Minggu, 10 Mei 2015

Berwisata ke Lahat dan Pagaralam

Menikmati Liburan, Jalan-Jalan Berwisata ke Lahat dan Pagaralam - Bagi yang tidak tahu, mungkin akan membayangkan kalau di sumatera Selatan itu panas, gerah, dan semrawut. Wajar saja, karena mereka banyak yang hanya mengetahuinya dari berita atau cerita orang yang pernah ke ibukotanya, di Palembang. Namun, sebenarnya banyak juga di sini tempat yang adem, dingin, dengan daerahnya yang berbukit-bukit. Seperti jika kita ke Lahat misalnya. Untuk menuju ke sana, dari Palembang memerlukan waktu sekitar 7 jam, ke arah Bengkulu. Jika ke daerah sini jangan malam hari, soalnya kalau sudah di atas jam 6 sore, ribuan truk batubara akan merayap memadati sepanjang jalan dari Lahat ke Palembang, dan sudah harus selesai sebelum jam 5 pagi. Di Lahat, daerahnya banyak berbukit. Baik di daerah Kikim, Merapi, atau di Tanjung Sakti. Sekitar 20 kilometer sebelum kita tiba di kota, kita akan melihat Bukit Telunjuk atau Gunung Telunjuk dari seberang sungai. Ada juga yang menyebutnya dengan Gunung Jempol. Mungkin karena bentuknya yang mirip dengan telunjuk kita yang mengarah ke langit, sehingga orang menamainya dengan bukit telunjuk.
adheb's foto
Bukit Telunjuk atau Jempol
Kita bisa berhenti sejenak, melepas lelah, sambil menikmati pemandangan bukit tersebut dengan sungai yang cukup besar tepat di depan kita. Jika ingin lebih jelas, kita juga dapat ke Bukit Serelo, tepat di bawah Gunung Telunjuk tersebut. Konon, ada yang mengatakan bahwa untuk memotret Bukit Telunjuk tersebut tak semudah asal jepret, karena kadang saat memfoto, bisa saja tiba-tiba gambarnya tidak terlihat di layar. Namun itu hanyalah mitos. Yang sebenarnya? Hanya Tuhan yang tahu.

Di bawahnya ada juga komplek untuk menjinakkan gajah, tepatnya di Desa Perangai, di kaki Bukit serelo tersebut. Di situ, gajah dilatih agar jinak. Kita bisa juga berfoto bersama gajah tersebut, dengan membayarnya sebesar 5 ribu rupiah. Untuk sekedar melihat Bukit Telunjuk, kita bisa berhenti di pinggir jalan, sembari istirahat. Namun, untuk melihat gajah, harus masuk ke dalam sampai ke desa.

Puas melihat pemandangan bukit, kita bisa melanjutkan perjalanan ke arah Kota Pagaralam. Namun, sempatkan dulu mampir ke Desa Pagar Batu, Kecamatan Pulau Pinang. Sejenak, tak ada yang istimewa di desa ini. Namun, akses satu-satunya menuju desa tersebut hanyalah jembatan gantung yang panjangnya 360 meter, di atas Sungai lematang. Jembatan gantung paling panjang, yang pernah saya temui. Sekilas, mirip dengan jembatan gantung di Imogiri, Jogja, atau arah Klaten, namun, karena cukup panjang, beberapa orang agak takut untuk melewatinya, apalagi dengan menaiki motor, karena gak sampai-sampai.
adheb's foto
Jembatan Gantung Desa Pagar Batu
Setelah melewati jembatan gantung ini, tujuan saya berikutnya adalah Pulau Panas. Perjalanan sekitar 3 jam dari Kota Lahat untuk sampai ke sini, melewati jalan berkelok naik turun. Maklumlah, kita akan melewati kaki Gunung Dempo untuk sampai ke sini. Tidak itu saja, Desa ini bahkan tepat berada di kaki Gunung Dempo. Kecamatan Tanjung Sakti, dulunya hanyalah satu kecamatan saja, namun kemudian mekar menjadi 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Tanjung Sakti Pumi, dan Kecamatan Tanjung Sakti Pomo. Dan desa ini masuk ke dalam wilayah administratif Kecamatan Tanjung Sakti Pumi. Dua kecamatan ini bisa dibilang terisolir, karena letaknya yang jauh dari ibukota kabupaten. Tidak sampai sejam sudah sampai di perbatasan Bengkulu, dan 2 jam kita sudah bisa sampai ke Bengkulu. 2 Kecamatan ini letaknya terpisah oleh Kota Pagaralam. Ya, untuk menuju ke sini, dari Kota Lahat kita harus melewati Pagaralam terlebih dahulu.

