Siapa sih yang gak kangen ama Gunung
Merbabu? Di wilayah Jawa Tengah Merbabu
menjadi salah satu gunung incaran para
pendaki yang hobi menikmati alam di atas ketinggian. Tentunya, ada beberapa
kelebihan yang membuat gunung ini menjadi dambaan para pendaki seperti adanya
stok air melimpah di pos 2 Merbabu via Wekas, indahnya panorama landscape geger
sapi di Merbabu via Suwanting, atau hamparan Padang Sabana yang menjadi tujuan
para pendaki ketika kita naik lewat jalur Selo. Yang terakhir ini menjadi jalur
terfavorit dan selalu membludak di tiap weekend sebelum akhirnya tutup di tahun
2019 lalu.
Meski sempat buka selama sebulan
di awal pandemi, pengelola memutuskan untuk menutup kembali jalur Selo cukup
lama. Beberapa kali terdengan isu bahwa jalur ini akan buka meski sampai
sekarang belum ada kejelasan. Meski jalur Selo sementara waktu masih tutup,
pertengahan Juni ini beberapa jalur lain sudah mulai dibuka dengan protokol
kesehatan yang ketat setelah adanya kajian mendalam oleh pengelola Taman Nasional
Gunung Merbabu. Kabar ini tentu menjadi angin segar bagi para pendaki setelah
menunggu sekian lama untuk merasakan keindahan alamnya yang cukup mempesona. Ada
beberapa hal yang perlu dipersiapkan dan diketahui, agar pendakian kalian
berjalan lancar.
Daftar online
Untuk melakukan pendakian Merbabu,
kalian harus mendaftarkan diri secara online di lamannya Taman Nasional Gunung
Merbabu. Setelah itu, kalian bisa pilih menu booking online dan pilih jalur pendakian
Selo, di situ terdapat informasi pendakian yang dibutuhkan. Jangan lupa cek
kuota terlebih dahulu untuk memastikan ketersediaan kuota pendakian sesuai hari
dan jumlah rombongan. Selanjutnya kalian bisa mendaftar dengan menyetujui segala
persyaratan yang ada, lalu mengsi formulir pendaftaran secara lengkap.
Terakhir, kalian akan mendapatkan bukti booking yang akan dikirimkan melalui
email yang didaftarkan. Jangan lupa simpan bukti tersebut karena akan digunakan
pada saat registrasi ulang sebelum pendakian.
Menurut informasi dari pengelola
taman nasional, para pendaki tidak diperkenankan melakukan solo hiking, namun
harus secara beregu dengan minimal 3 orang di setiap rombongan. Ini bertujuan
agar ketua rombongan benar-benar menjaga timnya agar dan tidak bergantung pada
rombongan lain ketika terjadi kecelakaan di salah satu anggotanya. Berkaca dari
pengalaman di beberapa gunung berbeda terkait adanya laporan kecelakaan yang
hanya menitip kepada rombongan lain, pengelola taman nasional ini ingin agar
setiap rombongan pendaki sudah siap dan dapat memanejemen timnya secara
mandiri. Pada masa pandemi ini, ini kuota
pendakian masih dibatasi sekitar 30 persendari total kuota yang ada. Sama halnya
dengan beberapa gunung lainnya, pembatasan kuota ini bertujuan untuk
meminimalisir penyebaran virus corona meskipun sebagian besar orang sudah mulai
melakukan vaksin.
Setelah melakukan pendaftaran secara online,
pendaki wajib melakukan registrasi ulang begitu tiba di beskem pendakian. Tunjukan
Bukti Booking ke petugas jalur pendakian untuk dilakukan Scan QR Code dan
validasi data. Registrasi ulang cukup
dilakukan oleh ketua rombongan, lalu melakukan pembayaran di loket bagian atas.
Ketua rombongan akan diberikan gelang RFID yang berfungsi untuk memonitor
pergerakan pendaki. Ketika rombongan sudah tiba di Sabana 1 misalnya, maka
gelang RFID akan menyala sehingga pergerakan ini dapat terdeteksi oleh petugas.
Gelang ini juga berguna bagi petugas untuk memonitor secara cepat ketika
terjadi suatu kecelakaan selama pendakian. Namun begitu turun pendaki harus
mengembalikan gelang tersebut agar tidak terkena denda.
Ketua rombongan diminta untuk
mengisi checklist peralatan semua anggota dan dicek satu per satu oleh petugas
sebelum kalian melakukan pendakian. Untuk itu, catat sedetail mungkin peralatan
yang kalian bawa dan jangan membawa peralatan yang dilarang seperti speaker,
tsu basah, dan lainnya. Jangan lupa bawa turun sampahmu, jangan ditinggal di
atas agar Merbabu tetap asri.
Saat ini para pendaki hanya
diperkenankan untuk melakukan pendakian maksimal 2 hari 1 malam di camp yang
telah disediakan dan kalian juga tidak diperkenankan untuk melakukan pendakian
lintas jalur. Untuk itu kalian harus naik dan turun melalui jalur yang sama. Bagi
yang ingin mendaki Merbabu ini kalian diwajibkan menyerahkan bukti rapid
antigen / genose terlebih dahulu (meski aturan ini masih banyak menuai
pro-kontra di antara para pendaki). Seperti aturan dalam perjalanan, masa
berlaku rapid hanya 1x24 jam. Untuk itu, persiapkan dengan baik pendakian
kalian agar segala urusan berjalan denga lancar.
Adanya HM (Hektometer) Penanda Jalur Pendakian
Pal HM merupakan sebuah penanda
bagi pendaki agar tidak tersesat. Tugu atau pal ini ditanam di sepanjang jalur
pendakian dengan jarak antar tugu sejauh 100 meter, dimulai dari titik start/
resort yang betuliskan HM-00 hingga puncak. Dengan adanya pal HM maka kalian
tidak perlu khawatir akan tersesat, tidak perlu bingung sudah sejauh mana jalur
yang sudah dilalui atau masih berapa jauh lagi pos selanjutnya. Cukup mengingat
penanda pal HM di setiap pos, maka kalian sudah bisa memperkirakan dengan
gampang berapa jauh lagi kalian harus berjalan menuju tujuan berikutnya. Pal HM
ini juga diberi scotlight agar menyala di malam hari ketika terkena sorot.
Dengan cat warna oren menyala, tugu ini dapat terlihat ketika terkena sinar di
malam hari. Jika kalian masih menemukan pal tersebut, berarti kalian sudah
berjalan sesuai trek yang ada.
Total ada sekitar 53 pal di jalur
Selo ini. Itu menunjukkan bahwa jarak tempuh pendakian dari titik start menuju
puncak sekitar 5600 meter. Namun, menurut pengelola sendiri pengukuran jarak
antar tugu menggunakan strava, sehingga mempunyai plus minus tersendiri apabila
dibandingan dengan pengukuran secara manual menggunakan rol ataupun pengukuran
menggunakan GPS hand.
Terdapat Perubahan Rute Pendakian
Di beberapa jalur terdapat
perubahan rute pendakian karena terkikisnya jalur pendakian. Kebakaran yang
melanda di tahun 2019 lalu membuat jalur menjadi gersang dan ketika hujan, air
langsung mengucur turun melalui jalur karena minimnya resapan. Yang paling
terlihat adalah rute dari pos 2 menuju pos 3 yang sebelumnya melewati jalur
tengah lalu menanjak terjal saat akan menjangkau pos 3, kini dibuat rute baru
di sebelah kiri. Di jalur baru ini, kita akan melewati lereng bukit namun lebih
landai bila dibandingkan dengan jalur sebelumnya. Melalui jalur baru ini kita
bisa melihat jalur lama yang legok akibat kebakaran, serta luasnya sabana di
jalur lama yang cukup indah.
Pemasangan CCTV di Sabana 1
Sabana 1 merupakan camp favorit
bagi para pendaki dengan lokasi yang cUkup nyaman, luas, serta keindahan
panorama pemandangan di sekitarnya. Di sini kita dapat melihat puncak Merbabu
di pagi hari termasuk indahnya Puncak Merapi dari arah sebaliknya. Terdapat
alat deteksi RFID serta kamera CCTV yang berada di atas menara kecil di
tengah-tengah lokasi tenda. Dengan kamera CCTV ini, patugas dapat memantau dengan
mudah pergerakan pendaki termasuk mendeteksi ketika terjadi kebakaran di
sekitar area camp. Jalur menuju puncak tidak begitu banyak perubahan dari
sebelumnya, dengan keindahan panorama yang masih tetap terjaga. Selesai
melakukan pendakian, petugas akan mengecek rombongan serta cek barang bawaan
kalian untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal maupun sebaliknya. Jangan
lupa bawa turun sampahmu.
Bagi kalian yang sudah kangen
dengan jalur ini, segera persiapkan persyaratan begitu buka, angkat carriermu
menuju hijaunya sabana, dan marilah mendaki dengan bijak…
Padat karya merupakan program yang sudah dijalankan sejak beberapa tahun yang lalu. Di negara berkembang, skema cash for work banyak dijalankan dalam jangka pendek sebagai instrumen jaring pengaman sosial untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pasca peristiwa darurat seperti bencana atau konflik yang terjadi di negaranya. Di Indonesia, konsep padat karya sudah dijalankan cukup lama. Setiap era menjalankannya dengan ciri khas yang berbeda-beda. Beberapa program diantaranya seperti program IDT pada masa Suharto, JPS di masa Habibie, serta PNPM di masa SBY.
Dengan berbagai keberhasilan di era sebelumnya, pada tahun 2018 Presiden Jokowi kembali mencanangkan program yang sama. Kebijakan padat karya tersebut tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin yang terdiri dari empat kriteria sasaran utama. Berbagai kementerian terkait turut dilibatkan termasuk pemerintah daerah di setiap wilayah demi mendorong program-program yang bersifat padat karya, sehingga dapat mengangkat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Kementerian Desa merupakan salah satu otoritas yang diberi tugas oleh presiden untuk menjalankan program padat karya tunai. Melalui anggaran negara yang bersumber dari Dana Desa, setiap desa diwajibkan mengalokasikan minimal 30 persen anggaran Dana Desa untuk program padat karya tunai yang sudah dimulai sejak tahun 2018 silam. Belakangan, program tersebut dikenal dengan sebutan Padat Karya Tunai Desa atau yang kerap disingkat dengan istilah PKTD. Meskipun pada awal pelaksanaan hanya difokuskan pada 1.000 desa percontohan, Kemendesa bergerak cepat dengan mewajibkan semua desa untuk menjalankan program padat karya.
Di masa pandemi ini, padat karya merupakan salah satu jaring pengaman sosial yang cukup efektif untuk menambah pendapatan masyarakat miskin, sehingga perekonomian masyarakat bawah tidak semakin terpuruk. Tidak hanya Kemendesa, beberapa kementerian lain turut dilibatkan agar dapat menyerap tenaga kerja secara maksimal. Lalu seperti apa implementasi padat karya selama dua tahun ini? Apakah program tersebut berjalan maskimal, apakah berhasil meningkatkan masyarakat miskin, apakah menyasar target secara tepat dan sesuai dengan harapan awal, atau malah sebaliknya?
Kamu penasaran? Simak aja isi lengkapnya di dalam buku ini. Berbagai cerita pegalaman dari para pelaku padat karya yang amat ciamik untuk dilewatkan. Sebuah penelitian saya pribadi selama beberapa bulan secara mendalam dengan sekitar 25 aktor yang terlibat langsung di dalamnya.
Situasi pandemi seperti saat ini cukup mempersempit ruang gerak manusia di berbagai aktivitas. Bahkan aktivitas outdoor seperti pendakian gunung ikut terkena imbas, sehingga kita semua harus selalu waspada dan menjaga diri. Padahal, mendaki gunung merupakan suatu aktivitas penghilang penat bagi sebagian orang yang hobi mendaki di kala penatnya kesibukan. Beberapa jalur pendakian gunung memilih tutup demi menjaga keamanan, namun tidak sedikit yang memilih untuk tetap beroperasi dengan mewajibkan berbagai aturan yang berbeda dari biasanya.
Pendakian Lawu di Masa Pandemi
Untuk itu, kita harus mencari informasi yang detail sebelum melakukan pendakian baik sebelum berangkat menuju lokasi beskem jalur pendakian, maupun ketika kita sampai di beskem tersebut. Apa saja sih yang perlu dipersiapkan untuk melakukan pendakian di masa pandemi? Apa yang berbeda antara pendakian biasa dengan pendakian di musim pandemi kali ini?
Kali ini saya akan sedikit berbagai pengalama dari beberapa pendakian saya pada saat pandemi. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, hal yang paling utama adalah persiapan sebelum berangkat.
Transportasi
Di beberapa wilayah, fasilitas transportasi umum di masa seperti ini cukup terbatas, bahkan bisa jadi tidak beroperasi sama sekali. Jika menggunakan alat transportasi umum, kita harus mencari informasi terlebih dahulu bagaimana cara kita agar bisa sampai ke beskem. Apakah bus/pesawat/ kereta api tersedia, dan apakah jadwalnya rutin atau hanya di waktu tertentu saja, termasuk persyaratan untuk naik transportasi umum juga harus kita pahami. Apabila menggunakan transportasi pribadi maka lebih mempermudah ruang gerak kita dan jangan segan untuk bertanya ke penduduk setempat ketika kita bingung arah. Jangan selalu mengandalkan google maps, karena jalan di pegunungan agak berbeda dengan jalur di kota.
