Jumat, 23 Mei 2014

Kemuliaan Seorang Bidan Yang Terganjal Oleh Aturan

Kemuliaan Seorang Bidan Yang Terganjal Oleh Aturan - Terik matahari sudah mulai menyengat, aktivitas warga sudah mulai terlihat sejak tadi pagi. Maklum, jam sudah menunjukkan pukul 9 Waktu Papua. Biasanya, Hari Jumat seperti ini umumnya digunakan untuk agenda kebersihan, karena biasanya warga sudah tidak asing dengan istilah jumat bersih. Di pintu gerbang masuk area Puskesmas sana, Bapak Willem Tabuni, Kepala Puskesmas Asologaima sudah mulai sibuk bersama beberapa warga membersihkan jalan, karena Jum’at depan akan ada banyak pejabat yang datang, baik dari Dinas Kesehatan maupun dari Pemerintah Kabupaten setempat. Akan ada hajatan besar disini, yaitu dengan diresmikannya bangunan baru yang terletak persis di sebelah bangunan yang ada sekarang.
adheb's doc
Pasien sedang menunggu di teras Puskesmas
Seminggu lagi bangunan tersebut resmi dijadikan sebagai puskesmas rawat jalan, sementara puskesmas yang dipakai sekarang akan menjadi rawat inap. Bersamaan dengan itu pula, maka 2 bangunan rumah baru di belakang puskesmas yang telah dibangun selama 4 bulan ini juga secara resmi bisa ditempati oleh dokter, sehingga mereka tidak perlu jauh-jauh datang dari kota Wamena setiap hari. Dengan menetapnya dokter di puskesmas ini, otomatis Puskesmas Asologaima, yang merupakan puskesmas rawat inap ini bisa langsung menangani pasien kapan saja. Ke depan, bangunan-bangunan couple di sekitar puskesmas ini juga akan direhab, agar lebih banyak petugas puskesmas yang tinggal, dan bisa standby 24 jam.

Pagi itu saya duduk sendirian di puskesmas ini sambil mendengarkan musik. Setengah jam sudah saya berada di sini, menunggu petugas puskesmas, namun belum ada satupun petugas yang terlihat. tak berapa lama, datang ibu-ibu membawa anaknya untuk berobat. Ada 3 orang ibu-ibu yang membawa seorang anaknya. Namun ada seorang ibu yang juga membawa segepok noken di kepalanya. sambil menunggu petugas puskesmas, saya berbincang-bincang dengan ibu tersebut terkait noken, barang yang multifungsi bagi warga sini. saat iseng-iseng mengamati, ternyata di dalam noken yang dipanggulnya ada bayi mungil yang baru berusia beberapa bulan. Jika hanya sekilas saja, maka kita tidak akan tahu jika di dalam noken tersebut ada seorang bayi, karena bayi di dalam noken di sini jarang menangis. Di sela-sela kami mengobrol, ada juga 2-3 orang warga yang mau berobat, dan langsung pergi lagi, setelah tahu kalau puskesmas belum buka.

Lama kami mengobrol, hingga jam 10 baru ada seorang petugas yang datang menyalami kami, dan sekaligus membuka pintu puskesmas agar kami bisa masuk. dia adalah Mama Regina, bidan di puskesmas ini yang tinggal di salah satu rumah dinas puskesmas, terletak sekitar 20 meter di depan puskesmas ini. Setelah membuka pintu-pintu ruangan, ibu bidan datang ke kami, dan menyampaikan maaf terlebih dahulu. Aduh, maaf sekali ibu, petugas loket belum juga datang jadi,, saya belum bisa melayani ibu-ibu. Kemudian ibu bidan bercengkerama dengan kami, sesekali bercanda dengan anak kecil yang sedang bermain berlarian kesana-kemari.

30 menit sudah berlalu, ibu bidan mulai gelisah. Akhirnya, dia pulang ke rumah, ambil hp dan mencari tempat sinyal dan menelpon petugas loket yang bertugas hari ini. Petugas loket tersebut tinggal di Wamena. Biasanya jam 10 sudah tiba. Setelah tidak ada jawaban, beliau kembali datang ke kami, dan meminta kami menunggu. “Tunggu sebentar e… 30 menit lagi, siapa tau dorang datang”, sambil meminta maaf kepada kami. 30 menit berikutnya juga sudah berlalu, akhirnya dengan menyerah beliau meminta maaf kepada kami, dan meminta agar besok Senin kembali datang ke puskesmas. Maklum, di papan pengumuman, puskesmas buka sampai hari Jumat saja, dari pukul 08-12 wpb.

