya pembangunan jalan trans tersebut dirasa aman, di tengah wilayah Papua yang cukup berbahaya. Wajar saja, mereka bangga dengan kejadian kemarin dan dengan lantang mengakui aksi tersebut. Seringkali, aksi pembunuhan yang terjadi seperti di wilayah Puncak berhubungan dengan aparat baik polisi atau tentara, karena itu adalah target mereka. Saya sendiri memilih untuk menghindar jika ada tentara atau polisi di mobil yang sama ketika menuju daerah yang jauh saat di Wamena. Mending bersama warga lokal jika akan ke Mamberamo atau ke arah Tolikara yang juga pernah ramai pembakaran beberapa waktu lalu.

Ketiga, ternyata OPM tidak suka dengan adanya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia di wilayahnya. Walaupun akan semakin membuka akses distribusi, tetapi itu hanya menguntungkan warga Indonesia. Mereka akan semakin terdesak dengan bertambah ramai dan mudahnya akses ini, sehingga ruang gerak menjadi semakin sempit. Itu mungkin juga sebagai jawaban, mengapa beberapa bulan lalu beberapa pekerja proyek (hanya warga sipil) tewas terbunuh saat mengerjakan pembangunan jalan trans ini, tanpa adanya baku tembak dengan aparat.

Masalah komunikasi, tentara masih kalah taktis dengan OPM (walaupun belum tentu kalah secara teknologi). Mereka lebih hafal medan sendiri, bagaiaman cara berkomunikasi dengan luar, dan bagaimana menjalin jaringan dengan anggota lain untuk mengabarkan berita kepada pendukungnya secara cepat. Terbukti, sampai sekarang gerak-gerik mereka masih susah untuk ditembus oleh aparat, dan hanya saat ada kejadian saja tentara bergerak aktif melibas mereka, itupun hanya di titik kejadian, bukan meluas ke akar rumput yang lain. 

Sampai sekarang saya masih percaya jika sinyal masih sangat susah di sebagian besar pegunungan tengah ini. Informasi lewat mulut masih menjadi salah satu andalan mereka, disamping komunikasi melalui SSB sebagai andalan utama. Saya tidak tahu, apakah militer hanya mengandalkan telpun satelit untuk berkomunikasi di rerimbunan hutan? Atau punya alat lain yang bisa digunakan untuk berkomunikasi, saya yang awam ini juga tidak tau. Masih teringat jelas di pikiran saya, ketika Mako Tabuni, seorang wakil ketua KNPB yang meninggal di Jayapura tahun 2012 lalu saat operasi militer. Ketika itu saya sedang berada di Korupun, sebuah distrik di pelosok Kabupaten Yahukimo yang harus ditempuh selama seminggu jalan kaki dari Wamena, walaupun hanya satu jam saja jika menggunakan pesawat carter. Hanya dua hari berselang dari kematiannya beritanya sudah sampai di semua pendukungnya di tempat itu. Padahal hanya radio SSB-lah alat komunikasi satu-satunya yang ada di situ. Dan saya masih bingung tidak percaya bagaimana mereka berkomunikasi, karena SSB sendiri hanya berhubungan dengan bandara Wamena hany untuk urusan penerbangan. Itu  yang saya tahu. Itulah mengapa, jika ada yang bertanya kejadian kemarin, kenapa pemberitaannya telat sekali? kejadian dua hari yag lau baru diberitakan sekarang..

Mayoritas OPM mendiami wilayah pegunungan tengah Papua yang sangat luas dengan hutannya yang sangat lebat ini, membuat mereka sangat leluasa untuk menjalankan kegiatannya. Ini adalah daerah mereka sendiri, sehingga sangat mudah dan hafal untuk bergerak atau berpindah-pindah dan bersembunyi di tengah hutan. Beberapa orang yang berpengaruh turun ke bawah di Jayapura baik untuk belajar, mencari dukungan, atau menginformasikan eksistensi mereka ke netizen di luar. Tetapi beberapa melarikan diri ke negara lain yang aman bagi kehidupan mereka seperti Belanda, Inggris, atau Australi jika sudah merapa terpojok akibat intaian dan sorotan yang terus menerus oleh tentara Indonesia. Belanda merupakan salah satu negara yang relatif aman untuk bersembunyi sekaligus mencari dukungan demi bebasnya Papua Barat. Bahkan mereka akan membuka kantor perwakilannya di sana seperti yang diberitakan beberapa bulan lalu.

Terakhir, saya ingin sedikit bercerita, bahwa saya pernah hidup berdampingan dan ‘berdamai’ dengan mereka ketika saya melakukan kegiatan di daerah Yogosem, kampung kecil di ketinggian hampir 3.000 mdpl selama beberapa minggu. Saya tahu di daerah tersebut banyak pendukung OPM baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Kepala suku memberitahukan kepada kami mana warga yang mendukung dan mana yang tidak, walaupun saya tidak bisa mengamati satu per satu karena mukanya hampir semuanya sama. Ada salah satu warga yang terang-terangan, dan mengusir kami untuk segera angkat kaki dari tempat itu. Dia datang di pagi hari secara sembunyi-sembunyi agar pengusirannya tidak diketahui oleh warga lain yang menjaga kami. 

Waktu itu, saya sendiri tidak begitu peduli apakah dia pro atau kontra, selama dia bisa bersahabat, demi keamanan kami saat kegiatan tersebut. Dari informasi, beberapa warga dekat rumah ada simpatisannya, dan saya tetap saja bercengerama, bersahabat dengan mereka selama hal itu baik, tanpa mengusik preferensinya atau preferensi saya. Asal saya tidak mengangu mereka, dan mereka tidak menganggu saya, itu sudah cukup tanpa harus mempermasalahkan hal lain yang tidak substantif.
Namun beda jika urusannya masalah NEGARA.