Informasi Buka Tutup Jalur
Sebenarnya hal yang sepele, tapi kadang masih ada pendaki yang melupakan tahapan ini. Di masa pandemi beberapa gunung memilih untuk tutup, sehingga kita harus tahu terlebih dahulu apakah gunung tersebut buka atau tidak. Sering-seringlah cari informasi baik lewat internet maupun medsos mengenai hal ini. Jangan lupa untuk mencari informasi jalur yang akan kita gunakan, karena di beberapa kasus, bisa saja gunung tersebut buka, namun di beberapa jalur pendakian mengalami penutupan.
Contohnya adalah ketika saya mendaki gunung Sumbing di akhir Juli, dimana hanya ada satu jalur yang buka, sementara jalur yang lain masih ditutup. Begitu juga ketika mendaki Gunung Sindoro dan Lawu, pada waktu itu tidak semua jalur dibuka.
Kuota Pendakian
Sebagian besar jalur pendakian membatasi jumlah pendaki per harinya. Ada yang hanya memberikan kuota 10 persen, 20 persen, 30, persen, atau 50 persen dari kuota regular. Untuk itu, kita harus paham berapa banyak kuota pendakian yang dibuka. Jangan lupa untuk memperkirakan waktu pendakian kalian. Pada saat weekend tentu jumlah pendaki lebih banyak dari hari biasanya, apalagi pada masa long weekend, pasti akan semakin bertambah banyak. Di Semeru kuota pendakian saat ini dibatasi hanya 20 persen saja, bahkan ketika saya mendaki sumbing, jumlah pendaki per hari maksimal hanya 50 peserta.
Selain itu, tanyakan juga apakah jalur tersebut dibuka untuk semua kalangan. Di Wonosobo, beberapa jalur hanya boleh didaki oleh orang lokal, dalam artian hanya diperbolehkan untuk kalangan warga Jawa Tengah dan Jogja. Namun ada juga yang lumayan longgar seperti di Gunung Lawu.
Persyaratan Pendakian
Kalian harus memahami persyaratan pendakian apa saja yang wajib dijalankan ketika melakukan pendakian. Setiap gunung mempunyai persyaratan yang berbeda-beda. Ketika saya mendaki gunung Sumbing via Butuh, Kaliangkrik, terdapat beberapa persyaratan yang wajib dipatuhi antara lain, para pedaki wajib membawa alat makan sendiri baik piring, gelas, maupun sendok. Setiap pendaki wajib membawa hand sanitizer demi keamanan diri. Wajib memakai masker serta membawa masker cadangan. Jangan lupa untuk menanyakan berapa jumlah masker yang wajib dibawa. Untuk melakukan pendakian ke Semeru, masker yang wajib dibawa minimal 4 buah.
Cek apakah perlu surat sehat serta surat jalan dari desa atau tidak. Ketika saya mendaki gunung Lawu, persyaratan di sana cukup longgar tanpa perlu menunjukkan surat sehat. Bahkan pendakian juga relatif tidak dibatasi sehingga banyak pendaki dari daerah lain yang memilih untuk mendaki gunung ini. Beberapa wilayah bahkan mewajibkan rapid tes bagi para pendaki sesuai arahan dari pemerintah setempat. Pastikan bahwa kalian dalam keadaan sehat. Jika tiba-tiba demam, sebaiknya kalian mengurungkan niat untuk mendaki. Untuk itu, kalian harus rajin berolahraga dan jangan lupa untuk minum vitamin dan suplemen kesehatan.
Sebagian besar gunung mewajibkan pendaki mengisi tenda hanya 50 persen dari kapasitas yang ada. Jadi, jika kalian membawa tenda kapasitas 4 orang maka hanya bisa digunakan untuk 2 orang saja. Begitu juga jika misalnya rombongan kalian 3 orang, maka jangan hanya membawa tenda dengan kapasitas 4 orang, tetapi harus melebihi.
Pembatasan Waktu Pendakian
Waktu saya mendaki sumbing, kita hanya dibatasi maksimal satu malam untuk menginap di tenda dengan total maksimal pendakian 2 hari 1 malam. Begitu juga untuk jumlah pendaki yang ingin menginap di beskem juga dibatasi, maksimal 50 orang per malam. Hal yang sama juga terjadi di Semeru, para pendaki hanya diperbolehkan melakukan pendakian 2D1N. Jika kalian suka mendaki di malam hari, cek kembali apakah diperbolehkan atau tidak, karena pengalaman saya mendaki Sumbing hanya diperbolehkan melakukan pendakian dari pagi hingga sore hari, dan maksimal untuk pendakian jam 5 sore.
Pendakian di masa pandemi ini sebisa mungkin kalian meminimalisir pertukaran alat sesama rombongan. Usahakan untuk membawa dan memakai alat pribadi sendiri. Jika terpaksa bertukar, maka usahakan untuk menyemprot alat tersebut dengan disinfektan. Selain itu akan lebih nyaman jika kita mencari jalur yang relatif sepi agar meminimalisisr kontak fisik dengan pendaki lain. Yang terpenting, jangan lupa untuk selalu menjaga jarak agar kita tetap aman dan terhindar dari virus corona. Semoga kita selalu menjaga diri agar tetap sehat dan bisa beraktivitas dengan baik.
Naik pesawat bukanlah suatu hal yang mesti ditakutkan bagi kita semua. Gak jauh beda ama naik kapal, mobil, dan lainnya. Bagi yang baru pertama kali, naik pesawat bisa saja menjadi hal yang ditakutkan karena merasa canggung entah takut ketinggian, masih awam dengan prosedur cara naik pesawat, atau bingung bagaimana nanti begitu sampai di tujuan. Mungkin seperti itulah pengalaman yang saya rasakan ketika pertama kali naik pesawat, ketika harus berangkat sendirian di dalam penerbangan yang untuk pertama kalinya. Berbagai pikiran timbul di kepala entah cara check in, bagaimana mengurus bagasi, dan berbagai administrasi lainnya.
Hilir-Mudik Para Penumpang di Bandara NYIA
Namun bukan itu yang akan saya bahas di sini. Kali ini saya akan berbagi cerita dan berbagi tips naik pesawat di masa pandemi. Karena tidak sedikit orang yang takut adanya kerumunan, takut bersentuhan, bahkan takut keluar rumah dengan adanya corona yang menyebar di berbagai negara di dunia. Saya turut hal tersebut ketika pertama kali akan naik pesawat di masa pandemi ini. Untuk itu, saya akan berbagi pengalaman karena saya yakin banyak yang megalami hal serupa. Bahkan pengalaman ini lebih menakutkan bagi saya dibandingkan pengalama pertama naik pesawat. Bukan pada saat keberangkatan ke lokasi tujuan, namun ketakutan pada masa persiapan menjelang penerbangan.
Ada beberapa hal yang harus kalian persiapkan apabila ingin naik pesawat pada masa pandemi. Pertama, cari informasi persyaratan yang harus dipenuhi di lokasi tujuan. Umumnya sebagian besar bandara hanya mempersyaratkan bukti rapid tes yang menunjukkan bahwa kalian sehat dan non reaktif melalui hasil rapid. Namun ada juga bandara yang mewajibkan pengunjung melakukan tes swab. Jika hal itu diwajibkan, maka mau tak mau kalian harus melakukan tes swab karena jika hanya sekedar tes rapid persyaratan tersebut otomatis akan ditolak dan kalian perjalanan kalian menjadi terkendala. Teman saya pernah mengalami hal ini ketika akan melakukan penerbangan ke wilayah Papua. Untuk tiba di tujuan, para pengunjung wajib menyertakan bukti tes swab karena pada saat itu kasus di sana relatif tinggi. Begitu juga pengalaman teman lain yang harus melakukan swab tes ketika melakukan perjalanan ke Aceh.
Di beberapa bandara terdapat fasilitas tes rapid di tempat, namun lebih baik jika kalian mempersiapkan rapid tes beberapa hari sebelum keberangkatan. Biaya rapid tes cukup variatif tergantung lokasi dan kebutuhan. Namun untuk persyaratan penerbangan kalian sebaiknya tidak sekedar menunjukkan bukti hasil rapid semata, tetapi juga disertai surat keterangan dari dokter setempat yang menyatakan bahwa hasil rapid kalian non reaktif/ negatif. Jika ingin lebih aman sebaiknya melakukan tes di lokasi yang kredibel dan terkenal. Pastikan nama, tanggal tes, serta identitas kalian sesuai agar tidak ada permasalahan. Di Jakarta petugas akan menanyakan secara detail bukti persyaratan yang dibutuhkan. Bahkan petugas tidak segan-segan untuk menelpon lokasi tempat tes kalian untuk memastikan bahwa lokasi tes benar-benat valid. Jangan lupa cek masa aktif hasil tes kalian karena kebijakan bisa saja berubah. Apakah bukti tes tersebut hanya bisa digunakan untuk 3 hari, 1 minggu, atau lebih. Terakhir pemerintah memberi kelonggaran jika hasil rapid tes dapat digunakan hingga 2 minggu untuk penerbangan, sehingga tidak masalah jika kalian melakukan rapid tes jauh hari sebelum keberangkatan. Jika harus melakkan swab tes, periksalah jauh-hari sebelum keberangkatan dengan menyesuaikan perkiraan tanggal keberangkatan. Swab tes berbeda dengan rapid, dan hasilnya baru keluar sekitar 3 hari bahkan lebih, tergantung daerah kalian masing-masing. Untuk itu, kalian jangan melakukan swab mendekati hari keberangkatan.
Pastikan kondisi tubuh kalian dalam keadaan sehat. Ini merupakan bagian yang paling saya takutkan. Meski selama ini terlihat sehat, saya selalu khawatir apabila kondisi tubuh saya tiba-tiba panas menjelang tes rapid. Makanya, persiapkan mental kalian dan jangan lupa untuk menjaga kesehatan agar tetap fit sebelum melakukan pengecekan baik olahraga teratur, minum suplemen vitamin, dan kegiatan lain yang dapat menunjang kesehatan kalian.
Jika kalian bepergian untuk urusan tugas, maka persiapkan surat tugas kalian sebagai bukti ketika akan melakukan penerbangan. Surat ini sangat penting dan cukup membantu kalian di masa pandemi ini demi memperlancar urusan administrasi dan persyaratan lain, sehingga kalian tidak terlalu banyak dicecar pertanyaan. Jelaskan pula tujuan kalian serta berbagai hal penting yang dapat membantu kelancaran dalam pengecekan berkas. Persiapkan APD yang dibutuhkan, yang sekiranya sesuai dan biasa kalian bawa seperti masker, faceshield, atau hand sanitizer. Jika perlu, kalian bisa membawa keperluan lain seperti antiseptik, sarung tangan, bahkan alcohol. Cek juga maskapai penerbangan kalian, apakah bisa memesan tempat duduk yang sosial distancing atau tidak. Ada beberapa maskapai yang menyediakan fasilitas tersebut sehingga kursi di samping kalian dapat dikosongkan seperti pengalaman saya ketika bepergian ke luar Jawa. Namun apabila fasilitas ini tidak tersedia, kalian harus menjaga diri, minimalisir sentuhan, dan kalau bisa, tahan bersin atau batuk selama di pesawat.
Sebaiknya kalian tiba di bandara 3 jam sebelum keberangkatan agar lebih nyaman, karena di jam-jam sibuk pasti akan membutuhkan waktu yang cukup lama baik untuk pengecekan dokumen maupun antrian dalam proses check in. Jangan malu untuk menanyakan porsedur check in di bandara, karena setiap bandara mempunyai kebijakan yang berbeda beda. Pengalaman saya ketika di Jogja, begitu masuk rungan bandara langsung menuju lokasi pengecekan dokumen rapid, lalu masuk ke dalam lagi untuk proses check in dengan alur yang tertata. Kemudian baru mengisi data eHAC setelah kita memperoleh nomor kursi tempat duduk. Namun ketika di Pontianak, saya harus mengisi eHAC dan pemeriksaan dokumen, baru bisa check in. Jika tidak sesuai alur, maka petugas tidak mau memprosesnya.
Sebaiknya kalian mendownload registrasi aplikasi eHAC sebelum keberangkatan, karena tidak sedikit yang bermasalah ketika melakukan registrasi, dan harus dilakukan beberapa kali. Beberapa data yang harus diisi seperti nomor tempat duduk, alamat awal dan alamat tujuan, tujuan keberangkatan, dan beberapa hal terkait data diri. Petugas akan melakukan pengecekan data kalian di bandara terakhir sebelum keluar melalui scan barcode, dan jika kalian belum mengisi, maka kalian harus mengisi data secara manual di bandara tujuan, sehingga cek dengan teliti apakah data yang kalian isi sudah benar-benar terkirim. Persiapkan juga paket data yang terjangkau di berbagai wilayah, karena di beberapa bandara hanya terdapat sinyal tertentu.
Semoga kalian semua sehat, dapat bepergian seperti sedia kala dengan aman, sehat, dan terhindar dari corona, dan semoga pandemi ini segera berakhir agar kita bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala.
Wisuda merupakan sebuah impian bagi setiap mahasiswa. Setelah menyelesaikan perkuliahan selama rentang waktu tertentu, para mahasiswa akan menunggu momen pucak kebahagiaan, moment selebrasi, sebuah perayaan atau syukuran secara resmi yang dilepas oleh rektor sebagai tanda bahwa dia sudah menyelesaikan masa studinya. Prosesi tersebut dapat dilakukan di mana saja, entah di gedung fakultas, universitas, auditorium, bahkan menyewa hotel untuk menggelar hajatan bagi sebuah momen kebahagiaan para mahasiswa.