Sangat disayangkan, ketulusan hati seorang bidan, yang telah membaktikan dirinya 17 lebih ini tidak bisa melayani pasien puskesmas di saat jam pelayanan. Jika prosedur berobat tersebut, yang harus melalui berbagai tahapan dipangkas, maka akan ada berapa banyak pasien yang bisa tertolong setiap tahunnya, tanpa harus berbelit-belit mulai dari daftar sampai pasien mendapatkan obat. Semoga kemuliaanmu untuk mengabdikan diri di daerah terpencil takkan pudar, walau banyak masalah menantimu.

Senin, 10 Maret 2014

BSM (Bantuan Siswa Miskin)

Bantuan Siswa Miskin (BSM) - BSM (Bantuan Siswa Miskin) mulai dikenalkan oleh pemerintah sejak tahun 2008 untuk membantu siswa miskin agar dapat mengakses pendidikan ke jenjang yang tinggi. Minimal sesuai dengan program pemerintah, wajib belajar 9 tahun, yaitu sampai tingkat SMP atau sederajat. Seiring meningkatnya alokasi anggaran untuk pendidikan, yaitu sebanyak 20% dari APBN, maka kuota penerima manfaat BSM pun ikut meningkat dengan harapan, siswa di Indonesia bisa sekolah sampai jenjang SMA (12 Tahun Wajib Belajar). Kuota penerima BSM tahun ajaran 2012-2013 dan 2013-2014 ini menargetkan penerima BSM potensial sebanyak 1.260.400 siswa, dengan alokasi :

Kamis, 02 Januari 2014

Singgah ke Kampung RKI (Rumah Kayu Indonesia)


Singgah ke Kampung RKI (Rumah Kayu Indonesia) - Semilir angin sore serasa menembus tulang-tulang punggung, setelah baru saja mengangkut logistik untuk persiapan perjalanan sebulan ke depan. Lumayan banyak, dan yang pasti melelahkan. Setelah sebelumnya melakukan perjalanan dari Babo, langsung angkut2 barang untuk dinaikkan ke jeti dari ketinting yang kami tumpangi. Ketinting penuh dengan barang yang kami bawa, walau jumlah personil kami hanya 9 orang. Haha, jangan dilihat dari personilnya, tetapi itu adalah logistik kami selama sebulan lebih ke depan, ditambah kertas-kertas kuesioner pendataan yang lumayan banyak.
adheb's foto
Sore di Jety RKI
Jika melihat ke sebelah utara, terpampang laut dan pulau di depan yang cukup indah, di sebelah timur terpampang langit berwarna merah kebiruan, dengan awan yang bergerombol dan khas gerombolan awan disini berbaur dengan kilatan cahaya yang mirip seperti petir saat hujan di jawa, jarang terlihat jika kita memandang gerombolan awan di jogja. Maklum di sini tidak ada musim seperti di Jawa, yang ada musim penghujan atau kemarau. Di sini musim serba tidak jelas. Kadang terang, dan suatu ketika juga bisa terjadi hujan.

Melongok ke sebelah timur, ada pabrik udang, menjulang tinggi tanpa ada saingannya di sekitar situ. Di sebelah kiri saya, terlihat banyak kapal-kapal sedang bersandar, satu dua orang menjalankan long boot untuk menuju daerah lain. Dan di belakang, tentunya terlihat rumah-rumah warga yang sangat khas, karena semuanya terbuat dari kayu.
adheb's foto
Kondisi Jalan di RKI
Ya, disinilah aku berada saat ini. Jeti di kampung Sidomakmur, Distrik Wimro, Kabupaten Teluk Bintuni. Namun, orang menyebutnnya dengan Kampung RKI atau Rumah Kayu Indonesia. Gak tau kenapa dinamakan seperti ini. Tetapi yang jelas di sini semua bangunan hanya menggunakan bahan dari kayu. Begitu juga dengan jalan-jalan di sini. Semuanya beralaskan kayu di atas air dan di atas tanah. Jangan pikir ini di Papua, terus orangnya hitam keriting. Di RKI ini, mayoritasnya adalah para pendatang, baik dari Sulawesi, NTB, Kalimantan, Bima, Maluku, dan yang paling banyak adalah dari Jawa. Lebih dari setengah penduduk berasal dari Jawa, baik Sunda, Gresik, Tuban, Surabaya, Brebes, Banyuwangi, dan Probolinggo yang paling banyak. Makanya, jika kalian berbahasa jawa di sini, maka pastinya banyak yang tahu. 

Di sini, warganya banyak yang mencari udang, karena di sini adalah wilayah udang. Surga udang ada di daerah seputaran sini. Suatu ketika ada yang bercanda di sini, saat saya datang. Mas, di sini semua bisa, semua ada, namun cuman satu yang tidak. Di sini air yang susah. Memang, di sini warga mengandalkan dari air hujan. Namun, untuk makanan dan jajanan sehari hari, di sini malah lebih murah daripada di Babo. Tak tahu kenapa, tapi mungkin karena penduduknya banyak yang dari Jawa, singgah mereka tidak mengambil margin cukup banyak dala berjualan, tidak seperti orang-orang Papua biasanya. Tiba di sini, saya beli  es dawet, harganya hanya 3 ribu rupiah, begitu pula saat beli pop ice.