Ini hanya cerita dari pengalaman, bukan dari penelitian yang mendalam.. so,sak karepmu, piye persepsimu






Minggu, 13 Juli 2014

Masyarakat Papua, Belum Begitu Membutuhkan Uang

Masyarakat Papua, Belum Begitu Membutuhkan Uang - Aneh memang, jika orang berkata seperti itu. Mana ada, orang tak butuh uang di dunia  ini. Namun, jika kita telisik lebih mendalam, masyarakat di pegunungan tengah ini (Jayawijaya, Mamberamo, Tolikara, Ninia, Lanny Jaya, Puncak Jaya, Puncak, dan Kabupaten lain di Pegunungan Tengah) secara tidak langsung masih hidup dengan pola dahulu, walaupun secara kasat mata, mereka juga menggunakan uang dalam kehidupan sehari hari.
adheb's photo
Babi yang Sedang Menyusui
Dalam kehidupan sehari-hari, untuk makan misalnya, mereka masih mengandalkan kebun untuk mencukupi kebutuhan. Buah-buahan di sini juga melimpah, sebagai bahan makan mereka. Mereka mempunyai lahan yang cukup luas. Biasanya, mereka akan menanam ubi sebagai makanan utama mereka, dengan cara berpindah-pindah. Jika sebuah areal sudah ditanami ubi dan sudah dipanen, mereka akan menanami tempat lain, dan lahan tersebut mereka biarkan, kemudian pindah ke tempat lain lagi, sampai mereka kembali akan menanami lahan yang pernah mereka tanami. Maka jangan heran jika banyak lahan yang orang lain bilang, sebagai lahan terlantar.

Bagi mereka, lahan tersebut bukanlah terlantar, tetapi memang dibiarkan begitu saja, bahkan sampai rumput tumbuh tinggi. Tetapi, suatu ketika mereka akan mempergunakannya untuk menanam ubi atau sayuran lain untuk kebutuhan hidupnya. Sistem ladang berpindah seperti ini masih ada di sini hingga sekarang. Sampai saat ini, untuk menggali tanahpun mereka hampir semuanya menggunakan sekop, karena mereka dari dulu diajarkan menggali dengan alat tersebut. Mereka merasa aneh atau tidak terbiasa, bahkan ada yang mengatakan, merasa pegal jika harus menggali tanah dengan cangkul seperti orang Jawa pada umumnya.

Tidak hanya sebagai makanan manusia, karena ubi di sini juga untuk makanan peliharaan mereka di sini, babi. Sebagai alat tukar dari zaman dahulu, babi tetap saja digunakan warga sini seperti untuk mas kawin, alat sosial, yaitu sebagai sumbangan jika ada duka/ warga yang meninggal, untuk acara berbagai selamatan dengan bakar batu, maupun acara lainnya. itu adalah alat utama mereka, dengan harga jual yang tinggi di sini, sekitar 50-60 juta per ekor babi yang sudah besar.

Namun, di sini  pernah terjadi penyakit mematikan. Penyakit sejenis kolera, yang membuat babi mati secara tiba-tiba, sampai babi di sini tinggal sedikit, sehingga membuat harga babi melonjak sampai seperti sekarang ini. Karena persebaran babi yang sedikit ini, membuat warga sedikit beralih dalam kegiatannya, seperti menggunakan uang sebagai tambahan mas kawin jika babi kurang, ayam sebagai pelengkap bakar batu saat kekurangan babi, ataupun beras, minyak, uang dan kebutuhan sehari-hari lainnya yang diberikan oleh warga saat duka sebagai pengganti babi. Begitu juga uang sebagai tambahan denda jika ada suatu permasalahan, dikalkulasikan dengan harga per ekor babi di sini.

Jika mereka membutuhkan uang, maka mereka akan menjual babi ataupun hasil kebun ke kota. Namun, jika belum butuh, maka mereka hanya menggunakannya untuk kebutuhan sehari-harinya. Jika mereka ke kota, maka biasanya mereka yang membutuhkan uang, dan menjual barang mereka Untuk itu, kita bisa menawar dengan harga yang lebih murah karena merekalah yang membutuhkan uang, namun jika kita datang ke mereka, dan membeli babi misalnya, maka bisa saja akan diberi harga yang mahal, karena mereka menganggap kita yang butuh. Sedangkan mereka belum begitu membutuhkannya. Makanya, jika anda memerlukan sesuatu, sebaiknya beli saja di pasar, agar mendapatkan harga yang  wajar.