Tidak tahu kenapa, Desa ini dinamakan Pulau Panas. Padahal tempatnya sangat tinggi. Saya lihat ke hp saya, ketinggiannya bahkan lebih dari 1.000 MDPL. Seminggu di sini, pasti selalu hujan. Seringnya jam 2 siang ke atas, hujan akan turun, karena daerahnya dataran tinggi. Desa Tanjung Panas ini berbatasan langsung dengan Kota Pagaralam. Ini adalah desa pertama dari Lahat, setelah melewati Kota Pagaralam.
adheb's foto
Menikmati Sore di Kebun Teh Pagaralam
Di Tanjung Sakti, ibukota kecamatan Pulau Panas ini, ada wisata air panas. Kita bisa mandi untuk sekedar menghangatkan badan, menghilangkan penyakit, atau sekedar menghangatkan kulit. Orang sini biasanya memasukkan ayam yang telah mereka sembelih ke sini, atau memasukkan telur, dan bisa langsung matang.

Bagi kalian umat Katolik, jangan lupa mampir ke gereja tertua di Sumatera Selatan, yang juga terletak di kecamatan ini. Gereja Santa Maria ini terletak di Desa Pagar Jati, sekitar 15 menit dari Tanjung sakti. Dulu pertama kali dibangun Tahun 1932, namun sekarang sudah tidak dipakai untuk beribadah lagi, dan hanya dikunjungi untuk ziarah saja. Untuk menuju ke Gereja ini, kita harus melewati jembatan gantung, dan jika anda menggunakan mobil roda 4, terpaksa harus memarkir di pinggir sungai, lalu jalan sekitar 15 menit untuk sampai ke Gereja ini, di sebelah SMKN 3 Lahat.
adheb's foto
Gereja Santa Maria, Gereja Tertua di Sumsel
Jika ingin melanjutkan perjalanan ke Bengkulu, perjalanan dari sini tidak terlalu jauh. 2 jam, kita sudah bisa sampai ke Bengkulu, karena setelah kecamatan ini, kecamatan selanjutnya sudah masuh daerah provinsi Bengkulu. Namun, saya lebih suka untuk menikmati ketinggian, menghirup udara segar di Kota Pagaralam. Yah, 3 hari berturut-turut, setiap hari saya selalu menuju ke kebun teh, di belakang daerah perkantoran. Sekedar menikmati suasana, ataupun menghirup udara segar, cukup menyejukkan jiwa ini. Cieee... (walaupun harus mengganti karna insiden kehilangan 2 STNK sekaligus, hadeuh..).

Di Kota Pagaralam, ada banyak wisata alam yang bisa kita jumpai. Mulai dari perkebunan teh, rafting atau sekedar bermain ban, curup, Gunung Dempo, ataupun wisata lainnya. Sekilas, Pagaralam adalah kota kecil di daerah pegunungan. Namun, potensi wisata alamya sangatlah banyak disana. Perjalanan dari Palembang, jika ingin mudah disini juga ada bandara loh, namun hanya melayani waktu-waktu tertentu saja, dengan rute Palembang-Pagaralam.

Namun, berhubung waktu yang singkat, jadi saya tidak bisa mengunjungi semua wisata tersebut. Bersama Kak Reno, teman dari Tanjung Sakti, yang selalu mengantarkanku jalan-jalan, kami mengunjungi Kebun teh milik PTPN VII tersebut. Terletak di belakang gedung perkantoran kota palembang, kita bisa menikmati sejuknya suasana, sembari memandang hamparan luas pohon teh yang tertata rapi. Jika ingin merasakan bermalam di sini, ada beberapa villa yang memang bisa dipakai buat kalian yang ingin menginap. Tempatnya pun sangat strategis, diantara kebun teh yang hijau. Jadi, jika kalian menginap di sini, ditakutkan kalian tidak mau pindah nantinya, hehemua wisata tersebut. Bersama Kak Reno, teman dari Tanjung Sakti, yang selalu mengantarkanku jalan-jalan, kami mengunjungi Kebun teh milik PTPN VII tersebut. Terletak di belakang gedung perkantoran kota palembang, kita bisa menikmati sejuknya suasana, sembari memandang hamparan luas pohon teh yang tertata rapi. Jika ingin merasakan bermalam di sini, ada beberapa villa yang memang bisa dipakai buat kalian yang ingin menginap. Tempatnya pun sangat strategis, diantara kebun teh yang hijau. Jadi, jika kalian menginap di sini, ditakutkan kalian tidak mau pindah nantinya, hehe..

Waktu yang paling enak untuk bersantai di sini adalah pagi hari, dengan jalan-jalan atau hanya sekedar duduk di tanjakan seribu, kita bisa menikmati kebun teh dengan latar Gunung Dempo. Hampir setiap pagi, kita bisa melihat indahnya Gunung Dempo dari sini. Namun, jika sudah jam 9 ke atas, maka akan tertutup kabut, dan tidak bisa untuk sekedar foto selfie kalian... Naik ke lereng atas sana, sekitar 30 menit perjalanan, berkelok-kelok menyusuri kebun teh, kita akan menuju ke kampung tertinggi. Ya, di sana ada Tugu Rimau, tempat start untuk pendakian Gunung Dempo. Sebenarnya ada beberapa titik start menuju puncak, tetapi setahu saya ini adalah titik start tertinggi daripada tempat lainnya.