Air di sini cukup berharga, di saat tidak ada air hujan, mereka membeli air kolam, untuk dimasukkan ke drum drum simpanan mereka. mereka membayar jasa per drum sekitar 10 ribu rupiah. Jika di rumah hanya terdapat 2 atau 3 drum, maka mereka bisa mengisi 2 sampai tiga kali isi seminggu. Dikalikan saja jika setiap isi satu drum seharga sepuluh ribu. Namun tetap saja air dari kolam tersebut, yang asalnya juga dari air hujan hanya sebatas digunakan untuk mandi dan mencuci, karena airnya keruh, sedangkan untuk minum sehari-hari tetap saja mereka menyisihkan dari air hujan.
adheb's foto
Kolam Penampungan Air
Sebenarnya, di sini nama kampungnya adalah Sido Makmur. Zaman dahulu bernama Wimro, lalu sekitar tahun 1991 menjadi Trans Wimro, karena banyak pendatang yang berasal dari daerah lain, khususnya dari Jawa yang pindah ke sini. Para transmigran tersebut sekarang rata rata sudah mempunyai sertifikat tanah dan juga ladangnya. Bahkan sekarang tanah ataupun rumah mereka banyak yang disewakan untuk sesama pendatang yang datang belakanan. Karena hanya mereka yang ikut program ransmigrasi saja yang dapat tanah dari pemerintah. Namun, sampai sekarang tidak ada pajak PBB seperti tanah di Jawa pada umumnya

Hingga sekitar tahun 1993, mereka menamakan desa ini Sido Makmur, dengan harapan, warga di sini selalu makmur dan lebih sejahtera di masa yang akan datang. Namun, penamaan ini hanya sebatas secara kultural saja, dan hanya diakui secara de jure oleh masyarakat di Bintuni sini. Sekitar tahun 2010, Desa Sidomakmur secara resmi berdiri, dan diakui sampai Provinsi Papua Barat, mekar dari Wimro yang mempunyai wilayah di sebelah timur. Tidak tahu kenapa, di pusat nama Sido Makmur belum ada, hanya tercatat nama Wimro saja. Orang-orang di sini biasa berkata bahwa desa adanya desa ini hanya Tuhan lah yang mengetahui. Padahal, wilayah desa ini luasnya 10 ribu hektar, dengan sekitar 720 lebih warga yang mendiaminya.

Senin, 25 November 2013

PULANG



Pulang - Sebuah novel karya Leila S. Chudori yang cukup bagus. Pertama membaca, awalnya agak begitu malas untuk melanjutkan, karena selain novelnya yang cukup tebal, juga alurnya agak susah untuk dipahami. Namun, jika kalian menyelesaikan seperempat buku saja, maka kalian akan ketagihan untuk menyelesaikannya, karena di dalamnya sangat kompleks. Penulis memposisikan diri menjadi beberapa peran. Mulai dari seorang Hananto Prawiro, temannya, Dimas Suryo, istrinya seorang warga negara Prancis, Vivienne Deveraux, dan sebagai anaknya, Lintang. Ia memposisikan diri menjadi mereka semua, bersama rekan rekan eksil politik kala itu.

Rabu, 30 Oktober 2013

Trip Rinjani (part2)