Jumat, 27 Juni 2014

Di Timur Matahari, Wamena Yang Sebenarnya

Di Timur Matahari - Sebuah film karya Ari Sihasale, yang cukup fenomenal bagi saya, karena memang betul-betul menggambarkan keadaan di daerah ini, karena saya sendiri mengalaminya dan berada di sini saat menulis ini. Gak tau kenapa, walaupun sudah mempunyai film ini sewaktu di Jogja, tetapi baru kali ini saya sempatkan untuk menontonnya. Di Wamena ini, malam terakhir sebelum kami meninggalkan Wamena, untuk menuju ke Jayapura, dan kembali ke Jogja. Pas sekali flm ini saya tonton, di hari terakhir saya berada di sini, setelah 40 hari keliling Kabupaten Jayawijaya ini.
adheb's foto
Kayo, ICON Kota Wamena
Wamena, sudah tidak asing lagi bagi saya, karena di tahun 2012 saya pernah di sini selama satu setengah bulan, berkeliling di beberapa kabupaten di sini seperti Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Mamberamo, dan Kabupaten Jayawijaya ini sendiri, khususnya di Kabupaten-Kabupaten yang berada di Pegunungan Tengah. Kemudian kembali lagi ke Pegunungan Tengah ini sehabis lebaran selama sebulan. Perjalanan selama tiga kali ini, bukan saya tinggal di kota, melainkan menuju ke daerah-daerah pedalaman, sehingga tahu bagaimana kehidupan orang pegunungan tengah ini.
Di pegunungan tengah ini, orang mengatakan, belum merasakan Papua, kalau kalian belum pernah ke Wamena. Jika kalian belum pernah ke Papua sama sekali, kata itu sama sekali tidak berpengaruh, karena kalian belum pernah melihat Papua secara langsung, tetapi, bagi saya itu adalah kata yang memang benar-benar asli. Itu adalah kata yang sebenarnya, dimana Papua terkenal dengan adat istiadatnya, dan yang masih ada sampai sekarang seperti di Pegunungan Tengah ini. Saya mengatakan ini, karena selama beberapa kali saya ke Papua seperti ke Keerom, Jayapura baik Kota maupun Kabupaten, Sorong, Raja Ampat, Mimika, Fak-Fak, dan Kabupaten Bintuni, yang merupakan daerah-daerah yang pernah saya kunjungi, tidak semenarik, tidak sekeras, dan tidak senatural daerah di Pegunungan Tengah ini.
Perjalanan saya ke Pegunungan Tengah ke tiga kali ini, saya tidak membawa cerita banyak, hanya sebuah catatan spontan kecil ini, sesaat setelah saya menonton film Karya Ari Sihasale ini, yang mengambil tempat di Distrik Tiom, Kabupaten Lanny Jaya. Sebuah tempat yang jaraknya sekitar 3 jam dari kota (jangan me gukur jarak di sini dengan kilometer seperti di Jawa, karena di sini akan lebih akurat jika kita mengukurnya dengan waktu, meliihat topografi di sini dengan kontur yang cukup rapat dalam bahasa geografi). Walaupun saya belum pernah ke Kabupaten tersebut, tetapi saya pernah melihatnya dari jauh, dari Distrik Piramid, saat saya berada di sana. Dari Piramid ini, perjalanan menuju ke Tiom masih sejam lagi. Semua akses ke Pegunungan Tengah berpusat di Wamena ini, sebagai satu-satunya jalur utama menuju ke setiap daerah, dan semua pasokan dari Jayapura, melalui udara.
Cukup dengan menonton film ini dan membaca catatan kecil saya, maka seperti itulah keadaan di sini. Yang perlu diteladani di sini intinya adalah kesatuan dan persatuan warga Papua, bahwa mereka sebenarnya satu, hidup damai dan saling mengasihi antar sesama, sesuai dengan mayoritas ajaran yang mereka anut di sini. Walaupun setiap hari masih ada kerusuhan, pencurian, kekerasan, denda, dan sebagainya, namun mari kita ambil hikmahnya, semangat untuk memperbaiki itu semualah yang harus kita pikirkan, seperti film ini salah satunya. Jika warga bisa menonton dengan ‘hati’, maka kekerasan dan perpecahan di sini akan semakin berkurang. Untuk itulah, perlu adanya gebrakan-gebrakan lain, ide-ide lain yang selalu bermunculan, agar keadaan di sini semakin berubah lebih baik, tanpa harus meninggalkan budaya yang sangat unik di sini. Ide seperti itulah yang sangat diperlukan, sebagai kontribusi kita sebagai bangsa Indonesia, dan keyakinan kita bahwa Papua adalah bagian dari kita, bagian dari Bangsa Indonesia. Karena bagaimanapun juga, walaupun ribuan pulau, tetapi kita tetap satu. INDONESIA RAYA.
Beberapa hal kecil yang menarik, tidak seperti di tempat lain adalah cara orang sini yang sering bergandengan tangan, tidak peduli sesama perempuan, laki-laki perempuan, dan yang paling sering saya jumpai sesama laki-laki yang saling bergandengan tangan. Bukan karena mereka homo, tetapi itulah bentuk kasih sayang mereka, bahwa mereka sangat sayang terhadap sesama, melebihi sayang kita terhadap sesama di daerah lain. Perhatikan juga cara salaman mereka, yang cukup unik, dan selalu berkata terima kasih atas setiap bantuan, dan masih banyak lagi lainnya.
Film ini cukup menariik bagi saya, walaupun kekerasan masih banyak terjadi, namun cukup menyentuh, membuat saya ingin kembali lagi ke tempat ini kelak., ataupun menjamah daerah tertinggi di atas sana, yang merupakan cita-cita saya suatu saat yang entah kapan bisa terwujud. Semoga bisa menginspirasi kalian yang membaca, agar juga memikirkan rakyat Indonesia yang ‘terpinggirkan’ ini, di sela panasnya persaingan pilpres saat ini. Sebagai intermezo berita persaingan saat ini, karena pada intinya adalah bagaimana supaya rakyat Indonesia ini semakin sejahtera.
Cinta dan kedamaian akan membawa kebahagiaan bagi anak kita kelak,,
We Love Papua. ITU SUDAHHH….      (aiiiiiiiiii)
Sedikit catatan di sini, Wamena, Jayawiya, Pegunungan Tengah Papua, 27/06/14