Puas menikmati indahnya Kota Pagaralam dari Tugu Rimau ini, kami melanjutkan perjalanan ke Curup Embun. Sebenarnya, ada banyak Curup (orang sini menyebutnya Cughup) di sini, seperti Curup Maung, Curup Mangkok, maupun lainnya. tetapi kami memilih menuju ke Curup Embun, karena Air Terjun ini yang paling tinggi daripada yang lainnya. Ketinggiannya lebih dari 80 meter. Airnya lumayan bersih. Dan kita bisa mandi di bawahnya, atau sekedar duduk-duduk di atas batu di tengah kolam ini.

Jangan terlalu sore untuk bermain-main, karena biasanya selepas jam 2 siang, di daerah sini sering hujan. Ya, terpaksa saya kembali ke rumah. Namun, sebelum kembali kami jalan-jalan keliling kota dulu, mengisi perut, sambil melihat-lihat kesibukan di Kota Pagaralam ini. Have a nice day....

Rabu, 25 Maret 2015

Pertama Kali ke Sumatera Selatan

Pertama Kali ke Sumatera Selatan - Mendengar Sumatera, akhir-akhir ini sering terdengar kasus begal, rampok, dan sebagainya yang selalu terberitakan lewat berbagai media. Ya, Sumatera, Lampung, dan beberapa daerah sekitarnya, kerap kali tersiar di tv, aksi kawanan rampok atau begal, yang bahkan akhir-akhir ini menjamur sampai ke Jawa dan daerah lain di Indonesia. Mungkin itu yang ditakuti orang, ketika pertama kali datang ke Pulau ini.

Jumat, 23 Januari 2015

Jalan-Jalan ke Tanjung Puting

Jalan-Jalan ke Tanjung Puting - Jum'at, 23 Januari 2015. Tidak terasa hampir 2 bulan kami berada di Kalimantan, setelah menyusuri setiap sudut di Bumi Boerneo ini, khususnya di Kabupaten Lamandau dan Seruyan, di Kalimantan Tengah ini. Ini adalah hari terakhir kami di ujung barat Kalimantan Tengah. Ya, tepatnya di Kecamatan Delang. Kecamatan di wilayah Kalimantan Tengah yang berbatasan dengan Kalimantan Barat. Kami juga sudah sampai di daerah Kalimantan Barat, beberapa hari yang lalu, saat mengunjungi salah satu desa yang letaknya di daerah perbatasan Kalbar.

adheb foto
Tanjung Puting Harbour
Setelah puas menyambangi pedalaman-pedalaman di 2 Kabupaten ini, tujuan selanjutnya adalah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Ya, kabupaten yang sedang ramai diberitakan di media-media saat ini, dengan Ibukotanya di Pangkaan Bun. Setelah sebulan lebih kemarin disorot berbagai media saat kasus kecelakaan pesawat Air Asia yang jatuh, sekarang kembali lagi disorot dengan kasus BW, salah satu petinggi KPK dengan topik pilkada Kobar ini beberapa tahun yang lalu. Mungkin saya gak begitu paham, karena memang jarang menonton berita akhir-akhir ini. Tetapi, berita tersebut begitu terasa, karena kebetulan sekarang saya sedang berada di sini.
adheb foto
Singgah di GOR Lamandau
Pagi-pagi sekali kami sudah mandi dan beres-beres untuk melanjutkan perjalanan ke Pangkalan Bun. Wajah mereka cukup sumringah, karena hari ini perjalanan kami bukan untuk menyambangi desa-desa seperti yang kami lakukan sesebelumnya, tetapi untuk berwisata ke Tanjung Puting, salah satu wisata dunia terkenal di Bumi Borneo ini.
adheb foto
Menuju ke Kamp 3, Leakey
Perjalanan sekitar 6 jam sampai Pangkalan Bun menggunakan Strada, mobil yang sudah tidak asing bagi kami, karena medan di sini yang mengharuskan kami selalu bepergian dengan mobil double gardan. Tiba di Pangkalan Bun, langsung tancap ke Kumai, menuju ke kantor Taman Nasional, untuk registrasi terlebih dahulu. Dermaganya pun berdekatan dengan pelabuhan, yang sampai saat ini masih saja ramai, dan banyak para petugas SAR yang masih standby berpatroli terkait kecelakaan Air Asia ini.
Yah, yang paling umum diketahui orang sini adalah para KRU SAR, yang rela standby demi rasa kemanusiaan ini. Ada 2 kapal yang paling orang ketahui, karena memang yang paling canggih adalah 2 kapal itu, yaitu Kapal SAR Aceh dan Kapal SAR Purworejo. Senang juga mendengarnya, Kabupaten saya menjadi salah satu nama kapal Canggih dari Basarnas ini.
adheb foto
Kapal SAR Purworejo
Tidak sampai setengah jam kami berada di Kumai, karena segala sesuatu seudah kami pesan saat perjalanan menuju Kumai ini. Kebetulan, ada teman yang bisa menghubungkan kami dengan salah satu petugas, sehingga bisa menghemat waktu kami untuk langsung menikmati perjalanan.
Dengan 2 speed, 2 motoris, dan 1 guide kami menyusuri pantai menuju ke kamp 3. Ya, kamp terakhir adalah tujuan kami, karena di sini terdapat orang hutan cukup banyak. Saat feeding tiba, biasanya sekitar 30-40 orang utan akan datang, baik bersama-sama atau secara bergantian. Tiba di dermaga Leakay, kami disambut oleh seekor orang utan yang cukup besar. Ya, siswi namanya, sedang berendam setengah badan saat kami tiba. Memang agak nakal, tetapi Siswi tidak senakal Tom, orang utan yang paling terkenal karena memang cukup nakal.
adheb foto
Namanya Siswi, Walau kadang mengganggu pengunjung, tetapi baik loh...
Saat kami turun dan akan melakukan perjalanan ke tempat feeding, dengan muka yang pura-pura oon, siswi mendatangi kami, dan langsung tidur telentang di tengah jalan. Yah pastinya para cewek ketakutan, karena jalan (jembatan) yang akan kami lalui sudah penuh ditempati Siswi. Cepat saja, guide kami mengarahkan kami untuk tidak usah takut, karena kalau kami takut, mereka akan mengerti dan mengganggu kami. Kami diarahkan lewat jalan lain, tanpa takut, sementara guide menunggu Siswi agar tidak mengganggu kami.
Untuk menuju ke sini, para turis memang diwajibkan untuk membawa guide, dan jangan lupa, guide selalu mengingatkan kami untuk tidak membawa makanan, atau menyimpannya di dalam tas. Karena takut nanti akan diminta oleh orang utan jika mereka tahu kami membawa makanan. Kebersihan di sini juga bagus, karena pengunjung dilarang untuk membuang sampah sembarangan.