Begitu pula bagi para wisudawan/wisudawati yang akan mengikuti prosesi acara ‘sakral’ ini, tentunya sudah mempersiapkan segala kebutuhan dari mengundang keluarga terdekat untuk menghadiri prosesi acara yang biasanya diwakili oleh kedua orang tua, meskipun bagi mahasiswa dari luar kota kadang juga membawa saudara lain yang menunggu di luar gedung. Maklum, tiket masuk ruangan seringkali hanya terbatas untuk dua orang saja. Membawa pacar, istri, suami, atau teman dekat tentu menjadi hal yang ditunggu-tunggu di acara seperti ini. Bahkan tak jarang para wisudawan sudah memesan fotografer untuk berfoto bersama pasca wisuda di fotobooth yang banyak ditawarkan di luar gedung berjajar-jajar. Tak lupa, toga, samir, selendang, atau baju kebesaran lain sudah dipersiapkan jauh hari untuk dipakai di hari terbaik ini. Para wisudawati akan bangun pagi-pagi, kalau perlu sebelum subuh untuk mempersiapkan rias dan make up yang kadang juga harus antri berjam-jam. Sungguh luar biasa…..
Dresscode wisuda yang biasa-biasa saja
Namun gimana buat kalian yang wisuda di tahun 2020 ini? wisuda virtual atau daring yang hanya bisa bertatap muka secara online? Jangan berkecil hati kawan… Dengan wisuda online kalian bisa lebih menghemat ongkos karena tidak perlu menyewa make up. Cukup make up sendiri di rumah, tak perlu pergi ke gedung dan berdesak-desakan mencari keluarga pasca wisuda. Jalan di sekitaran juga tidak macet kok. Semua pasti ada hikmahnya. Kalian cukup wisuda dari rumah, duduk rapi di depan laptop atau hp, jangan lupa untuk mempersiapkan paket internet karena untuk gabung di wisuda virtual butuh kuota yang gak sedikit. Kalau perlu, siapkan kopi biar semakin cess pleng, bisa wisuda sambil ngopi, asal jangan sampai terlihat di kamera pas nyerupt kopinya, oke??
Saya sendiri gak pernah membayangkan akan wisuda online. Siapa sih yang gak ingin ikut prosesi wisuda seperti biasa, ‘berpesta’ dan bersyukur atas pencapaian kita? Namun apa daya di tahun ini sedang ada musibah, sebuah pandemi yang mengharuskan kita untuk saling menjaga diri, menjaga jarak, agar terhindar dari virus corona yang menyebar di seluruh dunia. Di sini, saya ingin sedikit cerita pengalama wisuda yang tak terlupakan. Bukan karena tidak bisa ikut wisuda seperti biasa, bukan karena harus wisuda secara virtual, namun lebih dari itu. Saya baru tahu jadwal wisuda saya secara gak sengaja dan hanya bisa melihat dari youtube tanpa bisa ikut langsug prosesinya. Sungguh malang nasib saya…. Namun saya memberikan disclaimer bahwa cerita ini saya bagikan karena sesuatu yang unforgettable moment dan jangan menyalahkan saya atau pihak kampus. Cukup dengarkan ceritanya sebagai sebuah momen yang tak terlupakan. Siapa tahu kalian juga punya momen yang lebih parah dari saya.. hahaaa
Jadi ketika mulai ada corona dan semua kegiatan wajib dilakukan secara WFH, saya sedang membuat tugas akhir dan mulai bimbingan dengan dosen. Beruntung, penelitian lapangan saya sudah selesai sehingga hanya fokus dari bab 2 sampai selesai. Meskipun suatu hal yang tak biasa bagi saya dan mungkin juga bagi semua mahasiswa, saya tetap berusaha bimbingan secara online. Singkat cerita, akhirnya saya bisa menyelesaikan tugas akhir dalam 3 bulan (meskipun jika dengan persiapan butuh lebih dari 6 bulan). Dilanjut dengan ujian dan tidak terlalu memerlukan perijinan yang ribet, karena saya bisa mengurusnya secara online baik melalui WA atau login melalui akun mahasiswa. Ujian secara online membuat saya lebih rileks dan gak setegang ujian langsung. Beruntung, saya sendiri sudah ckup terbiasa memakai aplikasi meeting online, sehingga tidak begitu mengalami kendala. Bahkan suasananya cukup cair yag dilakuka di rumah masing-masing, mungkin saja kalian akan merasakan hal yang sama.
Selesai ujian, saya mempersiapkan persyaratan wisuda setelah menyelesaikan sedikit revisi. Batas akhir pendaftaran yudisium biasanya sebulan, bahkan kadang dua bulan sebelum wisuda. Persiapan wisuda pada masa saya merupakan pertama kalinya dengan berbagai aturan yang serba online. Jangankan saya, pihak kampus sendiri masih dalam tahap persiapan dan perancangan metode online, sehingga relatif ribet dengan berbagai pihak yang harus dihubungi. Mulai dari pembayaran wisuda, pengurusan administrasi baik pihak jurusan, fakultas, pendaftaran di universitas, pengurusan bebas pustaka di fakultas, universitas, bahkan bebas pustaka di luar kampus. Belum lagi di masing-masing bagian, saya harus menghubungi petugas masing-masing dengan jobdes yang berbeda-beda. Namun sekali lagi, ini tahapan awal ya, jadi cukup wajar bagi saya jika relatif ribet karena belum menemukan metode yang saling terkoneksi.
Meskipun semua serba online, ternyata pengurusan bebas pustaka di fakultas harus secara ofline, padahal di fakultas lain sudah bisa daring. Atau harus menitipkan persyaratan seperti pengumpulan tugas ahir ke teman untuk datang langsung ke kampus apabila tidak mau mengurus sendiri. Jadi, mau gak mau saya harus datang ke kampus untuk menyelesaikan satu persyaratan ini, sementara yang lain sudah diurus secara online.
Setelah semua beres, saya tinggal menunggu jadwal wisuda yang telah ada di kalender akademik. Di jadwal tertulis jika wisuda saya seharusnya tanggal 5 Agustus, sehingga saya selalu update berita baik melalui teman atau poertal kampus untuk mencari info wisuda online. Hingga menjelang wisuda saya masih belum dapat info apakah wisuda sesuai jadwal atau diundur. Saya berkesimpulan jika wisuda diundur, karena wisuda gelobang sebelumnya ikut mundur akibat pandemic. So, waktu itu saya milih naik Gunung Lawu bersama temen-temen lewat jalur Cemoro Kandang. Saya nge-camp di pos 4, dan kebetulan di sini sinyal internet cukup lancar. Hari-H pun masih saya pantau jadwal wisuda saya, dan belum juga menemukan informasi sama sekali. Bahkan saat saya Tanya ke bagian administrasi di fakultas, dijawab jika wisuda tetap sesuai jadwal, meskipun saya tidak tahu bagaimana saya bisa ikut. Demi mendapatkan informasi, saya masih menyempatkan diri mencari info di atas gunung, effort yang lar biasa.. (sambil menyemangati diri). Esok hari, masih saja saya pantau jadwal wisuda dan masih belum ada info sama sekali. Fix, mungkin wisudanya diundur bulan depan, dua bulan lagi, atau entah kapan. Setelah itu, saya hanya sekali menengok kampus login ke akun mahasiswa, berharap ada info wisuda.
Hingga suatu ketika, pada tanggal 19 agustus saya pergi ke kota untuk suatu urusan. Selesai urusan, saya mampir ke minimarket dan tiba-tiba ada notif live di hp saya. Saya memang sudah lama subscribe channel kampus, sehingga selalu ada notif apabila pihak kampus update video lewat youtube. Untuk internetan saya memang harus keluar rumah karena sinyal di desa agak susah, makanya saya tidak setiap hari buka internet. Begitu ada notif, langsung saja saya buka dan ternyata sedang ada live wisuda. Awalnya saya gak begitu ‘ngeh’, dan saya pikir itu wisuda kemarin, tapi kemudian saya baru sadar jika saat itu tayangan secara live, apalagi ada judul wisuda gelombang 4 yang ternyata itu jadwal wisuda saya. Kaget bukan main.. langsung saja ku-googling cari berita jadwal wisuda. Eh, ternyata informasi tersebut diupload di portal universitas seminggu yang lalu, sementara jadwal pendaftaran untuk ikut wisuda sudah ditutup kemarin. Langsung saya kontak temen yang wisuda bareng, eh,, ternyata dia juga gak tau, dan kamipun ketawa karena ini semua. Di saat pandemi, mahasiswa banyak yang di kampung, dan pemberitaan hanya melalui web yang jarang dibuka oleh para mahasisiswa, tentu hal yang disayangkan. Pihak kampus tidak aktif memberi info kepada mahasiswa yang sedang banyak berada di desa. Yah, mau gimana lagi.
Saya hanya bisa duduk di kursi, mengikuti prosesi wisuda virtual yang hanya tinggal 15 menit itu. Sambil ketawa-tawa melihat kebahagiaan para peserta. Ada yang memakai toga, samir, dengan hem putih dan dasi. Saya menonton streaming dengan kaos biasa, duduk menikmati siaran youtube dengan sebungkus rokok dan sebotol minuman yang baru dibeli tadi.
Ah… sebuah wisuda yang gak disengaja…
Karena wisuda adalah hal yang bias, dan kita harus tetap berkarya…
Beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mementukan suatu arah tanpa mempergunakan kompas yaitu :
Dengan tanda-tanda alam, misalnya
Kuburan orang Islam, biasanya membujur dari utara ke selatan, dengan batu nisan berada di sebelah utara.
Masjid selalu menghadap ke kiblat/ barat laut
Matahari terbit dari timur, dan terbenam di sebelah barat
Sebagian pohon yang berlumut, menunjukkan arah timur, karena terik sinar matahari belum terlalu panas.
Dengan tanda bintang
Semua benda langit berjalan dari arah timur ke barat
Perhatikan rasi bintang salib (gubug penceng), perpanjangan garis diagonal yang memotong secara horizontal dari tempat kedudukan kita adalah sebelah selatan.
Memeperkirakan Cuaca
Tanda alam
Jika hari terang/cerah
Sebelum matahari terbenam, maka langit berwarna merah
Di pagi hari terdapat embun dan kabut
Di malam hari, bulan dan bintang bercahaya
Jika cuaca hujan/ kurang baik
Awan gelap dan bergantung rendah
Matahari tenggelam berwarna pucat
Di pagi hari biasanya terdapat pelangi
Di pagi hari udara terasa panas dan kering
Jika akan terjadi badai
Terdapat hujan sebelum angin
Matahari terbit dari balik awan
Awan bergerak dengan garis-garis yang jelas
Terjadinya pertukaran cuaca
Terdapat banyak angin sebelum hujan, dan tidak jadi hujan
Pagi hari udara terasa panas dan kering
Tanda dengan binatang
Jika akan terjadi hujan, biasanya burung terbang rendah, semut-semut tetap berada di dalam sarangnya, dan di malam hari, cacing menimbun tanah berbutir, dan apabila hujannya lama, maka akan keluar dari lubangnya.
Jika terjadi pergantian cuaca, maka semut akan keluar dari sarangnya, dan mondar-mandir, cacing tetap berada di dalam lubang, dan kelelawar terbang hingga senja.
Secara singkat, peta adalah gambaran permukaan bumi yang diproyeksikan di bidang datar dengan skala tertentu. Definisi lain, menyebutkan bahwa peta adalah penggambaran dua dimensi pada bidang datar dari sebagian atau seluruh permukaan bumi yang dilihat secara tegak lurus dari atas dan diperkecil atau diperbesar dengan skala dan metode tertentu.
Contoh Peta permukaan Gunung Merapi
Peta telah digunakan sejak bangsa Babylonia sekitar tahun 2300 SM. Ketika itu peta digunakan oleh pemerintah untuk kegunaan pajak tanah. Ilmu khusus yang mempelajari tentang seluk-beluk perpetaan dinamakan kartografi. Sedangkan orang yang menguasai teknik pembuatan peta atau menguasai ilmu perpetaan disebut kartograf atau kartografer. Di Indonesia badan khusus yang berwenang membuat dan mengeluarkan sumber peta nasional adalah BAKOSURTANAL (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional).
Peta merupakan penyajian data dan informasi permukaan fisik bumi yang penggunaannya ditujukan untuk memudahkan para pemakai dalam menelusuri suatu obyek. Pada peta, dapat diperoleh analisa kondisi medan seperti jalan setapak, gunung, lembah, jurang, sungai, desa, dan sebagainya tanpa harus berada pada lokasi yang kita amati. Tujuan dari adanya peta tersebut adalah untuk menyajikan gambar dari bentuk-bentuk permukaan bumi agar memungkinkan untuk dianalisa maupun diukur. Peta sendiri, kemudian berkembang sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. Untuk keperluan navigasi darat, umumnya dipakai peta topografi.
Adapun fungsi peta antara lain adalah :
1.Menunjukkan posisi atau lokasi dari suatu daerah/wilayah yang terdapat di permukaan bumi.
2.Memperlihatkan ukuran, bentuk, jarak, dan luas suatu wilayah di permukaan bumi.
3.Memperlihatkan atau menggambarkan bentuk-bentuk permukaan bumi.
4.Menyajikan data tentang potensi suatu daerah.
5.Komunikasi informasi ruang.