Minggu, 22 Juni 2014

Kurullu, The Beauty of Wamena

Kurullu, The Beauty of Wamena - Di sinilah ikon dari Wamena, atau dari Kabupaten Jayawijaya ini. Ada beberapa alasan mengapa disrik kurulu yang paling banyak dicari oleh para turis, baik domestik maupun mancanegara. Pertama, karena daerahnya yang dekat dengan kota. Dari kota, kita bisa menuju ke daerah ini tidak sampai satu jam. Baik naik mobil dobel gardan, naik angkot, bahkan naik kendaraan bermotor pun kita bisa menjangkaunya. Jika naik angkutan, dari Wamena kita menuju ke pasar Jibama atau orang biasa sebut Pasar Baru seharga 5 ribu. Lalu, dilanjutkan ke Kurulu, cukup membayar 10 ribu.
adheb's photo
Berfoto dengan Mumy Wim Motok
Untuk jurusan Kurulu, angkutan putih cukup banyak, tinggal kita cari saja di pojokan belakang, yang bertulis KL, kita akan sampai ke kurulu. Namun, jika naik mobil apa saja bisa juga, baik mobil arah Yalengga, Bolakme, Tolikara, Eragayam, Ninia, Mamberamo, ataupun Puncak. Yang ke dua, karena tempat di daerah ini sering diadakan festival, seperti Festival Lembah Baliem yang cukup terkenal, karena selalu rutin diadakan setiap tahun. Festival Lembah Baliem ini beberapa kali diadakan di kampung Wosi, sehingga kampung ini cukup terkenal bagi mereka yang pernah melihat festival ini.
adheb's photo
Kayo, Icon Wamena
Yang ke tiga, di daerah ini terdapat wisata mummy terkenal, yaitu Mumi Wim Motok Mabel, di Sompaima, Kampung Jiwika, Kurulu. Mumi ini cukup terkenal, karena merupakan salah satu mumi tertua di dunia, dan yang paling tekenal di daerah Lembah Baliem ini. Konon, menurut sang juru kunci, umurnya saat ini sudah 371 tahun. Berbeda dengan mumi di negara lain yang diawetkan dengan formalin, mumi Wim Motok ini diawetkan dengan cara diasap. Zaman dahulu, kepala suku yang merupakan keturunan suku Dani generasi ke tujuh tersebut sangat dihormati, dan ketika meninggal pada saat perang, warga mengabadikannya dengan mengasap, sebagai salah satu wasiatnya sebelum meninggal.

Di kampung ini kita bisa berfoto dengan mumi Wim Motok. Namun, biasanya akan dikenakan tarif 40 ribu per orang. jika sudah sama-sama deal, maka mumi akan dikeluarkan dari honai oleh penjaganya, dan kita bisa foto bersama mumi tersebut. di area ini, mereka juga memajang aneka barang khas pegunungan tengah sini untuk dijual seperti noken, koteka, kalung babi, kalung kasuari, kapak batu, perhiasan bulu kasuari, dan lainnya. Kita bisa membelinya dengan harga bervariasi, sesuai dengan hasil tawaran yang sudah disetujui.

Yang paling disukai oleh pemuda, di sini mereka menggunakan pakaian adat jika ada pengunjung datang. Yang laki-laki menggunakan koteka saja, untuk menutupi alat kelaminnya, sedangkan yang perempuan menggunakan daun rumbia. itulah yang paling disukai. Bagi para cewek, kalian bisa berfoto dengan laki-laki berkoteka, dan bagi para cowok, bisa berfoto ria dengan perempuan-perempuan bertelanjang dada. Namun, setiap foto yang diambil, mereka akan meminta uang. Umumnya sejumlah 10 ribu tiap warga yang diajak foto.

bagi saya, yang sudah tinggal beberapa hari di sini, ini adalah hal biasa, karena setiap hari pasti menjumpai orang pakai koteka. Namun, jika kalian belum pernah ke sini, pasti hal seperti ini sangat mengagumkan, karena kita serasa di negeri zaman dahulu, zaman purba. Yang jarang diketahui, adalah bahwa jika para pengunjung sudah pulang, maka mereka akan berpakaian seperti biasa, memakai baju lagi, walaupun masih ada yang memang sehari-harinya memakai koteka dalam sehari-hari.
adheb's photo
Orang Dengan Pakaian Khas Pegunungan Tengah
Yang terakhir, yang membuat daerah ini terkenal adalah si Denias yang pasti diketahui oleh para penggemar film. Dengan filmnya, “Negeri di Atas Awan”. Film tersebut juga diambil di kampung ini, di belakang area mumi. Wajar memang, karena panorama di sini memang begitu indah, dan menakjubkan bagi saya, dengan bukit-bukit yang sangat mempesona, dengan beberapa honai yang ada. Bagi kalian yang belum pernah, hal semacam ini sangat jarang kalian temui, di Papua sekalipun kecuali kalian ke Papua bagian Pegunungan Tengah ini, dengan puncaknya yang terkenal, Puncak Cartenz. Siapkan saja tabungan dari sekarang, karena wisata seperti ini bukanlah wisata yang murah. haha.... Selamat mencoba kawan...

