Pendidikan Zaman Sekarang Yang Hanya Berorientasi Praktis Semata - Dunia pendidikan saat ini sudah berbeda jauh orientasinya daripada di zaman dahulu. Dahulu, jika seseorang kuliah di sebuah universitas misalnya, maka mahasiswa tersebut tidak hanya fokus untuk belajar di bangku kuliah saja. Tetapi, mereka juga belajar untuk berorganisasi, belajar hidup mandiri, maupun belajar untuk bermasyarakat, sehingga KKN (Kuliah Kerja Nyata) sebagai salah satu syarat kelulusan mahasiswa, sangatlah berkesan, karena mereka benar-benar menjalankannya dengan sepenuh hati, tidak hanya berorientasi untuk mendapatkan nilai semata. Hal ini merupakan salah satu wahana pembelajaran bagi mahasiswa, agar mereka dapat memahami dan merasakan bagaimana hidup di dalam masyarakat yang sebenarnya.
Pada saat ini, sistem pendidikan, khususnya di bangku kuliah dibatasi hanya sampai 14 semeter saja. Jika seorang mahasiswa di semester terakhir tersebut tidak bisa menyelesaikan perkuliahannya, maka ia akan dikeluarkan dari kampus tempatnya kuliah (drop out). Pihak kampus sendiri seakan-akan memberikan dukungan cara berpikir praktis ini. Misalnya saja, jika seorang mahasiswa dapat menyelesaikan masa studinya dengan cepat dari target yang ditempuhnya (4 tahun), apalagi dengan nilai IPK cum laude, maka ia akan mendapatkan penghargaan pada saat wisuda, dan namanya akan didengung-dengungkan sebagai suatu kebanggaan bagi pihak universitas. Hal seperti ini secara tidak langsung akan memacu para mahasiswa untuk menyelesaikan masa studinya secepat mungkin.
Dengan adanya orientasi seperti ini, maka mahasiswa hanya akan berkutat pada masalah kuliah dan kuliah. Ia akan selalu belajar agar mendapatkan IP (Indeks Prestasi) terbaik dan lulus cepat. Tanpa disadari, mereka tidak mempunyai waktu luang untuk melakukan kegiatan-kegiatan lainnya seperti mengikuti organisasi, unit kegiatan mahasiswa, bermasyarakat, ataupun kegiatan lain yang sangat berguna bagi seorang mahasiswa. Padahal, kegiatan seperti ini sangat berguna bagi mahasiswa untuk meingkatkan kemampuan soft skill disamping kemampuan hard skill yang ia miliki. Kemampuan soft skill yang mereka miliki ini yang nantinya lebih banyak dipakai di kehidupan setelah lulus kuliah nanti dalam menghadapi dunia kerja dan tantangan zaman yang semakin dinamis dengan kompleksitas problematikanya yang terus meningkat. Walaupun IPK mereka bagus, tetapi tanpa ada kemampuan soft skill yang mereka kedepankan, ijasah mereka tidak begitu diperhitungkan. Alhasil, para sarjana sekarang ini banyak yang “gagap” setelah mereka lulus kuliah.
Untuk itu, perlu adanya suatu program agar para mahasiswa sadar akan pentingnya kemampuan soft skill tanpa adanya suatu tuntutan untuk lulus dengan cepat. Dengan adanya kesadaran ini, maka mahasiswa diharapakan bisa mempergunakannya untuk kebaikan kehidupannya. hasil penelitian NACE (National Association of Colleges and Employers) pada tahun 2005 menyebutkan bahwa pada umumnya pengguna tenaga kerja membutuhkan keahlian kerja berupa 82% soft skills dan 18% hard skills. Kemampuan soft skill seperti ini lebih banyak didapatkan mahasiswa di luar bangku kuliah.
Namun, alangkah lebih baik lagi jika seorang mahasiswa mempunyai kedua-duanya. Ia dapat menyelesaikan perkuliahannya secara wajar (apalagi dengan IP yang bagus), juga memiliki kemampuan soft skill yang baik. Dengan adanya kemampuan yang seimbang antara soft skill dan hard skill yang ia miliki, maka akan menciptakan life skill yang dapat menjadi bekal untuk menapaki kehidupan baru setelah lulus kuliah nanti.
Baca Juga Yang Ini, Seru Loo!!