Trip Rinjani (part2) - Pulang dari Kalimantan, langsung ada temen yang nge whatsapp, posisi? Seperti biasa, jika dia tanya keberadaanku pasti kalimatnya gak jauh-jauh beda, seperti itu. Ya, memang aku banyak dikenal sebagai seorang yang nomadden Kadang tinggal di Jogja, kadang di rumah, dan paling sering pindah-pindah tempat di kota lain, karena tuntutan hidup. Langsung saja kubalas, "Gi di Jogja bro". Langsung balasan selanjutnya, aku diajak untuk mendaki ke Rinjani, gunung yang cukup favorit bagi kalangan pendaki, karena Danau Segara Anakan-nya yang terkenal cantik nan indah. Dia sudah lama mengajakku, bahkan sebelum aku berangkat ke Kalimantan, bulan lalu.
adheb's doc
Pemandangan Rinjani dari Plawangan Sembalun
Dia dan temannya, memang sudah lama ingin mendaki ke gunung ini, gak tau kenapa, tapi itulah keinginan mereka sejak lama. Bahkan, keinginan sebelummnya dicancel mereka, lantaran aku gak bisa menemani mereka. Waktu itu aku masih ada urusan di Kalimantan, hingga akhirnya sampailah di hari ini, kami berangkat ke Rinjani. Temenku ingin aku ikut, karena aku sudah pernah ke tempat itu 3 tahun yang lalu, sehingga dia merasa aman jika ada personil yang sudah pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya.
Aku putuskan untuk berangkat, walaupun harus rela meninggalkan kesempatan yang cukup dinantikan banyak orang yang baru lulus. CPNS. Ya, sungguh berat memang, melepaskan kesempatan yang satu ini. Di satu sisi, pasti yang namanya orang mencari pekerjaan ingin sesuatu yang terjamin, mapan, tetapi aku juga masih mengejar cita-citaku, walau itu sangat-sangat tidak pasti. Yang paling penting, adalah usaha kita, karena aku yakin, dan aku sangat legowo, jika kita sudah berusaha semaksimal mungkin, pasti ada suatu hikmah yang akan kita terima. masalah berhasil atau tidaknya, itu sudah urusan lain.
Seperti dulu, pendakian keduaku ini "ngeteng" yaitu perjalanan yang lanjut-berlanjut, karena mengingat budget kita yang terbatas, dalam bahasa kerennya, backpacker-an gitu. Dari jogja, pagi-pagi sudah harus cabut ke stasiun, naik Sri Tanjung. Satu-satu nya kereta ekonomi jarak jauh jurusan Banyuwangi. Malam hari, kami menginap dulu di Banyuwangi, sambil menjemput teman yang akan ikut kami, 2 orang dari sini.
Sebenarnya, kami mau langsung berangkat malam ini juga, namun karena teman kami masih ada kerjaan yang belum beres, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat besok siang. Malam ini, kami mempersiapkan kebutuhan dahulu, dan tidur agar besok pagi fresh.
Hari berikutnya, kami bersiap diri untuk perjalanan ke lombok. Dengan diantar mobil bak terbuka, kami berangkat berlima menuju ke Pelabuhan Ketapang. Tidak terlalu lama, 15 menit saja kami sudah tiba di Ketapang. Disana, sudah ada kawan yang menunggu, karena dia memang bekerja di kantor kapal. Kami langsung diantar menuju ke kapal, dan setelah itu dia kembali ke kantor di Ketapang, karena ada rapat. Lumayan, dapat tumpangan gratisan dengan kelas VIP. 
Di dalem sudah ada kantin, dan ruangan ber-aAC namun kami memilih duduk di luar sambil menikmati pemandangan selat Bali ini, ditemani kopi yang dibeli, lebih tepatnya gratisan lagi, karena tidak mau dibayar. Gelombang waktu itu tergolong besar, menemani kami perjalanan sekitar sejam.
Tiba di Gilimanuk sekitar pukul 2 siang, kami langsung keluar mencari angkutan arah Ubung. Lalu dari  ubung lanjut ke Padangbai .Jika malam hari, sebenarnya kalian bisa langsung cari angkutan yang menuju ke arah Padangbai. Di Padangbai, melanjutkan penyeberangan menuju ke Lembar. Biaya penyeberangan saat ini 40 ribu. Dari Lembar, kami menuju ke Mataram terlebih dahulu.
Biaya standar biasanya 15 ribu, namun karena masih terlalu dini hari dan ada salah sorang yang ingin cepat sampai ke Mataram, akhirnya kami menyewa mobil, dengan harga 25 ribu per orang. Di Mataram, tujuan kami adalah terminal Mandalika Bertais. Terminal Mandalika ini terletak di Bertais, sehingga kadang orang menyebutnya terminal Mandalika atau terminal Bertais.