Selasa, 10 Juni 2014

Ambulance Yang Tersandera

Ambulance Yang Tersandera - Ambulance, bagi kita yang sedang sakit dan harus ke rumah sakit, merupakan moda transportasi yang diperlukan, apalagi jika digunakan untuk pengantar pasien oleh puskesmas atau rumah sakit. Sewajarnya, jika puskesmas mempunyai alat transportasi tersebut untuk mobilisasi pasien. Namun, tidak begitu dengan Puskesmas Yalengga ini. Mobil ambulance yang sekiranya digunakan sebagai fasilitas pemerintah ini malah dibawa oleh kepala puskesmas. Payahnya, sudah 4 tahun kepala puskesmas tidak pernah datang ke sini. Otomatis, jika ada pasien yang memerlukan rujukan ke rumah sakit, harus menggunakan angkutan umum untuk menuju ke kota.
Mobil Ambulance
Padahal, pemerintah menganggarkan fasilitas tersebut untuk menunjang aktifitas puskesmas, agar pelayanannya bisa maksimal. Jika tidak ada pasien, mungkin mobil tersebut bisa digunakan untuk antar jemput petugas puskesmas yang semuanya tinggal di kota, walaupun sebenarnya tidak diperbolehkan. Seperti di Puskesmas Hubikoshi misalnya, yang selalu menggunakan mobil ambulance untuk antar-jemput petugas. Hal seperti itu sebenarnya bisa memaksimalkan tingkat kehadiran petugas puskesmas. Bayangkan, jika setiap hari petugas puskesmas berangkat dari kota sejauh 40 kilo meter, dan mengeluarkan biaya 30 ribu sekali jalan. angkutan menuju ke puskesmas pun tidak selalu lancar. Jadi, jika mereka tidak masuk ataupun telat tiba di puskesmas, adalah hal yang wajar bagi mereka. Belum lagi adanya pemalakan di tengah jalan, warga yang mencegat mobil dan meminta uang. Hal seperti inilah yang paling tidak disukai petugas.
Namun jika ada mobil untuk antar jemput, maka mereka tidak usah bingung mencegat angkutan setiap hari, cukup mobil tersebut yang akan menjemput petugas, dan petugas bisa datang tepat waktu. Sehingga, pasien yang akan berobat ke puskesmas tidak selalu harus menunggu di depan puskesmas, sampai petugas puskesmas datang dan memberikan pelayanan. Di saat sekarang ini, hal seperti ini yang paling dibutuhkan oleh petugas, mengingat mereka juga masih takut akan keamanan di daerah, jika mereka harus tinggal di area puskesmas. Belum lagi fasilitas yang minim seperti air, listrik yang belum tentu ada.

Jumat, 23 Mei 2014

Kemuliaan Seorang Bidan Yang Terganjal Oleh Aturan

Kemuliaan Seorang Bidan Yang Terganjal Oleh Aturan - Terik matahari sudah mulai menyengat, aktivitas warga sudah mulai terlihat sejak tadi pagi. Maklum, jam sudah menunjukkan pukul 9 Waktu Papua. Biasanya, Hari Jumat seperti ini umumnya digunakan untuk agenda kebersihan, karena biasanya warga sudah tidak asing dengan istilah jumat bersih. Di pintu gerbang masuk area Puskesmas sana, Bapak Willem Tabuni, Kepala Puskesmas Asologaima sudah mulai sibuk bersama beberapa warga membersihkan jalan, karena Jum’at depan akan ada banyak pejabat yang datang, baik dari Dinas Kesehatan maupun dari Pemerintah Kabupaten setempat. Akan ada hajatan besar disini, yaitu dengan diresmikannya bangunan baru yang terletak persis di sebelah bangunan yang ada sekarang.
adheb's doc
Pasien sedang menunggu di teras Puskesmas
Seminggu lagi bangunan tersebut resmi dijadikan sebagai puskesmas rawat jalan, sementara puskesmas yang dipakai sekarang akan menjadi rawat inap. Bersamaan dengan itu pula, maka 2 bangunan rumah baru di belakang puskesmas yang telah dibangun selama 4 bulan ini juga secara resmi bisa ditempati oleh dokter, sehingga mereka tidak perlu jauh-jauh datang dari kota Wamena setiap hari. Dengan menetapnya dokter di puskesmas ini, otomatis Puskesmas Asologaima, yang merupakan puskesmas rawat inap ini bisa langsung menangani pasien kapan saja. Ke depan, bangunan-bangunan couple di sekitar puskesmas ini juga akan direhab, agar lebih banyak petugas puskesmas yang tinggal, dan bisa standby 24 jam.

Pagi itu saya duduk sendirian di puskesmas ini sambil mendengarkan musik. Setengah jam sudah saya berada di sini, menunggu petugas puskesmas, namun belum ada satupun petugas yang terlihat. tak berapa lama, datang ibu-ibu membawa anaknya untuk berobat. Ada 3 orang ibu-ibu yang membawa seorang anaknya. Namun ada seorang ibu yang juga membawa segepok noken di kepalanya. sambil menunggu petugas puskesmas, saya berbincang-bincang dengan ibu tersebut terkait noken, barang yang multifungsi bagi warga sini. saat iseng-iseng mengamati, ternyata di dalam noken yang dipanggulnya ada bayi mungil yang baru berusia beberapa bulan. Jika hanya sekilas saja, maka kita tidak akan tahu jika di dalam noken tersebut ada seorang bayi, karena bayi di dalam noken di sini jarang menangis. Di sela-sela kami mengobrol, ada juga 2-3 orang warga yang mau berobat, dan langsung pergi lagi, setelah tahu kalau puskesmas belum buka.

Lama kami mengobrol, hingga jam 10 baru ada seorang petugas yang datang menyalami kami, dan sekaligus membuka pintu puskesmas agar kami bisa masuk. dia adalah Mama Regina, bidan di puskesmas ini yang tinggal di salah satu rumah dinas puskesmas, terletak sekitar 20 meter di depan puskesmas ini. Setelah membuka pintu-pintu ruangan, ibu bidan datang ke kami, dan menyampaikan maaf terlebih dahulu. Aduh, maaf sekali ibu, petugas loket belum juga datang jadi,, saya belum bisa melayani ibu-ibu. Kemudian ibu bidan bercengkerama dengan kami, sesekali bercanda dengan anak kecil yang sedang bermain berlarian kesana-kemari.