adheb foto
Feeding di Camp Leakey
Sekitar setengah jam perjalanan kami, hingga tiba ke tempat yang kami tuju. Ya, tempat feeding yang merupakan incaran semua turis saat pergi ke tempat ini. Jadwal feeding di kamp Leakey ini jam 3 sore atau jam 2 bagi para orang utan, karena orang utan mempunyai jam yang berbeda dengan manusia. Mereka akan datang tepat waktu, dan biasanya jika belu waktunya mereka belum datang. Tidak sampai setengah jam kami menunggu, jam feeding dimulai. Dengan panggilan khas dari para penjaga, beberapa monyet datang bergantian menuju tempat makan ini. Menu feeding hanyalah pisang dan susu.
Bersama kami, ada sekitar 30 orang yang datang ke acara feeding ini. Jumlah orang utang yang datang di tempat ini tergantung musim. Jika musim buah ataupun bunga tiba, maka yang datang tidak sebanyak saat tidak ada buah di hutan, karena jika di hutan sedang tidak musim buah ataupun bunga, mereka susah untuk mencari makan, dan akan datang ke tempat feeding ini.
Yang perlu diperhatikan, di area tertentu seperti area feeding ini, pengunjung dilarang untuk berbicara terlalu keras, karena takut akan mengganggu mereka yang datang untuk makan. Pengunjung boleh untuk memfoto kera, tetapi tidak boleh masuk ke area pagar yang telah diberi batas. Biasanya acara feeding mereka sampai sore hari, tetapi pengunjung dihimbau untuk kembali jam 4 sore.
Setelah kami merasa cukup melihatnya, kami bergegas untuk kembali, karena langit terlihat mendung. Ya, kami memutuskan untuk kembali ke Kumai. Saat perjalanan kembali ke dermaga, lagi-lagi kami bertemu dengan Siswi, yang sedang bersantai di bawah pohon. Beberapa pengunjung mencuri-curi untuk berfoto, walaupun tidak dari dekat. Sepanjang perjalanan pulang menyusuri sungai, kami melihat banyak monyet bergerombol di pohon, di pinggir sungai. Bekantan misalnya, yang selalu bergerombol di pohon. Setiap gerombol bekantan terdiri dari 7-15 bekantan, dan pastinya ada seekor yang mengomandonya, yang paling kekar dan besar. Hingga sampai di tepi laut, kami masih bisa melihat monyet yang sedang berteduh di atas pohon sana. Ratusan monyet bisa kami lihat, bebas di atas sana. Tak lupa, bonus pelangi yang cukup inidah menemani perjalanan kami di pantai ini.
Perjalanan yang melelahkan, namun cukup terbayar. Salah satu wisata telah saya datangi di belahan bumi Indonesia ini, menambah pengetahuan akan kekayaan wisata di Indonesia yang masih banyak, yang belum saya kunjungi. Tiba di kumai, matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat, langsung kami menuju tempat makan, mengisi perut yang sudah meulai kosong ini.