Tujuan kami langsung ke barat terminal, tempat orang ngedrop sayuran, karena mereka hampir semuanya berasal dari Sembalun. Kami mencari salah satu tumpangan untuk menuju ke Sembalun, dan akhirnya dapat juga. Setelah tawar menawar, jadilah biaya per orang 30 ribu sampai ke beskem sembalun. Namun, kami menunggu dulu mereka mengantar sayuran ke penjual-penjual sayuran di sekitar area pasar sini. Mereka setiap hari mengedrop sayuran ke pedagang, sambil mengambil uang hari kemarin, jadi, bisa dibilang sistimnya adalah menitipkan sayuran ke para pedagang.
Sebenarnya, biaya ke Sembalun memang sekitar segitu. Jika naik angkutan, dari Mataram kita ke Aikmal, 15 ribu, dan dari Aikmal kita lanjut ke Sembalun sekitar 15 sampai 20 ribu. Dahulu, angkutan dari Aikmal menuju ke Sembalun cukup banyak, namun sekarang hanya tinggal beberapa biji saja. Jika sudah melewati hutan-hutan, maka kita akan menjumpai banyak kera di pinggir pinggir jalan. Mereka biasanya meminta makanan jika ada orang yang lewat.
Tiba di sembalun, kita langsung ke beskem untuk registrasi, istirahat dan sholat sebentar, dilanjutkan naik ke atas. Jika ingin menyewa porter, maka biayanya 125 ribu. Namun, biasanya porter di sini maunya minimal 2 malam. bisa saja hanya semalam, namun harganya tergantung nego. Biasanya, porter tidak mau kalau diminta untuk jalan malam hari. Rencana awal kita menginap di pos 2, namun karena masih sore, akhirnya kita hanya mengambil air saja di pos 2, dan lanjut menginap tepat di atas sebelum pos 3.
Esok pagi, kita melanjutkan perjalanan ke Plawangan Sembalun. Perjalanan kali ini juga cukup panas, karena kita melakukan perjalanan di siang hari. sekitar pukul 2 siang, kita sudah tiba di Plawangan, langsung mendirikan tenda dan menikmati suasanya keindahan alam ini. Setiap hari, turis yang naik ke sini cukup banyak, bahkan orang lokal yang mendaki ke sini hanya sepertiga turis manca.
Malam hari, kita bersiap-siap untuk summit. Tepat pukul 2 dini hari, kita melakukan perjalanan ke puncak. Perjalanan ke puncak sangat dingin, karena angin cukup kencang. Bagi kalian yang ingin ke puncak, sebaiknya memakai sepatu dan pakaian hangat, agar tidak terlalu kedinginan. Perjalanan ke puncak ini didominasi oleh pasir berbatu, sehingga 3 tanjakan yang kita gerakkan, bisa saja merosot 1 tanjakan. seperti jika kita summit di Semeru.
Tiba di puncak sekitar pukul 6 pagi, istirahat dan foto-foto. Hal yang wajib silakukan, sebagai kenang-kenangan. Seperti kode etik yang selalu kupegang, dilarang mengambil sesuatu kecuali gambar. Puas berfoto-doto, kami turun, kembali ke tenda. Karena teman-teman terlalu lelah, akhirnya kita istirahat dulu, dan baru melanjutkan perjalanan ke danau pukul 2 siang.
Perjalanan ke danau sekitar 4 jam, menuruni punggungan. perjalanan kami cukup santai, dan tiba di danau pukul 6 sore. Langsung mendirikan tenda, dan mandi di air hangat. Baru memasak untuk suplai gizi kami, sesuai semboyan, “Logika tanpa logistik naĆÆf”. Tak lupa mancing, karena sudah dipersiapkan saat kita berangkat. Pagi hari, kembali memancing, sampai siang, lalu kembali berendam di air hangat. Karena sedang musim kemarau, maka air terjun di dekat pemandian air hangat ini tidak mengalir, tidak seperti perjalanan pertama saya, yang bisa menikmati mandi di air terjun ini waktu itu.
Sebenarnya, jika ingin mandi di sini enaknya pagi atau sore hari, disaat udara dingin, kita bisa berlama-lama merendam tubuh di kolam, namun karena kami akan melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan diri sejenak untuk berendam lagi, sebelum meninggalkan danau ini. Pukul 2 siang, kami melanjutkan perjalanan ke Plawangan Senaru. Perjalanan ke Plawangan ini sekitar 4 jam, dan kalian bisa berfoto-foto, karena banyak spot-spot yang cantik di perjalanan ke Plawangan Senaru ini, dengan latar Gunung Anak Rinjani, Danau Segara Anakan, dan juga Puncak Rinjani. Pas sebelum matahari tenggelam kami tiba si Plawangan Senaru.
adheb's doc
Memancing Sejenak di Danau Segara Anakan