30 menit sudah berlalu, ibu bidan mulai gelisah. Akhirnya, dia pulang ke rumah, ambil hp dan mencari tempat sinyal dan menelpon petugas loket yang bertugas hari ini. Petugas loket tersebut tinggal di Wamena. Biasanya jam 10 sudah tiba. Setelah tidak ada jawaban, beliau kembali datang ke kami, dan meminta kami menunggu. “Tunggu sebentar e… 30 menit lagi, siapa tau dorang datang”, sambil meminta maaf kepada kami. 30 menit berikutnya juga sudah berlalu, akhirnya dengan menyerah beliau meminta maaf kepada kami, dan meminta agar besok Senin kembali datang ke puskesmas. Maklum, di papan pengumuman, puskesmas buka sampai hari Jumat saja, dari pukul 08-12 wpb.

Sangat disayangkan, ketulusan hati seorang bidan, yang telah membaktikan dirinya 17 lebih ini tidak bisa melayani pasien puskesmas di saat jam pelayanan. Jika prosedur berobat tersebut, yang harus melalui berbagai tahapan dipangkas, maka akan ada berapa banyak pasien yang bisa tertolong setiap tahunnya, tanpa harus berbelit-belit mulai dari daftar sampai pasien mendapatkan obat. Semoga kemuliaanmu untuk mengabdikan diri di daerah terpencil takkan pudar, walau banyak masalah menantimu.

Kamis, 02 Januari 2014

Singgah ke Kampung RKI (Rumah Kayu Indonesia)


Singgah ke Kampung RKI (Rumah Kayu Indonesia) - Semilir angin sore serasa menembus tulang-tulang punggung, setelah baru saja mengangkut logistik untuk persiapan perjalanan sebulan ke depan. Lumayan banyak, dan yang pasti melelahkan. Setelah sebelumnya melakukan perjalanan dari Babo, langsung angkut2 barang untuk dinaikkan ke jeti dari ketinting yang kami tumpangi. Ketinting penuh dengan barang yang kami bawa, walau jumlah personil kami hanya 9 orang. Haha, jangan dilihat dari personilnya, tetapi itu adalah logistik kami selama sebulan lebih ke depan, ditambah kertas-kertas kuesioner pendataan yang lumayan banyak.
adheb's foto
Sore di Jety RKI
Jika melihat ke sebelah utara, terpampang laut dan pulau di depan yang cukup indah, di sebelah timur terpampang langit berwarna merah kebiruan, dengan awan yang bergerombol dan khas gerombolan awan disini berbaur dengan kilatan cahaya yang mirip seperti petir saat hujan di jawa, jarang terlihat jika kita memandang gerombolan awan di jogja. Maklum di sini tidak ada musim seperti di Jawa, yang ada musim penghujan atau kemarau. Di sini musim serba tidak jelas. Kadang terang, dan suatu ketika juga bisa terjadi hujan.

Melongok ke sebelah timur, ada pabrik udang, menjulang tinggi tanpa ada saingannya di sekitar situ. Di sebelah kiri saya, terlihat banyak kapal-kapal sedang bersandar, satu dua orang menjalankan long boot untuk menuju daerah lain. Dan di belakang, tentunya terlihat rumah-rumah warga yang sangat khas, karena semuanya terbuat dari kayu.
adheb's foto
Kondisi Jalan di RKI
Ya, disinilah aku berada saat ini. Jeti di kampung Sidomakmur, Distrik Wimro, Kabupaten Teluk Bintuni. Namun, orang menyebutnnya dengan Kampung RKI atau Rumah Kayu Indonesia. Gak tau kenapa dinamakan seperti ini. Tetapi yang jelas di sini semua bangunan hanya menggunakan bahan dari kayu. Begitu juga dengan jalan-jalan di sini. Semuanya beralaskan kayu di atas air dan di atas tanah. Jangan pikir ini di Papua, terus orangnya hitam keriting. Di RKI ini, mayoritasnya adalah para pendatang, baik dari Sulawesi, NTB, Kalimantan, Bima, Maluku, dan yang paling banyak adalah dari Jawa. Lebih dari setengah penduduk berasal dari Jawa, baik Sunda, Gresik, Tuban, Surabaya, Brebes, Banyuwangi, dan Probolinggo yang paling banyak. Makanya, jika kalian berbahasa jawa di sini, maka pastinya banyak yang tahu. 

Di sini, warganya banyak yang mencari udang, karena di sini adalah wilayah udang. Surga udang ada di daerah seputaran sini. Suatu ketika ada yang bercanda di sini, saat saya datang. Mas, di sini semua bisa, semua ada, namun cuman satu yang tidak. Di sini air yang susah. Memang, di sini warga mengandalkan dari air hujan. Namun, untuk makanan dan jajanan sehari hari, di sini malah lebih murah daripada di Babo. Tak tahu kenapa, tapi mungkin karena penduduknya banyak yang dari Jawa, singgah mereka tidak mengambil margin cukup banyak dala berjualan, tidak seperti orang-orang Papua biasanya. Tiba di sini, saya beli  es dawet, harganya hanya 3 ribu rupiah, begitu pula saat beli pop ice.