6.Membantu suatu pekerjaan, misalnya untuk konstruksi jalan, navigasi atau perencanaan.
7.Analisis data spesial, misalnya perhitungan volume.
8.Membantu pembuatan suatu disain, misalnya disain jalan.
9.Sebagai penunjuk jalan bagi orang yang melakukan travelling.
dan lain sebagainya.
Ada berbagai macam peta, tergantung kebutuhuan kita. Ditinjau dari jenisnya, terdiri dari peta foto dan peta garis. Peta Foto ialah peta yang dihasilkan dari mozaik foto udara atau ortofoto yang dilengkapi garis kontur, nama, dan legenda. Peta Garis ialah peta yang menyajikan detail alam dan buatan manusia dalam bentuk titik, garis, dan luasan.
Ditinjau dari informasinya, terdiri dari peta umum dan khusus. Peta Umum/Peta Ikhtisar adalah peta yang menggambarkan segala sesuatu yang ada dalam suatu daerah. Di dalam peta umum terdapat antara lain sungai, sawah, tempat pemukiman, jalur jalan raya, jalur jalan kereta api, dan sebagainya. Sedangkan Peta Khusus/Peta Tematik adalah peta yang menggambarkan kenampakan-kenampakan tertentu di permukaan bumi saja. Contoh peta tematik antara lain : peta kepadatan penduduk, peta kriminalitas, peta irigasi, peta transportasi, peta tanah dan lain-lain.
Jika dilihat dari skalanya, maka ada 3 macam peta, yaitu peta teknis, yang menyajikan gambaran proyeksi permukaan fisik bumi untuk keperluan teknis tertentu, seperti peta jaringan kereta api, jaringan jalan raya, dan sebagainya. Peta ini berskala besar, antara 1:10.000, maupun kurang dari itu. Peta topografi, menyajikan gambaran proyeksi sebagian dari permukaan bumi, dan sering digunakan pecinta alam untuk kegiatan penjelajahan. Berskala sedang, antara 1: 25.000 hingga 1: 250.000. Peta geografik, menyajikan gambaran proyeksi seluruh permukaan bumi. Biasanya dituangkan dalam atlas. Skalanya 1: 250.000 atau lebih.
Skala peta adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak sesungguhnya dengan satuan atau tehnik tertentu. Semakin kecil angka dibelakang tanda maka makin besar skala peta tersebut. Begitu juga sebaliknya, semakin besar angka dibelakang tanda maka makin kecil skala peta tersebut.Semakin besar skala suatu peta, maka akan semakin spesifik dan jelas informasi yang akan kita dapatkan.
Ada tiga macam jenis skala pada peta, yaitu :
Skala Angka atau Skala Numeric
yaitu skala yang menunjukkan perbandingan antara jarak di peta dan jarak yang sebenarnya di lapangan, yang dinyatakan degan angka pecahan. Contohnya seperti 1 : 1.000 yang berarti 1 cm di peta sama dengan 1.000 cm jarak aslinya di dunia nyata.
Skala satuan, biasnya disebut skala Inci (Verbal Scale)
yaitu skala yang menunjukkan jarak inci di peta sesuai dengan sejumlah mil di lapangan.Misalnya 1 inchi to 5 miles dengan arti 1 inch di peta adalah sama dengan 5 mil pada jarak sebenarnya. 1 inci = 4 mil, artinya 1 inci di dalam peta = 4 mil di lapangan. Contoh negara yang menggunakan sistem ini adalah Amerika.
Skala Garis atau Skala Grafis
yaitu skala yang ditunjukkan dengan garis lurus, yang dibagi-bagi dalam bagian yang sama setiap bagian menunjukkan satuan panjang yang sama pula.
skala garis
Macam-macam arti warna pada peta
Warna Laut
hijau : 0 - 200 meter dpl / ketinggian.
kuning : 200 - 500 meter dpl / ketinggian.
coklat muda : 500 - 1500 meter dpl / ketinggian.
coklat : 1500 - 4000 meter dpl / ketinggian.
coklat berbintik hitam : 4000 - 6000 meter dpl / ketinggian.
coklat kehitam-hitaman : 6000 meter dpl lebih / ketinggian.
Warna Darat
biru pucat : 0 - 200 meter / kedalaman.
biru muda : 200 - 1000 meter / kedalaman.
biru : 1000 - 4000 meter / kedalaman.
biru tua : 4000 - 6000 meter / kedalaman.
biru tua berbintik merah : 6000 meter lebih / kedalaman.
Untuk keperluan bernavigasi darat, seperti yang sering dipakai oleh para pecinta alam, umumnya menggunakan peta topografi, sesuai dengan daerah yang ingin dijelajahi.
Secara bahasa, topografi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata. Yaitu "topos", yang berarti tempat dan "grafos" yang berarti gambar. Peta topografi memetakan tempat permukaan bumi yang reliefnya diwakili oleh garis kontur yang setiap garis kontur mewakili ketinggian tertentu, sehingga dengan garis kontur ini kita bisa melakukan orientasi medan (ormed).
Pada peta topografi, disertai pula berbagai keterangan untuk mengetahui lebih jelas tentang daerah permukaan bumi yang dipetakan diantaranya yaitu :
Judul Peta
Judul peta terdapat pada bagian atas tengah peta, menyatakan lokasi yang ditunjukkan oleh peta bersangkutan. Lokasi berbeda maka judulnya akan berbeda pula. Biasanya berada dibagian tengah atas suatu peta.
Nomor Peta
sebagai nomor registrasi dari badan pembuat, nomor peta juga berguna sebagai petunjuk bila kita memerlukan daerah lain di sekitar daerah yang terpetakan. Biasanya di bagian bawah disertakan juga indeks nomor yang mencantumkan nomor-nomor peta yang ada di sekeliling peta tersebut. Biasanya dicantumkan di sebelah kanan atas peta
Keterangan Peta
Keterangan PetaMerupakan informasi dari pembuatan peta tersebut, sepeti tahun pembuatannya, nama instansi pembuat, sistem proyeksinya, dan tujuan /keperluan dari pembuatan peta tersebut. Semakin baru tahun pembuatannya, maka data yang disajikan akan semakin akurat.
Skala peta
Skala peta adalah jarak anatara di peta dengan medan yang sebenarnya. Skala peta dapat berupa skala angka, satuan, maupun garis.
Legenda Peta
Legenda PetaYaitu informasi tambahan untuk memudahkan interpretasi peta. Legenda ini memuat arti dari simbol yang dipakai didalam peta, seperti riangulasi, Jalan, Jalan setapak, Sungai, Desa, Pemukiman dan lain-lain.
Arah Peta
Yang perlu diperhatikan dalam sebuah peta adalah arah utara peta. Cara paling mudah yaitu dengan memperhatikan arah huruf-huruf tulisan yang ada pada peta. Arah atas tulisan adalah arah utara peta. Pada bagian bawah peta biasanya juga terdapat penunjuk arah utara peta, utara sebenarnya dan utara magnetis. Utara sebenarnya menunjukkan arah kutub utara bumi. Utara Magnetis menunjukan kutub utara magnetis bumi.
Kutub utara magnetis bumi letaknya tidak bertepatan dengan kutub utara bumi, kira-kira di sebelah utara Kanada di Jasirah Boothia. Karena pengaruh rotasi bumi, letak kutub magnetis bumi bergeser dari tahun ke tahun. Utara Magnetis adalah arah utara yang ditunjukkan oleh jarum magnetis kompas. Untuk keperluan praktis, utara peta, utara sebenarnya dan utara magnetis dapat dianggap sama. Untuk keperluan yang lebih teliti perlu dipertimbangkan adanya peta Ikhtilaf Magnetis, Ikhtilaf Peta Magnetis dan Variasi Magnetis.
Utara sebenarnya (TN) : Mengarah pada kutub Utara dan sesungguhnya menggambarkan garis lintang bola dunia (Globe), dalam perjalanan tidak perlu diperhatikan.
Utara Peta (GN) : Sebagai Garis Vertikal pada peta, merupakan proyeksi garis lintang dan bujur dunia pada bidang datar (Peta).
Utara Magnetis (MN) : Arah yang ditunjuk oleh Jarum Kompas, tidak tepat ke arah Kutub Utara, tetapi ke Jazirah Boothia di Utara Kanada.
mengenal utara peta
Deklinasi Peta adalah beda sudut antara sebenarnya dengan utara peta. Ini terjadi karena perataan jarak paralel garis bujur peta bumi menjadi garis koordinat vertikal yang digambarkan pada peta.
Deklinasi Magnetis adalah selisih beda sudut utara sebenarnya dengan utara magnetis.
Deklinasi Peta magnetis adalah elisih besarnya sudut utara peta dengan utara magnetis bumi.
Variasi Magnetis adalah perubahan/pergeseran letak kutub magnetis bumi pertahun.
Koordinat Peta
Koordinat Peta adalah kedudukan suatu titik pada peta. Koordinat ditentukan dengan garis yang saling berpotongan tegak lurus. Dalam menyatakannya cara membaca koordinat dengan menyatakan suatu kedudukan titik pada bidang atau terhadap dua garis bilangan. Titik koordinat merupakan nilai bilangan yang menyatakan kedudukan dari titik tersebut pada sistem koordinat yang digunakan. Koordinat terbentuk dari garis yang mendatar (horisontal) dan garis yang tegak (vertikal) yang saling berpotongan.
Sistem koordinat yang resmi dipakai ada 2 yaitu:
koordinat geografis (geographical coordinate)
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur yang tegak lurus terhadap garis khatulistiwa dan garis lintang yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat ini dinyatakan dengan suatu derajat, menit, dan detik. Garis bujur 0 derajat berada di kota Greenwich, London. Misalnya, titik A (106°45’52,55”).
koordinat grid (gridal coordinate)
Dalam koordinat grid ini kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak terhadap suatu titik acuan. Di Indonesia misalnya titik acuan NOL ini ada di sebelah barat Jakarta ( 60LU-98BT ). Untuk menyatakannya, dikenal berbagai sistem koordinat, baik sistem 4 angka, 6 angka, maupun 8 angka. Semakin tinggi angka yang dipakai, maka semakin tinggi pula kadar akurasi yang dihasilkan. Misalnya, titik A= 23,34 ME : 55,71 MN.
Ada juga sistem koordinat lokal, yang dibuat tergantung dari keperluan dan jarak antara garis-garis yang berpotongan datar dan tegak lurus. Biasanya berjarak 1 cm. Koordinat ini tidak bisa dipakai pada daerah yang luas dan kegiatan yang besar.
Garis Kontur adalah garis khayal berbelok-belok, yang menghubungkan titik-titik yang berketinggian sama dari permukaan air laut. Adapun sifat-sifat garis kontur secara umum antara lain :
Satu garis kontur mewakili satu ketinggian tertentu.
Garis kontur yang lebih rendah mengelilingi garis ontur yang lebih tinggi
Garis kontur tidak pernah berpotongan
Kontur yang rapat menunjukkan medan yang curam, sedangkan kontur yang renggang menunjukkan daerah yang landai.
Pada daerah yang landai, maka garis konturnya saling berjauhan, sedangkan pada daerah yang rapat garis konturnya akan saling berdekatan.
Pada kerapatan tertentu, biasanya diberi indeks kontur/ garis kontur tebal (biasanya setiap 10 kontur)
Garis kontur yang berbentuk huruf “U” menandakan punggungan gunung, dimana ujungnya menjauhi puncak.
Garis kontur yang berbentuk huruf “V” terbalik menandakan lembah, dimana ujung yang melengkung mendekati arah .puncak.
Orientasi Medan pada adalah menyamakan kedudukan (apa yang digambarkan) di peta, dengan kondisi medan yang sebenarnya. cara ini sangat membantu dalam ilmu navigasi sehingga kita dapat menentukan posisi kita dengan tanpa membidik kompas. Untuk keperluan orientasi ini, kita perlu mengenal tanda-tanda medan yang ada dilokasi. Ini bisa dilakukan dengan menanyakan kepada penduduk setempat nama-nama gunung, bukit, sungai, tanda-tanda medan lainnya, atau dengan mengamati kondisi bentang alam yang terlihat dan mencocokkan dengan gambar kontur yang ada dipeta. Untuk keperluan praktis , utara magnetis dianggap sejajar dengan utara sebenarnya, tanpa memperlitungkan adanya deklinasi.
ormed
Langkah-langkah yang harus dilakukan yaitu :
Cari tempat yang terbuka, agar terlihat tanda medan yang jelas
Letakkan peta di bidang datar
Samakan antara utara peta dengan utara kompas, dengan cara meletakkan kompas diatas peta dan sejajarkan antara arah utara peta dengan utara magnetis/utara kompas, dengan demikian, letak peta akan sesuai dengan bentang alam yang dihadapi.
Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekeliling anda dan temukan tanda medan tersebut dipeta, lakukan untuk beberapa tanda medan yang ada.
Ingat tanda medan itu, bentuk dan tempatnya dimedan sebenarnya maupun dipeta, ingat-ingat tanda medan yang khas dari setiap tanda medan.
2. Resection
Resectionadalah menentukan kedudukan/ posisi di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik resection membutuhkan bentang alam yang terbuka untuk dapat membidik tanda medan. Tidak setiap tanda medan harus selalu dibidik.