Untuk biaya, tiket masuk di hari biasa hanya 5 ribu rupiah saja. Namun, di hari Sabtu-Minggu, ataupun di hari libur biasanya 15 ribu per orang. Biaya guide 300 ribu, biaya sandar speed 100 ribu per speed, dan untuk sewa speed 1 juta per speed sehari. Bisa untuk 6-7 orang muatan, termasuk sopir. Mungkin, ini lumayan murah daripada biaya yang umumnya ada di internet, yang biasa memakai kapal. Karena jika memakai kapal, maka biaya sewa 1 juta per kapal, dan lamanya 3 hari . Memang jika menggunakan kapal, bisa mengunjungi 3 kamp, dan menginap selama 2 malam. Tetapi selain biaya kapal, masih ada juga biaya guide, tiket masuk, dan juga koki, jika ingin memasak di kapal. Itupun hanya bisa dipakai oleh sekitar 10 orang standarnya. Karena kami tidak punya waktu yang lama, kami pilih memakai speed saja.  

Minggu, 13 Juli 2014

Masyarakat Papua, Belum Begitu Membutuhkan Uang

Masyarakat Papua, Belum Begitu Membutuhkan Uang - Aneh memang, jika orang berkata seperti itu. Mana ada, orang tak butuh uang di dunia  ini. Namun, jika kita telisik lebih mendalam, masyarakat di pegunungan tengah ini (Jayawijaya, Mamberamo, Tolikara, Ninia, Lanny Jaya, Puncak Jaya, Puncak, dan Kabupaten lain di Pegunungan Tengah) secara tidak langsung masih hidup dengan pola dahulu, walaupun secara kasat mata, mereka juga menggunakan uang dalam kehidupan sehari hari.
adheb's photo
Babi yang Sedang Menyusui
Dalam kehidupan sehari-hari, untuk makan misalnya, mereka masih mengandalkan kebun untuk mencukupi kebutuhan. Buah-buahan di sini juga melimpah, sebagai bahan makan mereka. Mereka mempunyai lahan yang cukup luas. Biasanya, mereka akan menanam ubi sebagai makanan utama mereka, dengan cara berpindah-pindah. Jika sebuah areal sudah ditanami ubi dan sudah dipanen, mereka akan menanami tempat lain, dan lahan tersebut mereka biarkan, kemudian pindah ke tempat lain lagi, sampai mereka kembali akan menanami lahan yang pernah mereka tanami. Maka jangan heran jika banyak lahan yang orang lain bilang, sebagai lahan terlantar.

Bagi mereka, lahan tersebut bukanlah terlantar, tetapi memang dibiarkan begitu saja, bahkan sampai rumput tumbuh tinggi. Tetapi, suatu ketika mereka akan mempergunakannya untuk menanam ubi atau sayuran lain untuk kebutuhan hidupnya. Sistem ladang berpindah seperti ini masih ada di sini hingga sekarang. Sampai saat ini, untuk menggali tanahpun mereka hampir semuanya menggunakan sekop, karena mereka dari dulu diajarkan menggali dengan alat tersebut. Mereka merasa aneh atau tidak terbiasa, bahkan ada yang mengatakan, merasa pegal jika harus menggali tanah dengan cangkul seperti orang Jawa pada umumnya.

Tidak hanya sebagai makanan manusia, karena ubi di sini juga untuk makanan peliharaan mereka di sini, babi. Sebagai alat tukar dari zaman dahulu, babi tetap saja digunakan warga sini seperti untuk mas kawin, alat sosial, yaitu sebagai sumbangan jika ada duka/ warga yang meninggal, untuk acara berbagai selamatan dengan bakar batu, maupun acara lainnya. itu adalah alat utama mereka, dengan harga jual yang tinggi di sini, sekitar 50-60 juta per ekor babi yang sudah besar.

Namun, di sini  pernah terjadi penyakit mematikan. Penyakit sejenis kolera, yang membuat babi mati secara tiba-tiba, sampai babi di sini tinggal sedikit, sehingga membuat harga babi melonjak sampai seperti sekarang ini. Karena persebaran babi yang sedikit ini, membuat warga sedikit beralih dalam kegiatannya, seperti menggunakan uang sebagai tambahan mas kawin jika babi kurang, ayam sebagai pelengkap bakar batu saat kekurangan babi, ataupun beras, minyak, uang dan kebutuhan sehari-hari lainnya yang diberikan oleh warga saat duka sebagai pengganti babi. Begitu juga uang sebagai tambahan denda jika ada suatu permasalahan, dikalkulasikan dengan harga per ekor babi di sini.