Air di sini cukup berharga, di saat tidak ada air hujan, mereka membeli air kolam, untuk dimasukkan ke drum drum simpanan mereka. mereka membayar jasa per drum sekitar 10 ribu rupiah. Jika di rumah hanya terdapat 2 atau 3 drum, maka mereka bisa mengisi 2 sampai tiga kali isi seminggu. Dikalikan saja jika setiap isi satu drum seharga sepuluh ribu. Namun tetap saja air dari kolam tersebut, yang asalnya juga dari air hujan hanya sebatas digunakan untuk mandi dan mencuci, karena airnya keruh, sedangkan untuk minum sehari-hari tetap saja mereka menyisihkan dari air hujan.
adheb's foto
Kolam Penampungan Air
Sebenarnya, di sini nama kampungnya adalah Sido Makmur. Zaman dahulu bernama Wimro, lalu sekitar tahun 1991 menjadi Trans Wimro, karena banyak pendatang yang berasal dari daerah lain, khususnya dari Jawa yang pindah ke sini. Para transmigran tersebut sekarang rata rata sudah mempunyai sertifikat tanah dan juga ladangnya. Bahkan sekarang tanah ataupun rumah mereka banyak yang disewakan untuk sesama pendatang yang datang belakanan. Karena hanya mereka yang ikut program ransmigrasi saja yang dapat tanah dari pemerintah. Namun, sampai sekarang tidak ada pajak PBB seperti tanah di Jawa pada umumnya

Hingga sekitar tahun 1993, mereka menamakan desa ini Sido Makmur, dengan harapan, warga di sini selalu makmur dan lebih sejahtera di masa yang akan datang. Namun, penamaan ini hanya sebatas secara kultural saja, dan hanya diakui secara de jure oleh masyarakat di Bintuni sini. Sekitar tahun 2010, Desa Sidomakmur secara resmi berdiri, dan diakui sampai Provinsi Papua Barat, mekar dari Wimro yang mempunyai wilayah di sebelah timur. Tidak tahu kenapa, di pusat nama Sido Makmur belum ada, hanya tercatat nama Wimro saja. Orang-orang di sini biasa berkata bahwa desa adanya desa ini hanya Tuhan lah yang mengetahui. Padahal, wilayah desa ini luasnya 10 ribu hektar, dengan sekitar 720 lebih warga yang mendiaminya.

Senin, 24 Desember 2012

Dana Otsus dan Permasalahan Papua

Dana Otsus dan Permasalahan Papua - “Bapa, kalau bapa sekarang punya babi berapakah? Saya supunya 8 ekor babi, yang 3 masih kecil, skitar 1-2 tahun, dan yang 5 subesar, skitar 4 tahun. Kalau kebun bapa ada berapakah? Ooo,, banyak di sana ada, sbelah sana ada, sebelah sana ada, sebelah sana lagi juga ada. Ada di mana-mana. Bapa,kalau boleh tahu, menurut bapa, bapa di sini kriterianya termasuk orang miskin, sedang, atau kaya? Waa, saya di sini miskin, liat saja, rumah masih bentuk honai, kita alat kebun tidak punya, alat masak pun seadanya..

Selasa, 20 November 2012

IMENO

Imeno - Desa imeno (S 02° 37ʹ 206Źŗ E140°10ʹ 677Źŗ), dulunya adalah desa Imsar, sebuah desa, dengan 3 wilayah yaitu, Imeno, Sarmai Atas, dan Sarmai Bawah, di bawah Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Papua. Namun, sekitar tahun 1990-an, ada pemekaran di desa ini, menjadi 3 kampung. Yaitu Sarmai Atas, Sarmai Bawah, dan Kampung Imeno. kemudian, seiring berjalannya waktu, Sarmai Atas dan Sarmai Bawah berada di bawah Distrik Namblong, karena adanya pemekaran distrik.

Sabtu, 10 November 2012

Ipere

Ipere, begitulah makanan atau lebih tepatnya makanan pokok orang Papua ini dikenal di daerah Wamena dan sekitarnya. Orang Indonesia Barat, mengenalnya dengan istilah ubi. Namun, di Papua ini ubi biasa disebut dengan berbagai kata, seperti ipere tadi, di daerah Yalengga sini,  Wamena dan sekitarnya, suburu, di daerah Yogosem, Kabupaten Yahukimo, dan sekitarnya, dan masih banyak lagi istilah lainnya, karena di Papua ini terdapat banyak suku dengan bahasa yang berbeda-beda. 
Ipere
Berbeda dengan di daerah Jawa, ubi di sini bentuknya lebih besar, dan yang paling penting, di sini sama sekali tanpa pupuk. Jadi, sudah tentu segar dan sehat, karna masyarakat sini belum mengenal (atau mungkin memang tidak butuh) yang namanya pupuk. Berbagai macam tanaman bisa tumbuh tanpa taburan pupuk, karena wilayah ini memang sudah subur sejak dahulu. 

Sangat disayangkan, jika pemerintah menggembor-gemborkan makanan pokok dengan padi, karena tanaman padi di sini sangat jarang. Jika harus memakan beras, maka bisa dikatakan mereka akan memakan makanan pokok hanya sekali dalam sebulan, yaitu pada saat pembagian raskin. Maklum, harga beras di sini sangat mahal. Beras bulog yang warnanya kuning, harganya sekitar 25.000. Bandingkan saja dengan harga di kota Wamena, yang harganya 15.000, di Jawa dengan harga kurang dari 5.000, dengan di pedalaman Papua seperti Yogosem, yang harganya bisa mencapai 50.000 per kilo. Sangat jauh memang. Itulah, keadaan di Papua yang sangat tergantung dengan wilayah topografinya. Semakin pedalaman wilayahnya, maka akan semakin mahal harganya, karena ongkos kirim baik menggunakan mobil, kapal, jalan kaki, maupun pesawat juga mahal. 

Setiap hari makanan pokok mereka masih sama saja dari dulu, yaitu ubi dengan dedaunan hasil ladang. Di sini, sudah agak mendingan, karena mereka sudah sedikit mengenal bumbu seperti penyedap rasa, bawang, maupun lombok. Bayangkan, waktu saya di Yogosem, yang untuk makan, sehari hari hanyalah ubi dengan sayur daun ubi saja. Untuk menambah rasa, kadang sayur daun ubi diberi sedikit garam. Maklum lah, daerahnya cukup tinggi, di lembah dengan ketinggian hampir 3.000 meter. Jadi, harga garam dan kebutuhan lainnya cukup mahal. 