Langkah-langkah resection :
Lakukan orientasi peta/medan
Cari tanda medan yang mudah dikenali di medan sebenarnya dan di peta, minimal 2 buah titik
Bidik tanda medan tersebut dengan kompas, dan perhatikan derajat yang dihasilkan dari bidikan tersebut, back azimuthkan hasil dari bidikan tadi
Lakukan untuk 2 tanda medan atau lebih, agar hasil yang kita dapatkan lebih akurat
Pindahkan hasil tersebut ke sudut peta
Tarik garis lurus 2 atau lebih objek tersebut dengan protactor
Perpotongan 2 garis tersebut akan menghasilkan posisi dimana kita berada
Untuk melakukan pengecekan kita gunakan orientasi medan dengan peta
3. Intersection
Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali dilapangan. Teknik intersection ini digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat di lapangan, pada teknik ini kita harus yakin dahulu posisi kita di peta.
Langkah-langkah intersection adalah :
Lakukan orientasi peta/medan
Tentukan posisi kita di peta
Bidik obyek sasaran kita
Pindahkan sudut kompas ke sudut peta
Bergerak ke posisi lain, dan pastikan posisi tersebut di peta, ulangi langkah di atas
Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut/ lebih yang didapat adalah posisi obyek sasaran di peta.
4. Plotting Peta
Plotting Peta adalah menggambar garis, titik, atau tanda tertentu ke dalam peta.
Misalnya :
Lembah atau sungai kita gambar dengan garis warna biru
Jalan setapak kita gambar dengan garis warna kuning
Punggungan, kita gambar dengan garis warna hijau
Lintasan perjalanan, kita gambar dengan garis warna merah
Garis resection, kita gambar dengan pensil
Namun, plotting peta ini, di tempat saya tidak semuanya dipakai.
Yang sering dipakai adalah :
Lintasan perjalanan, sebelum melakukan perjalanan kita melakukan plotting lintasan perjalanan yang akan kita lalui, dengan garis putus-putus.
Garis bidikan, biasanya setelah kita melakukan bidikan, baik resection, maupun intersection, kita menggarisnya menggunakan pensil.
Realisasi perjalanan yang dilakukan setelah kita tiba di tempat tujuan, yaitu garis lintasan realisasi perjalanan sebenarnya yang kita tempuh, karena dalam melakukan perjalanan kita tidak selalu sama dengan plotting lintasan perjalanan yang kita buat, karena adanya berbagai rintangan yang ada selama perjananan yang tidak kita ketahui. Realisasi perjalanan ini dibuat dengan garis lurus, dari titik sebelumnya menuju titik terakhir kita.
Fungsi dari plotting peta yaitu :
Sebagai perencanaan perjalanan dari titik awal, hingga titik akhir
Untuk mempermudah dalam memahami medan
Agar posisi kita bias terkontrol sewaktu-waktu.
Agar kita mengetahui dan memahami hambatan-hambatan kita di dalam melakukan perjalanan.
5. Analisa Perjalanan
Analisa perjalanan perlu dilakukan agar kita dapat membayangkan kira-kira medan apa yang akan kita lalui, dengan mempelajari peta yang akan dipakai. Yang perlu di analisa adalah jarak, waktu dan tanda medan.
Jarak
Jarak diperkirakan dengan mempelajari dan menganalisa peta, yang perlu diperhatikan adalah jarak yang sebenarnya yang kita tempuh bukanlah jarak horizontal. Kita dapat memperkirakan jarak (dan kondisi medan) lintasan yang akan ditempuh dengan memproyeksikan lintasan, kemudian mengalihkannya dengan skala untuk memperoleh jarak sebenarnya. Untuk lintasan yang lurus, maka bisa menggunakan penggaris untuk kemudian diperhitungkan dengan skala peta.
Sedangkan untuk lintasan yang berbelok, dapat dilakukan dengan menggunakan benang, dengan memposisikan benang tersebut sesuai dengan lintasan yang berliku-liku, kemudian dibentangkan, dan diukur dengan penggaris, untuk diperhitungkan dengan skala yang ada.
Namun, cara yang paling mudah yaitu dengan menggunakan alat ukur yang bernama kurvi meter. Alat ini berbentuk seperti roda, dan cara memakainya tinggal kita jalankan alat ini (seperti menjalankan roda) mengitari lintasan dari ujung awal hingga ujung akhir lintasan, setelah itu kita lihat hasil yang tertera di dalamnya. Namun, sebelum menjalankannya, kita harus mengesetnya terlebih dahulu, dengan menyamakan skala yang ada di kurvimeter dengan skala peta yang kita pakai. Yang paling umum adalah skala 1:25.000 dan 1:50.000. Biasanya, alat ini menempel menjadi satu di pinggir kompas.
Waktu
Bila kita dapat memperkirakan jarak lintasan, selanjutnya kita harus memperkirakan berapa lama waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak tersebut. Tanda medan juga bisa untuk menganalisa perjalanan dan menjadi pedoman dalam menempuh perjalanan. Dalam memperkirakannya, kita tidak hanya perpatokan pada jarak lintasan dengan skala yang ada, tetapi kita juga harus mempertimbangkan hal-hal lain, seperti: lama waktu yang kita butuhkan untuk melakukan orientasi medan, untuk kita istirahat, makan, dan lain sebagainya. Sehingga kita bisa lebih mempertajam analisa perjalanan kita dari awal hingga titik berikutnya/ hingga titik terakhir.
Ada sebuah teori untuk memperkirakan waktu tempuh, yang bernama aturan Naismith/teori Naismith. Dalam teori ini, kecepatan rata-rata orang berjalan di medan datar sejauh 5-6 km/jam, sedangkan untuk tanjakan, sekitar 600m per jam. Tetapi, dalam memperkirakan waktu, sebaiknya kita mengacu pada pengalaman kita masing-masing, karena yang lebih paham akan kondisi dan kekuatan kita adalah diri kita masing-masing.
Tanda medan
Kita dapat mempertajam analisa perjalanan kita dengan memanfaatkan tanda medan yang ada, seperti bukit, punggungan, lembah, maupun sungai yang akan kita lewati, sehingga perjalanan yang akan kita lalui terasa ringan. Jangan terlalu cepat membuat kesimpulan bahwa peta yang kita pegang salah. Memang banyak sungai-sungai kecil yang tidak tergambarkan di peta, karena sungai tersebut kering ketika musim kemarau. Ada kampung yang sudah berubah, jalan setapak yang hilang, dan banyak perubahan-perubahan lain yang mungkin terjadi.
Bila kita menjumpai ketidaksesuaian antara peta dengan kondisi lapangan, baca kembali peta dengan lebih teliti, lihat tahun keluaran peta, karena semakin lama peta tersebut maka banyak sekali perubahan yang terdapat pada peta tersebut. Jangan hanya terpaku pada satu gejala yang tidak ada di peta sehingga hal-hal yang yang dapat dianalisa akan terlupakan. Kalau terlalu banyak hal yang tidak sesuai, kemungkinan besar anda yang salah (mengikuti punggungan yang salah, mengikuti sungai yang salah, atau salah dalam melakukan resection). Peta 1:50.000 atau 1:25.000 umumnya cukup teliti.
Update terus peta yang akan kita pergunakan. Semakin baru peta yang kita pakai, maka semakin akurat data yang ada. Misalnya saja, jika kita memakai peta lereng selatan merapi antara tahun 1984 dengan peta tahun 2008, maka akan terasa sekali perbedaan yang ada, apalgi dengan peta yang terbaru, yaitu peta setelah erupsi merapi tahun 2010. Maka, akan terlihat banyak perubahan-perubahan yang terjadi.
6. Mengetahui Ketinggian Suatu Tempat
Untuk mengetahui ketinggian suatu tempat secara manual dapat dilakukan dengan melihat terlebih dahulu interval peta, lalu hitung ketinggian tempat yang ingin kita ketahui, memang ada rumusan umum interval kontur= 1/2000 skala peta. Tetapi, rumus ini tidak selalu benar. Beberapa peta topografi keluaran Direktorat Geologi Bandung aslinya berskala 1:50.000 (interval kontur 25 m) , tetapi kemudian diperbesar menjadi berskala 1:25.000 dengan interval kontur tetap 25 meter.
Pada suatu kondisi tertentu yang mendesak, misalnya SAR gunung hutan, sering kali peta diperbanyak dengan cara di foto kopi. Untuk itu, interval kontur peta tersebut harus tetap ditulis. Peta keluaran Bakosurtanal (1:50.000) membuat kontur tebal untuk setiap kelipatan 250 meter, atau setiap selang 10 kontur. Seri peta keluaran AMS (skala 1:50.000) membuat garis kontur tebal untuk setiap kelipatan 100 meter. peta keluaran Direktorat Geologi Bandung tidak seragam ketentuan ketebalan garis konturnya. Dengan demikian tidak ada ketentuan khusus dan seragam untuk penentuan garis kontur tebal.
Macam-macam garis ketinggian antara lain :
Garis ketinggian sebenarnya, yang diukur dari permukaan air laut relative/ rata rata (MDPL).
Garis ketinggian nisbi, yang diukur dari suatu tempat yang telah diketahui tingginya.
Bila ketinggian kontur tidak dicantumkan, maka kita harus menghitung ketinggian suatu tempat dengan cara :
Cari 2 titik berdekatan yang nilainya tercantum
Hitung selisih ketinggian antara kedua titik tersebut. Hitung berapa kontur yang terdapat antara keduanya (jangan menghitung kontur yang sama harganya bila kedua titik terpisah oleh lembah). Dengan mengetahui selisih ketinggian kedua titik tersebut dan mengetahui juga jumlah kontur yang didapat, dapat dihitung berapa interval konturnya (harus me rupakan bilangan bulat).
Lihat kontur terdekat dengan salah satu titik ketinggian (bila kontur terdekat itu berada diatas titik, maka nilai kontur itu lebih besar dari titik ketinggian. bila kontur terletak dibagian bawah, nilainya lebih kecil). Hitung nilai kontur terdekat itu yang merupakan kelipatan darinilai interval kontur yang telah diketahui dari perhitungan sebelumnya, lakukan perhitungan diatas beberapa kali sampai yakin dri nilai yang didapat untuk setiap kontur.
Cantumkan nilai beberapa kontur pada peta anda agar mudah mengingatnya.
Selain dari garis kontur, kita dapat dapat mengetahui tinggi suatu tempat dengan bantuan titik ketinggian, misalnya seperti titik Triangulasi , yaitu suatu titik atau benda berupa pilar/tonggak yang menyatakan tinggi mutlak suatu tempat dari permukaan laut. Titik triangulasi digunakan oleh jawatan-jawatan topografi untuk menentukan suatu ketinggian tempat dalam pengukuran ilmu pasti pada waktu pembuatan peta.
Macam titik triangulasi :
Primer: P.14/3120
Kuarter: Q.20/1350
Sekunder: S.75/1750
Tersier: T.16/975
Namun, untuk mempermudah melihat ketinggian suatu tempat, kita bisa juga menggunakan alat seperti GPS, maupun altimeter. Altimeter merupakan alat pengukur ketinggian yang bisa membantu dalam menentukan posisi. Pada medan yang bergunung tinggi, resection dengan menggunakan kompas sering tidak banyak membantu, disini altimeter lebih bermanfaat.
Dengan menyusuri punggungan-punggungan yang mudah dikenali di peta. Altimeter akan lebih berperan dalam perjalanan, yang harus diperhatikan dalam pemakaian altimeter yaitu bahwa setiap altimeter yang dipakai harus dikalibrasi. Periksa ketelitian altimeter di titik-titik ketinggian yang pasti. Altimeter sangat peka terhadap guncangan, perubahan cuaca, dan perubahan temperatur. Prinsip kerjanya berdasarkan tekanan udara.
7. Koreksi sudut
Pada pembahasan utara telah dijelaskan bahwa utara sebenarnya dan utara kompas berlainan. Hal ini sebetulnya tidaklah begitu menjadi masalah penting jika selisih sudutnya sangat kecil, akan tetapi pada beberapa tempat, selisih sudut/deklinasi sangat besar sehingga perlu dilakukan perhitungan koreksi sudut yang didapat dari kompas(azimuth)yaitu :
A. Dari kompas (K) dipindahkan ke peta (P): P= K +/- (DM +/- VM)
B. Dari peta( P) dipindahkan ke kompas (K): K= P +/- (DM +/- VM)
Keterangan:
Tanda +/- diluar kurung untuk DM (deklinasi magnetis/iktilaf magnetis)
= dari K ke P: DM ke timur tanda (+), DM ke barat tanda (-) = dari P ke K: DM ke timur tanda (-), DM ke barat
tanda (+)
Tanda +/- di dalam kurung untuk VM (variasi magnetis)
=tanda (+) untuk increase/naik; tanda (-) untuk decrease/turun.
Contoh Perhitungan:
Diketahui sudut kompas/azimuth 120 derajat, pada legenda peta tahun 1942 tersebut: DM 1 derajat 30 menit ke timur, VM 2 menit increase, lalu berapa sudut yang akan kita pindahkan ke peta?
P= K=+/- (DM +/- VM) ingat! kompas ke peta, DM ke timur VM increase
besar VM sekarang (2002)= (2002-1942)x 2 menit = 120 menit= 2 derajat (1 derajat=60 menit)
sudut P= 120 derajat + (1 menit 30 detik + 2 derajat) = 123 derajat 30 menit, jadi sudut yang dibuat di peta adalah 123 1/2 derajat.