Catatan
- Padat Karya Tunai Desa
- Tips Naik Pesawat di Masa Pandemi
- Wisuda di Masa Pandemi (unfogottable moment), Sebuah Wisuda yang Gak Disengaja
- Teknis Navigasi Darat (Bag 3) Mengenal Kompas
- Teknik Navigasi Darat
- Menikmati Suasana Pendakian Gunung Lawu Via Candi Cetho
- Pendakian Gunung Kembang, Belajar Pentingnya Pendakian Edukatif
- Tuhan dalam Secangkir Kopi 'sebuah resensi'
- Pendakian Gunung Argopuro Via Baderan-Bremi
- Resensi Buku: Literatur Keislaman Generasi Millenial; Transmisi, Apropriasi, dan Kontestasi
- Mardigu W.P. "Jangan Pernah Berkata Saya Tidak Pernah Memperingatkan Anda"
- UGM VS UNY Kuat-Kuatan Berdiam Diri Terhadap Kemacetan Di Simpang Selokan
- Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah, sebuah resensi buku M.Quraish Shihab
- “Ekspedisi 100 Hari di Puncak Gunung Merbabu” ngobrol-ngobrol langsung dengan mereka
- Refleksi 2016, Sudut Pandang Seorang Petualang
- Masjid Tua Palopo
- Cahaya Dari Timur - Beta Maluku
- Berkaca Pada JBR Kemarin, Mari Kita Tertibkan Konvoi Motor di Jogja ke Depan
- BPJS KESEHATAN : JANGAN HANYA POMOSI, PERBAIKI JUGA SISTEM DI DALAMNYA
- Berwisata ke Lahat dan Pagaralam
- Pertama Kali ke Sumatera Selatan
- Ambulance Yang Tersandera
- BSM (Bantuan Siswa Miskin)
- Singgah ke Kampung RKI (Rumah Kayu Indonesia)
- PULANG
Artikel
- Padat Karya Tunai Desa
- tips Persiapan Mendaki di Masa Pandemi
- Tips Naik Pesawat di Masa Pandemi
- Teknik Navigasi Darat (Bag 5) Menentukan Arah Tanpa Kompas dan Memperkirakan Cuaca
- Teknik Navigasi Darat (Bag 2) Mengenal Peta
- Teknik Navigasi Darat (Bag 4) Teknik Peta dan Kompas
- UGM VS UNY Kuat-Kuatan Berdiam Diri Terhadap Kemacetan Di Simpang Selokan
- “Ekspedisi 100 Hari di Puncak Gunung Merbabu” ngobrol-ngobrol langsung dengan mereka
- Saumlaki, Maluku Tenggara Barat
- Wisata ke Ambon
- Cahaya Dari Timur - Beta Maluku
- Berkaca Pada JBR Kemarin, Mari Kita Tertibkan Konvoi Motor di Jogja ke Depan
- BPJS KESEHATAN : JANGAN HANYA POMOSI, PERBAIKI JUGA SISTEM DI DALAMNYA
- Pertama Kali ke Sumatera Selatan
- Masyarakat Papua, Belum Begitu Membutuhkan Uang
- Di Timur Matahari, Wamena Yang Sebenarnya
- Ambulance Yang Tersandera
- BSM (Bantuan Siswa Miskin)
- Singgah ke Kampung RKI (Rumah Kayu Indonesia)
- PULANG
- Trip Rinjani (part2)
- Sepowerfull Apakah KPS (Kartu Perlindungan Sosial) itu ?
- Krakatau
- Angkringan Pak Panut
- Situs Budaya “Watu Dhukun” (Batu Purbakala)
Demokrasi
- Hidup Berdampingan, Berdamai Dengan OPM
- Resensi Buku: Literatur Keislaman Generasi Millenial; Transmisi, Apropriasi, dan Kontestasi
- UGM VS UNY Kuat-Kuatan Berdiam Diri Terhadap Kemacetan Di Simpang Selokan
- Berkaca Pada JBR Kemarin, Mari Kita Tertibkan Konvoi Motor di Jogja ke Depan
- BPJS KESEHATAN : JANGAN HANYA POMOSI, PERBAIKI JUGA SISTEM DI DALAMNYA
- Kemuliaan Seorang Bidan Yang Terganjal Oleh Aturan
- Bebaskan Kaum Perokok Indonesia
- Dana Otsus dan Permasalahan Papua
- Sejarah Agama-Agama
- Ilusi Demokrasi Kritik dan otokritik Islam Menyongsong Kembalinya Tata Kehidupan Islam Menurut Amal Madinah
- Simulasi Penanggulangan Bencana Banjir
- Memilih Kandidat Capres Cawapres Secara Rasional
- Pandangan Islam Mengenai Gejala Korupsi di Indonesia
- Solusi Pemberantasan Korupsi di Indonesia
- Mengevaluasi Pemilu Legislatif 9 April lalu, Jumlah parpol lebih dari 30
- Perbedaan Perbuatan Pidana, Peristiwa Pidana, dan Pelanggaran Pidana dalam Delik Hukum Pidana
- Pluralitas Agama
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan pembaca berkomentar dengan santun untuk memberikan saran dan masukan kepada kami, terimakasih.