Pemandangan inilah yang paling bagus menurut saya, karena di sini, kita bisa berfoto, dengan latar belakang seperti tadi. Namun, pemandangan ini terlihat di pagi dan sore hari, karena biasanya siang hari tertutup kabut. Begitu juga dengan sunset di sini, menghadap kemanapun, pemandangan terlihat sangat indah, dengan berbagai bukit-bukit yang menghiasi pemandangan mata kita berhampar begitu luas.
Kami melanjutkan perjalanan malam, dan mendirikan tenda di pos 2. Sebenarnya, sebelum pos 2 ada keinginan untuk istirahat, tetapi akhirnya diurungkan dan lebih memilih untuk ngecamp di pos. malam ini, kami memasak ikan hasil pancingan tadi siang, lumayan menggoda, setelah perjalanan yang cukup melelahkan, hidangan kali ini sangat spesial. yang tadinya sesampai di pos ingin tidur, akhirnya ikutan makan, mengingat bau ikan goreng yang tak tahan untuk tidak mencicipinya. akhirnya, jam 12 malam kita baru istirahat.
Bangun pagi, saya langsung keluar dan mencari sumber air. Maklum, air kita tinggal stengah botol. Pasti tidak cukup untuk memasak dan bekal turun. Sekitar 100 meter dari tempat camp terdapat mata air, namun airnya tidak begitu bersih. Sayapun mengambilnya botol demi botol, dengan menggali pasir terlebih dahulu, agar keluar airnya. Setelah dirasa cukup, saya kembali naik dan memasak. Pagi ini masak terakhir kita, untuk itu kami menghabiskan logistik yang ada, sebelum turun ke beskem. selesai makan sekitar jam 9, kita lanjut turun. Dari pos 2 menuju ke pos ekstra, dan dari pos ekstra dilanjutkan ke pos 1. Istirahat sekitar 15 menit di pos 1, kami lanjut ke gerbang masuk Rinjani via Senaru.
Setelah sekitar sejam perjalanan, kami tiba, dan istirahat di sini untuk melepas lelah, sambil minum sebentar. Puas istirahat, kami melanjutkan lagi perjalanan ke beskem Senaru. Sampai di sana, langsung saja saya mencari angkutan ke jalur bis terdekat, sembari menunggu teman yang lain tiba.
Setelah mencari kesana-kemari, dan tidak dapat, akhirnya saya mengambil alternatif, yaitu mencari ojek. Jika beruntung, sebenarnya kita bisa dapat angkutan jika ada turis yang datang, lalu kita nego untuk mengantarkan ke tempat tujuan kita. Itu biasanya di pagi hari, karena kebanyakan turis datang ke sini di pagi hari dan langsung mendaki.
adheb's doc
Plawangan Senaru
Biaya ojek standar,25 ribu per orang sampai ke terminal Anyar. Dari terminal, lanjut perjalanan ke Lembar. Karna ingin cepat, akhirnya kita naik angkutan dengan tarif 225 ribu, sampai ke pelabuhan lembar. Padahal, tarif biasa tidak sampai segitu. Niat ingin cepat sampai, ternyata tiba di pelabuhan kami diminta lagi uang 30 ribu oleh supir, karena sebelum sampai di pelabuhan, kami dioper ke mobil trayek pelabuhan sini. Saya tidak aneh, karena sebelumnya pun saya juga mengalami hal yang sama.
Perjalanan Lembar-Padang Bai kali ini lebih cepat, dari yang biasanya 6 jam bahkan lebih, kali ini penyeberangannya hanya 3 jam saja, gak tau kenapa, karena lumayan lebih cepat dari waktu standarnya. Sampai di Padang Bai, kami istirahat, sambil menunggu truk di luar pelabuhan. Karena hari sudah malam, kami cukup kesulitan untuk menyetop truk menuju ke Ketapang. Akhirnya, kami istirahat, tidur sebentar sambil menunggu pagi. Sekitar jam 2 dini hari, ada orang datang, dan menawarkan tumpangan. Setelah nego- nego, akhirnya kami ikut angkutan sampai ke Ubung, dengan biaya 100 ribu.
Tiba di Ubung masih jam 4 pagi, dilanjut mencari angkutan ke terminal Gilimanuk. Biaya per orang 35 ribu. Namun, jika tidak melakukan penawaran terlebih dahulu, kalian akan diminta uang lebih, sekitar 35 sampai 40 ribu. Dari terminal Gilimanuk lanjut jalan menuju ke pelabuhan sekitar 100 meter, dan menyeberang menuju ke ketapang. Biaya penyeberangan 6.500 per orang. Dari ketapang kami singgah dulu di Banyuwangi. Di sana kami menginap semalam, dan jalan- jalan keliling Banyuwangi. Sebenarnya ingin lebih lama di Banyuwangi, namun karena masih ada urusan di Jogja, akhirnya saya pulang terlebih dahulu.
Tibalah saya sampai jogja kembali.... 