Kompas adalah alat penunjuk arah pada bidang datar, untuk mengetahui arah utara magnetis. Jarum kompas selalu menunjuk ke arah kutub magnetis bumi, yang kemudian disebut utara magnet/ magnetic north (UM/MN), dengan titik sasarannya yang disebut dengan sudut kompas.
kompas
Kompas bekerja berdasarkan medan magnet, dan mampu menunjukkan dengan tepat kedudukan dari kutub-kutub magnet bumi. Hal ini terjadi apabila dalam pemakaian kompas tidak dipengaruhi oleh medan magnet atau medan listrik serta benda-benda yang mengandung unsur logam. Pada umumnya, kompas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
a.Badan kompas, merupakan tempat komponen-komponen kompas lain berada
b.Jarum kompas, yang selalu menunjuk arah kutub utara dan selatan magnet bumi
c.Skala penunjuk, menunjukkan bagian derajat arah mata angin dan skala derajat
Macam-Macam Kompas
Pada dasarnya, jenis kompas ada berbagai macam, namun berdasarkan fungsinya,terdapat 2 macam kompas, yaitu :
Kompas bidik, merupakan kompas yang digunakan untuk mengetahui azimuth suatu benda dari tempat kita berada dengan cara membidik. Kompas yang mudah digunakan untuk membidik sasaran, namun dalam penggunaannya membutuhkan peta, penggaris, dan protacktor sebagai intepretasi dari hasil yang di bidik . Misalnya, kompas prisma.
contoh kompas bidik
Kompas orienteering, merupakan kompas yang digunakan untuk melakukan suatu kegiatan orientasi, baik orientasi peta maupun orientasi medan perjalanan. Misalnya, kompas silva. Kompas silva kurang akurat jika dipakai untuk membidik, tetapi banyak membantu dalam pembacaan dan perhitungan di peta.
contoh kompas orientering
Kompas yang baik adalah kompas yang memiliki tingkat keakurasian yang tinggi terhadap derajatnya, jarum penunjuk arah stabil, dan pada ujungnya dilapisi fosfor agar dapat terlihat dalam keadaan gelap.
Pemakaian Kompas
Kompas dipakai dengan posisis horizontal, sesuai dengan arah garis medan magnet bumi. Dalam pemakaiannya, perlu dijauhkan dari benda-benda yang mengandung unsur logam, karena bisa mempengaruhi jarum kompas, sehingga tingkat keakurasiannya akan berkurang. Adapun cara penggunaan kompas :
Pertama, kita hilangkan gangguan lokal yang dapat mengganggu kinerja kompas.
Kita atur kedudukan kompas, agar benar-benar pada posisi mendatar (horisontal) sesuai dengan arah garis medan magnet bumi.
Orientasikan arah kompas ke sasaran yang dituju
Bidik sasaran secara tepat dengan melihat posisi kompas (mendatar) melalui celah pembidik, garis rambut, dan obyek garis lintasan harus berada pada satu garis lurus, agar didapat derajat yang sebenarnya.
Baca skala derajat penyimpangan antara kutub utara dengan garis lintasan yang ditunjuk jarum kompas dengan benar.
Sudut penyimpangan tersebut merupakan besaran sudut kompas yang kita cari.
Sudut kompas atau disebut juga dengan azimuth besarnya dihitung searah dengan jarum jam. Ada 3 macam azimuth, yaitu:
Azimuth sebenarnya, yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara sebenarnya dengan titik sasaran
Azimuth magnetis, yaitu besaran sudut yang dibentuk antara utara magnetis dengan titik sasaran
Azimuth peta, yaitu besaran sudut yang dibentuk antara utara peta dengan titik sasaran.
Back azimuth adalah besaran sudut ke belakang, sebagai kebalikan dari azimuth. Cara menentukan back azimuth yaitu :
Jika azimuth (X°) kurang dari 180°, maka ditambah 180°.
Jika azimuth (X°) lebih dari 180°, maka dikurangi 180°.
Bila sudut azimuth = 180 derajat maka back azimuthnya adalah 0 derajat atau 360 derajat.
Adapun, fungsi back azimuth yaitu untuk mengoreksi arah litasan agar kita tetap berada pada satu garis lurus, dan juga untuk mempermudah kita dalam melakukan resection.
Tujuan akhir dari suatu penjelajahan atau pengembaraan adalah kembali lagi ke tempat asal dengan selamat. Begitu juga dengan para pecinta alam yang akan melakukan penjelajahan ataupun pendakian gunung. Oleh karena itu, seorang pendaki gunung harus mampu menguasai navigasi darat secara terampil, setidak-tidaknya untuk dirinya sendiri agar tidak tersesat dalam perjalanannya. Hal seperti ini merupakan sebuah sikap antisipasif dari konsekuensi-konsekuensi yang akan timbul.
Navigasi adalah suatu teknik yang digunakan untuk menentukan posisi dan arah. Sedangkan navigasi darat adalah penentuan posisi arah perjalanan, baik di peta maupun di medan sebenarnya dengan menggunakan teknik-teknik tertentu. Orang yang melakukan navigasi darat disebut sebagai navigator. Pemahaman kompas, peta, serta teknik-teknik penggunaanya harus dimiliki dan dipahami dengan baik. Pengetahuan bernavigasi darat ini berguna bila suatu saat tenaga kita diperlukan untuk usaha-usaha pencarian dan penyelamatan korban kecelakaan atau tersesat di gunung dan hutan, dan juga untuk keperluan olahraga antara lain lomba orienteering.
Kata “navigasi darat” sendiri berasal dari bahasa Yunani. Yaitu dari kata navis yang berarti kapal/perahu, dan agere yang berarti mengarahkan. Dalam istilah lain, navigasi darat sering juga disebut dengan Ilmu Medan Peta Kompas (IMPK). Navigasi darat erat kaitannya dengan para pecinta alam yang akan melakukan kegiatannya di alam terbuka. Karena itu, perlu adanya perencanaan perjalanan yang cermat sebelum menjelajahi medan yang akan dilalui, karena aktifitas kepecintaalaman merupakan jenis kegiatan yang beresiko tinggi (high risk activity). Apabila pemahaman kita terhadap navigasi darat tersebut maksimal, maka kita akan dapat mengantisipasi kondisi medan jelajah yang akan kita tempuh, dan selanjutnya dapat menentukan langkah-langkah praktis sekaligus memanfaatkan kondisi medan untuk meminimalisir resiko yang ada.
Adapun kunci dari ilmu Navigasi Darat ini antara lain seperti adalah kemampuan dalam merekam dan membaca peta, kemampuan menggunakan kompas dan alat navigasi lainnya, maupun kemampuan mengorientasi medan dan peta. Apabila kita telah memahaminya, maka sebaiknya kita selalu mengaplikasikannya, minimal secara berkala. Orang yang telah mahir navigasi darat sekalipun, jika ilmunya sudah lama tidak diaplikasikan, maka akan kesulitan untuk mengingatnya kembali. Hal dasar yang wajib kita pahami dalam bernavigasi darat yaitu meliputi: peta, kompas, dan teknik pemakaiannya, baik peta maupun kompas.
Dalam melakukan navigasi darat, ada beberapa perangkat alat yang kita gunakan, seperti:
Bumi
Bentuk bumi kita tidak bulat seperti bola, tetapi lebih menyerupai ellipsoid. Hal ini menyebabkan jari-jari bumi di ekuator dan jari-jari di kutub bumi tidak sama.
Kutub-kutub bumi
Kutub bumi merupakan titik khayal, karena tidak terdapat tanda khusus di medan sebenarnya. Kutub utara dan selatan bumi dinamakan kutub sebenarnya atau kutub geografik. Kutub utara bumi sering disebut dengan True North, sedangkan kutub selatan bumi disebut dengan True South.
Lintang dan Bujur
Adalah garis khayal yang melintang dan membujur dari garis ellipsoid.
Garis Lintang merupakan garis yang melintang secara horizontal/ datar. digunakan untuk menentukan lokasi di bumiterhadap garis khatulistiwa. Garis lintang yang berada di sebelah utara khatulistiwa disebut dengan garis lintang utara, sedangkan garis lintang yang berada di sebelah selatan khatulistiwa disebut lintang selatan. Lintang Utara dan Lintang Selatan menyatakan besarnya sudut antara posisi lintang dengan garis Khatulistiwa. Garis Khatulistiwa sendiri adalah lintang 0 derajat. Makin ke utara atau ke selatan, angka derajatnya makin besar hingga pada angka 90Āŗ (Sembilan puluh derajat) pada ujung kutub utara atau kutub selatan.
Satuan derajat bisa juga disebut Jam sehingga setiap derajat terbagi menjadi 60 menit (dengan simbol ‘) dan setiap menit terbagi lagi menjadi 60 detik (dengan simbol ”). Jika misalnya garis lintang suatu tempat tertulis seperti ini : 57Āŗ 27′ 14”LS, maka dibaca sebagai 57 derajat 27 menit 14 detik Lintang Selatan. Pada sistem pemetaan internasional huruf U sebagai Lintang Utara diganti dengan huruf N (North). Sedangkan Lintang Selatan tetap menggunakan huruf S karena Selatan dalam bahasa Inggris (South) juga berawalan huruf S.
Garis Bujur merupakan garis yang membujur secara vertikal /tegak lurus. Garis bujur yang berada di sebelah barat meridian (Greenwich) disebut sebagai bujur barat, sedangkan garis yang membujur di sebelah timur meridian (Greenwich) disebut bujur timur. Dengan pengetahuan seperti itu berarti derajat antar garis bujur semakin melebar di daerah khatulistiwa dan makin menyempit di daerah kutub.
Jika pada Garis Lintang, daerah yang dilalui garis khatulistiwa (equator) dianggap sebagai nol derajat, untuk Garis Bujur, tempat yang dianggap sebagai nol derajat adalah garis dari kutub utara ke kutub selatan yang tepat melintasi kota Greenwich di Inggris. Jarak kedua garis bujur itu dari Greenwich hingga pada batas 180Āŗ (seratus delapan puluh derajat). Pada jarak itu, Bujur Barat dan Bujur Timur kembali bertemu. Garis bujur inilah yang pada perkembangannya dijadikan sebagai patokan dalam menentukan waktu di berbagai belahan dunia.
Sama seperti garis lintang, jarak antar garis bujur juga disebutkan dalam satuan derajat. Penulisannya pada koordinat juga sama seperti penulisan untuk Garis Lintang. Yang membedakan hanyalah symbol huruf di belakangnya. Misalnya huruf B untuk Bujur Barat dan huruf T untuk Bujur Timur. Pada peta internasional, huruf E (East) untuk Bujur Timur dan huruf W (West) untuk Bujur Barat.
Bagiku, Gunung Lawu bukanlah suatu gunung yang asing karena masih berada di zona yang gak terlalu jauh untuk dijamah. Berada di wilayah Jawa Tengah tentu membuat biaya menjadi cukup terjangkau dengan kantong kita (gue kale) yang pas-pasan. Yah… begitulah, kira-kira saat ini, tapi sangat berbeda kondisinya ketika saya masih SMA dulu. Lawu adalah gunung yang pertama kali saya daki saat kelas 3 SMA. Mempunyai lingkungan teman anak-anak sispala membuatku sering diajak ketika mereka mendaki gunung, termasuk berbagai kegiatan outdoor lainnya… walaupun saya tak tergabung di dalamnya.
Begitu ceritanya mengapa saya bisa mendaki gunung yang lumayan tinggi ini. Sebagai seorang yang cukup antusias di kegiatan outdoor, saya cukup bersemangat ketika temen-temen sispala mengajakku naik Lawu sepulang sekolah. Waktu itu kami berangkat dari sekolahan di Sabtu siang. Sepulang sekolah kami langsung cabut cari bis ke arah Solo. Asal kalian tahu aja, kami berangkat dengan seragam SMA untuk menghemat ongkos transport. Dengan seragam sekolah, kita akan membayar biaya bis setengah dari harga umum tanpa ditanyakan identitas macam-macam sama kondektur. Kalau kalian ingin ngirit, coba deh, ikutin cara saya waktu SMA dulu…
Pendakian tektok pertama kali tentu gak pernah saya lupakan, merasakan kenangan alangkah dinginnya suasana malam di Gunung ini. Apalagi, waktu itu kami tidur di pinggir jalan setapak dengan tutup selimut yang dipakai bersamaan. Maklum, anak-anak sudah terlalu kecapekan dan tidak ada satupun yang merelakan tenaganya buat mendirikan tenda. Sungguh sia-sia kami bawa tenda sampai ke puncak tanpa kepake sama sekali. Tetapi yang masih menjadi kenangan adalah poto kami di puncak dengan seragam SMA yang tidak akan pernah saya dapatkan lagi, dan itu merupakan satu-satunya kenangan berfoto di puncak dengan seragam sekolah. Jarang-jarang anak SMA muncak gunung pake seragam, gak ada gurunya juga di sana… Yah, minimal itu sebuah wujud anak muda jaman dulu buat mengekspresikan suatu kegembiraan dan berita bahagia, bukan begitu?
Sampai sekarang, sudah sekitar 4 kali saya menjamah gunung Lawu ini walau sebatas mengenal jalur Cemoro Sewu, jalur yang paling umum dan paling dikenal bagi para pendaki. Layaknya Slamet via Bambangan, Sindoro-Sumbing via Garung, Merbabu via Wekas, Merapi via Selo, atau Ungaran via Mawar. Pernah juga sesekali lewat jalur Cemoro Kandang, karena ingin menikmati sate kelinci sehabis pendakian. Ceritanya, sekitar lima tahun yang lalu saya bersama teman-teman main ke Candi Cetho, sehabis menikmati suasana kebun teh. Disitu saya melihat beberapa pendaki yang mau muncak via Cetho ini. Tentu suatu saat saya ingin mencoba jalur ini kalau sudah resmi dibuka. Pada saat itu jalur Cetho ini belum dibuka secara resmi, walaupun sudah banyak yang mendaki.