Jika mereka membutuhkan uang, maka mereka akan menjual babi ataupun hasil kebun ke kota. Namun, jika belum butuh, maka mereka hanya menggunakannya untuk kebutuhan sehari-harinya. Jika mereka ke kota, maka biasanya mereka yang membutuhkan uang, dan menjual barang mereka Untuk itu, kita bisa menawar dengan harga yang lebih murah karena merekalah yang membutuhkan uang, namun jika kita datang ke mereka, dan membeli babi misalnya, maka bisa saja akan diberi harga yang mahal, karena mereka menganggap kita yang butuh. Sedangkan mereka belum begitu membutuhkannya. Makanya, jika anda memerlukan sesuatu, sebaiknya beli saja di pasar, agar mendapatkan harga yang  wajar.

Jumat, 27 Juni 2014

Di Timur Matahari, Wamena Yang Sebenarnya

Di Timur Matahari - Sebuah film karya Ari Sihasale, yang cukup fenomenal bagi saya, karena memang betul-betul menggambarkan keadaan di daerah ini, karena saya sendiri mengalaminya dan berada di sini saat menulis ini. Gak tau kenapa, walaupun sudah mempunyai film ini sewaktu di Jogja, tetapi baru kali ini saya sempatkan untuk menontonnya. Di Wamena ini, malam terakhir sebelum kami meninggalkan Wamena, untuk menuju ke Jayapura, dan kembali ke Jogja. Pas sekali flm ini saya tonton, di hari terakhir saya berada di sini, setelah 40 hari keliling Kabupaten Jayawijaya ini.
adheb's foto
Kayo, ICON Kota Wamena
Wamena, sudah tidak asing lagi bagi saya, karena di tahun 2012 saya pernah di sini selama satu setengah bulan, berkeliling di beberapa kabupaten di sini seperti Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Mamberamo, dan Kabupaten Jayawijaya ini sendiri, khususnya di Kabupaten-Kabupaten yang berada di Pegunungan Tengah. Kemudian kembali lagi ke Pegunungan Tengah ini sehabis lebaran selama sebulan. Perjalanan selama tiga kali ini, bukan saya tinggal di kota, melainkan menuju ke daerah-daerah pedalaman, sehingga tahu bagaimana kehidupan orang pegunungan tengah ini.
Di pegunungan tengah ini, orang mengatakan, belum merasakan Papua, kalau kalian belum pernah ke Wamena. Jika kalian belum pernah ke Papua sama sekali, kata itu sama sekali tidak berpengaruh, karena kalian belum pernah melihat Papua secara langsung, tetapi, bagi saya itu adalah kata yang memang benar-benar asli. Itu adalah kata yang sebenarnya, dimana Papua terkenal dengan adat istiadatnya, dan yang masih ada sampai sekarang seperti di Pegunungan Tengah ini. Saya mengatakan ini, karena selama beberapa kali saya ke Papua seperti ke Keerom, Jayapura baik Kota maupun Kabupaten, Sorong, Raja Ampat, Mimika, Fak-Fak, dan Kabupaten Bintuni, yang merupakan daerah-daerah yang pernah saya kunjungi, tidak semenarik, tidak sekeras, dan tidak senatural daerah di Pegunungan Tengah ini.
Perjalanan saya ke Pegunungan Tengah ke tiga kali ini, saya tidak membawa cerita banyak, hanya sebuah catatan spontan kecil ini, sesaat setelah saya menonton film Karya Ari Sihasale ini, yang mengambil tempat di Distrik Tiom, Kabupaten Lanny Jaya. Sebuah tempat yang jaraknya sekitar 3 jam dari kota (jangan me gukur jarak di sini dengan kilometer seperti di Jawa, karena di sini akan lebih akurat jika kita mengukurnya dengan waktu, meliihat topografi di sini dengan kontur yang cukup rapat dalam bahasa geografi). Walaupun saya belum pernah ke Kabupaten tersebut, tetapi saya pernah melihatnya dari jauh, dari Distrik Piramid, saat saya berada di sana. Dari Piramid ini, perjalanan menuju ke Tiom masih sejam lagi. Semua akses ke Pegunungan Tengah berpusat di Wamena ini, sebagai satu-satunya jalur utama menuju ke setiap daerah, dan semua pasokan dari Jayapura, melalui udara.
Cukup dengan menonton film ini dan membaca catatan kecil saya, maka seperti itulah keadaan di sini. Yang perlu diteladani di sini intinya adalah kesatuan dan persatuan warga Papua, bahwa mereka sebenarnya satu, hidup damai dan saling mengasihi antar sesama, sesuai dengan mayoritas ajaran yang mereka anut di sini. Walaupun setiap hari masih ada kerusuhan, pencurian, kekerasan, denda, dan sebagainya, namun mari kita ambil hikmahnya, semangat untuk memperbaiki itu semualah yang harus kita pikirkan, seperti film ini salah satunya. Jika warga bisa menonton dengan ‘hati’, maka kekerasan dan perpecahan di sini akan semakin berkurang. Untuk itulah, perlu adanya gebrakan-gebrakan lain, ide-ide lain yang selalu bermunculan, agar keadaan di sini semakin berubah lebih baik, tanpa harus meninggalkan budaya yang sangat unik di sini. Ide seperti itulah yang sangat diperlukan, sebagai kontribusi kita sebagai bangsa Indonesia, dan keyakinan kita bahwa Papua adalah bagian dari kita, bagian dari Bangsa Indonesia. Karena bagaimanapun juga, walaupun ribuan pulau, tetapi kita tetap satu. INDONESIA RAYA.
Beberapa hal kecil yang menarik, tidak seperti di tempat lain adalah cara orang sini yang sering bergandengan tangan, tidak peduli sesama perempuan, laki-laki perempuan, dan yang paling sering saya jumpai sesama laki-laki yang saling bergandengan tangan. Bukan karena mereka homo, tetapi itulah bentuk kasih sayang mereka, bahwa mereka sangat sayang terhadap sesama, melebihi sayang kita terhadap sesama di daerah lain. Perhatikan juga cara salaman mereka, yang cukup unik, dan selalu berkata terima kasih atas setiap bantuan, dan masih banyak lagi lainnya.
Film ini cukup menariik bagi saya, walaupun kekerasan masih banyak terjadi, namun cukup menyentuh, membuat saya ingin kembali lagi ke tempat ini kelak., ataupun menjamah daerah tertinggi di atas sana, yang merupakan cita-cita saya suatu saat yang entah kapan bisa terwujud. Semoga bisa menginspirasi kalian yang membaca, agar juga memikirkan rakyat Indonesia yang ‘terpinggirkan’ ini, di sela panasnya persaingan pilpres saat ini. Sebagai intermezo berita persaingan saat ini, karena pada intinya adalah bagaimana supaya rakyat Indonesia ini semakin sejahtera.
Cinta dan kedamaian akan membawa kebahagiaan bagi anak kita kelak,,
We Love Papua. ITU SUDAHHH….      (aiiiiiiiiii)
Sedikit catatan di sini, Wamena, Jayawiya, Pegunungan Tengah Papua, 27/06/14