Jumat, 11 Oktober 2013

Sepowerfull Apakah KPS (Kartu Perlindungan Sosial) itu ?





Sepowerfull Apakah KPS (Kartu Perlindungan Sosial) itu? - Kenaikan harga BBM, berdampak pada kenaikan segala kebutuhan pokok di masyarakat. Bahkan, sebelum BBM naik, yaitu pada saat isu kenaikan BBM santer, beberapa kebutuhan pokok sudah naik terebih dahulu. Tak pelak, Presiden SBY megumumkan kenaikan BBM (bisa dibilang) secara tiba-tiba, dimana kenaikan harga BBM dipastikan terjadi secara pasti hanya dalam beberapa hari setelah info resmi beredar. Setelah Presiden SBY mengumumkan kenaikan BBM, maka tengah malam saat itu juga harga BBM naik, dan 8 kota besar di Indonesia diharuskan untuk membagikan kartu KPS (Kartu Perlindungan Sosial) secara serentak.

Senin, 26 Agustus 2013

Krakatau

Gunung Anak Krakatau - Gunung Krakatau, merupakan salah satu gunung incaranku sedari dulu, ingin bersahabat dengannya, agar bisa menikmati sekaligus merasakan indahnya pemandangan sekitar dari atas gunung ini. Cukup lama aku berkeinginan untuk menapakkan kaki di sini. Bukan karena apa, mengingat budget untuk mendaki ke Gunung Krakatau cukup mahal, karena menggunakan perjalanan laut dengan menyewa kapal, berbeda dengan gunung-gunung yang lain di Jawa yang bisa dituju menggunakan perjalanan darat.
adheb's foto
Krakatau, Dari Tengah Laut
Untuk menuju ke Krakatau, maka kita harus ke Lampung terlebih daluhu, karena itu merupakan akses yang harus dituju untuk saat ini. Mungkin kelak jika JSS (Jembatan Selat Sunda) selesai, ada rute yang lebih mudah untuk menuju ke sana. Jika dari Jakarta, perjalanan ke Merak memakan waktu sekitar 3 jam, melewati Serang, baru Cilegon. Angkutannya bisa menggunakan bus, ataupun kereta.
Jika menggunakan bus, maka kita turun di Terminal Merak, dan masih harus menempuh perjalanan lagi sekitar 300 meter menuju ke pelabuhan. Jika tidak ingin capek, maka kalian bisa naik ojek, dengan biaya 5.000 rupiah sampai ke pelabuhan. Namun, jika ingin berjalan kaki sambil menikmati perjalanan, kalian tidak akan terasa capek, karena di sepanjang perjalanan banyak terdapat penjual.
Biaya perjalanan dari Merak ke Bakauheni sekitar 13.000 rupiah, dan kadang ada juga kapal yang menarik biaya tambahan, jika kita ingiin berada di kelas yang lebih baik. Namun, tidak semua kapal menarik biaya, karena ada juga kapal yang fasilitasnya bagus, tanpa ada biaya tambahan apapun. Perjalanan dari Merak ke Bakauheni ini sekitar 3 jam lebih.

Dari Pelabuhan Bakauheni, kita naik angkutan lagi sekitar satu jam menuju ke dermaga Canti, baru menyeberang ke pulau yang akan kita tuju. Tujuan utamanya tidak lain adalah Pulau Anak Krakatau. Namun, rugi jika kita tidak sekalian mengunjungi ke beberapa pulau yang ada, seperti Pulau Sebuku Besar, Sebuku Kecil, Ora, dan masih banyak lagi Pulau-pulau lainnya. Namun, yang nyaman untuk menginap di Pulau Sebuku Besar atau Pulau Sebesi, karena di sana terdapat permukiman warga sejak dahulu.
Sementara, perjalanan yang saya lalui dari Dermaga Canti menuju ke Gunung Anak Krakatau, namun singgah sebentar di Pulau Sebesi untuk mengambil makan siang. Perjalanan sekitar 3 jam, kita sampai di Pulau anak Krakatau. Tiba di sana, kita istirahat sebentar untuk makan siang, baru melanjutkan perjalanan untuk mendaki ke Gunung Anak Krakatau.
Sebelum puncak, kita melakukan ritual tujuan utama kita, yaitu upacara 17 Agustus, dengan mengibarkan bendera raksasa merah putih ukuran sekitar 11x18 meter. Upacara bendera cukup tertib, bahkan sang pemimpin upacara membacakan puisi dengan menggebu-gebu, disaksikan peserta upacara, puncak Krakatau, langit, dan ombak yang berdebur di bawah sana.

adheb's foto
Upacara Bendera 17 Agustus
Selesai upacara, dianjutkan dengan pendakian ke puncak. Pendakian dari bawah ke atas tidaklah sesulit mendaki gunung pada umumnya, karena hanya 30 menit saja kita sudah bisa sampai di atas. Sebenarnya di sebelah masih ada puncak tinggi. Namun, karena masih labil, jadi setiap pendakian Gunung Anak Krakatau hanya diperbolehkan sampai di sini saja, sangat cocok untuk pendaki pemula dan wisata pendakian. Medan di sini hampir mirip dengan puncak merapi (jika kalian pernah mendaki Gunung Merapi), dari Pasar Bubrah hingga ke Puncak. Banyak terdapat batu pasir yang juga labil, jika kita tidak berhati-hati. Namun, jangan dibayangkan jika kemiringannya seterjal Merapi, karena kemiringan di sini tidak ada setengahnya.