Jika sebelumnya selalu mendaki secara tektok di malam hari, untuk kali ini saya ingin mendaki secara santai. Niat kami dari awal memang untuk menikmati suasana padang sabana dan nge-camp di sana. Makanya, kami melakukan perjalanan ini selama tiga hari, dan hanya melakukan perjalanan di siang hari saja. Dulu saya selalu tektok di setiap pendakian, namun beberapa tahun belakangan ini jarang sekali saya tektok, bahkan bisa dikatakan hampir tidak pernah. Habitku sekarang, mendaki buat menikmati suasana, bukan sekedar mencapai puncak seperti ketika SMA dulu. adoh adohhh…
Jalur Candi Cetho merupakan jalur favorit bagi pendaki yang ingin menikmati sabana-nya Lawu, karena tidak akan ditemui di jalur resmi lainnya seperti Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang. Lokasi beskemnya terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Saat menuju ke sini, kita akan disuguhi panorama pemandangan kebun teh di sepanjang perjalanan. Tentu begitu istimewa… bahkan jika berminat, kalian bisa mengunjungi wisata kebun teh di sepanjang perjalanan menuju beskem baik sepulang ataupun sebelum naik. Perlu kalian ketahui, Jalur Lawu via Ceto lumayan panjang lur, karena lokasi beskem berada di ketinggian sekitar 1.500 mdpl. Kalian hitung sendiri, berapa elevasinya untuk menuju ke puncak Lawu di 3.265 mdpl (cari kalkulator…)
Begitu sampai di beskem, kami istirahat sebentar sambil mempersiapkan kembali semua logistik untuk pendakian. Pak Tarjo menerima para pendaki dengan baik dan ramah, termasuk juga kepada kami ketika sampai lokasi. Bahkan beliau rela membawakan carrier menuju rumahnya saat kami kesulitan untuk mencari tempat parkir. (baik banget yaaa..) waktu itu memang sedang banyak pendaki yang datang dan berkumpul di seputaran tempat parkir. Penyambutan tuan rumah membuat kami nyaman berada di beskem ‘Barokah' ini. Pendakian Lawu kali ini lumayan ramai, karena mayoritas gunung sedang tutup. Bahkan hampir semua gunung tinggi di Jawa Tengah dalam kondisi ditutup, dan cuma Lawu satu-satunya yang resmi dibuka. Maklum, mungkin itu puncaknya musim kemarau, makanya pada kebakaran dimana-mana. Tak lama kemudian kami berangkat menuju ke pos retribusi yang berada di sebelah barat Candi Cetho. Untuk menuju ke pos pendaftaran, kita harus mlipir sedikit lewat samping lokasi Candi Cetho. Sambil berjalan, saya menoleh ke turis yang masuk ke kawasan candi dengan kain jarik yang disarungkan. Nuansanya mirip seperti wisatawan Candi Prambanan atau Borobudur. Ternyata tiket masuk ke Candi Cetho ini masih murah, hampir sama seperti saat aku ke sini lima tahun lalu. Berbeda jauh dengan harga tiket Candi Prambanan atau Borobudur sekarang ini.
Saat registrasi, kami meninggalkan identitas yang akan diambil lagi pada saat turun nanti. Tak lupa, petugas pos jaga menginfokan dengan jelas tentang peraturan pendakian ini baik dari segi jalur, estimasi waktu, maupun larangan-larangan yang tidak boleh kami lakukan selama pendakian. Cuss, langung saja kami memulai perjalanan setelah semua urusan beres. Tak lupa kami berdoa seperti biasa, agar diberi kelancaran selama pendakian hingga kembali ke rumah. Beberapa pendaki terlihat masih istirahat di shelter sebelah pos ketika kami berjalan memutari candi. Jalur awal pendakian memang tidak melalui kawasan candi, dan hanya memutar di sebelah kirinya. Namun, di depan nanti kita akan dapat melihat dengan jelas Candi Kethek yang berada di samping kanan jalur pendakian.
Menuju ke pos 1 (Mbah Branti) 1.705 mdpl
Di awal perjalanan ini kami melewati tiga gapura kecil dari bambu yang cukup mirip dari segi model dan ukuran. Di atasnya tertulis, ‘Pendakian Lawu via Candi Cetho’ terpampang jelas. Setelah itu kami harus melewati lereng jalan memutari sungai, mengikuti jalan yang sudah di-cor seperti anak tangga walaupun hanya beberapa ratus meter saja. Di depan ada sedikit jalur yang dirubah akibat longsor, sehingga kami harus berpindah menuju jalan berbatu. Sekitar 15 menit perjalanan, kita sampai di area Candi Ketek dengan struktur batu yang terlihat sangat kuno melebihi usia Candi Cetho di depan sana. Beberapa lahan milik warga terlihat sepi karena sudah tidak terdapat tanaman yang harus diurus. Dilihat dari bekas tanamannya, sepertinya mereka baru panen dan membiarkannya begitu saja sambil menunggu musim tanam. Lahan tanaman di jalur ini tidak terlalu luas dan kami hanya melewati sebentar saja. Selebihnya berupa semak belukar yang harus kami lalui dengan hati-hati. Pipa-pipa air terlihat menyembul di beberapa lokasi di pinggiran jalur pendakian. Pipa ini berfungsi untuk menyalukan air dari atas, sebagai sebagai sumber air bagi penduduk setempat.
Oh ya, setelah melewati kebun kami istirahat sebentar di kolam yang lumayan lebar. Kolam mini sekitar 10 meter persegi ini baru dibangun dan terlihat belum selesai, dengan material batu yang tersusun rapi di atas dan di bawah kolam. Penyaringannya pun cukup lancar, sehingga air terlihat selalu jernih. Beberapa kepala singa mengeluarkan air melalui mulutnya mengairi kolam ini. Suasana ini sungguh membuat keadaan menjadi segar. Kata seorang teman, kolam tempat kami istirahat ini dibuat oleh pemeritah untuk para peziarah yang ingin mandi, agar mereka segar kembali baik sebelum maupun sesudah ziarah ke atas. Masuk akal juga sih, karena di beberapa sudut kolam terdapat sesajen yang sudah mulai kering. Mungkin ada peziarah yang menaruhnya sekitar 2 atau 3 hari yang lalu, berdoa agar hajat mereka terkabul. Para pendaki yang mulai turun juga cukup banyak. Beberapa dari mereka kemudian beristirahat dan membersihan tubuh dari debu-debu jalanan yang cukup tebal. Jalur Cetho ini memang sering digunakan oleh peziarah menuju ke puncak untuk berdoa di Hargodumilah. Bahkan di setiap pos terdapat kotak besi berwarna hitam yang digunakan untuk menaruh sesajen. Untuk menuju ke pos satu ini, kita membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam perjalan dari titik start. Di pos 1 terdapat bangunan kayu yang ditutupi terpal. Areanya tidak terlalu luas sih, tapi bisa untuk menampung sekitar 5 tenda di sini.
Menuju ke pos 2 (Brakseng) 1.915 mdpl
Perjalanan menuju ke pos 2 ini keadaannya masih mirip dengan sebelumnya, dengan tanah berdebu diselimuti vegetasi yang lumayan rapat. Jalurnya juga cukup landai, membuat perjalanan kami tidak begitu ngos-ngosan. Tidak begitu banyak perbedaan vegetasi di sini dengan jarak tempuh sekitar satu jam, kita akan sampai di pos 2. Namun di pos 2 lokasinya lebih luas dan dapat menampung hingga 20 tenda. Jika kalian lelah, disini terdapat shelter yang cukup nyaman dan luas dibanding pos 1 tadi.
Bagi kalian yang belum pernah melewati jalur ini, pos 2 paling gampang untuk diingat, karena terdapat pohon besar dengan penutup kain yang melilitnya. Suasana di pos 2 memang terkesan mistis, namun di siang hari cukup sejuk, dan semilir angin begitu terasa saat kita beristirahat di bawah pohon besar ini. Walaupun terik matahari menyengat, suasana di sini tidak begitu panas, karena sinarnya tertutup oleh ranting-ranting pohon yang rimbun. Malah terlihat indah ketika sorotnya menyembul di sela-sela dedaunan yang lebat.
Menuju Pos 3 (Cemoro Dowo) 2.230 mdpl
Setelah istirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Perjalanan kali ini mulai terasa menanjak dengan jarak tempuh yang lumayan lama, sekitar 90 menit perjalanan untuk sampai di pos berikutnya. Dengan medan tanah yang masih berdebu, kontur tanaman lebih rapat daripada sebelumnya yang didominasi oleh pohon lamtoro di sepanjang perjalanan. Untuk menuju ke pos 3 ini, fisik dan pernafasan harus mulai diatur dengan baik.
Sekitar 10 menit sebelum pos 3 terdapat mata air yang bisa digunakan untuk mengambil air bagi para pendaki. Begitu mendengar kata ‘mata air’ membuat jiwaku bersemangat, karena itu berarti saya bisa memperoleh stok air di atas gunung. Ketika dapat info di pendaftaran mengenai mata air ini, saya membayangkan jika lokasinya terletak agak menyimpang dari jalur dan harus turun, bahkan mungkin sedikit terjal untuk mencapainya. Ternyata dugaanku salah, karena begitu tiba di lokasi saya bisa mendapatkan air dengan mudah di jalur pendakian. Air ini berasal dari kucuran pipa yang sengaja dilubangi, agar para pendaki bisa mengambil dan memanfaatkannya untuk keperluan minum. Kalau ini sih sangat mudah buat mengambilnya, tinggal membuka penutupnya, air sudah bisa mengalir. Modelnya mirip seperti di pos 2 Merbabu via Wekas.
Sebenarnya untuk menuju ke pos 3 hanya butuh berjalan sekitar 10 menit, tetapi kami memutuskan untuk mendirikan tenda disini. Selain karena dekat dengan lokasi air, kami dapat info dari pendaki yang baru turun jika pos sudah penuh dan agak susah jika kami harus nge-camp di sana. Walaupun hari masih terlihat terang, saya langsung mengeluarkan tenda dan memasangnya karena sudah terlalu nyaman berada di sini. Malam ini hanya tenda kami saja yang berdiri kokoh di sini. Sebenarnya lokasinya cukup luas dan bisa menampung lebih dari 10 tenda dengan model bertingkat, tetapi debu di sini cukup tebal, sehingga para pendaki lebih memilih pos 3 sebagai tempat menginap walaupun harus naik-turun ke sini buat ambil air. Memang sih, di pos mata air ataupun pos 3 adalah lokasi yang paling ideal buat istirahat jika kalian akan melakukan pendakian santai selama 3 hari.
Pagi hari (yang agak siang), kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju camp selanjutnya. Benar saja, tidak sampai 10 menit kami sudah tiba di pos 3. Di sini terdapat shelter dari seng untuk istirahat dan beberapa tenda terlihat masih berdiri ditinggal penghuninya yang sedang perjalanan summit ke puncak sejak jam 3 tadi. Sebagian orang masih bersantai, terlihat bercengkerama sambil mengaduk kopi menunggu kawannya yang sedang muncak. Mereka memang tidak berencana ke puncak, cukup menikmati suasana di lokasi camp. Camps site nya juga bertingkat seperti di pos mata air tadi, tetapi tidak terlalu berdebu. Kami hanya sebentar berada di sini, karena tenaga masih full, lanjut ke pos berikutnya.
Menuju ke Pos 4 (Penggik/Ondorante) 2.563 mdpl
Perjalanan selanjutnya katanya perjalanan yang paling susah, karena medannya sangat terjal. Benar juga, saya merasakan jalur yang cukup terjal sepanjang trek yang dilewati. ‘Pelan-pelan saja lur, yang penting napasnya teratur, daripada jalan cepat tetapi nanti terlalu banyak istirahat’. Begitu kata temenku. Saya sendiri masih seperti biasa dan belum terasa lelah karena baru beberapa menit memulai perjalanan.
Di awal perjalanan, vegetasi yang terlihat masih sama dengan sebelumnya, didominasi oleh pohon lamtoro atau kaliandra yang cukup rapat di sekeliling kita. Sesekali vegetasi agak terbuka walau kami tidak dapat melihat sekeliling dengan jelas. Maklum, kabut mulai menyelimuti perjalanan kita kali ini. Jalurnya juga masih sempit dan berdebu. Namun saat akan tiba di pos 4 vegetasi mulai berganti dengan pohon cemoro yang cukup banyak. Dan hampir 2 jam perjalanan, kita sampai di pos 4, terlihat dengan adanya shelter kecil dari seng seperti pos-pos sebelumnya. Camp site di sini tidak terlalu luas, hanya bisa menampung sekitar 3 atau 4 tenda saja. Makanya, jarang yang mendirikan tenda di pos 4 ini.