Minggu, 22 Juni 2014

Kurullu, The Beauty of Wamena

Kurullu, The Beauty of Wamena - Di sinilah ikon dari Wamena, atau dari Kabupaten Jayawijaya ini. Ada beberapa alasan mengapa disrik kurulu yang paling banyak dicari oleh para turis, baik domestik maupun mancanegara. Pertama, karena daerahnya yang dekat dengan kota. Dari kota, kita bisa menuju ke daerah ini tidak sampai satu jam. Baik naik mobil dobel gardan, naik angkot, bahkan naik kendaraan bermotor pun kita bisa menjangkaunya. Jika naik angkutan, dari Wamena kita menuju ke pasar Jibama atau orang biasa sebut Pasar Baru seharga 5 ribu. Lalu, dilanjutkan ke Kurulu, cukup membayar 10 ribu.
adheb's photo
Berfoto dengan Mumy Wim Motok
Untuk jurusan Kurulu, angkutan putih cukup banyak, tinggal kita cari saja di pojokan belakang, yang bertulis KL, kita akan sampai ke kurulu. Namun, jika naik mobil apa saja bisa juga, baik mobil arah Yalengga, Bolakme, Tolikara, Eragayam, Ninia, Mamberamo, ataupun Puncak. Yang ke dua, karena tempat di daerah ini sering diadakan festival, seperti Festival Lembah Baliem yang cukup terkenal, karena selalu rutin diadakan setiap tahun. Festival Lembah Baliem ini beberapa kali diadakan di kampung Wosi, sehingga kampung ini cukup terkenal bagi mereka yang pernah melihat festival ini.
adheb's photo
Kayo, Icon Wamena
Yang ke tiga, di daerah ini terdapat wisata mummy terkenal, yaitu Mumi Wim Motok Mabel, di Sompaima, Kampung Jiwika, Kurulu. Mumi ini cukup terkenal, karena merupakan salah satu mumi tertua di dunia, dan yang paling tekenal di daerah Lembah Baliem ini. Konon, menurut sang juru kunci, umurnya saat ini sudah 371 tahun. Berbeda dengan mumi di negara lain yang diawetkan dengan formalin, mumi Wim Motok ini diawetkan dengan cara diasap. Zaman dahulu, kepala suku yang merupakan keturunan suku Dani generasi ke tujuh tersebut sangat dihormati, dan ketika meninggal pada saat perang, warga mengabadikannya dengan mengasap, sebagai salah satu wasiatnya sebelum meninggal.

Di kampung ini kita bisa berfoto dengan mumi Wim Motok. Namun, biasanya akan dikenakan tarif 40 ribu per orang. jika sudah sama-sama deal, maka mumi akan dikeluarkan dari honai oleh penjaganya, dan kita bisa foto bersama mumi tersebut. di area ini, mereka juga memajang aneka barang khas pegunungan tengah sini untuk dijual seperti noken, koteka, kalung babi, kalung kasuari, kapak batu, perhiasan bulu kasuari, dan lainnya. Kita bisa membelinya dengan harga bervariasi, sesuai dengan hasil tawaran yang sudah disetujui.