adheb's foto
Puncak Krakatau, sampai saat ini masih labil
Dari informasi yang ada, di Pulau anak Krakatau daerah punggung umumnya masih gundul, karena suhu cukup tinggi dan kekurangan air. Di sini dijumpai jenis tumbuhan pionir seperti gelagah (Saccharum spontaneum) yang bersimbiosis dengan Azospirrilum Lippoterrum. Pada bagian bawah yang telah ditumbuhi gelagah terjadi proses pelapukan pasir di sekitarnya, yang kemudian akan tumbuh jenis Melastoma Affine dan jenis-jenis tumbuhan lainnya.
Saat ini, keanekaragaman flora di Kepulauan Krakatauantara tercatat antara lain 206 fungi, 13 jenis Lichennes, 61 jenis paku-pakuan (Pteridophyta) dan sekitar 257 jenis Spermatophyta. Untuk fauna sendiri terdiri darimamalia seperti jenis Rattus (tikus), dan Magaderma (kalong). Kelompok aves ada sekitar 40 jenis dari yang berukuran besar sampai yang berukuran kecil, diantaranya adalah Centropus Bengalensis, Coprimolgus Offinis, Falco severus, lalage Nigra, Tecrycotera Relitea, Plegadis Sp, Nectarina Sp. Kelompok reptil selain biawak dan penyu, juga terdapat ular ukuran besar seperti sanca hingga ukuran kecil.
Pembentukan Komplek Gunung Krakatau pada masa pra sejarah diawali dengan adanya sebuah gunung api besar disebut dengan Krakatau Besar, berbentuk seperti kerucut. Pada ratusan ribu tahun yang lalu terjadi letusan dahsyat yang menghancurkan dan menenggelamkan lebih dari 2/3 bagian krakatau. Akibat letusan gunung tersebut menyisakan 3 pulau kecil, yaitu Pulau Rakata, Panang, dan Sertung. Pertumbuhan lava yang terjadi di dalam kaldera rakata membentuk dua puau fulkanik baru, yaitu Danan dan Perbuatan.
Pada tanggal 27 Agustus 1883 terjadi letusan besar dan menghancurkan sekitar 60% tubuh Krakatau di bagian tengah, sehingga terbentuk ubang kaldera dengan diameter 7 km, dan menyisakan tiga pulau kecil, yaitu Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang. Kegiatan vulkanik di bawah permukaannlaut terus berlangsung, dan periode 1927-1929 muncul sebuah dinding kawah ke permukaan laut sebagai hasil erupsi. Pertumbuhan ini terus berlangsung, membentuk pulu yang disebut Anak Krakatau.
Puas menikmati pemandangan dan berfoto-foo, kita turun kembali. Di bawah, kita istirahat sebentar, sebelum melanjutkan perjalanan. Rencana, kita akan snorkling di salah satu pantai, namun karena ombak cukup besar, akhirnya hanya berputar-putar ke beberapa Pulau, menikmati semilir angin dari atas Kapal. Petang tiba, akhirnya kita menuju ke Pulau Sebesi untuk menginap.

adheb's foto
Sunrise di Sebesi
Tidak usah takut tidak membawa perbekalan, karena di Pulau Sebesi ini banyak warga yang berjualan, menyediakan berbagai makanan atau minuman dengan harga terjangkau. Saya cukup kagum, karena para penjual yang saya datangi di sini sangat ramah. Untuk masalah listrik, di sini umumnya menyala dari pukul 6 sore sampai 12 malam. Namun, jika di area homestay, listrik menyala 24 jam, karena menggunakan genset. Rumah-rumah warga di sini cukup tertata dengan rapi, dengan jalan yang sudah menggunakan paving blok.

adheb's foto
Snorkling
Setelah mandi, malam hari di Sebesi ini acaranya adalah bersantai ria, sambil menikmati keindahan pantai Sebesi. Ada banyak kegiatan di sini, mulai dari bakar ayam, ikan, atau kegiatann lain seperti menerbangkan lampion-lampion, menyalkan kembang api, atau berkumpul bercengkerama dengan sesama pelancong.
adheb's foto
Pantai Umang-Umang
Pagi hari, setelah makan kita menuju ke Pantai Cianas dan Pantai Umang-Umang sebagai spot tujuan snorkling. Sebenarnya banyak spot-spot snorkling di sini, namun gak mungin kita menjangkau satu per satu, karena waktu yang singkat. Yang paling umum, sebagai tujuan snorkling para wisatawan adalah Pulau Umang-Umang, karena selain spotnya yang bagus, juga tempatnya, yang lumayan dekat dari Pulau Sebesi.
Jika pergi ke sana, maka sebaiknya kalian menggunakan alas kaki, karena banyak karang yang dapat menggores bagian tubuh kita, jika tidak berhati-hati. Selain ikan yang banyak, bagus, dan bervariasi, di sini juga sering menjadi tempat (habitat) burung-burug, menjadikan pemandangan terasa asik.
Tak terasa hari sudah siang, dan kami harus kembali ke Sebesi untuk persiapan pulang. Tak lupa, kami makan siang dan menikmati es kelapa muda, minuman favorit saat kita berada di pantai. Matahari sudah berada di arah barat, dan saatnya kita kembali pulang.