Menuju ke Pos 5 (Bulak Peperangan) 2.860 mdpl
Setelah istirahat setengah jam lebih, kami melanjutkan perjalanan menuju ke pos 5. Di awal perjalanan masih saja terlihat pohon cemoro, namun setelah beberapa saat kita akan menjumpai pohon edelweis yang lumayan banyak di kanan kiri jalur. Melihat bunga ini, membuat saya semangat, merasakan benar-benar perjalanan di gunung. Jalur ini relatif lebih mudah daripada sebelumnya, walaupun waktu tempuh sedikit lebih lama. Memang sih, karena setelah melewati edelweis, terdapat beberapa bonus, jalur sedikit landai. Tetapi setelah itu kembali menanjak walaupun jalurnya berbentuk zig-zag. Saya sendiri merasakan jika jalur ini lebih susah daripada jalur sebelumnya. Ada sejumlah pohon yang roboh di beberapa tempat yang kita lalui, sehingga kalian harus berhati-hati untuk melompatinya.
Di pertengahan jalan, terdapat dua buah pohon besar di sebelah kanan kita. Jika naik ke kanan melewati pohon tersebut, kita akan melewati jalur lama untuk turun ke bawah, tetapi kami belok ke kiri, karena tujuannya mau ke puncak. Setelah melalui jalur yang zig-zag, kita akan menemui jalur yang landai, bahkan semakin landai menjelang tiba di pos 5. Menuju ke pos 5 ini akan semakin terasa nuansa padang sabananya. Terlihat beberapa sabana kecil di sepanjang jalur. Senang rasanya saat saya melewati beberapa jalur landai ini, karena tidak memerlukan tenaga lebih buat berjalan. Cukup gunakan tenaga buat menikmati suasana alamnya. Tak terasa, perjalanan sudah hampir satu setengah jam. Di sini kita akan menemui pos 5 yang sangat datar. Bahkan, buat mendirikan ratusan tenda di sini sepertinya muat. Jika kalian lewat jalur lain, yaitu jalur Jogorogo, maka akan bertemu dengan jalur Cetho di titik ini. Berbeda dengan pos-pos sebelumnya, di pos ini tidak terdapat shelter untuk berteduh pendaki ketika hujan tiba.
Menuju camp Gupak Menjangan 2.944 mdpl
Kami berfoto sebentar begitu melihat pemandangan sabana yang bagus ini. Jika lewat jalur ini, kalian tidak akan menemukan pemandangan yang menarik sebelumnya. Tetapi pemandangan-pemandangan indah akan kalian jumpai begitu menuju pos 5 hingga puncak. Berbeda dengan jalur di bawah tadi, perjalanan kali ini tidak begitu banyak debu yang harus kami lalui. Senang sekali rasanya, bisa melewati trek dengan pemandangan yang sangat indah ini. Jalurnyapun cukup landai, sehingga kami dapat dengan santai berjalan tanpa ngos-ngosan. Terlihat bukit yang menjulang tinggi dengan batu-batu besar yang menempel di sebelah kanan dan kiri jalur ketika perjalanan awal dari pos 5 ini. Pohon pinus tumbuh begitu kokohnya menutupi bukit tersebut, walaupun terlihat agak gersang di musim kemarau ini.
perjalanan dari Pos 5 menuju Gupak Menjangan
Selanjutnya akan mulai terlihat padang sabana yang terhampar begitu luas di depan kami. Tanah datar yang sangat luas ini sebenarnya cukup sayang untuk dilewatkan begitu saja, namun terik matahari yang begitu panas membuat kami tidak bisa berlama-lama, takut kulit menjadi gosong. Beberapa pendaki terlihat bersantai dan mendirikan tenda. Mungkin mereka ingin menikmati pemandangan sabana di malam hari sehingga memutuskan untuk mendirikan tenda di situ. Perjalanan menuju Gupakan Menjangan tidak terlalu lama, hanya 30 menit perjalanan kami sudah tiba. Keadaan alam di sekeliling kami yang membuat mata terpesona, menjadikan perjalanan pendek ini terasa begitu cepat. Ah, ternyata lokasi di Gupak menjangan lebih syahdu lagi, didominasi oleh pohon pinus yang cukup rimbun, membuat lokasi begitu favorit untuk dijadikan camp bagi para pendaki.
Gupak Menjangan
Terik matahari masih panas dan cahaya masih terlihat terang di atas sana ketika kami tiba di Gupakan Menjangan. Walauapun begitu, kami tidak ingin melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya. Cukup sampai di sini saja perjalanan hari ini, karena kami ingin rebahan dahulu sambil menikmati indahnya sabana yang terbentang luas di depan kami. Sabana ini terbelah oleh jalur pendakian yang berada di tengah-tengahnya. Saya langsung meletakkan carrier di bawah pohon pinus, lalu berjalan ke arah sabana untuk menikmati suasana. Di sebelah kiri terdapat bukit yang ditumbuhi oleh pohon pinus, sementara di sebelah kanan masih saja terlihat padang sabana yang cukup luas. Beberapa pendaki terlihat sedang berjalan melewati jalur, membelah sabana hingga ujungnya, lalu berbelok sedikit ke kiri memutari bukit hingga samar-samar mereka menghilang.
Saya masih saja duduk di semak-semak yang terlindungi oleh awan, mengobrol dengan kawan sependakian, sementara beberapa teman yang lain sedang hunting foto di tengah sabana. Ketika hujan tiba, sabana yang berupa cekungan di depan saya duduk ini akan menjadi danau kecil dengan diameter sekitar 100-an meter persegi. Namun hanya beberapa jam setelah hujan reda, air kembali surut masuk ke dalam tanah. Pendaki yang beruntung dapat mengabadikannya seperti Ranu Kumbolo di Semeru versi mini. Katanya sih tempat ini dulu buat minum binatang yang ada di sekitaran sini dikala tergenang air. Salah satunya adalah menjangan, makanya lokasinya disebut gupak menjangan. Cukup lama kami bersantai bersama beberapa pendaki semenjak tadi, tanpa terasa cuaca hampir gelap. Saya bergegas untuk mendirikan tenda yang terletak di ujung, agar tidak terlalu berisik dan mengganggu pendaki lain, karena kami bawa genset yang selalu menggelegar tiap malam (hehehe). Sudah ada sekitar 10 tenda yang berdiri di sekitaran kami saat ini, dan tentunya akan semakin bertambah banyak sampai malam nanti. Hawa di luar tenda cukup dingin, saatnya saya masuk dan bergantian dengan teman yang siap-siap untuk memasak. Bagi kalian yang mendaki Lawu ini, jangan lupa bawa jaket karena cuaca di sini sangat dingin.
Menuju Hargo Dalem 3.152 mdpl
Awalnya sih saya sama sekali tidak ada niatan buat summit ke puncak, karena sudah pernah ke sana beberapa kali meskipun lewat jalur yang berbeda. Namun pagi ini keinginan saya berubah, karena sudah cukup lama saya tidak merasakan puncak Lawu ini. Sekitar jam 8 pagi akhirnya kami semua berangkat dari tenda memulai perjalanan summit. Dalam perjalanan kali ini, karena kami hanya membawa beberapa keperluan summit saja, sementara yang lain kami tinggal di tenda. Setelah melewati padang sabana, kami sedikit memutari bukit ke sebelah kiri. Pohon cantigi mulai terlihat menggantikan sabana yang luas tadi. Tak begitu lama kita akan menemukan Pasar Dieng atau Pasar Setan, begitu melihat pecahan-pecahan bebatuan di sepanjang jalur. Di sini terdapat bekas bangunan kuno yang sudah runtuh dan tangga batu yang tertata rapi di tengah-tengah.
Kami tidak mengikuti tangga batu tersebut, tetapi memilih untuk berbelok melewati jalan sebelah kiri. Jalan sebelah kiri ini relatif lebih cepat dan sepi, namun jalurnya cukup sempit. Ketika berpapasan dengan pendaki lain kami harus bergantian, membuat perjalanan cukup lama. Hari itu cukup ramai pendaki yang melewati jalur ini, karena pas hari Minggu. Tak beberapa lama, rumah seng mulai terlihat berjajar di depan sana. Bagi para pendaki, tempat ini tidaklah asing, yang terkenal dengan sego pecelnya. Banyak yang bilang, jika warung Mbok Yem merupakan warung tertinggi di Indonesia karena lokasinya yang berada di atas gunung. Namun begitu, sebenarnya ada beberapa warung di sekitarnya yang juga melayani para pendaki di saat ramai. Bedanya, warung Mbok Yem akan selalu buka setiap saat, dan bilau hanya turun pada saat lebaran. Cari minuman hangat dulu sebelum muncak, biar badan seger dan bugar...
Menuju Puncak Hargo Dumilah 3.265 mdpl
Menuju ke puncak tertinggi Lawu membutuhkan waktu sekitar setengah jam dari warung Mbok Yem ini. Kami memilih untuk lewat jalur yang sepi agar tidak terlalu banyak menghirup debu. Waktu sudah agak siang, tetapi masih banyak pendaki yang ingin menuju ke puncak membuat jalan utama cukup berdebu. Kami melewati jalur di samping rumah Mbok Yem dan melewati jalur sepi. Jalur ini lebih cepat daripada jalur utama, dan sepanjang perjalanan kita dapat melihat Puncak Pemancar atau disebut dengan Hargo Puruso. Bendera merah putih terlihat berkibar-kibar terkena angin menjulai di atas pemancar itu. Lokasi itu lebih terkenal dengan sebutan Puncak Pemancar, karena di sana terdapat pemancar milik stasiun TVRI dengan tinggi lebih dari 10 meter.
Puncak Hargo Dumilah
Sebelum sampai puncak, jalur yang kami lalui akan kembali bertemu dengan jalur utama, membuat perjalanan kembali berdebu. Tetapi buff sudah saya persiapkan, tinggal menarik ke atas buat menutupi hidung. Lima menit kemudian kami sampai di Puncak Hargo Dumilah bersama beberapa pendaki yang sudah ada di sana. Puncak ini masih sama seperti dahulu, dan tidak tampak adanya perubahan seperti yang saya lihat terakhir kali. Di sini kami istirahat sebentar, melihat lalu-lalang para pendaki yang saling bergantian berfoto. Mengabadikan moment terpentingnya Saya sendiri asik dengan beberapa burung jalak yang beterbangan di samping tempat kami duduk.
Turun kembali ke tempat camp
Setelah cukup puas berada di sini, kami kembali ke tempat kamp lewat jalur yang sama seperti pada saat berangkat. Mungkin tidak terlalu banyak yang tahu jalur ini, sehingga tidak perlu antri ketika simpangan dengan pendaki lain akibat debu yang cukup tebal. Sepanjang turun sampai ke Warung Mbok Yem, kami hanya berpapasan dengan dua orang saja, padahal di jalur utama cukup ramai para pendaki baik yang ingin naik maupun turun dari puncak. Tak lupa, kami menikmati makanan khas di ketinggian Lawu. P.e.c.e.l. Banyak pendaki yang sengaja datang ke sini untuk bernostalgia menikmati pecel di ketinggian Lawu, termasuk salah satu bapak yang berpapasan dengan kami tadi. Dia mendaki seorang diri hanya untuk merasakan pecel Mbok Yem yang khas katanya.
menikmati segarnya es buah di camp Gupak Menjangan. Sabana terhampar luas di belakang kami
Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan turun ke tenda. Masih saja kami berpapasan dengan beberapa pendaki yang ingin naik menuju ke Puncak Hargodumilah. Hingga akhirnya kami tiba kembali ke tenda di antara pohon pinus yang sangat rindang. Di sini sudah ada teman yang tadi turun terlebih dahulu, menyiapkan sup buah yang sungguh menakjubkan. Kami istirahat sebentar di samping tenda sambil menikmati es buah yang dibungkus dengan wadah semangka ini. Jaman sekarang, harga bukan hanya tercermin dari kualitas barangnya saja, tetapi suasana membuat harga semakin melambung. So, kamu perlu porter buat bawa barang, jika gak mau capek angkut-angkut bawaan yang berat ke sin. Bongkahan semangka dengan berbagai jenis buah di mix jadi satu bersama susu, membuat sup buah ini begitu menggoda bagi siapapun yang melihatnya. Ingin rasanya berlama-lama lagi di sini, namun waktu mengharuskan kami untuk segera packing, dan kembali turun ke bawah.
Perjalanan kembali ke beskem
Setelah puas menikmati es buah, kami berbenah dan segera bergegas turun. Perjalanan turun kali ini kami tempuh relatif cepat. Setelah pos 5, kali ini kami memilih jalur sebelah kiri untuk mengenang jalur lama, mencari Cemoro Kembar yang sudah tidak dilewati lagi. Tetapi lebih baik kalian jangan lewat sini jika belum ada yang pernah melalui sebelumnya. Salah satu dari kami pernah lewat jalur ini. Dia ingin kembali merasakan jalur dulu, melewati Cemoro Kembar yang cukup kesan sebagai pintu masuk menuju padang sabana kala itu, namun jalur ini sekarang sudah ditutup, digantikan jalur lain yang lebih landai. Di jalur yang kami lewati ini, kami bisa menemukan Cemoro Kembar yang menjulang tinggi, walaupun sudah mulai agak sedikit rapuh.
Berfoto di Cemoro Kembar, kalian hanya akan menemuinya jika lewat jalur lama
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan, dan hanya berhenti beberapa menit saja di setiap pos, kecuali di mata air yang hampir setengah jam. Tak lupa kami mampir sebentar di sendang untuk membersihkan kaki sebelum kembali tiba di beskem. Sampai di tempat registrasi, kami melapor kembali dan mengambil kartu identitas yang kemarin ditinggal. Hari sudah sore ketika kami sampai di beskem. Sebentar lagi magrib tiba, dan kami bergegas untuk pulang ke rumah.