Rata- rata,mereka  makan 2 kali sehari,yaitu pagi dan sore. Pagi hari, mereka makan sebelum keluar rumah, dan sore hari setelah pulang. Dari yang saya lihat, mereka umumnya hanya bisa mengolah ubi dengan direbus maupun dibakar. tidak ada olahan lain semacam digoreng, ditumbuk, atau dijadikan olahan lain seperti di Jawa. Maklum lah, untuk menggoreng saja, harga minyak goreng cukup mahal. Bagi mereka, jika perut sudah kenyang, maka cukup,tanpa harus menjadi olahan lain. 

Setiap hari, ubi mereka panen dari ladang, baik 1 noken, atau 2 noken. Panenan mereka pasti banyak, karena selain untuk makan sendiri, juga untuk makanan babi mereka yang habisnya malah jauh lebih banyak dari manusia. Seperti halnya manusia, biasanya babi makan setiap pagi dan sore hari. Namun, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tak jarang warga di sini menjual ubi ke kota. Mereka harus naik angkutan dengan biaya 25 ribu sekali jalan. Padahal, sekali bawa, ubi mereka laku sekitar 50-100 ribu saja, tergantung banyaknya ubi yang mereka bawa. Belum lagi untuk jajan mereka di kota. 

Di Wamena sendiri, harga ubi yang sudah digoreng 1.000 perak. Itupun cukup kecil, seperti gorengan di Jawa yang harganya 500 perak. Bayangkan, jika warga dapat mengolah dan menjualnya sendiri, pastinya mereka akan mendapatkan untung yang lumayan bukan..

Jumat, 02 November 2012

Kognitif Orang Papua

Kognitif Orang Papua - Pernahkah kalian mengetahui, apakah yang paling sulit dilakukan oleh orang Pegunungan Tengah, dari Wamena, Jayawijaya, Yahukimo, sampai daerah Puncak? Ya, sedikit jawaban yang saya tahu setelah keliling daerah itu, saya menyadari bahwa masalah umur dan masalah kognitif mereka agak kurang.

Minggu, 05 Agustus 2012

Sisi Lain Wamena

Sisi Lain Wamena - Menelisik para penjual di Wamena, ternyata omset di sini lumayan gede. Makanya, banyak para pendatang yang mencari nafkah sesuap nasi di sini. Mayoritas pedagang di sini adalah para pendatang, dan kebanyakan dari Jawa, khususnya Jawa Timur(an).. Segala sesuatu di sini mahal, karena akses ke kota ini hanyalah melalui udara. Gorengan yang di Jawa harga per bijinya 500 rupiah, di sini 1.000-2.000 rupiah. Omset sehari gak mati pasti selalu di atas 1 juta, bahkan sekitar 5 jutaan. Penjual gorengan di kota ini selalu ramai akan pembeli. Jika di Jawa, biasanya orang beli gorengan sekitar 5-10 ribu, maka di sini hal biasa orang beli gorengan 20,30,atau 50 ribu. Itu hal yang biasa. Begitu juga dengan makan. Standar makan di sini, 25-30 ribu. 

Selasa, 10 Juli 2012

Yalengga, Jayawijya

Yalengga, Jayawijya - Desa Yalengga, berada di Distrik Yalengga, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Desa ini mempunyai 6 RT/ dusun (karena RT dan dusun di sini tidak begitu berbeda). Dusun 1 terletak di pusat desa, dusun 2 agak ke timur, dusun 3 berada di dekat distrik, tetapi agak masuk ke dalam, dan juga berbatasan dengan desa Pilimo, yang merupakan desa pemekaran dari Yalengga. Dusun 4 berada di ujung, dusun 5 berada di tengah pulau dan dusun 6 di seberang lagi. Untuk sampai ke dusun 6, kita harus menyeberangi 2 sungai Baliem yang cukup lebar.

Kamis, 05 Juli 2012

Papua.. Buat Yang Belum Pernah Kesana

Papua.. Buat Yang Belum Pernah KesanaGak kebayang sebelumnya, aku bisa pergi sampai ke Papua. Pulau ujung Indonesia dan paling jauh dari tempat tinggalku. Namun, inilah keberkahan. Tuhan mengabulkan salah satu impianku, untuk pergi mengunjungi tempat-tempat di Indonesia. Keberangkatanku ke papua ini menggunakan salah satu maskapai kelas ekonomi (express air). Ada beberapa tempat yang harus saya singgahi untuk sampai ke Jayapura. Dari Jogja menuju ke Jayapura, saya harus transit di Surabaya, kemudian di Makassar, Sorong, dan terakhir di Manokwari, sebelum sampai di bandara Sentani, Jayapura.

Senin, 04 Juni 2012

Yogosem

Yogosem - Merupakan sebuah desa kecil, dengan mayoritas suku Hupla, dan sebagian kecil suku Jali. Bahasa sehari-hari mereka pun juga bahasa Hupla. Tetapi, mereka juga bisa berbahasa Jali,  karena di sini merupakan perbatasan antara suku Hupla dengan suku Jali. Lerak Kampung Yogosem berada di koordinat S: 04° 14' 50.6", dan E: 139° 10' 08.1" (4 Derajat, 14 menit, 50.6 Lintang Selatan dan 139 Derajat, 10 Menit, 8,1 Detik Bujur Timur) dengan ketinggian hampir 3.000 meter di atas permukaan laut.