Yang paling disukai oleh pemuda, di sini mereka menggunakan pakaian adat jika ada pengunjung datang. Yang laki-laki menggunakan koteka saja, untuk menutupi alat kelaminnya, sedangkan yang perempuan menggunakan daun rumbia. itulah yang paling disukai. Bagi para cewek, kalian bisa berfoto dengan laki-laki berkoteka, dan bagi para cowok, bisa berfoto ria dengan perempuan-perempuan bertelanjang dada. Namun, setiap foto yang diambil, mereka akan meminta uang. Umumnya sejumlah 10 ribu tiap warga yang diajak foto.

bagi saya, yang sudah tinggal beberapa hari di sini, ini adalah hal biasa, karena setiap hari pasti menjumpai orang pakai koteka. Namun, jika kalian belum pernah ke sini, pasti hal seperti ini sangat mengagumkan, karena kita serasa di negeri zaman dahulu, zaman purba. Yang jarang diketahui, adalah bahwa jika para pengunjung sudah pulang, maka mereka akan berpakaian seperti biasa, memakai baju lagi, walaupun masih ada yang memang sehari-harinya memakai koteka dalam sehari-hari.
adheb's photo
Orang Dengan Pakaian Khas Pegunungan Tengah
Yang terakhir, yang membuat daerah ini terkenal adalah si Denias yang pasti diketahui oleh para penggemar film. Dengan filmnya, “Negeri di Atas Awan”. Film tersebut juga diambil di kampung ini, di belakang area mumi. Wajar memang, karena panorama di sini memang begitu indah, dan menakjubkan bagi saya, dengan bukit-bukit yang sangat mempesona, dengan beberapa honai yang ada. Bagi kalian yang belum pernah, hal semacam ini sangat jarang kalian temui, di Papua sekalipun kecuali kalian ke Papua bagian Pegunungan Tengah ini, dengan puncaknya yang terkenal, Puncak Cartenz. Siapkan saja tabungan dari sekarang, karena wisata seperti ini bukanlah wisata yang murah. haha.... Selamat mencoba kawan...

Selasa, 10 Juni 2014

Ambulance Yang Tersandera

Ambulance Yang Tersandera - Ambulance, bagi kita yang sedang sakit dan harus ke rumah sakit, merupakan moda transportasi yang diperlukan, apalagi jika digunakan untuk pengantar pasien oleh puskesmas atau rumah sakit. Sewajarnya, jika puskesmas mempunyai alat transportasi tersebut untuk mobilisasi pasien. Namun, tidak begitu dengan Puskesmas Yalengga ini. Mobil ambulance yang sekiranya digunakan sebagai fasilitas pemerintah ini malah dibawa oleh kepala puskesmas. Payahnya, sudah 4 tahun kepala puskesmas tidak pernah datang ke sini. Otomatis, jika ada pasien yang memerlukan rujukan ke rumah sakit, harus menggunakan angkutan umum untuk menuju ke kota.
Mobil Ambulance
Padahal, pemerintah menganggarkan fasilitas tersebut untuk menunjang aktifitas puskesmas, agar pelayanannya bisa maksimal. Jika tidak ada pasien, mungkin mobil tersebut bisa digunakan untuk antar jemput petugas puskesmas yang semuanya tinggal di kota, walaupun sebenarnya tidak diperbolehkan. Seperti di Puskesmas Hubikoshi misalnya, yang selalu menggunakan mobil ambulance untuk antar-jemput petugas. Hal seperti itu sebenarnya bisa memaksimalkan tingkat kehadiran petugas puskesmas. Bayangkan, jika setiap hari petugas puskesmas berangkat dari kota sejauh 40 kilo meter, dan mengeluarkan biaya 30 ribu sekali jalan. angkutan menuju ke puskesmas pun tidak selalu lancar. Jadi, jika mereka tidak masuk ataupun telat tiba di puskesmas, adalah hal yang wajar bagi mereka. Belum lagi adanya pemalakan di tengah jalan, warga yang mencegat mobil dan meminta uang. Hal seperti inilah yang paling tidak disukai petugas.
Namun jika ada mobil untuk antar jemput, maka mereka tidak usah bingung mencegat angkutan setiap hari, cukup mobil tersebut yang akan menjemput petugas, dan petugas bisa datang tepat waktu. Sehingga, pasien yang akan berobat ke puskesmas tidak selalu harus menunggu di depan puskesmas, sampai petugas puskesmas datang dan memberikan pelayanan. Di saat sekarang ini, hal seperti ini yang paling dibutuhkan oleh petugas, mengingat mereka juga masih takut akan keamanan di daerah, jika mereka harus tinggal di area puskesmas. Belum lagi fasilitas yang minim seperti air, listrik yang belum tentu ada.